Kamis, 11 Agustus 2011

Sudah Menikah...?


Pertanyaan itu sering terdengar ketika usia sudah dianggap pas untuk menemukan pasangan hidup. Sayangnya, tulang rusuk kita kadang suka bersembunyi dan mengajak kita bercanda sejenak sebelum menampakkan batang hidungnya, maka jadilah kita bulan-bulanan pertanyaan itu. “Sudah menikah?” Lalu dengan wajah dicerah-cerahkan berhias senyum kita akan menjawab, “Belum.” Wajah penuh senyum itu akan mendadak meredup ketika pertanyaan susulan muncul, “Nunggu apa lagi?” Ya, menunggu orang yang tepat, dong. Pangeran dengan kuda putih atau Mercy terbaru, terserahlah yang penting aku sedang menantikan orang yang tepat!
                Ketika telah berubah status, aku pikir pertanyaan semacam itu akan berakhir dengan sendirinya. Ternyata aku salah besar! Walau bukan dengan nada yang sama dan menimbulkan pengaruh serupa dengan sepuluh tahun lalu, tetap saja pertanyaan itu menghunjam batin. Seperti saat aku sedang terbang antara Labuan Bajo dan Denpasar. Di sebelahku kebetulan duduk seorang berondong (sebutan untuk lelaki yang lebih muda) berusia sekitar awal tiga puluhan. Mungkin daripada duduk diam selama satu jam perjalanan, lelaki itu mulai bertanya-tanya masalah umum sampai mengapa aku bisa bekerja di Flores. Tentu saja aku jawab: Ikut suami. Sambil menjungkitkan alis dan tersenyum lebar dia berkata, “Mbak sudah menikah?” Lha, kamu pikir apa? Percakapan itu berakhir dengan permintaan nomor mobile yang tentu saja aku tolak secara halus. Dia, kan bukan Nicholas Saputra.
                Mungkin nasibku siang itu sedang “dikejar mas-mas” (seperti judul film saja) di ruang tunggu Bandara Ngurah Rai pun aku duduk disebelah berondong yang tak kalah ceriwisnya. Setelah bertanya ini-itu sampailah pada pertanyaan harga tiket Labuan Bajo-Denpasar. Aku jawab tak tahu, soalnya suami yang memesankannya. Eh, mendadak dia menatapku seakan aku mengingau dan bertanya dengan wajah  pesimis. “Lho, mbak sudah menikah?”
Tak hanya di dunia nyata, di dunia maya pun aku terantuk pertanyaan serupa. Bila yang bertanya adalah teman baru, memang sudah sewajarnya status dipertanyakan demi kelancaran hubungan pertemanan selanjutnya, namun bila yang menanyakan teman lama rasanya sungguh tertohok. Seperti suatu pagi beberapa bulan lalu, seorang teman lama di Jogja  bercakap secara virtual denganku. Ia menanyakan aku mengajar di mana, dan aku jawab tempat kerjaku sekarang. “Kenapa jauh-jauh sampai di Flores, sih Mbak?” tanyanya. Kujawab suamiku dari Manggarai. Lalu di baris berikutnya dia mengetikkan kalimat yang selama ini menguntitku: “Mbak Tia sudah menikah? Kapaannn?” Aduuh Mamiii….! Sudah bertahun-tahun yang lalu!
Hal serupa terulang lagi kira-kira sebulan lalu walau redaksionalnya berbeda tapi tetaplah mengacu pada hal yang sama. “Jadi Mbak Tia sudah menikah ya? Masa, sih?” Mungkin aku seharusnya memasang iklan pernikahan seperempat halaman di koran nasional. Tapi siapa yang bersedia jadi penyandang dananya ya?
Ketika aku bercerita pada Max, bukannya prihatin atau bahkan cemburu, dia malah ketawa ngakak. “Rasain, kamu engga bakal bisa menyangkal juga kalau mereka minta bukti, soalnya KTPmu kan memang tertulis STATUS: BELUM KAWIN.” Lha itu memang KTP 5 tahun lalu, kalau tertulis KAWIN malah aku tak bisa menikah dengannya, dong.
“Mungkin kemampuanmu menjerat lawan jenis diragukan, dear.” Enak saja! Apa lawan jenis itu buruan yang harus dijerat? “Bukan dijerat, ding” katanya kalem. “Tapi diikat.”
Lha terus status kita ini dianggap apa? “Itu, kan cuma asumsi orang lain, jangan terlalu dipikirkan.” Ujarnya.
Aku terdiam.
“Makanya, minta surat pindah dari Surabaya. Ganti KTP Manggarai dan ganti statusnya.” Celetuknya sambil tersenyum.
Apa hubungannya dengan kasus di atas?
“Ya, kalau ada yang meragukan statusmu, kan tinggal tunjuk KTP.” Tawanya kembali pecah.
Dan aku hanya bisa menghela napas sambil berkata dalam hati, tak ada coffee mocha untuknya siang ini!

1 komentar: