Kamis, 11 Agustus 2011

Bertani Itu...

Kebun kami di Lingko Kius tadinya hanya padang yang ditumbuhi ilalang. Saat kami membelinya Bapa dan Mama meneteskan airmata akan tekad anak lelakinya. “Oleee, Nana mungkin kamu sudah gila mau membeli tanah tak berguna itu.” Ratap mereka untuk menghalanginya. Namun tekad Max sudah bulat dan aku hanya bisa mendukungnya dengan catatan: “Harus diperkirakan benar-benar kapan semua investasi bisa kembali.” Dia mengangguk mantap. “Dalam 3 tahun dengan restu Tuhan kita sudah bisa mulai merasakan hasilnya.”

                Tanah miring dan berwarna merah membuat pengolahannya membutuhkan perhatian ekstra. Kami mempekerjakan 3 orang untuk membuat terasering selama sebulan. Kontur tanah di beberapa bagian yang cukup tinggi membuat terasering itu bisa setinggi diriku. Bila dilihat-lihat, hanya sepertiga tanah yang berhumus. Maka dari itu Max membiarkan dedaunan ilalang membusuk di setiap bagian kebun. Saat liburan, para keponakan diperintahkan untuk membantu mengangkut sekam dari penggilingan padi di sekeliling kampung untuk ditaburkan di lahan itu. Sementara menunggu, beberapa bagian yang bisa ditanami mulai diolah untuk menanam kacang tanah. Tanaman ini sudah terkenal bisa mengikat unsur hara dalam tanah sehingga menyuburkan lahan.
                Sepertinya kerja keras dan kesabaran masih dibutuhkan. Saat tanaman kacang sedang subur-suburnya, babi para tetangga yang sengaja dilepas malam hari untuk mempermudah pencarian pakan merangsek kebun dan menghancurkan tanaman kacang yang ditanam. Sampai masa panen, hanya tinggal setengah bagian saja yang bisa diselamatkan. Tapi Tuhan selalu memberkati orang yang berusaha keras. Tanaman jali yang ditanam di pematang terasering tumbuh subur tak terkira. Tanpa pemupukan dan perawatan dapat menghasilkan 250 kilogram dan langsung dipesan oleh Delsos Keuskupan Ruteng untuk disalurkan pada para petani di seluruh Manggarai. Aduh, senangnya.
                Saat berikutnya adalah masa gonjang-ganjing musim akibat perubahan lingkungan di seluruh bumi. Hujan terus menerus menyebabkan lahan selama beberapa bulan diistirahatkan. Sampai suatu hari Max memutuskan menanam jahe. “Berani-beraninya bercocok tanam di musim hujan begini.” Komentar Kakak Kornelya dari New York. Bukan berani juga, hanya coba-coba siapa tahu keajaiban masih ada dan hujan tiba-tiba berkurang dengan mendadak.
                Ternyata hujan tak pernah absen menyambangi tempat ini. Tanaman jeruk dan kopi yang ditanam di kebun itu dianggap untung-untungan, hidup terus ya syukur, kalau gagal dan mati di tengah jalan, ya memang nasibnya sudah harus demikian. Namun tanaman jahe tetap dirawat dengan baik dan tumbuh subur serta cukup menjanjikan. Hati ini menjadi sedikit terhibur mempunyai harapan untuk memanen jahe dengan sukses. Tapi kelihatannya hujan yang terus turun menyebabkan sebagian tanaman tak bertahan dan mulai menguning sebelum waktunya. Demi menyelamatkannya, terpaksa jahe yang kelihatannya tak bisa bertahan harus dicabut. Setelah ditimbang mencapai 300 kilogram. Dengan hati was-was Max pergi ke pasar dan menjualnya. “Laku engga?” Tanyaku menyambutnya di depan pintu sepulangnya dari pasar. Senyum di wajahnya membuatku lega. “Engga terlalu mahal, tapi lumayanlah.” Katanya. Syukurlah ada seorang pedagang empon-empon yang bersedia menampungnya bahkan berpesan agar panen kemudian juga disetor padanya.
                “Sisanya akan segera dipanen juga?” Tanyaku. Max menggeleng. “Tidak.” Tegasnya. “Sisanya untuk bibit semua. Itu juga masih tak cukup untuk ditanam di seluruh lahan.” Aku hanya bisa menyetujuinya. Dia tahu lebih baik daripadaku untuk urusan tanam-menanam. Apalagi mama juga mendukungnya.
                Lalu suatu hari dia mengajakku ke kebun melalui tanah yang masih berupa padang ilalang di bagian atas kebun kami. Dia berhenti sejenak dan menatapku. “Ini tanahnya Oom Yos, dear.” Lalu? “Kenapa, ya dia tak mau menggarapnya?” Ah, tanah di seluruh Lingko (kebun adat) ini tak ada satu pun yang dikerjakan selain milik kami. Beberapa hanya ditanami kopi dan jeruk yang minim perawatan, sisanya padang ilalang atau rumpun bambu. Tanah tak rata dan merah membuat orang tak berminat memanfaatkannya.
                “Bagaimana kalau kita menggunakannya untuk menanam jahe?” Pertimbangannya? “Tanah ini, kan pas di cekungan. Air hujan membawa semua humus tanah dari setiap bagian kebun ke mari. Tanah ini sangat subur. Lihat saja!” Dia mengorek sebagian tanah dengan sabit untuk menampakkan bagian yang memang terlihat hitam dan gembur. Ya beruntunglah Oom Yos itu bila tahu. Tapi buktinya dia tak hendak memanfaatkannya. “Kita bisa menanyakan mungkin dia mau menjualnya.” Alamak!
                Karena tanah itu memang tak diperlukan oleh pemiliknya, yang kebetulan memang punya banyak tanah, tak sampai sejam kesepakatan dicapai. Sambil menghela napas panjang karena menyadari harus kembali mengencangkan ikat pinggang untuk beberapa saat, tanah itu menjadi milik kami. Kali ini mertua tak ada yang meneteskan airmata. Mereka bahkan turut melihat batas-batas tanahnya dan berkomentar berapa banyak bibit yang dibutuhkan bila ingin menanam jahe di lahan baru itu. “Kalau segera dibabat dan dibersihkan, musim mendatang sudah bisa dimanfaatkan.” Komentar mereka.
                Maka sore itu juga Max langsung bekerja sampai rembulan mulai menampakkan diri. Esok paginya saat dia mengajakku melihatnya, separo ilalang telah hilang dari permukaannya. Saat aku sibuk memotret segala macam hal di kebun kami sampai menjelang tengah hari, seluruh kebun itu telah bersih dari ilalang dengan pemiliknya yang bersimbah keringat dengan sabit di tangan.
                Saat dia memanggilku, kulihat hamparan kebun baru di hadapanku. Lebih luas dari yang aku perkirakan semula. “Sayang kita harus segera kembali ke kota nanti siang.” Gumamku. Max melambaikan tangan sambil tertawa. “Besok tanggal merah. Anggap saja kita sedang long weekend di sini.” Wah, ini yang selalu aku khawatirkan setiap ke kampung. Max begitu menikmati aktivitas berkebun sampai berat kembali ke kota. Baginya mungkin bertani itu seperti menikmati nikotin. Semakin lama menghisapnya, semakin sulit melepaskan diri. Bahkan bisa jadi bertambah dosisnya dari waktu ke waktu hingga akhirnya memutuskan untuk menggelutinya sepenuhnya, dan menjadikannya cinta pertamanya.
                Well, mungkin agak berlebihan bila mengatakan bertani akan menjadi cinta pertamanya, karena aku tahu cinta pertamanya adalah istrinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar