Rabu, 10 Agustus 2011

Aku Menyukai Kabut


Senja perlahan turun . Kurapatkan jaket untuk mengusir berkas-berkas dingin yang sempat menyelusup. Helaan napas yang kubuang menjelma menjadi uap putih mengambang di udara. Hari ini rintik hujan tak menyelubungi kota, namun kapas-kapas putih mulai melayang turun dari perbukitan di bagian utara.
                Untuk kesekian kalinya kupalingkan kembali wajah ke luar ruangan. Ya, ruangan tempatku duduk adalah balkon di tengah rumah dengan pemandangan ke arah perbukitan. Di bawah balkon itu nadi kota tengah berdenyut. Walau tak terdengar gaduhnya namun segala aktivitas dapat terekam nyata.
                Gadis permulaan remaja di hadapanku mengerutkan kening menatapi deretan soal-soal Bahasa Indonesia. Beberapa kali poninya jatuh ke kening yang dihiasi sebuah jerawat. Aku tersenyum dalam hati teringat bagaimana resahnya ia mendapati keelokannya dinodai benda itu beberapa jam lalu.
                Kuputar kembali leherku ke arah perbukitan. Gulungan kapas itu perlahan turun. Tidak mengalir seperti biasanya, namun menyelubungi dan mengaburkan hijau kegelapan puncak-puncaknya.
                “Ibu Tia suka sekali kabut, ya.” Pernyataan itu membuatku pandanganku kutarik kembali ke dalam ruangan. Tatapanku bersirobok dengan mata berbentuk buah almon yang membiaskan senyuman. Darimana kau tahu? “Setiap kali ada kabut Ibu selalu menatap ke luar ruangan, bahkan berdiri di pinggir rel balkon.”
                Aku terhenyak, agak malu mendapati wajah berangsur remaja itu menyiratkan rasa maklum yang terlalu dewasa untuk usianya. Seakan dia berubah menjadi dewasa dan aku yang menjadi anak kecilnya.
                “Mengapa Ibu suka kabut?” Tanyanya melihatku terbengong-bengong menatapnya.
                Hanya dia yang menanyakan itu padaku, sama halnya dia sajalah yang tahu mataku selalu tertarik oleh gumpalan awan-awan putih itu.
                “Kau lihat, dia bisa menelan kota dan menyelubunginya.” Aku mulai bangkit dan berjalan ke rel balkon.
                “Ibu akan lebih jelas melihatnya kalau kita naik ke lantai tiga.” Ujarnya sambil menjajariku.
                “Tapi sekarang gerimis mulai menemaninya.” Kataku sambil menatap tangga menuju lantai tiga yang tak beratap.
                “Kita bisa pakai payung, Bu.” Binar di matanya begitu berkilau.
                Aku menggeleng. “Ayo kerjakan kembali soal-soal itu. Ujian semakin dekat.”
                Tubuh jangkung setinggi diriku itu kembali menghempaskan diri ke kursi dan menunduk menatap lembar soal latihan. Aku pun kembali duduk di hadapannya menekuri soal-soal yang telah dikerjakannya dan membuat beberapa catatan bagi nomor yang salah dijawabnya.
                Mengapa Ibu suka kabut? Pertanyaan itu kembali muncul dan kemudian berputar-putar di kepalaku, membuat pulpen dalam genggamanku merosot perlahan, tergeletak di atas kertas-kertas di hadapanku.
                Mengapa aku suka kabut?
                Mungkin karena aku perempuan kota besar yang tak pernah memperhatikan sekeliling karena kesibukan yang menuntutku siaga dari menit ke menit. Tak sekali pun mataku sempat beranjak ke luar ruangan untuk sekedar melihat mentari turun ke peraduan mengguratkan senja yang kemerahan, atau petang menampilkan ribuan bintang di sekujur angkasa.
                Mungkin juga kotaku yang berhawa panas tak sempat menciptakan kabut bagi penghuninya kecuali kabut asap kendaraan bermotor yang kian hari kian menyesakkan paru-paru. Atau kabut itu sempat beberapa kali mampir juga, namun aku sedang dikepung asap rokok di sebuah ruangan penuh hingar-bingar musik dan canda tawa lelaki dan perempuan dengan gelas aneka minuman di masing-masing genggaman.
                Ah, aku teringat pernah sekali melihatnya. Saat itu gerimis turun dini hari dan aku tengah menikmati sepiring gudeg di teritisan sebuah toko dengan seorang lelaki yang sempat menghiasi hari-hariku. Hanya saja perhatianku lebih terserap pada senyum dan obrolan kami daripada menikmati kapas-kapas yang melayang di hadapan kami.
                Aku menyukai kabut karena kedatangannya yang bergulung-gulung membuat orang-orang  hanya tampak seperti bayangan. Kehadiran mereka tampak istimewa seakan menyelinap keluar dari sebuah pintu rahasia. Membuat diriku selalu menebak-nebak apa yang akan muncul di depanku.
                Aku menyukai kabut karena misterinya. Saat tirainya terbuka, tampak keindahan alam semesta yang berada dalam perutnya. Langkahnya melayang-layang seperti gaun seorang puteri menyapu lantai tanpa suara. Anggun namun penuh rahasia.
                Aku menyukai kabut karena melukiskan perasaanku. Kedatangannya yang tak terduga seperti kesepian yang melingkupi hatiku. Kepergiannya yang mendadak seperti keceriaan yang tiba-tiba mengaliri jiwaku. Kehadiran dan menghilangnya seperti riak perasaanku yang selalu tak terduga.
                Aku menyukai kabut karena rinai hujan yang kadang menyertainya membuat kota tempatku tinggal selalu indah untuk dihuni.
                Dan aku menyukai kabut sebab karenanya aku bisa membuat catatan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar