Suatu pagi, di tengah masa liburan yang menyenangkan, aku bercakap secara virtual dengan Fitri Nadia. Kami berdua teman dekat yang sering mengobrol dengan secangkir teh di tangan saat pagi mulai menyingsing di kota Jogja. Kegiatan itu sangat menyegarkan sebelum masing-masing berangkat ke kantor dan tenggelam dalam kesibukan. Topik-topik yang dibicarakan bisa beragam, dari para mahasiswa dari sisi Fitri dan para client dari pihakku hingga pacar-pacar (kala itu kami punya satu orang pacar, beberapa mantan, dan cukup banyak pengagum), serta apa yang diinginkan di masa depan. Cita-cita ini terkadang bisa dipercakapkan cukup panjang.
Setelah masing-masing menikah. Percakapan seperti masa bujang tak mungkin lagi dilakukan. Bukan karena tak lagi ingin bercakap, tetapi karena jarak yang memisahkan. Liburan kemarin aku ingin sekali kembali bertemu dan bercakap, namun urusan keluarga yang tak bisa ditinggalkan menjadikan waktu liburan itu menjadi family business yang membuatku tak punya banyak waktu untuk bertemu teman dan sahabat.
Untung saja Fitri cukup maklum, apalagi saat masing-masing benar-benar online (karena terkadang account menyala tapi orangnya sibuk dengan kegiatan lain) kami akan bercakap-cakap tentang banyak hal.
Seperti pagi itu kami bercakap tentang tanaman. Fitri ternyata hobby bertanam juga, namun karena keterbatasan lahan maka tanamannya tak tumbuh terlalu subur dan bersesakan di pinggir terasnya. Sementara aku, karena belajar dari Max, tahu cukup banyak tentang menyuburkan tanah dengan pupuk kompos dan lain sebagainya. Sambil bergurau dia berkata, “Wah, Mbak sekarang titelmu tambah menjadi Master Pertanian juga.” Aku tertawa mendengar gurauannya. Tapi perkataan selanjutnya membuatku terenyak. “Sebenarnya kehidupanmu sekarang seperti apa yang kau impikan dulu, kan?” Apa iya? “Dulu dirimu, kan menginginkan rumah dengan kebun-kebun yang luas dan hidup sebagai seorang penulis. Hanya mungkin cita-citamu dulu tinggal di luar negeri, ya.”
Memang, aku dulu pingin tinggal di Tuscany gara-gara menonton film Under The Tuscan Sun. Sebuah film adaptasi dari novel dengan judul yang sama. Kebetulan film itu berkisah tentang seorang penulis Amerika bernama Frances Mayes yang diperankan oleh Diane Lane. Mayes meninggalkan San Fransisco karena dikhianati oleh suaminya. Tak hanya kisah cintanya yang berantakan, karir menulisnya juga sedang mengalami krisis. Atas bujukan Patti, temannya, Mayes berlibur di Tuscany Italia. Di tempat itu Mayes jatuh cinta pada sebuah pondok dan kehidupan petani disekelilingnya. Dan seperti cerita roman lainnya, Mayes bertemu dengan seorang lelaki mata keranjang sebelum menemukan cinta sejatinya, seorang penulis berwajah manis dan penuh kehangatan.
Kehidupan rural yang penuh ketentraman itu membuatku sangat tertarik. Membayangkan membuka jendela dan menatap tanaman menghijau disinari kilau mentari tampak sangat romantic. Menjadi penulis yang membagikan keindahan itu pada para pembaca akan membuat kehidupan itu menjadi sempurna. Hanya saja aku tak tinggal di Tuscany saat ini.
“Tapi dirimu, kan sudah punya lanskapnya, Mbak. Tinggal mengkondisikan hingga mirip dengan Tuscany yang kau inginkan dulu.”
Untuk kedua kalinya aku terhenyak. Kadang mimpi bisa menjadi kenyataan, namun saat hal itu terjadi mungkin kita tak menyadarinya sampai seseorang menyatakannya pada kita. Aku ingin punya rumah dengan kebun dan menjadi penulis, dan itu telah kudapatkan. Memang bukan jatuh cinta pada pandangan pertama pada daerah tempatku tinggal sekarang seperti Francis Mayes, si tokoh dalam film romantis itu. Bukan juga telah menjadi penulis terkenal sepertinya. Hanya keinginan yang menjadi kenyataan itu menimbulkan ketakjuban pada diriku. Lalu mendadak aku teringat rangkaian peristiwa yang terjadi selama ini. Hariatni Novitasari menyebutnya Serendipity, aku menganggapnya sebagai keajaiban yang masih selalu tercipta di dunia ini. Mungkin sebagian orang lain menyebutnya keberuntungan, nasib baik, atau nama-nama yang lainnya.
Aku selalu menganggap hidupku selama ini lurus tanpa kelok dan liku. Amat sangat biasa dan terkadang terasa membosankan untuk diceritakan pada orang lain. Perasaanku juga datar tak pernah bergejolak. Ternyata aku salah, kejutan dan kelokan banyak terdapat sepanjang alurnya. Warna-warni menghiasi hari-harinya. Hanya bukan aku yang segera melihatnya. Itu yang aku lupa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar