Sebuah meja berukir dengan kursi pasangannya di pojok lobby, lampu model jaman Hindia Belanda di langit-langit, dinding penuh panel-panel ukiran Pulau Dewata, dan rangkaian bunga dalam pot berbentuk bebek raksasa mendadak berkelebat di otakku. Keharuman sedap malam yang dirangkai bersama bunga lily putih terasa kembali di hidungku. Lalu musik merdu dari arah bar membawa suara indah seorang perempuan membanjiri lobby sampai reception desk di depan pintu utama.
Ini bukan cuplikan novel yang sedang aku buat, namun kenangan akan dunia yang pernah kuakrabi selama bertahun-tahun. Akulah perempuan yang selalu duduk di kursi belakang meja itu dan menghirupi aroma sedap malam dan bunga lily. Aku pula yang selalu menatapi lampu berkap putih dengan sinar kekuningan menghangatkan ukiran-ukiran pada panel kayu yang menghiasi dinding. Saat itu tak banyak yang bisa kunikmati, bahkan menjadi hal yang sangat biasa. Apalagi bila ratusan orang memenuhi tempat itu karena saat liburan sedang puncaknya di belahan dunia lain.
Beberapa kali sedap malam dan lily diganti dengan gradiol dan mawar merah dengan paduan baby breath atau aster aneka warna. Lampu di mejaku yang bermodel sama dengan yang tergantung di langit-langit bahkan menjadi penerangan bagi textbook yang secara sembunyi-sembunyi kubaca bila ujian mid atau akhir semester sedang berlangsung. Beberapa tamu yang baik hati akan tersenyum melihatku cepat-cepat menyembunyikan buku-buku itu saat mereka melintas memasuki bar. Beberapa yang telah menjadi repeater di tempat itu menghampiri dan tertawa perlahan, “Sedang belajar, ya Mbak?” Saat aku mengangguk sambil tersenyum malu mereka akan melebarkan senyumnya, “Great! Kabari kalau nanti sudah dapat Master, ya.” Lalu aku akan semakin tersipu dan menyembunyikan bukuku dalam-dalam di laci meja.
Bila jiwaku sedang penat aku akan berjalan memasuki bar dengan keinginan untuk benar-benar mendengarkan musiknya, bukan hanya tugas check and recheck yang memang sudah menjadi kewajibanku, terutama bila tamu-tamu dari Eropah sedang memenuhi tempat ini. Mbak penyanyi yang jebolan Institut Seni di kota itu dan Mas pemain musiknya yang kandidat Doktor seni musik selalu menyambutku dengan riang dan berkata, “Selamat Malam, Mbak Tia. Mau bernyanyi bersama kami?” Walau sedang di tengah lagu yang didendangkan. Selalu, aku hanya akan melambai sambil menggeleng, menuju ujung meja bar untuk menyapa bartender yang sedang bertugas.
“Tamarind Soda, Mbak?” Itu pertanyaan retoris, karena aku selalu hanya minum tamarind soda di tempat ini. Lalu sambil duduk diam-diam di sudut dekat pot tanaman palma setinggi ruangan, aku mengistirahatkan jiwaku bersama tegukan minuman asam manis di tanganku. Tak jarang para penghibur yang budiman itu akan menanyakan lagu yang ingin kudengarkan. Lalu aku berkata, “Here, There, and Every Where.” Atau lagu yang sedang top saat itu dan pas dengan seleraku. Namun tak jarang mereka serentak mendendangkan When I Fall in Love begitu melihatku melangkah memasuki tempat itu. Dan biasanya aku berhenti melangkah, menangkupkan sebelah tangan ke dada, sambil membelalakkan mata ke arah panggung kecil itu. Dan mereka akan tertawa sebelum berkata di antara irama lagu, “Selamat bersenang-senang, Mbak Tia.”
Hari ini aku sedang mendengarkan Lani Mesalucha mendendangkan lagu-lagu indah sepanjang masa. Dari Here, There, and Every Where, Dust in The Wind, sampai We Could Have It All. Lalu mendadak aku teringat malam-malam itu. Mencium aromanya, merasakan gairahnya, kelelahannya, kesedihan yang kadang melintas, suasana tak terduga yang bisa mendadak muncul, atau persahabatan yang mengambang di udara. Juga saat nada-nada terakhir piano perlahan berhenti. Meninggalkan kesunyian.
Kuambil sebuah buku yang dahulu kerap kusembunyikan di laci meja kerjaku di pojok lobby. Kuusap perlahan sampulnya. Kenangan itu semakin membuncah. Aku merindukan saat-saat sinar kekuningan menyinari halaman-halamannya, suara tajam dan keras dosenku mengomentari pendapatku yang salah karena tak konsentrasi ketika membacanya, dan suasana akademis nan intelektual kampus biru yang sangat kontras dengan malam-malam penuh irama dan gelak tawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar