Jumat, 26 Agustus 2011

Merindu Campursari


Suatu pagi, Dewi Murni van Brazil, memasukkan diriku dalam penerima tag lagu Caping Gunung yang kebetulan dinyanyikan oleh legenda keroncong Indonesia, Pak Gesang. Walau sinyal di tempatku ini seperti ombak samudra Hindia, kutekadkan untuk membuka kiriman dari youtube itu. Tak kurang dari satu jam waktu yang dibutuhkan untuk bisa mendengarkan dengan lengkap!
                Ketika suara sederhana namun penuh charisma itu menggema dari laptopku, hatiku menjadi campur aduk. Syair lagu Caping Gunung itu memang indah dan terasa sedih sensenya, tapi yang membuatku berkaca-kaca adalah kenangan akan hari-hari di Jogja bersama salah seorang Budhe (kakak Mamiku) yang hobby sekali bernyanyi campur sari. Memang pada dasarnya Budhe Sulis, demikian kami biasa memanggilnya, hobby bernyanyi. Suaranya memang fantastis untuk ukuran penyanyi koor biasa. Tak heran kami tak pernah keberatan mendengarnya bernyanyi, tak hanya bersenandung, setiap pagi dan sore di kamar mandi. Salah satu lagu yang menjadi favoritnya adalah Caping Gunung.
                Budhe selalu menyumbangkan suara setiap hadir di pesta pernikahan. Begitu MC mempersilahkan tamu menyumbangkan lagu bagi mempelai, karena penyanyi pestanya sedang butuh istirahat, maka Budhe akan bergegas ke panggung. Seperti suatu siang ketika kami menghadiri pesta penikahan saudara sepupu di Wonosari Gunung Kidul. Begitu pengantin bisik-bisik sambil menunjuk Budhe pada sang MC, beliau sudah langsung bersiap. “Ajeng nyanyi napa ta, Bu? (Mau menyanyi apa, sih Bu?)” Tanya anak lelakinya. Sambil berdiri beliau berkata, “Caping Gunung.” Kontan anak lelakinya mengeluh, “Wong dereng apal ngoten, lho Bu. (Orang belum hapal, gitu lho Bu)” Tapi beliau santai saja melangkah menuju panggung, membuat saudara sepupuku itu tambah menggerutu. “Ibu belum hapal nyanyian itu, lho Dik. Nanti di tengah jalan pasti hanya diisi dengan na-na-na gitu.” Aku tertawa saja, toh setiap penyanyi pasti punya buku catatan yang bisa pinjam. Dan benar saja, beliau sukses menyanyikan lagu itu dengan buku pinjaman.
                Lalu suatu sore aku berjalan menyusuri jalanan Ruteng. Seorang penjual gorengan yang kukenal tersenyum padaku sambil menyapa, “Kundur, Mbak? (Pulang, Mbak?)” Aku membalas sapaannya dengan senyum yang sama lebar. Namun yang menarik perhatianku adalah suara musik campur sari dari handphone atau mungkin tape portable yang mereka miliki. Benda itu mengalunkan suara Didi Kempot yang berkisah tentang Stasiun Balapan. Waduh, mendadak aku teringat pernah duduk sampai menjelang sore di stasiun itu bersama Fitri, menunggu kereta api Pramex yang tak kunjung tiba. Sayup-sayup dari radio seorang pedagang terdengar irama campur sari. Saat itu sungguh biasa, namun begitu aku menapaki jalanan di tempat yang terpisah oleh puluhan pulau, mendadak terasa manis di hati.
                Lagu campur sari kegemaran Max adalah Ndang Baliyo. Well, aku tak tahu benar judulnya, hanya syairnya memang berisi kata-kata: “Ndang baliyo Sri, ndang baliyo (Cepatlah pulang, Sri. Cepatlah pulang)” Bukannya dia tahu benar lagunya, apalagi hapal syairnya secara utuh. Hanya sepotong itu saja yang bisa dinyanyikannya dan dimanfaatkan sebesar-besarnya setiap aku liburan ke Jawa. Setiap malam dalam midnight callnya, setelah gagal membujuk untuk cepat-cepat pulang karena memang belum waktunya sesuai dengan kesepakatan, dia akan segera menyanyi, “Ndang baliyo Sri, ndang baliyo.” Biasanya aku akan tertawa sambil menjawab, “Aku, kan bukan Sri. Mami, tuh yang bernama Sri.” Lalu cepat-cepat dia mengubah syairnya menjadi: “Ndang baliyo Tia. Ndang baliyo.
                Bila itu tak manjur juga, maka dia akan mulai menggerutu. “Biaya pulsa telepon begini setiap hari sudah bisa untuk beli tiket pesawat pulang, dear.” Lalu? “Pulang, sudah!” Ujarnya dengan logat yang kental. Nah, ini dia!
                Maka, sambil tersenyum-senyum, aku mencari satu-satunya CD campur sari yang kumiliki. Tak berapa lama terdengar musik yang kurindu dalam alunan suara emas Sunyahni mendendangkan lagu dari kampung halamanku di seberang lautan. Kapan, yo aku iso bali? (Kapan, ya aku bisa pulang?)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar