Senin, 15 Agustus 2011

Destiny? Is That You?


Pada suatu pagi, Dewi Murni mengirim sebuah message untukku. Isinya menanyakan khabar dua orang teman yang sama-sama kami kenal. Aku menceritakan keadaan mereka dalam message balasan. Salah satu message itu membicarakan bagaimana takdir berbicara dalam hidup teman-teman kami itu. “Bayangkan, berada di tempat yang sama, dalam lingkaran pertemanan serupa, saling berpapasan dalam satu ruangan, tapi tak saling mengenal, sampai suatu ketika dalam suatu titik, mereka mulai bersama.” Tulisku bersemangat. Bagaimana tak antusias bila menceritakan kebahagiaan?
                Kebetulan atau mungkin harus begitu cerita hariku saat itu, Hariatni “Emon” Novitasari sedang menayangkan video Serendipity, film lama tentang dua orang yang saling bertemu, mencobai nasib, dan bertemu kembali di masa berikutnya. Karena aku menyukai film itu, aku tinggalkan komentar: Kamu percaya pada nasib, Mon?
                Ternyata jawabannya sungguh mengesankan. “I do believe in destiny, Mbak”. Jawaban itu disusul dengan chatting dan mengirimiku note-nya yang sangat menarik biarpun penulisnya sendiri berkata sedang malas membuat note, Magical Path of Life. “Hidupku sendiri penuh Serendipity.” Tulisnya dalam message. Ah, hidup yang sangat romantis.
                Kadang aku juga berpikir tentang keajaiban hidup pada seseorang. Bagaimana seseorang bertemu dan berpisah lalu bersimpangan lagi jalan hidupnya. Tak jarang juga seseorang yang sudah saling bertemu menceritakan kisah masa lalu mereka dan kemudian begitu terperangah ketika menyadari mereka pernah bersama dalam suatu ruang dan waktu. “Jadi kamu di situ juga, ya? Duh, berarti sebenarnya kita saling ketemu, ya?”
                Sungguh seperti adegan dalam sebuah film. Dua orang berada dalam situasi yang sama, berpapasan, kemudian berlalu tanpa saling mengenal di suatu masa. Sebagai penonton film, kita pasti merasa ngilu hati dan menghela napas. Oh, so close….! Kenapa, sih tokoh perempuan ini tak mau menengok barang sebentar, kan heronya hanya beberapa langkah darinya? Bahkan lengan baju mereka hampir bersinggungan pada suatu adegan. Bila film ini berupa telenovela berseri, bisa dibayangkan betapa geramnya kita. “Ihh…bodoh banget, sih mereka! Kenapa engga mau begini….begini…” Dan jadilah kita sutradara yang berusaha mengatur alur cerita.
                Keheranan dan sedikit kekaguman selalu terbersit dalam hatiku bila mendengar kisah seperti itu. Keheranan yang sama juga masih meliputiku saat ini. Betapa tidak, aku mempunyai seorang teman selama sepuluh tahun yang sempat lost contact selama beberapa tahun. Suatu ketika dengan selembar kartu ucapan, kontak itu kembali tersambung. Tak terlalu intens apalagi antusias. Lalu suatu saat kami benar-benar bertemu beberapa kali, minum cappuccino dan mengudap roti bakar, bercerita tentang kenalan dan handai taulan. Berbagi kisah tentang cita-cita dan keinginan di masa depan. Mendadak sontak pertemanan itu menjadi lebih dekat dan semarak. Maka, pada suatu percakapan virtual aku katakan padanya,”Mungkin memang takdir kita untuk bertemu di suatu titik kehidupan, ya.” Dan dia menjawab, “Juga dalam banyak titik yang lebih penuh warna ke depan.”
                Maka betullah kata Emon dalam notenya: “Hidup kita, kadang merupakan satu jalur yang berkelok seperti kita mengarungi jeram sungai. Kita tidak tahu, di mana kita akan mendapati ceruk, tikungan, tebing, atau apa pun lah. Dia adalah satu misteri. Kadang, inilah yang membuat hidup ini sangat menarik. Kita tidak akan pernah tahu siapa yang akan kita temui, dan apa yang (akan) terjadi.”
                Lalu aku kembali menghela napas panjang. Hmm… Betapa ajaibnya!
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar