Rabu, 10 Agustus 2011

Catatan Romantis 3: Buku, Camilan, dan Telepon


Menulis kenangan selalu menyenangkan. Bukan selalu ingin mengulang apa yang pernah terjadi, hanya ingin merasakan nuansanya yang sering membuat bibir menyunggingkan senyum. Apalagi bila mendadak ada pemicu yang membuat kita rindu suasana masa lalu.
                Suatu hari Fitri, teman karibku, menulis status berisi keinginan untuk: membaca buku yang bagus, mengudap, sambil mendengarkan musik kesukaan. Wah, itu sangat “aku” sekali. Kami dulu memang sering menghabiskan waktu di rumah kontrakannya dengan membaca buku, ngemil, sambil mendengarkan musik dari stereo set miliknya. Bisa berjam-jam kami kelesotan di karpet dengan buku di tangan masing-masing. Fitri membaca buku sastra Asia yang disukainya, sementara aku melembari novel romantis dari segala penjuru dunia. Maksudku settingnya dari berbagai macam negara, tapi penerbitnya, toh dari Amerika juga.
                Setelah membaca biasanya kami mendiskusikan isinya. Mengupas tokoh-tokohnya, bukan penokohannya, dan mencari-cari kisah di balik cerita itu sendiri. Ini sangat mengasyikkan, apalagi bila dilakukan sambil memegang cangkir kopi masing-masing.
                Kisah dalam novel banyak kemiripannya dengan kenyataan. Seperti yang dikatakan salah seorang pengarang terkenal: Hidup kadang di luar batas imajinasi manusia itu sendiri. Juga bila menjumpai kisah yang terkadang tak kita pahami. Beberapa kali aku membaca karya sastrawan Rusia seperti Chekov atau Pushkin dan Amerika seperti Hemingway dan Scott Fitzgerald, sungguh tak segera bisa dipahami. Bahkan aku harus menonton film Scarlet Letter yang dibintangi Demi Moore sebelum bisa tune in saat membaca novel karangan Hawthorne ini. Namun satu hal pasti, aku tak pernah kapok membaca.
                Sebagai pengantar bacaan adalah camilan. Tidak ada yang spesifik mengenai hal ini. Cukuplah kalau bisa membuat mulut dan pencernaan bergerak. Syarat gizi dan kegunaan bagi kesehatan bisa menjadi prioritas terakhir. Apalagi aku menderita sakit maag. Bila terlupa makan saat asyik membaca akibatnya adalah tiga hari muntah-muntah, dan tiga malam tak tidur nyenyak. Akibat yang tak akan mau diterima oleh siapa pun.
                Hal ketiga yang aku kangeni adalah telepon panjang menjelang malam. Telepon dari siapa pun yang sedang aku kasihi. Sambil kelesotan juga di atas karpet, tertawa-tawa sambil memilin-milin rambut, atau merengut karena sedang bertengkar sebab berbagai macam hal. Sebenarnya bukan mengenai si penelepon dan kisahnya, tetapi suasana saat bertelepon itu begitu membekas di hati. Sampai pernah aku paranoid karena tak ada telepon. Adikku tertawa-tawa melihatku kelisikan menimang-nimang handphone di tangan. Dalam hati aku berkata: “Please, telepon bunyilah. Dari siapa pun bolehlah, yang penting berdering!” Dan bila ternyata yang menelepon bukan orang yang kira-kira diharapkan, misalnya telepon dari kantor yang mengubah shift atau mengganti teman yang sakit, pasti bawaannya kesal sekali. “Kenapa, sih telepon ke mari ?!” Lho??
                Tapi pernah juga ada masanya aku malas menerima telepon, bukan karena dikejar penagih utang atau penderita schizophrenia yang jatuh cinta padaku. Hanya malas saja untuk menerima telepon. Biasanya silent mode menjadi andalan. Begitu ditengok untuk melihat jam digitalnya, telah terekam beberapa miss called dan pesan singkat. Ya, pesan dari yang miss called tentunya. Dan mulailah aku berdalih, ngeles, atau sok innocent membalas semuanya.
                Sekarang saat aku sedang feeling blue, tiba-tiba kenangan-kenangan di atas kembali bermunculan. Bila Emon berusaha untuk menjadi stockiest makanan, kayaknya aku harus menjadi stockiest bacaan. Maklum mencari buku yang bagus di sini susah sekali, apalagi aku rakus sekali membaca. Bila sedang mabuk bacaan aku akan membaca sepanjang hari tanpa melepaskan pandangan dari halaman-halamannya.
                Makanan tak terlalu menjadi masalah. Pada kenyataannya mulutku sudah tak henti mengunyah biscuit sejak satu jam lalu. Tak terlalu bersemangat mengingat perasaan yang sedang mengharu biru, tapi cukuplah membuatku menolak panggilan makan malam iparku yang kebetulan sedang bertandang ke rumah.
                Saat ini aku juga merindukan telepon-telepon panjang menjelang malam. Sambil menulis note ini aku melirik berkali-kali telepon genggamku. “Please, call me who ever you are!” Tapi kalau ternyata yang menelepon adalah orang yang tak aku harapkan, paling-paling panggilannya akan berakhir sebagai miss called. Maaf, ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar