Nama lengkapnya Laurensia Sri Mulyani, dia ibu kami. Pekerjaannya seorang guru SD. Sejak aku bisa mengingat, posisinya sebagai guru kelas satu tak pernah berubah. Sekali pernah juga naik ke kelas dua, tetapi tahun berikutnya kembali mendidik anak-anak yang baru masuk sekolah itu. Setiap kali kami tanyakan mengapa dia tak juga mengajar di kelas yang lebih tinggi, jawabannya sama: “Kata Pak Kepala Sekolah harus cari guru yang sabar untuk mengajar kelas awal.” Demikian juga tanggapan teman-temannya, “Bu Sri sabar dan telaten orangnya.”
“Ah, masa, sih Bu?” Tanya kami beberapa kali saat ikut arisan Dharma Wanita bersamanya. “Iya, Mbak. Makanya sering sekali Bu Sri pulang siang karena memberi les tambahan bagi anak-anak yang belum pandai membaca.”
Oh, ini rupanya alasan Mami, demikian kami biasa memanggilnya, sering pulang terlambat ke rumah. “Anak kelas satu, kan pulangnya jam sepuluh, Mi. Kenapa engga langsung pulang saja.” Protes kami beberapa kali. “Ya ga bisa begitu. Anak-anak yang belum bisa baca itu harus diberi waktu khusus. Kasian kalau ketinggalan dari teman-temannya.” Kami tetap merengut, “Tapi itu bukan kewajiban, kan?” Dan dia akan menjelaskan panjang lebar tentang tanggungjawab moral seorang guru terhadap keberhasilan murid-muridnya.
Kesetiaannya dan ketangguhannya mengawal keluarga juga teruji oleh waktu. Kami sempat terpisah dari Bapak karena tempat tugas yang berjauhan. Mami mengurus sendiri anak-anak sekaligus menjadi guru sejak kami masih balita sampai aku dan adikku yang nomor dua telah duduk di pertengahan Sekolah Dasar. Pertemuan dengan Bapak hanya dilakukan saat liburan sekolah atau akhir tahun. Tak terbayangkan seorang perempuan muda nan cantik memikirkan kesejahteraan tiga orang anak, mengajarinya membaca dan menulis setiap sore, mempersiapkan kebutuhan sekolahnya setiap pagi, sekaligus menemaninya saat sakit atau bermain untuk bertahun-tahun, sendirian!
Ibuku memang cantik. Tak ada seorangpun dari kami bertiga, anak perempuannya, secantik dia. Kecantikannya itu menurutku bukan semata fisik, tapi karena ketabahan, keikhlasan, dan kesetiaannya pada keluarga. Kecantikan Jawa yang khas karena sikap sumarah pada kehendakNya. Juga saat anak-anak mulai beranjak dewasa dan bertingkah laku semakin kompleks. Sifat, pandangan, kecerdasan yang bervariasi dari kami anak-anaknya tak membuatnya mengeluh. Bahkan dia bisa menjadi teman curhat yang menyenangkan.
“Jadi mengapa kau tak melanjutkan pacaran dengannya?” Tanyanya suatu saat padaku setelah aku bubar jalan dengan pacarku yang kesekian. “Gak, ah Mi. Soalnya dia, tuh begini….begini.” Dan dia akan mendengarkan semua penjelasan itu lalu berkata, “Pilihlah yang terbaik menurutmu, karena kamu sendiri yang paling tahu.” Atau saat kami mengeluh karena diomeli Bapak. “Kamu dengar baik-baik, jangan sak kecap do sak kecap (menjawab langsung perkataan Bapak) Ora apik (ga baik)” Maka sampai sekarang tak sekali pun kami biasa menjawab perkataan Bapak secara langsung bila beliau sedang marah.
Ketika Mami meninggal beberapa tahun lalu, kami benar-benar merasa kehilangan. Bern, adikku yang kedua sampai sekarang selalu mencucurkan air mata setiap mengunjungi makam beliau. Hans, sampai beberapa tahun lalu kulihat, masih menyimpan foto Mami saat muda dalam dompetnya. Sari, adik bungsuku, kadangkala berujar, “Mami dulu bilang……” Sementara aku sering berpikir, “Apa bisa aku menjadi separuh saja dari dirinya ?”
Sore ini, saat siaran tentang Hari Ibu yang akan dirayakan esok pagi, Ucique menanyakan apa yang menginspirasi dari Ibu kita? Sepanjang perjalanan pulang aku bercengkerama lagi dengan kenangan-kenangan akan Mami. Apakah aku sesabar dia? Tidak. Apakah aku setegar dia? Tidak! Apakah aku sesetia dia? Definitely Not!
Saat mulai kunyalakan laptopku, muncul kembali bayangan wajah ayu Njawani yang kukenal selama bertahun-tahun itu. Aku tak mungkin sama dengannya, menuruni separuh kebaikan yang dilakukannya seumur hidupnya pun seakan tak mungkin. Aku adalah aku, dengan pikiran dan masa yang berbeda dengannya. Tapi teladan dan nilai-nilai kebaikan, ketabahan, kesabaran, dan kesetiaannya tak akan lekang dimakan jaman. Itulah pedoman, tak hanya untukku, tetapi juga ketiga orang adikku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar