“Jan-jan e cimat, tapi ngga mungkin, yo gimana lagi ...” Itu kutipan komentar Dewi Murni ketika Mas Dion Erbe membuat status tentang masa lalunya yang, kelihatannya, penuh bunga-bunga harum mewangi.
Cimat sebenarnya singkatan dari Cinta Mati. Perasaan jatuh cinta yang dasyat dan membuat kita tak bisa berpaling begitu saja dan melupakannya dalam sekejap. Sering teman-temanku dulu berkata, “Sudahlah, jangan terlalu memikirkan dia, seperti tak ada lelaki lain saja. Dunia, kan tidak selebar daun kelor.” Lalu aku menjawab dengan keteguhan yang menakjubkan, “Memang lelaki di dunia ini tak terhitung, tapi aku hanya mau lelaki itu.” Sambil dalam hati kutambahkan, “He’s my one and only.”
Pada suatu waktu aku pernah memperbincangkan perkara cinta mati ini dalam suatu siaran dengan Ucique Jehaun. Saat off air aku bilang padanya, “Cique, pernah lho aku mengalami jatuh cinta setengah mati sampai-sampai ketika putus aku sempat berpikir, ‘Bisa, engga ya aku melalui esok hari tanpa dirinya?’” Ucique tertawa, “Setiap orang pasti pernah dan akan mengalaminya.”
Salah seorang pendengar juga memprotes ketika kami mengatakan “Hanya karena urusan cinta.....” Perempuan itu menulis, “Tolonglah anda jangan bilang ‘hanya cinta’. Perasaan ini sesuatu yang serius untuk sekedar dibilang ‘hanya’” Waduh.... sambil meringis kami terpaksa mengulang kembali topik pembicaraan yang menyebabkan kami berkata ‘hanya’ untuk tak disalahpahami sebagai mengentengkan cinta.
Lalu ingatanku kembali pada perbincangan sekian tahun lalu dengan almarhumah Eyang Putri. Kami para cucu penasaran ingin mengetahui kisah kasih beliau dengan Yang Kung. Jawabannya sungguh membuat kami geli. “Ya saat duduk di pelaminan itu aku pertama kali bertemu Yang Kung.” Lha, koq bisa? “Jaman dulu pernikahan itu diatur orangtua. Memang, sih Yang Kung pernah melihatku ketika pergi ke pasar.”
“Emang Eyang ga protes dijodohkan begitu saja?” Tanya kami. “Ya, tidak. Kami harus manut sama orang tua.” Jawabnya yakin. Trus bagaimana kalau begita-begitu-begina-begini. Jawabannya pelototan mata, “Hush....kami engga berpikir aneh-aneh macam kalian jaman sekarang!” Yang jelas perjodohan mereka sampai maut menjemput.
Lain lagi almarhum Pakde dari pihak ibuku. Beliau terkenal tegas dan kritis dalam keluarga besar kami. Ketika umur anak atau keponakannya sudah sampai tahap cukup untuk menikah pasti dia menanyakan detail-detail kemajuan hubungan kami dengan seseorang. Ketika jawabannya tak menggembirakan atau terlalu banyak alasan untuk memperpanjang masa lajang, dia akan berkata, “Ndak usah terlalu milah-milih, to. Cinta itu bisa dipelajari.” Maksudnya? “Kalau sudah jadi pasangan kalian akan saling mencintai juga akhirnya.” Lalu kami akan saling bisik, “Kalau hasil akhirnya tidak begitu, gimana?” Tak mungkin kami menanyakannya, nanti malah jadi ceramah “ilmiah” yang panjang.
Setelah sukses melalui tahap cinta mati yang ternyata bukan juga bisa disebut cinta mati biasanya cara pandang terhadap urusan hati paling wahid itu jadi bergeser juga. Lihatlah! Bila ada anak-anak muda yang berkata “Dia cinta matiku.” Aku suka menggelengkan kepala. Idealis sekali, sih? “Mereka belum tahu ruwetnya dunia, tuh.” Kata saudaraku yang tak habis heran melihat anaknya tercinta-cinta dengan seorang lelaki yang menurutnya tak pantas dicintai.
Jadi bagaimana nasib Si Cinta Mati itu? Sobat baikku Fitri Ratna Nadia pernah berujar suatu waktu di masa bujangan kami dulu, “Suatu saat, Mbak kita akan menengok ke belakang dan menertawai peristiwa-peristiwa yang pernah kita lalui.” Termasuk kekonyolan-kekonyolan dan kisah cinta yang agak berkelok-kelok penuh liku tentunya.
Buktinya, Dewi Murni telah mendeklarasikan diri mencintai Bapak dari Gab yang kelihatannya berinisial B (Maaf kalau salah) dan aku aman tenteram bersama M (ikut-ikutan pakai inisial) Jadi bagaimana nasib Cinta Mati kami? Ya, CLBK saja. Bukan Cinta Lama Bersemi Kembali, tapi menurut Dewi merupakan akronim dari Cinta Lama Buang Ke Laut.
Bagaimana, ya nasib cinta mati yang lain???

Tidak ada komentar:
Posting Komentar