Sabtu, 13 Agustus 2011

Setengah Keping Talenta

Setiap kali pulang ke kampung hal paling urgent untuk dipersiapkan adalah baterai. Bermacam-macam baterai serta cadangannya. Seperti baterai kamera, laptop, handphone, ipod, dan baterai lampu untuk penerangan. Biasanya baterai itu bisa bertahan sepanjang weekend, Sabtu sore sampai Senin pagi. Tapi segala macam persiapan itu bisa tak tercapai bila mendadak datang perintah, atau permintaan tapi dengan nada imperatif, dari Max untuk ke kampung segera sebelum saat weekend dan pulang ke kota pertengahan minggu berikutnya.
            Hari pertama semua bisa berjalan lancar. Mendengar lagu, membuat foto-foto, menulis, online dengan handphone untuk menyapa teman-teman di dunia maya, dan tidur cukup tenang karena penerangan yang stabil. Hari kedua mulai kembang-kempis, baterai mulai habis, handphone menyala hanya dengan segaris kekuatan dan ipod yang mulai mengkhawatirkan. Tinggal kamera saja yang masih bertahan karena tak selalu dipergunakan. Lalu hari ketiga semua tamat. Malam hari mulai menggunakan pelita alias ublik menurut orang Jawa dan kesunyian mulai menyergap bila mata belum hendak terlelap setelah jarum arloji menunjuk angka sepuluh. Suara jengkerik yang tak berirama bukannya membuat mata berat dan melayang ke dunia impian, tapi justru nyalang sepanjang malam.
            Di siang hari ketiadaan segala macam gadget itu tak begitu terasa karena simpanan buku-buku di perpustakaan pribadi kami berdua cukup banyak dan bisa dibaca ulang bila memang kepingin. Menulis bisa dilakukan di buku tulis dulu sebelum disalin sekembalinya ke kota, dan banyak gossip yang bisa dipercakapkan sekedar merintang-rintang waktu menunggu Max pulang dari kebun. Tapi bila lebih dari tiga hari dan kegiatan membaca tak begitu menggairahkan lagi, mulailah homesick muncul. Rindu rumahku di kota.
            Minggu kemarin aku menemukan sekotak crayon dan selembar buku tulis dalam dos peralatan di gudang. Tiba-tiba aku ingin belajar melukis. Aku katakan belajar karena aku tak pandai melukis. Bapakku adil hampir dalam segala hal. Dia membagi kemampuannya merata pada aku dan Hans adikku. Aku memperoleh kemampuan menulisnya dan Hans menuruni keahlian melukisnya. Tak heran adikku menjadi dosen seni rupa di sebuah Perguruan Tinggi Swasta terkemuka, dan aku suka menulis walau hanya untuk dibaca sendiri dan menulis catatan sekedar berbagi pengalaman dengan teman-teman.
            Belajar melukis ternyata bisa menyedot semua perhatianku hingga malam menjelang tanpa terasa. Sebuah gambar kuhasilkan sebelum makan malam. Max yang melihatnya surprised dan mengelusi kepalaku sambil tertawa, “Wah, ternyata kamu bisa menggambar, ya Dear? Kenapa selama ini kamu engga pernah kasih tahu.” Ah, untuk apa? Ini juga hanya karena mengisi waktu saja. “Bagus, lho Dear.” Ya, pujian dari suami pasti sangat subyektif. Apalagi Max memang tak punya perhatian terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan seni, hal-hal praktis sehari-hari adalah bidangnya.
            Jadi gambarku cukup lumayan sebagai pemula? “Sering-sering saja berlatih.” Katanya yang membuatku berpikir, kayaknya OK juga bila aku sendiri yang membuat illustrasi bagi buku-bukuku. Memang aku lebih suka gambar yang dekoratif daripada realis yang menjadi keahlian Hans, tapi aku pikir asyik juga bila bisa melukiskan apa yang dipikirkan.
            Berdasarkan kepercayaan yang kuanut, mungkin aku hanya dianugerahi satu  atau bahkan hanya setengah talenta untuk melukis dan mungkin dua atau tiga untuk menulis. Walau hanya satu atau setengah, menurut kisah dalam Buku Suci, tetap harus dikembangkan atau pemberi talenta akan menuntut pertanggungjawaban suatu saat nanti. Jadi walau hanya bermula dari merintang-rintang waktu, tak ada salahnya menyediakan lebih banyak kesempatan untuk mengembangkannya. Bahkan terpikir untuk kursus melukis pada Bapak dan Hans kalau ijin liburan sudah disetujui oleh Max.
            A blessing in disguise? Ya, keajaiban itu selalu mungkin terjadi di mana pun. Juga di kampung saat semua baterai habis dan hari menjadi kelam dengan sebuah pelita kecil di atas meja kayu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar