Kamis, 18 Agustus 2011

Happy Birthday, Dad


Sebetulnya ucapan ini terlambat, karena Dad berulang tahun empat hari yang lalu. Usianya sudah tak muda lagi dan anak-anaknya mungkin mulai lupa mengucapkan selamat padanya tepat di hari kelahirannya. Kesibukan, kondisi yang tak memungkinkan, bahkan lupa menjadi alasan. Seperti diriku yang tak bisa menghubunginya tepat pada waktu pergantian hari karena sedang berada di kampung dan dengan malu-malu baru menghubunginya sehari kemudian. Tak heran pertanyaan pertama dari Bapakku itu adalah, “Ana apa, Tik? (Ada apa, Tik?)” Lalu sambil cengengesan aku menjawab, “Selamat Ultah, ya Dad.”
                Untunglah Daddy tidak demanding seperti anak-anaknya, terutama anak-anak  perempuannya, yang suka tersinggung kalau tak diberi ucapan selamat pada saat yang tepat. Biasanya kami mengirim sms kalau terlambat sedikit saja dari waktu yang seharusnya, “Lali nek aku ulang tahun, ya Dad? (Lupa kalau aku ulang tahun, ya Dad?)” Biasanya beliau akan menjawab, “Lho, aku agek arep ngucapne, je (Aku baru saja akan mengucapkan).” Lalu kami akan ngeyel sambil merengut, “Padune lali wae (Alasan karena lupa aja)” Dan beliau akan tertawa.
                Daddy adalah tokoh sentral dalam keluarga, sementara Mami lebih berperan dalam urusan rumah. Bukan karena Mami tak mau ikut campur hal penting, tapi sifat perempuan Jawanya sangat menonjol sehingga untuk urusan-urusan penting dia selalu berkata, “Ya, kana matur Bapakmu (Ya, sana bilang sama Bapakmu)” Walau aku tahu benar mereka berembuk di belakang punggung kami, tapi tetap daddylah yang menyampaikan keputusan.
                Hubunganku dengannya berjalan seperti ombak samudera, pasang dan surut seiring usia. Saat masih kecil sampai pertengahan sekolah dasar, tak banyak yang bisa diceritakan karena memang kami terpisah darinya karena tugasnya di Jember, sementara kami tinggal di Jogja. Setelah SMP tak juga akrab karena masa pra remaja membuat lebih banyak konflik daripada perdamaian. Terutama bila anaknya mempunyai sifat moody semacam diriku. Bila diingat-ingat lebih banyak aku menangis karena tersinggung dan sakit hati menerima perlakuannya yang tegas menyangkut sekolah dan tak boleh bermain bersama teman-temanku yang lain. Jaman dulu hal itu kuanggap kejam sekali, seperti bapak tiri saja. Namun sekarang aku tahu bagaimana khawatirnya orang tua terhadap anak-anak perempuannya ketika mereka mulai beranjak dewasa.
                Semakin dewasa, ketegasannya semakin berkurang menurutku saat itu, tapi bisa jadi aku sendiri yang telah berjalan sesuai dengan system yang diinginkannya. Mungkin hanya satu hal yang selalu menimbulkan perbantahan antara kami, yaitu larangannya agar kami tak berpacaran sampai lulus kuliah. “Berteman saja sebanyak-banyaknya, tak usah terlalu serius.” Ujarnya setiap kali ada teman lelaki yang mendekatiku. Ah, masalah hati masa bisa diatur begitu? “Pokoknya fokus kuliah saja!” Phew…kalau kosa kata “pokoknya” sudah keluar berarti end of discussion.
                Salah satu hal paling mengesankan dari Daddy adalah kebiasaannya mengantarku saat pertama memasuki suatu jenjang pendidikan. Dari SD sampai strata dua tak pernah dilewatkannya, sampai suatu hari aku menggodainya, “Daddy, nih selalu mengantarku saat daftar ulang. Apa engga percaya kalau aku akan sekolah di sini?” Lalu dia tertawa sambil menjawab, “Ya bukan begitu, hanya pingin tahu sekolahmu saja.” Nanti kalau aku studi lanjut masa masih mengantar juga? “Yo ora apa-apa ta? (Ya tidak mengapa, kan?)”
                Kebalikannya, saat kami wisuda tak pernah sekali pun beliau hadir. Banyak macam alasannya. Sampai-sampai kami hanya punya foto wisuda dari kampus dua lembar setiap kalinya (memang hanya itu jatah jepretan bagi wisudawan). Padahal aku dan Hans, adik lelakiku, masing-masing menjadi wakil wisudawan. Rasanya aneh kami hanya datang sendirian ke tempat wisuda sementara orang lain sampai memerlukan  membawa mini bus untuk berbahagia bersama anggota keluarga yang diwisuda. Paling-paling di akhir acara beliau akan menelepon dan bertanya apa acaranya berlangsung dengan baik. Saat itulah alasan ketidakhadirannya akan diulang lagi. Alasan paling akhir adalah, “Wah, aku isih nunggoni tukang sing ngeduk sumur, je (wah, aku masih menunggui tukang gali sumur, nih)” Aku hanya tertawa sambil menjawab, “Yo wis, Dad selamat menggali sumur.”
                Walau kini aku berada jauh darinya, tak sehari pun dia melupakanku. Sering mendadak beliau menelepon untuk bertanya, “Kamu baik-baik saja?” Tentu saja aku balik bertanya mengapa beliau bertanya demikian. “Aku pingin sekali meneleponmu, mungkin ada sesuatu yang terjadi.” Ah, daddy hal ini yang paling kutakutkan, hubungan batin kami semakin kuat dari hari ke hari sehingga bila aku mengalami kesedihan dia langsung dapat merasakannya. Maka bila aku merasa berbahagia, sering sekali aku berusaha meneleponnya untuk segera mengabarkan hal itu.
                Satu hal yang aku dan adik-adikku tahu pasti, dengan kelebihan dan kekurangannya, beliau telah menjadi guru bagi kami dan menghantarkan kami semua menjadi seperti hari ini. Entah berapa banyak tetesan keringat, kecemasan, ketakutan, kebimbangan, dan malam-malam penuh doa pengharapan yang dilakukannya bagi kami. Perjuangan sepanjang hidup yang belum akan berakhir sampai hembusan napasnya yang terakhir.
                Daddy, selamat ulang tahun. Tanpa perlu mengucapkannya, Daddy pasti tahu betapa kami semua berterima kasih padamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar