Senja mulai turun. Gerimis tipis turun seperti uap air menembus dedaunan bambu di sudut kebun. Saudara iparku datang membawa sebuah bungkusan di tangan kiri dan termos berwarna biru dengan gambar bunga-bunga di tangan satunya. Langkahnya tangkas melompati ngali (parit) kecil di ujung kebun yang sengaja digali untuk mengusir babi-babi liar yang hendak merangsek tanaman kami.
Semua yang bekerja di kebun menyambut gembira kedatangan pembawa termos itu. Setelah langkah kakinya sampai di dekat kami dia berkata sambil tertawa, “Mai ga istirahat, inung (Mari beristirahat, (untuk) minum (kopi sore).”
Maka beranjaklah aku dan Mama mertua mendekatinya. Beberapa perempuan yang bekerja di ladang kami masih melanjutkan pekerjaan mereka sampai Mama kembali mengulangi ajakan anak perempuannya.
Setelah semua berkumpul, cangkir-cangkir seng kecil diturunkan dari keranjang, sebuah cangkir seng dengan ukuran besar diisi dengan beberapa sendok bubuk kopi dan gula lalu diseduh dengan air panas. Aroma kopi mendadak menguar di angkasa, harum dan nikmat di hidung. Mendadak salah seorang tetanggaku mencolek lengan temannya sambil berucap, “Asi cepa ta, Sisi. Gereng inung wae kolang. (Jangan makan sirih dulu, Sisi. Tunggulah sampai minum kopi)” Teguran itu disambut anggukan dan persetujuan teman-teman lainnya.
“Eng, e. Ngasang wae kolang, inung reme kolang. (Namanya air panas, diminum ketika masih panas)” Kataku yang disambut tawa mereka. Sebenarnya arti wae kolang dalam bahasa Manggarai merujuk pada kopi, hanya saja kami suka membuat lelucon dari arti wae kolang secara eksplisit yaitu wae (air) dan kolang (panas).
Setelah cangkir yang mengepulkan asap tersebut telah dinikmati beberapa hirup, mulailah mereka bercerita tentang keadaan di seputar kampung. Ende Leni yang pertama membuka kisah tentang orang yang kehilangan sekarung jahe. “Kapan kejadiannya?” tanya yang lain bersahutan. “Ya, kira-kira tepat waktunya saat kenduri Nder Seni.” Jawabnya meyakinkan pendengarnya.
“Ah, pasti keluarga sendiri yang mengambilnya, kalau orang lain tak mungkin berani.” Jawab Tanta Sisi sambil mulai mencari plastik pembungkus kala (daun sirih).
“Ya, benar” sahut lainnya. “Tak berani kita ini mengambil milik orang lain.”
Belum sempat lainnya berkomentar, suara cicit halus terdengar dari semak-semak rimbun di sekitar kebun kami. Max yang sedang mengambil cangkir bagiannya cepat-cepat mengedarkan pandangan ke pohon-pohon jagung yang tengah berbuah. Mama mertua yang mengetahui arah pandangan anak lelakinya berkata perlahan, “ Jagung-jagung itu harus segera diambil atau tikus akan menghabiskannya dalam hitungan hari.”
Memang benar perkataannya, saat ini padi baru saja ditanam sehingga tak ada sumber makanan bagi tikus-tikus itu selain jagung atau kacang yang tengah berbuah. Padahal areal penanaman jagung dan kacang tak seluas sawah, jadi bisa dibayangkan kalau hewan-hewan berekor panjang itu menyerbu jagung seantero desa, dalam beberapa saat saja dipastikan para petani hanya mendapatkan tongkol yang berhias beberapa biji jagung saja.
“Baiklah, sekalian saat ini saja kita pungut beberapa yang sudah cukup tua.” Kata Max datar.
Semua setuju dan ada yang khawatir dengan tanaman di kebun mereka sendiri. Jagung bisa segera ditebang dan cukup laku dijual menjadi latung ngoel (jagung muda) di kota, tapi tak mungkin demikian dengan kacang. Tanaman itu tetap harus dipanen saat usianya sudah cukup. Bila dipaksa juga akan banyak kacang yang masih muda atau biasa disebut koja bok (kacang yang tak berisi). Padahal musuh kacang tak hanya lawo (tikus) tetapi juga acu (anjing) yang suka mencongkel-congkel tanah ketika tanaman kacang baru saja ditanam dan memakannya. Dulu aku tak percaya, masa anjing makan kacang, sih? Tapi mertua dan para ipar meyakinkanku bahwa itu benar-benar terjadi.
“Jadi bagaimana dengan kacangnya?” Tanyaku.
“Ya, berharap saja semua berjalan baik sampai saat panen.” Jawab mertuaku.
Aku baru saja akan bertanya lebih lanjut ketika Ende Leni mengalihkan topik ke rumor yang cukup meresahkan penduduk kampung belakangan ini. Mereka mendengar ada orang yang kawe sa’i (mencari kepala). Aku bertanya kepala siapa yang dicari? Maksudku, kepala orang dewasa atau anak-anak, soalnya rumor semacam ini pernah aku dengar di masa kecilku tapi orang di Jember menamainya thok-kethok gulu (pemotong leher). Biasanya isu ini untuk menakut-nakuti anak-anak yang suka mencuri tebu di lahan petani dan juga saat mendekati masa giling di pabrik tebu yang kebetulan dekat dengan kampung kami. Tak pernah terbukti kebenarannya, namun kami dulu selalu mencurigai setiap orang tak dikenal, apalagi yang kebetulan membawa sabit besar dari arah sawah.
“Ata tu’a ko ata koe, cama kaut (Orang tua atau anak-anak, sama saja).” Jawab Ende Leni dengan mata meyakinkan.
“Tombo diong hitu? (Kata siapa?)” Tanyaku berusaha menghilangkan nada skeptis dalam suaraku.
Maka ramailah dia bercerita sumber beritanya yang tentu saja simpang-siur sambil menunjuk daerah-daerah jauh dan semua dimulai dengan “Kata si ini….kata si itu” Adik iparku sudah mengedip-ngedipkan mata padaku agar menghabiskan isi cangkir dan memulai bekerja lagi sebelum kisah ini semakin melebar tak jelas juntrungannya.
Oleh sebab itu segera kuhabiskan isi cangkirku dan berjalan mendekati Max yang mulai menganyunkan sabit menebas jagung-jagung muda. Dan berakhirlah rehat kopi sore bersamaan dengan meredupnya berkas-berkas sinar mentari di ufuk barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar