Kali ini aku kembali menulis sesuatu yang romantis. Tak tahu mengapa, tapi saat menyeruput secangkir kopi mocha sambil membaui bunga kopi yang mekar di samping rumah, mendadak ingatanku melayang mundur beberapa tahun. Harum lamat-lamat bunga putih itu membawaku pada sebuah ruangan yang aku sukai. Bangku-bangku berpelitur coklat, kursi sofa kehijauan, lampu bersinar kekuningan hangat, dan bau sedap malam.
Keakraban semakin terasa oleh penataan meja bar sekaligus sebagai tempat transit makanan sebelum disajikan. Para pria, sejauh ini aku tak pernah melihat waitress, berpakaian putih dengan ramah menyajikan makanan atau minuman yang lumayan tasty. Tapi yang paling kusukai, tempat itu merupakan bagian sebuah toko buku yang menjual buku-buku impor. Antara café dan toko buku hanya disekat oleh rak-rak tempat memajang buku dan di atas rak itulah terletak jambangan kaca bening berhias bunga sedap malam.
Saat itu, setiap mengajak atau diajak kencan aku lebih sering memilihnya. Selain pengunjung tak cukup banyak, mengingat meja yang tersedia juga tak lebih dari hitungan jari, suasananya yang cozy membuatku betah berlama-lama. Selera musik manajer toko yang menyatu dengan café itu pasti bagus, paling tidak buatku, karena lagu-lagu yang diputar lamat-lamat selalu pas di telingaku. Kebanyakan easy listening pop, tapi kadang terselip musik jazz kegemaranku.
Suatu saat aku ditemani oleh Laura Fygi dengan The Way He Makes Me Feel, saat lain Tony Bennett bersenandung What A Difference A Day Made, Ella Fitzgerald melantunkan Isn’t It Romantic, atau Frank Sinatra dengan Moon Rivernya. Biasanya aku akan menyesap perlahan cappucinno, lalu menyandarkan kepala, dan menikmati alunan suara mereka dengan angan mengembara atau otak bergerak mencari inspirasi.
Bukan inspirasi untuk membuat note atau cerpen seperti sekarang, tapi ide untuk draft presentasi atau makalah yang menjelang deadline. Kuliah dan bekerja kadang menguras pikiran dan tenaga, dalam kondisi normal bisa saja ide berseliweran tanpa diundang, namun aku selalu membutuhkan usaha lebih untuk mendapatkannya. Terlebih ketika pembuatan thesis sudah di ambang pintu. Sepertinya aku dikejar sepasukan tentara saja.
Terkadang suasana romantis itu justru membuat otakku tak sudi diperintah untuk hal-hal berbau textbook. Mendadak saja anganku berbelok pada sebentuk wajah atau penggalan kata yang membawa kehangatan di dada atau membuatnya nyeri, tergantung kisah yang pernah mampir di sana. Bila keadaan itu menyelubungiku, bisa berjam-jam aku duduk merenung sampai jam makan malam tiba.
Tapi paling sering adalah percakapan beberapa penggal dengan para waiter. Topiknya tak pasti tergantung suasana hatiku dan mereka. Paling umum adalah: “Wah, buku baru, ya Mbak.” Saat melihatku mulai melembari novel yang baru kubuka plastiknya. Kadang sapaan itu lebih pribadi misalnya: “Koq sendirian, Mbak?” Lho, maunya dengan siapa? “Masnya yang dulu itu mana?” Ah, mas yang mana? Lalu kami akan tertawa gelak. Kadang percakapan itu berupa pendapat walau aku tak memintanya: “Temannya yang kapan hari itu keren, lho Mbak. Sudah, dengan yang itu saja.” Wah, saya tidak mencari sekedar penampilan keren.
Keakraban semacam itu kadang membuat teman kencan atau teman yang kuajak bersantai ke sana bertanya: “Koq kamu kenal semua orang? Emang sering nongkrong di sini ya?” Biasanya aku tak menjawab dan hanya bertukar senyum dengan waiter yang sedang menyodorkan lembaran daftar menu.
Saat aku kembali ke tempat itu liburan kemarin, suasana itu tetap ada, walau para pegawainya sudah berganti. Aku tetap bisa menikmati coffee latte bersama almond pie, ditemani alunan suara vokalis perempuan D’cinnamons mendendangkan “Selamanya Cinta” Dan tanganku pun sibuk melembari novel percintaan terbaru yang harum kertasnya selalu membuatku menghela napas lebih dalam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar