Saat mendengarkan lagu ini dalam salah satu postingan Hariatni Novitasari, hal pertama yang kulakukan adalah menjerit-jerit, dalam hati tentunya, lalu tertawa ngakak. Kenangan lama meluncur tak terbendung. Flashback ke masa remaja menjadi sesuatu yang tak bisa ditahan-tahan. Apalagi kalau bukan cerita tentang cinta pertama.
Orang bilang first love never die. Dalam beberapa hal memang benar, paling tidak aku masih mengingat “rasa”nya sampai saat ini. Selain itu segenap data tentang dirinya masih utuh terekam misalnya: aku ingat namanya, di mana rumahnya, siapa kakak-adiknya, siapa orang tuanya, bahkan aku ingat siapa teman-temannya. Bagi orang lain mungkin ini hal yang lumrah, tapi salah satu kelemahanku adalah mengingat nama teman. Tidak mengurangi rasa hormat pada teman-teman dari SD sampai S1, banyak diantaranya yang telah tak kuingat lagi namanya. Semakin jauh jarak dari masa kini semakin terlupakan ditindas memori yang lebih baru. Bahkan teman-teman S2, pun kadang hanya teringat nama panggilannya.
Nah kembali pada lagu Buku Ini Aku Pinjam, Iwan Fals memang penyanyi idolaku. Lagu-lagunya semua aku suka, terutama yang bertema cinta. Khusus lagu Buku Ini Aku Pinjam menempati ruang tersendiri di hatiku. Bukan hanya karena Iwan yang menjadi model clipnya (foto model kala itu, bukan Iwan Fals) cakep, tetapi momentnya sungguh pas. Aku memang gemar ke perpustakaan untuk sekedar bertemu pacarku.
Apa tak ada tempat lain buat ketemu? Norak memang, tapi ya begitulah. Dari awal mula aku menyukai lelaki yang smart. Tak heran incaranku anak-anak IPA (yang kala itu diidentikkan dengan kecerdasan dibandingkan dengan jurusan IPS yang dianggap warga kelas dua) yang jago di kelasnya, dan nasib baik berpihak padaku. Aku mendapat kecengan yang smart dan cakep pula, plus berkacamata (heran juga, kenapa aku suka cowok berkacamata sejak dulu). Anak-anak smart itu suka kumpulnya di perpustakaan. Jadilah aku mejeng di sana.
Lalu terjadilah peristiwa “Buku ini aku pinjam.” Bukan saling pinjam antara kami, tapi buku yang hendak aku pinjam secara tak sengaja terambil olehnya dari depanku. Dan yah….begitulah, seperti adegan film India yang romantis atau telenovela Brazilia kegemaran Dewi Murni, kami saling pandang, tersenyum-senyum, dag-dig-dug (dari pihakku tentu saja, entah kalau dia), dan selanjutnya happy ending….walaupun tidak happily ever after.
Tak heran aku sampai jejeritan ingat peristiwa itu. Ketawa ingat noraknya, geli mengapa dulu bertingkah malu tapi mau, dan ngakak saat memandangnya dengan perspektif yang berbeda sekarang. Apalagi bila melihat gaya anak-anak SMA masa kini berpacaran. Wah, jauh amat metodenya. Dulu paling pol hanya makan bakso rame-rame dengan teman. Mengantar juga beraninya sampai ujung gang. Dan mendekati hari Valentine sudah keluyuran mencari kartu paling imut sekaligus paling terjangkau yang ada di toko. Pegang tangan?? Alamaakk…itu sudah kelewatan. Panggil “sayang” atau “Mama-papa”? Wah, engga ada dalam kamus. Kalaupun berani mengucapkan paling di surat atau kartu saja. Bahkan hanya baca tulisan “Love” sekecil semut di atas tanda tangan saja sudah jejingkrakan seharian. Last but not least, kalau kebetulan sempat lewat depan rumahnya wow….perasaan bungahnya bukan kepalang, sampai-sampai semua teman karib mendengar khabarnya.
Melihat anak muda berpacaran jaman sekarang kelihatannya lagu Buku Ini Aku Pinjam sudah tidak menimbulkan kesan romantis lagi. Jajan bakso beramai-ramai (karena malu kalau kelihatan jalan berdua saja) tak laku lagi. Duduk berdua di halte bus pasti tak lagi jadi hal istimewa. Apalagi kirim-kiriman surat lewat teman, pasti sudah dianggap berasal dari abad lain. Dengan kecanggihan teknologi tak perlu surat-menyurat plus kata-kata mutiara buat memikat hati orang yang kita sukai.
Saat ini banyak yang tak sungkan lagi bergandeng tangan dan jalan berdua sambil asyik-masyuk. Berbonceng motor pun tak kalah mesranya. Sampai orang-orang tua kadang mengomentari sambil geleng kepala. Bahkan menurut cerita sanak saudara, di beberapa kota pergaulan para remaja sudah sangat mengkhawatirkan sehingga dulu pernah ada polling yang cukup menggegerkan di kota pelajar.
Well, jaman sudah berubah. Model bercinta juga berubah. Lagu yang cocok dengan situasi pasti telah berbeda. Hanya saja, yang mana????
Tidak ada komentar:
Posting Komentar