Pagi ini, seperti kebanyakan hari-hari lainnya, kumulai dengan membuka internet. Tidak ada alasan khusus selain aksesnya lumayan cepat karena belum banyak yang on the line. Jadi, mulailah acara melanglang dunia maya dengan mata yang masih setengah terpejam.
Di tengah keasyikan tersebut, sinyal merah berkedip-kedip tanda seorang teman mengirimkan instant message. Salam pembuka dan khabar kondisi masing-masing dipertukarkan. Semua baik walau Gunung Merapi membuat beberapa keluargaku mengungsi. Kemudian sedikit canda tawa tentang pekerjaan, kesibukan, sakit kepala, dan memperbincangkan satu dua teman yang saling dikenal.
Tak berapa lama mataku yang masih sayup-sayup jadi terbuka lebar. Betapa tidak, percakapan virtual ini mendadak masuk ke jalur yang selalu menarik sepanjang masa, yakni relationship antara laki-laki dan perempuan.Topiknya ialah: Mengapa perempuan suka ditelepon lama-lama. Padahal para lelaki, kan punya banyak hal untuk dilakukan. Maunya, rebut cukup (seperlunya) saja. Mungkin gambarannya begini: “Hai, lagi ngapain?” Dijawab dengan aktivitas yang sedang dilakukan. Entah cuci baju, akan masuk kelas untuk mengajar, sedang di tengah jalan menunggu angkot, atau mungkin sambil menyuap sarapan. Lalu,”Oh, gitu. Baiklah. Have a nice day, ya. Bye…bye….” Sudah!
Eh, kalau gaya pembicaraan perempuan? Oh, tidak begitu. Prosedurnya seperti acara makan malam resmi saja. Omongan pembuka (seperti Appetizer), isinya ngobrol tentang apa yang sedang dilakukan sekarang, seberapa rindunya masing-masing, apakah selama ini memikirkan dirinya atau tidak, dan sebagainya dan seterusnya. Setelah lewat seperempat bagian percakapan, baru dimulailah Main topicnya (seperti Main Course) yang isinya kembali kata-kata asyik masyuk sebelum diutarakan maksud sebenarnya. “Jadi aku meneleponmu karena kebetulan dapat pulsa gratisan seratus ribu, nih. Juga karena minggu depan aku ga bisa menelepon lagi. Sibbuuuukkk…sekali!” Lalu si perempuan akan bertanya seberapa sibuk. “Pokoknya sibukkkk…. (sampai tak mungkin mengingatmu)” Lalu pembicaraan akan terus berlangsung sampai pulsa habis tandas. Namanya juga, dapat gratisan, harus dihabiskan sampai tuntas.
Selanjutnya bisa ditebak. Begitu dering peringatan di ponsel berbunyi, si penelepon akan cepat-cepat mengakhiri pembicaraan. Namun tak semanis dessert dalam acara makan, malah menimbulkan kepahitan. Ternyata telepon yang panjang mengular itu tetap tak cukup buat si perempuan. “Masih kangen, nih! Masa teleponnya cepat benar. Mana minggu depan engga mungkin telepon lagi.” Dan perdebatan dilangsungkan sampai bunyi denging memekakkan telinga.
Ini satu hal, belum lagi kalau lama tak ditelepon akan menyebabkan protes bertubi-tubi. “Koq engga balas teleponku, sih? Koq engga balas SMSku, sih?” Dan jawaban paling standart adalah: “Aku, kan harus kerja. Masa siang malam menghubungimu terus?”
“Kalau para perempuan sudah tak punya rasa kangen, kaum lelaki baru tahu rasa nanti!” Tulisku. “Kayaknya itu lebih baik.” Balasnya. “Lelaki juga bisa kangen, tapi…itu tak harus diomongkan”
Memang begitu, kan sifat perempuan? Demikian kalimat yang muncul dalam instant message selanjutnya. Kontan saja aku menolak. Wah, mengapa digeneralisasi begitu. Aku tidak seperti itu…yah, maksudku kelihatannya aku tak akan berbuat seperti itu bila berada dalam sebuah relationship, jawabku. Tapi dalam hati aku mengingat-ingat pernah tidak, ya berbuat seperti itu? Lalu perlahan pipiku memerah.
Temanku mengatakan tindakan seperti itu tidak dewasa dalam kacamata laki-laki. Sebagai orang yang dididik tak terlalu menunjukkan perasaan, lelaki tak suka mengumbar isi hatinya. Karena mengumbar perasaan sama artinya dengan menunjukkan kelemahan. Mana ada orang yang ingin terlihat lemah?
Membaca kalimat itu aku jadi ingat saat kuliah dulu, ketika diharuskan membaca buku tentang feminisme, di mana diperkenalkan istilah Nature dan Nurture. Perempuan itu hasil Nurture alias didikan, laki-laki itu wujud dari Nature. Hal itu, menurut sang pakar, diperkenalkan sejak usia batita (bawah tiga tahun). Contohnya, anak lelaki boleh bermain dengan permainan yang keras dan kasar, memanjat pohon, baku berkelahi, atau omong dengan nada tinggi. Tapi mereka dilarang menangis, mengeluh, apalagi mengharu biru. “Masa lelaki cengeng, sih?” Itu komentar yang akan dilontarkan bila bertemu dengan lelaki yang suka curhat .
Sementara perempuan diajari untuk menyayangi, menunjukkan empati, merawat dan memelihara. Bila perasaannya tak peka melihat gerak tubuh, raut muka, atau aksi yang seharusnya lekas ditanggapinya, teguran yang diterimanya adalah: “Kamu, koq engga peka, sih? Masa sudah tahu, gitu diam saja.” Atau, “Pacarmu, kan sakit. Masa tak menunggui? Atau paling tidak menjenguk, gitu.” Aku, kan sibuk. Kerjaan di kantor menumpuk. “Iihh…perempuan, koq ga punya perasaan.”
Tapi seandainya aku yang sakit, apakah pacarku akan bergegas menunggui dan menjengukku bila pekerjaan menumpuk? Apakah dia tahu aku suka kue lapis dan warna kesukaanku biru muda? Apakah dia ingat hari ini ulang tahunku tanpa harus diingatkan dengan SMS? Apakah kalau shopping ingat syal warna lembayung yang kuinginkan?
Wah…melit sekali, ya? Tapi memang itu yang sering ada dalam pikiran perempuan tentang pasangannya. Segala sesuatu selalu diberi label: “Ingat kamu.” Bukannya melakukan generalisasi, tapi itu yang kebanyakan dilakukan. Perempuan dibiasakan merespon segala gerak-gerik dan bahasa, baik yang tersirat maupun tersurat. Kalau pun reaksi mereka agak lambat, mungkin karena ada aturan yang melarang mereka menunjukkan sikap ekspresif yang berlebihan. Saru! Aib!
Perempuan juga “dididik” menjadi bagian dari sesuatu, sehingga terhubung pada sesuatu telah menjadi bagian dari dirinya. Tak heran dia selalu ingin dijadikan bagian dari, katakanlah, kekasih atau suaminya. Bila Sang kekasih atau suami tak berbuat hal yang sama, rasanya sungguh mengesalkan. “Koq, kamu engga pernah memperhatikan aku, sih?” Itu protes yang biasa dilayangkan, dan jawaban, “Bukannya aku tak memperhatikan, tapi…” Justru akan memperuncing percakapan.
Perbedaan cara pandang dalam menyikapi sebuah hubungan antara lelaki dan perempuan ini yang membuat hubungan penuh liku, onak dan duri, atau apa pun istilahnya. Hubungan bittersweet yang harus dilalui oleh banyak pasangan. Tapi seperti kata banyak teman, kalau hubungan lempeng terus akan membosankan juga. Haruslah ada pain and sorrownya. Agar jalinannya menjadi kuat dan tak lekang oleh waktu.
Lalu bagaimana kalau teori para lelaki dipraktekkan pada diri mereka? Aku ingat Si Max yang secara rutin telepon tiga kali sehari (seperti dosis minum obat) kalau aku berlibur ke Jawa. Pagi, siang, dan yang kadang menjengkelkan adalah menjelang tengah malam. Mungkin sesekali, bila aku sedang asyik klesotan di toko buku, duduk merenung-renung sambil menikmati secangkir cappuccino di sebuah cafĂ©, atau saat mimpi indah tengah menyelimutiku, aku mempertimbangkan untuk menjawab seperti yang dikatakan temanku pada perempuan yang jadi kekasihnya, “Aku juga kangen, Sayang. Tapiii…tak perlu diomong, bukan?” Ehm…, aku bisa membayangkan bagaimana reaksi Max.
Lalu apa, sih yang diinginkan perempuan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar