Rabu, 10 Agustus 2011

Sebuah Cerpen: Ilusi


Ia sedang sibuk memencet-mencet mouse ketika Renata, temannya, masuk ke dalam ruangan dengan setumpuk kertas di tangan.
            “Lynn?” Alis mata perempuan itu terangkat saat mendapatinya tengah terpaku menatap layar gelas.
            “Psst…,” salah satu lengannya yang bebas melambai-lambai menyuruh temannya itu mendekat, sementara pandangannya tak teralihkan dari benda di depannya.
            Renata berdiri di belakang kursinya.Tubuhnya membungkuk ikut mencermati gambar-gambar yang terpampang di layar.
            “Aku tergila-gila padanya!” Bisiknya sambil tersenyum-senyum.
            Renata menegakkan kembali punggungnya. Mulutnya mengeluarkan desah kesal. “Aku kira berita apa.”
            Senyum di wajahnya melebar.”Dia perwujudan dari beauty, brain, and behavior.”
            “Apakah dia kontestan beauty peagant?” Renata menyindir.
            “Dia lelaki tulen.” Ujarnya tersinggung.
            Renata tertawa sumbang, “Kecewalah! Lelaki dengan kwalitas seperti itu biasanya sudah digandeng perempuan cantik dengan beberapa anak mengerubutinya.”
            “Yang ini tidak,” ujarnya keras kepala sambil menunjuk ke layar.
            Mata Renata menyipit saat membaca status di bawah foto. Kepalanya menggeleng berkali-kali. “Jejaring sosial semacam ini bisa menenggelamkanmu. Dan sekarang kita harus pergi meliput taman wisata baru.”
            Ia mendengus kesal.”Kau merusak khayalanku, Ren!”
            “Hah! Sejauh mana khayalanmu? Ini tengah hari bolong, Neng.” Katanya sambil berlalu mendahuluinya  melintasi koridor ruang pemberitaan.
            Walau setengah hati  cepat disambarnya tas dan kacamata hitam di atas meja. Renata paling tak suka menunggu.
            Di pojok ruangan langkahnya terhenti. Sebuah kursi beroda menghalangi langkahnya dengan Sekarung Beras, bertengger di atasnya.
            “Aku dengar kau masih tergila-gila pada lelaki itu.” Si Karung Beras meringis ke arahnya.
            Ia mendengus sambil berkacak pinggang. “Apa benda-benda sekarang sudah bisa mengeluarkan suara?” Ujarnya tajam.
            Telah  lama ia curiga ada alat penyadap, pemindai, perekam, atau apalah, yang tersambung ke meja lelaki ini. Kalau tidak mengapa secara ajaib ia selalu tahu semua rahasia gelap, maupun terang, dari setiap pegawai.
            “Apa pekerjaannya?” Lelaki itu mencucutkan mulut tak kenal malu.
            “CEO. Bukan kecoak macam kau!” Bentaknya tak sabar.
            “Hah! Apa lelaki semacam itu benar-benar ada?”
            “Get off my way, Mister!” Ujarnya seraya mencengkeram bahu lelaki itu dan mendorongnya kembali ke arah meja di dalam cubicle.
            Di ujung ruangan Renata tengah menunggunya. Tangannya berkali-kali mengelus rambut pertanda kesal.
            “Sorry, si gendut itu yang menahanku.” Katanya membela diri.
            Saat melalui ambang pintu mereka hampir bertabrakan dengan Garry, konsultan bahasa di koran  mereka, yang bertampang bintang film. Senyum cemerlang dianugerahkannya  ke arah mereka berdua.
            “Bagaimana kalau Mister yang satu ini?” Renata memiringkan kepala ke arah lelaki berambut pirang itu.
            “Diberi lima juga aku tak mau”
XXX
            Meliput tempat-tempat hiburan atau restoran baru  itu seperti bekerja dengan mata terpejam. Semua data yang dibutuhkan sudah tercetak rapi dan lengkap dalam brosur serta leaflet yang mereka bagikan dalam tas-tas kecil berlogo. Ia tinggal mengingat siapa saja socialite yang hadir dalam acara pembukaan ini. Lengkaplah sudah!
            Kuapnya lolos tanpa sempat ditutupi tangan. Sambutan Resident Manager tempat ini membosankan. Berkali-kali diliriknya jam tangan sampai Renata menyenggol lengannya.
            “Apa?” Ia memasang wajah tanpa dosa.
            “Tuan rumah kita melihat perbuatanmu”
            “Baguslah. Biar dia tahu pidatonya membuatku mengantuk.”
            Entah lelaki itu benar-benar tahu atau hanya keberuntungannya, pidato itu berakhir tak lama kemudian.
            “Syukurlah.” Renata menghela napas sambil memasukkan kamera ke dalam ransel. Dirinya pun bergegas mengikuti rekannya dengan memasukkan catatan ke dalam tas serupa milik temannya.
            “Aku lapar,” Renata berjalan mendahului ke arah meja buffet di bagian lain ruangan namun segera ditariknya.
            “Kita makan di Lotus Garden saja,”  Bisiknya.
            “Hah?!”
            “Aku yang traktir”
            “Tumben.”
            “Sekali-kali tak mengapa, kan?!” Senyumnya mengembang.
            “Ayolah, Lynn. Mengapa kita makan di Lotus Garden?” Renata menatapnya penuh perhitungan. Ia heran mengapa temannya ini selalu mencurigai niat setiap orang. Bukankah lebih baik kalau kita tak usah selalu menganalisa maksud sebuah perbuatan. Terutama jika orang itu memang ingin menyimpan sendiri alasannya.
            Ia mengayun-ayunkan kunci mobil mempertimbangkan apakah harus menjawab pertanyaan  temannya atau tidak. Lalu, “Sekarang saat makan siang.” Jawabnya taktis.
            “Dan….?” Renata menatap tak percaya.
            Setelah mengulum bagian dalam pipinya sejenak dia menjawab, “Di sana ada hotspot.”
            Mata Renata yang mengenakan contact lens hijau kecoklatan terbelalak lebar, sampai dirinya sempat khawatir lingkaran beling di bola mata temannya itu akan meloncat keluar.
            “Aku tahu sekarang,” gerutunya kesal saat melihat ransel berisi netbook  di punggungnya.
XXX
            Senja tengah memeluk kota saat mereka berdua sampai di kantor. Chatting panjang yang memuaskan dan artikel yang tuntas dikebutnya sambil menyantap makan siang membuat hatinya berdendang riang. Sejak lama ia tahu, otaknya selalu bekerja cemerlang setiap menghadapi tekanan. Mungkin itu juga yang membuatnya memutuskan jadi wartawan. Dikejar deadline selalu memacu kreativitasnya.
            Si kecoak berwujud manusia kembali menghalangi jalannya saat ia melangkah ringan menuju ruangannya. Kali ini ia hanya menatap dingin pada pengganggunya.
            “Suamimu menelepon,” Wajah bulat itu seakan disinari neon seratus watt.
            Walaupun curiga pada lawan bicaranya, ia sengaja tak mengeluarkan reaksi saat menyelip di celah sempit antara kursi si kecoak dan tembok bercat cream kekuningan. Langkahnya baru menapak tiga kali saat didengarnya suara dari belakang punggungnya.
            “Kau membawa netbook, ya?” Seringai di bibir lelaki itu sungguh tak cocok dengan nada datar suaranya.
            Ia berbalik. “Aku pikir hanya perempuan saja yang suka ingin tahu urusan orang lain.” Semburnya sebelum melanjutkan langkah.
            Begitu menghempaskan diri di belakang mejanya, diraihnya telepon merah keunguan di dekat komputer.
            “Halo,” terdengar sahutan setelah dering ketiga.
            “Hai, sayang. Tadi mencariku, ya?”
            Terdengar tawa lembut yang dulu selalu membuat hatinya jungkir balik. “Hanya ingin mengajakmu makan siang.”
            “Wah, sayang sekali,” desahnya. “Aku harus meliput taman wisata terbaru. Di sana disediakan makan siang.”
            “Tempatnya meyenangkan?”
            “Yah, lumayan.”
            “Suatu ketika kita harus pergi ke sana.”
            Ia tertawa. Suaminya pasti tak suka tempat seramai arena sirkus itu. Lotus Garden lebih memenuhi seleranya.
            Tempat itu mengingatkannya pada sesuatu, segera dirabanya kantong kecil di bagian depan ransel. Ditariknya ponsel berwarna merah muda. Sebuah icon sampul surat terpampang di sana.
            Tepat janji, hatinya bernyanyi. Ia suka orang yang menepati janjinya.
            Dibukanya inbox. Ada sebaris kalimat: ”Bolehkah aku mengundangmu makan malam?”
            Semangatnya melejit setinggi langit. Cepat-cepat diketikkannya jawaban positif.
            “Halo? Sweety, kau masih di sana?” Suara di seberang kabel membuatnya meletakkan ponsel cepat-cepat.
            “Iya…iya…, masih.”
            Jeda sesaat.
            “Errr….Aku mungkin pulang agak larut. Kau tahu, ada beberapa bagian yang harus kuperbaiki sementara deadline semakin mendekat, jadi…”
            “OK.” Potong suaminya rikuh,”Sampai ketemu di rumah.”
            “Thanks. Sampai ketemu nanti.” Dihempaskannya gagang telepon.
            Sedetik kemudian disambarnya tas tangan dan kunci di atas meja. Dengan wajah berbinar ia melenggang menjemput malam.

             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar