Sejak awal, manusia modern memang telah dicekoki dengan image buatan para industrialis tentang perempuan ideal (dan sekarang lelaki ideal). Aku tak akan membahas hal ini, karena sudah banyak yang membahasnya. Beberapa saat lalu acara radio, di mana aku biasa jadi pembicaranya, juga pernah mengupas hal ini untuk melihat fenomena yang ada bahkan di kota sekecil tempat tinggalku ini.
Pagi tadi begitu dingin, aku memutuskan membaca tulisan Ayu Utami sambil berjemur di halaman. Menurut ujar-ujaran para ahli, matahari sebelum jam 08.00 pagi bagus untuk kesehatan karena mengandung banyak vitamin D yang berguna bagi tulang. Apalagi dikatakan perempuan Indonesia sekian prosen menderita osteoporosis, menurut iklan suatu produk, maka demi kesehatan, tak ada salahnya duduk menikmati kehangatan mentari sampai sinarnya dinyatakan berbahaya bagi kulit.
Saat aku mulai berleha-leha dalam siraman mentari sambil memberi asupan gizi bagi jiwa dan otakku, mendadak aku teringat pada kata-kata adik lelakiku. “Aku ga bolehin Nendra dijemur terlalu lama setiap pagi.” Memangnya, kenapa? “Nanti jadi hitam dia.” Wah, ternyata yang takut jadi hitam tak hanya perempuan, bahkan juga laki-laki.
Apa yang salah dengan kulit sedikit gelap? Ternyata banyak. Paling tidak ketika aku ke Jawa, komentar adik-adik perempuanku adalah: “Ih, kamu sekarang koq jadi hitam, sih Mbak?” Bukankah orang Indonesia sebagian besar memang berkulit sawo matang? “Tapi dulu kamu berkulit cerah, engga segelap sekarang.” Tentu saja, dulu aku, kan tak pernah bersentuhan langsung dengan matahari. Dari pagi sampai malam selalu berada di dalam ruangan. Mana mungkin kulit tak menjadi pucat karenanya?
Lalu mulailah adik-adikku yang selalu concerned dengan penampilanku menawarkan bahkan menghibahkan sebagian produk kosmetiknya untuk kukenakan. Ah, jangan-jangan malah membuat jerawatan, nih. Kulitku sangat sensitive terhadap produk kosmetika. “Coba saja, tuh pembantuku aja sudah kelihatan hasilnya setelah memakai produk ini selama sebulan.” Jadi dia menghibahkan juga cream ini pada asisten rumah tangganya? Gosh…!
Dalam salah bagian yang aku baca pagi ini, Ayu Utami mengatakan bahwa para produsen mengiklankan produknya berbalikan antara belahan bumi utara dan selatan. Negara dengan penduduk yang berkulit terang dan kulit berwarna. Di daerah tempat sebagian besar penduduknya berkulit terang mereka membuat image bahwa yang berkulit gelap itu eksotis dan seksi. Sementara di daerah kulit berwarna, keindahan ideal adalah yang berkulit pucat nan creamy. Rupanya para produsen krim kecantikan, penggelap atau pencerah kulit itu, belajar tentang sejarah dan kehidupan sosial sasaran produknya. Di daerah empat musim, kulit kecoklatan itu mahal karena yang bisa berkulit coklat hanya orang kaya yang berkesempatan untuk berjemur di negeri tropis nan jauh di seberang benua. Butuh uang banyak untuk sekedar berleha-leha menghabiskan hari di bawah matahari dengan lambaian nyiur dan pasir putih di bawah telapak kaki. Apalagi aku pernah melihat dalam salah satu iklan, lelaki berkulit gosong menenteng papan selancar dengan mata biru sebening laut. Sungguh suatu kontras yang menawan, sampai tak terasa liurku mengumpul di rongga mulut sangking tergiurnya.
Di satu sisi kulit putih bak pualam menjadi idaman di negeri dua musim, karena yang berkulit gelap biasanya adalah orang yang banyak berada di bawah terik matahari, dan itu pasti bukan priyayi. Golongan elit tak pernah bersentuhan dengan mentari, selalu tampak necis dan menawan dengan kulit bak pualamnya. Tak heran ideal perempuan dan juga sekarang lelaki adalah yang berkulit pucat. Kalau perlu dipucatkan dengan segala macam krim yang ada di pasaran.
Jadi sebetulnya warna kulit juga berurusan dengan gengsi dan status sosial juga rupanya. Bila menyangkut prestise ini, banyak hal yang bisa mengabsahkan cara-cara yang dipakai. Pedih beberapa hari karena kulit yang dikelontok, ini menurut iklan beberapa salon, menjadi harga yang sanggup dibayar oleh seseorang, selain duit yang pasti juga keluar. Bangun pagi dengan mata terkantuk-kantuk demi melulur tubuh juga tak masalah asal kulit berubah cerah. Bahkan cara mutakhir dengan injeksi Vit C menjadi pilihan, biarpun seorang dokter dalam sebuah rubrik kecantikan mengatakan bahwa kesalahan injeksi sehingga vitamin itu meluber memasuki kulit akan menyebabkan kesakitan yang luar biasa. Belum lagi jaringan otot yang akan mengeras bila dipakai untuk waktu lama, dengan segala macam istilah medisnya.
Matahari semakin hangat membelai kulitku walau angin pagi tetap berhembus dari perbukitan di barat kampung. Semakin lama semakin asyik mata dan otakku melahapi buku di tanganku. Aku kembali teringat pertanyaan dokter dalam rubrik kesehatan itu. Menjadi sehat bukan hanya masalah mekanis tubuh, melainkan juga kondisi jiwa seseorang. “Berapa sering anda menikmati sinar mentari di pagi hari?” Tulisnya. “Berapa sering anda merasakan kehangatannya menyusup ke pori-pori anda?”
Aku tengadahkan wajah menatap bola kuning itu menghiasi langit biru. Keramahannya menjamah mukaku dengan lembut. Tiba-tiba aku tak perduli pada kulit putih creamy. Berkulit gelap bukan sebuah dosa atau gangguan sosial. Kehangatan dan keindahan yang aku dapat ketika bercengkerama dengan mentari ini melenakan. Kalau harga yang harus dibayar adalah dipandang sebagai kasta rendah dalam masyarakat, biarlah terjadi, toh aku memang berasal dari golongan bawah yang di negeri ini diidentikkan dengan bekerja di bawah terik matahari dan tak cakap berpikir. Bahkan tempat tinggalku pun dianggap layak sebagai ejekan. “Huuuu….ndesooooo! (Huuu….kampungan!)”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar