Langit yang melingkupi Ruteng tampak biru gemilang. Hari cerah pertama sesudah beberapa minggu selalu dihiasi awan mendung. Hal pertama yang terpikir olehku adalah pergi berjalan-jalan menikmati keindahan ini. Kebetulan pula aku tak harus ke kantor, jadi segera kusiapkan dua cangkir kopi mocha dan menyodorkannya pada Max yang masih sibuk mengupdate tulisan di wall komunitas miliknya.
“Kita jalan-jalan, ya.” Rayuku.
“Aku, kan harus mengajar sejam lagi.” Ujarnya sambil menyeruput kopinya.
“Habis mengajar, dong.” Kataku. Max hanya mengajar sejam di pagi hari beberapa kali seminggu. Tak terlalu lama menunggunya dengan menghabiskan waktu untuk online.
“Mau jalan-jalan ke mana?” tanyanya.
“Nanti saja kita pikirkan. Kamu siap-siap saja dulu.” Jawabku sambil menggeser tempatnya di depan computer.
Dua jam kemudian kami berkeliling kota sebentar sebelum mengarahkan tujuan ke kebun kami di Leda. Beberapa minggu lalu Mama mertua berkata ingin pergi ke kebun itu untuk memetik kopi yang mungkin sudah tua, sayang anak lelakinya tak menanggapi dengan antusias biarpun aku sudah membujuknya. “Toe do koe kopi hitu, Mama. Am ce mok kanang. (Tidak banyak kopinya, Mama. Hanya satu cangkir saja)” Ujarnya.
“Maram ce mok, Anak toe ma co’on. Delek eme ce kilo. (Biar cuma secangkir tak mengapa, Nak. Beruntung kalau bisa dapat sekilo)” Ujarnya. Tapi dasar Max sedang sibuk dan tak ada waktu untuk mengantar-antar ke Leda, Mama batal datang dan kami juga tak pernah melongok kebun itu sampai saat ini.
Begitu sampai di jalan depan kebun, tampak buah-buah kopi yang telah memerah, bergerombol mengundang keinginan untuk memetiknya. Memang masih banyak juga yang kehijauan di antara tandan-tandan yang menggiurkan tadi, tapi hampir setiap pohon satu atau beberapa rantingnya yang sarat berbuah pasti telah cukup tua untuk dipetik.
“Waduh, kita harus segera memetiknya, dear atau nanti akan jatuh percuma di tanah.” Kata Max sambil mulai memereteli buah kopi.
Kopi di kebun kami ini menurut istilah Manggarai disebut kopi unggul. Entah kopi unggul jenis apa kami kurang tahu karena saat membeli kebun ini sudah sekalian dengan pohon kopinya. Memang ada beberapa jenis kopi unggul baik jenis Arabica maupun Columbia. Waktu pergi ke Jember bahkan aku sempat diperlihatkan kopi yang bijinya cukup besar dan disebut dengan nama kopi Margogip atau apalah yang aku kurang ingat. Sementara sebutan bagi kopi Robusta adalah kopi Manggarai, karena memang kopi jenis ini yang jamak ditanam di daerah ini.
Saat asyik memetik kopi dengan menggunakan daun talas sebagai wadah, mengingat tujuannya adalah jalan-jalan dan bukan petik kopi sehingga tak sempat menyediakan kantong plastic atau apa pun, Max nyeletuk dari balik kerimbunan pohon: “Jangan bilang Mama kalau kopinya banyak yang telah jatuh ke tanah, lho dear. Bisa marah besar dia nanti.”
Memang kopi-kopi yang telah menghitam atau merah kehitaman karena terlalu tua akan jatuh dengan sendirinya ke tanah. Hal itu merupakan sesuatu yang biasa, tapi tak demikian dengan Mama mertua. Sebagai petani yang sangat disiplin dan menghargai setiap karunia berwujud keberhasilan tanaman-tanamannya, beliau sangat perhatian dengan hal mendetail semacam itu. Setiap butir kopi adalah proses panjang menuju keberhasilan panen yang memberi hidup bagi para petani. Menyia-nyiakannya sama dengan pemborosan dan rasa tak menghargai jerih payah yang tak bisa ditolelir, karenanya aku mulai membungkuk-bungkuk mencari biji-biji itu dan mengumpulkannya. Beberapa biji telah bertunas dan akan menjadi bibit kopi kecil yang disebut belak. Bila berkeinginan menanam lebih banyak pohon kopi tak apa membiarkan banyak belak di kebun, namun jika tidak, hal itu sama saja membuang percuma hasil panen. Sayangnya sesemakan yang tebal karena musim hujan yang panjang menyebabkanku tak bisa benar-benar memunguti biji-biji kopi itu.
“Sudah saatnya membersihkan kebun ini bila ingin secara serius mengambil hasil dari tanaman yang ada di dalamnya.” Kata Max saat melihatku menyibak rumpun talas yang cukup banyak tumbuh di bawah kerimbunan pohon kopi.
“Kita cari saja waktu yang tepat. Mungkin saat liburan Paskah.” Jawabku sambil kembali meraih ranting-ranting berbuah merah tua itu.
Ajaran Mama mertua yang lain: jangan sekali-kali memetik buah kopi secara sembarangan. Harus diambil biji per biji, bukan ditarik dari ranting-ranting kopi sampai tercabut dengan tangkainya. Menurutnya tangkai yang sudah diambil kopinya saat ini ternyata masih bisa mengeluarkan bunga untuk musim mendatang, mungkin bukan dari bekas biji yang sekarang kita petik, namun dari tandan itu sendiri akan muncul tunas-tunas baru. Ini logikaku yang sama sekali tak mengerti bertani kopi. Namun nasehat itu telah tertanam dalam otakku dan secara mekanik membuat tanganku tak mencabut sembarangan butir-butir merah itu dari tandannya.
Last but not least, hati-hati memetik kopi. Perlu mewaspadai hewan-hewan yang gemar bersarang di pohon itu. Paling banyak dan sebetulnya tak terlalu mengganggu sampai menggigit kulit kita di balik baju adalah semut hitam. Dahan-dahan kopi merupakan tempat hidup yang ideal bagi para semut itu. Hewan lainnya adalah tawon alias lebah yang biasa disebut kaka dalam bahasa Manggarai. Di kebun kami juga terdapat sarang lebah. Bukan lebah madu, namun lebah yang lebih kecil namun tak seorang pun akan bersedia menanggung resiko disengatnya. Aku baru tahu keberadaan lebah itu saat Max berada dua langkah di sampingku. Untung saja tadi aku tak berjalan lebih dekat lagi ke kanan.
Dalam satu jam kami telah berhasil memetik setengah ransel kopi. Bila telah dibuang kulitnya dan dijemur mungkin hanya satu kilo atau paling banyak satu setengah kilo biji kopi yang didapat, namun mengingat bulan-bulan ini adalah masa krisis kopi sungguh sangat lumayan mendapatkannya. Masa panen kopi biasanya bulan Juni atau Juli sampai bulan September. Jadi jumlah itu akan memenuhi kebutuhan minum kopi sebuah keluarga selama sebulan atau bahkan dua bulan.
Jadilah acara jalan-jalan pagi itu berakhir dengan petik kopi. Bagi Max hal ini bukan sesuatu yang istimewa karena dia memang anak petani kopi dengan kebun-kebun yang cukup luas, tapi bagiku peristiwa ini sungguh mengesankan karena pertama kalinya aku memetik kopi di kebunku sendiri, dengan kedua tanganku, dan dari pohon kopi milikku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar