Jumat, 26 Agustus 2011

Aku dan Bayanganmu

Aku mengenalmu tanpa nama,
tanpa wajah,
tanpa tubuh,
tanpa arah.

Aku berbagi cerita denganmu tentang,
hidupmu,
hidupku,
masa lalu dan masa depan

Aku mencintaimu,
segenap hatiku,
tanpa terhalang ruang dan waktu,
dahulu, sekarang, dan akan datang 

Merindu Campursari


Suatu pagi, Dewi Murni van Brazil, memasukkan diriku dalam penerima tag lagu Caping Gunung yang kebetulan dinyanyikan oleh legenda keroncong Indonesia, Pak Gesang. Walau sinyal di tempatku ini seperti ombak samudra Hindia, kutekadkan untuk membuka kiriman dari youtube itu. Tak kurang dari satu jam waktu yang dibutuhkan untuk bisa mendengarkan dengan lengkap!
                Ketika suara sederhana namun penuh charisma itu menggema dari laptopku, hatiku menjadi campur aduk. Syair lagu Caping Gunung itu memang indah dan terasa sedih sensenya, tapi yang membuatku berkaca-kaca adalah kenangan akan hari-hari di Jogja bersama salah seorang Budhe (kakak Mamiku) yang hobby sekali bernyanyi campur sari. Memang pada dasarnya Budhe Sulis, demikian kami biasa memanggilnya, hobby bernyanyi. Suaranya memang fantastis untuk ukuran penyanyi koor biasa. Tak heran kami tak pernah keberatan mendengarnya bernyanyi, tak hanya bersenandung, setiap pagi dan sore di kamar mandi. Salah satu lagu yang menjadi favoritnya adalah Caping Gunung.
                Budhe selalu menyumbangkan suara setiap hadir di pesta pernikahan. Begitu MC mempersilahkan tamu menyumbangkan lagu bagi mempelai, karena penyanyi pestanya sedang butuh istirahat, maka Budhe akan bergegas ke panggung. Seperti suatu siang ketika kami menghadiri pesta penikahan saudara sepupu di Wonosari Gunung Kidul. Begitu pengantin bisik-bisik sambil menunjuk Budhe pada sang MC, beliau sudah langsung bersiap. “Ajeng nyanyi napa ta, Bu? (Mau menyanyi apa, sih Bu?)” Tanya anak lelakinya. Sambil berdiri beliau berkata, “Caping Gunung.” Kontan anak lelakinya mengeluh, “Wong dereng apal ngoten, lho Bu. (Orang belum hapal, gitu lho Bu)” Tapi beliau santai saja melangkah menuju panggung, membuat saudara sepupuku itu tambah menggerutu. “Ibu belum hapal nyanyian itu, lho Dik. Nanti di tengah jalan pasti hanya diisi dengan na-na-na gitu.” Aku tertawa saja, toh setiap penyanyi pasti punya buku catatan yang bisa pinjam. Dan benar saja, beliau sukses menyanyikan lagu itu dengan buku pinjaman.
                Lalu suatu sore aku berjalan menyusuri jalanan Ruteng. Seorang penjual gorengan yang kukenal tersenyum padaku sambil menyapa, “Kundur, Mbak? (Pulang, Mbak?)” Aku membalas sapaannya dengan senyum yang sama lebar. Namun yang menarik perhatianku adalah suara musik campur sari dari handphone atau mungkin tape portable yang mereka miliki. Benda itu mengalunkan suara Didi Kempot yang berkisah tentang Stasiun Balapan. Waduh, mendadak aku teringat pernah duduk sampai menjelang sore di stasiun itu bersama Fitri, menunggu kereta api Pramex yang tak kunjung tiba. Sayup-sayup dari radio seorang pedagang terdengar irama campur sari. Saat itu sungguh biasa, namun begitu aku menapaki jalanan di tempat yang terpisah oleh puluhan pulau, mendadak terasa manis di hati.
                Lagu campur sari kegemaran Max adalah Ndang Baliyo. Well, aku tak tahu benar judulnya, hanya syairnya memang berisi kata-kata: “Ndang baliyo Sri, ndang baliyo (Cepatlah pulang, Sri. Cepatlah pulang)” Bukannya dia tahu benar lagunya, apalagi hapal syairnya secara utuh. Hanya sepotong itu saja yang bisa dinyanyikannya dan dimanfaatkan sebesar-besarnya setiap aku liburan ke Jawa. Setiap malam dalam midnight callnya, setelah gagal membujuk untuk cepat-cepat pulang karena memang belum waktunya sesuai dengan kesepakatan, dia akan segera menyanyi, “Ndang baliyo Sri, ndang baliyo.” Biasanya aku akan tertawa sambil menjawab, “Aku, kan bukan Sri. Mami, tuh yang bernama Sri.” Lalu cepat-cepat dia mengubah syairnya menjadi: “Ndang baliyo Tia. Ndang baliyo.
                Bila itu tak manjur juga, maka dia akan mulai menggerutu. “Biaya pulsa telepon begini setiap hari sudah bisa untuk beli tiket pesawat pulang, dear.” Lalu? “Pulang, sudah!” Ujarnya dengan logat yang kental. Nah, ini dia!
                Maka, sambil tersenyum-senyum, aku mencari satu-satunya CD campur sari yang kumiliki. Tak berapa lama terdengar musik yang kurindu dalam alunan suara emas Sunyahni mendendangkan lagu dari kampung halamanku di seberang lautan. Kapan, yo aku iso bali? (Kapan, ya aku bisa pulang?)

Sabtu, 20 Agustus 2011

Coffee Stories 2: Bunga Kopi


Fajar mulai merekah, kokok ayam bersahutan dengan cicit kelelawar kesiangan yang berusaha menemukan jalan pulang ke sarang. Jerit burung malam perlahan memudar berganti lenguh kerbau dan derit pintu yang perlahan terbuka. Tak lama kemudian asap mulai mengepul dari tungku batu di dapur, kelonteng peralatan alumunium dan keretek kayu bakar mengisi udara yang masih dingin menggigit. Tak ada thermometer ruang di rumah kami di kampung, tapi suhu dini hari tak pernah jauh berkisar dari angka 15-17 derajat Celcius.
                Mataku terbuka perlahan, dari tingkap jendela kayu kulihat berkas-berkas cahaya, belum begitu terang, namun telah cukup benderang untuk berjalan-jalan ke kebun di samping rumah. Ya, pagi ini aku bermaksud untuk menghirup harum bunga kopi di pagi hari. Keinginan ini timbul akibat komentar teman-teman pada tulisan sebelumnya yaitu “Petik Kopi”. Para sahabat itu menyatakan betapa keharuman bunga kopi sangat mempesona, misterius, dan menimbulkan kenangan. Terus terang selama ini aku tak begitu memperhatikan. Menurut kata Mbak Sasha, mungkin karena aku terlalu terbiasa sehingga tak lagi menganggapnya istimewa.
                Ah, kata-kata itu menggema terus dalam otakku selama beberapa hari, jadi aku memutuskan untuk menikmati keharuman bunga putih nan wangi itu pagi ini.
                Aku beranjak menuruni ranjang setelah mengait sandal jepit di kolongnya. Kurapatkan jaket sebelum membuka pintu kamar menuju dapur. Adik iparku telah duduk di depan nyala api merah jingga sambil mengaduk-aduk sesuatu dalam kuali.
                “Selamat pagi,” sapaku sambil meraih cangkir di rak metal dekat jendela. “Manga wae kolang, enu? (Ada air panas, dik?)”
                Manga, Kakak. (Ada, Kak)” Jawabnya sambil menggeret termos biru bergambar bunga.
                “Mau bikin kopi, nih.” Kataku sambil mengambil satu sachet kopi mocha. Sering kopi mocha ini menjadi bahan ejekan Max terhadapku. “Kita ini punya pohon kopi sendiri, koq beli kopi, dear.” Ujarnya suatu waktu.
                “Tapi, kan bukan kopi mocha.” Jawabku kalem.
                “Kopi mocha itu bahannya kopi dicampur coklat dan gula, kan?” tanyanya tak puas melihatku anteng-anteng saja mengaduk kopi itu tanpa mengangkat wajah.
                “Kelihatannya begitu.” Jawabku sambil menyeruput isi cangkir yang mengepul dan kembali ke depan laptop.
                “Nah, kita sudah punya kopi dan coklat, paling-paling tinggal beli gula saja. Bagaimana kalau mencoba membuatnya sendiri?”
                Aku hanya angkat bahu, sampai sekarang aku masih setia membeli kopi mocha walau mama mertua selalu mengirimi bubuk kopi dari kampung.
                “Cukup panas airnya, Kak?” tanya adik iparku setelah menuangkan air dari dalam termos. “Maklum air rebusan semalam.” Aku menjawab dengan anggukan dan ucapan terima kasih. Sambil menenteng cangkir itu kubuka pintu dapur yang menuju kebun di samping rumah.

                Udara pagi menyambutku. Bunga-bunga putih pada ranting-ranting kopi berdaun hijau gelap menyerbu pandanganku, dan harumnya lamat-lamat menjangkau hidungku. Semakin kudekati, semakin tajam keharuman itu menyerbu. Dian Nugraheni menulis dalam salah-satu komentarnya, bunga kopi akan semakin tajam keharumannya saat bediding (musim dingin). Kebetulan di Dalo seperti halnya Ruteng selalu dingin, jadi aku dapat mengerti apa yang dimaksud Dian saat ini juga.
                Kujauhkan cangkir di tanganku, aku menyurukkan wajah di atas tandan-tandan bunga putih itu. Segar sekali baunya. Kesegaran yang bersih sebersih warnanya. Bunga kopi berbentuk seperti bintang, mekar bergerombol dalam tandan-tandan hijau gelap. Dalam sebuah ranting bisa terdapat beberapa tandan bunga. Jumlah bunga itu mencerminkan jumlah kopi yang akan muncul. Semakin lebat bunganya, demikian pula kopinya.
                Bila telah cukup lama berbunga, kelopak putih itu akan layu menjadi coklat kehitaman dan luruh ke tanah. Tak berapa lama kemudian bakal buah akan muncul. Kopi-kopi kehijauan memenuhi ranting itu, sampai kemudian berubah warna menjadi kuning, dan akhirnya merah tua.
                Hujan yang terlalu panjang dan deras menyebabkan kopi tak berbunga selebat biasanya. Para petani kopi seperti mertuaku hanya bisa menghela napas. Mereka telah tahu bila produksi kopi pasti turun drastis akibat musim yang tak menentu ini. Bila menyandarkan hidup hanya pada tanaman kopi, bisa dibayangkan kekhawatiran mereka menghadapi perubahan musim ini.
                Aku melangkah dari satu pohon ke pohon lainnya. Badanku harus merunduk beberapa kali karena dahan kopi menjulur ke permukaan tanah. Beberapa memang demikian karena tak dipangkas, namun beberapa sengaja dipatahkan sebagian untuk dirundukkan ke tanah. Dulu aku menyangka hal ini karena patah secara alamiah akibat saratnya buah, namun ternyata mertuaku melakukannya secara sengaja. “Agar tak terlalu rimbun dan tanaman memperoleh cukup cahaya matahari.” Jelas Max saat dia melakukan hal itu pada pohon kopi di kebun kami di Leda. Tapi kenapa musti dirundukkan dengan cara begitu, tidak sekalian dipatahkan saja? “Dahan itu, kan masih bisa menghasilkan buah.” Jawab Max.
                Aku tak tahu teknologi bertanam kopi, karenanya aku tak berkomentar dengan metode penanaman demikian. Apalagi mereka telah puluhan tahun bertanam kopi. Seandainya aku tahu cara penanaman dari dalam buku, belum pernah sekali pun kupraktekkan.
                Tanganku meraih sebuah ranting yang menjulur di depan wajahku. Ranting yang sarat dengan bunga, beberapa di antaranya masih berupa kuncup putih kehijauan. Kecemerlangan warnanya semakin nyata karena terpaan sinar mentari yang perlahan mulai merayap naik mengeringkan embun yang bergantung di ujung-ujung kelopaknya. Sebagian air bening itu meluncur turun ke tanah karena gerakan tanganku yang berusaha meraih ranting itu semakin rendah.
                Suara panggilan bergema menerobos kelebatan daun kopi. Anganku terputus, kepalaku menoleh. Ternyata langkahku telah jauh meninggalkan rumah. Suara itu terdengar kembali. Kali ini aku bisa mendengarnya lebih jelas. Suara seorang lelaki.
                “Aku di sini.” Jawabku
                Langkah kaki terdengar mendekat. Max muncul di antara kerimbunan pohon kopi. Dia berhenti saat melihatku sedang menyurukkan wajah di antara bunga kopi.
                “Kamu ngapain, sih dear?”
                Aku menatapnya sebelum menjawab, “Menghirup keharuman bunga sambil minum kopi.”

               
               
               

Coffee Stories 1: Petik Kopi


Langit yang melingkupi Ruteng tampak biru gemilang. Hari cerah pertama sesudah beberapa minggu selalu dihiasi awan mendung. Hal pertama yang terpikir olehku adalah pergi berjalan-jalan menikmati keindahan ini. Kebetulan pula aku tak harus ke kantor, jadi segera kusiapkan dua cangkir kopi mocha dan menyodorkannya pada Max yang masih sibuk mengupdate tulisan di wall komunitas miliknya.
                “Kita jalan-jalan, ya.” Rayuku.
                “Aku, kan harus mengajar sejam lagi.” Ujarnya sambil menyeruput kopinya.
                “Habis mengajar, dong.” Kataku. Max hanya mengajar sejam di pagi hari beberapa kali seminggu. Tak terlalu lama menunggunya dengan menghabiskan waktu untuk online.
                “Mau jalan-jalan ke mana?” tanyanya.
                “Nanti saja kita pikirkan. Kamu siap-siap saja dulu.” Jawabku sambil menggeser tempatnya di depan computer.
                Dua jam kemudian kami berkeliling kota sebentar sebelum mengarahkan tujuan ke kebun kami di Leda. Beberapa minggu lalu Mama mertua berkata ingin pergi ke kebun itu untuk memetik kopi yang mungkin sudah tua, sayang anak lelakinya tak menanggapi dengan antusias biarpun aku sudah membujuknya. “Toe do koe kopi hitu, Mama. Am ce mok kanang. (Tidak banyak kopinya, Mama. Hanya satu cangkir saja)” Ujarnya.
                Maram ce mok, Anak toe ma co’on. Delek eme ce kilo. (Biar cuma secangkir tak mengapa, Nak. Beruntung kalau bisa dapat sekilo)” Ujarnya. Tapi dasar Max sedang sibuk dan tak ada waktu untuk mengantar-antar ke Leda, Mama batal datang dan kami juga tak pernah melongok kebun itu sampai saat ini.
                Begitu sampai di jalan depan kebun, tampak buah-buah kopi yang telah memerah, bergerombol mengundang keinginan untuk memetiknya. Memang masih banyak juga yang kehijauan di antara tandan-tandan yang menggiurkan tadi, tapi hampir setiap pohon satu atau beberapa rantingnya yang sarat berbuah pasti telah cukup tua untuk dipetik.
                “Waduh, kita harus segera memetiknya, dear atau nanti akan jatuh percuma di tanah.” Kata Max sambil mulai memereteli buah kopi.
                Kopi di kebun kami ini menurut istilah Manggarai disebut kopi unggul. Entah kopi unggul jenis apa kami kurang tahu karena saat membeli kebun ini sudah sekalian dengan pohon kopinya. Memang ada beberapa jenis kopi unggul baik jenis Arabica maupun Columbia. Waktu pergi ke Jember bahkan aku sempat diperlihatkan kopi yang bijinya cukup besar dan disebut dengan nama kopi Margogip atau apalah yang aku kurang ingat. Sementara sebutan bagi kopi Robusta adalah kopi Manggarai, karena memang kopi jenis ini yang jamak ditanam di daerah ini. 

                Saat asyik memetik kopi dengan menggunakan daun talas sebagai wadah, mengingat tujuannya adalah jalan-jalan dan bukan petik kopi sehingga tak sempat menyediakan kantong plastic atau apa pun, Max nyeletuk dari balik kerimbunan pohon: “Jangan bilang Mama kalau kopinya banyak yang telah jatuh ke tanah, lho dear. Bisa marah besar dia nanti.”
                Memang kopi-kopi yang telah menghitam atau merah kehitaman karena terlalu tua akan jatuh dengan sendirinya ke tanah. Hal itu merupakan sesuatu yang biasa, tapi tak demikian dengan Mama mertua. Sebagai petani yang sangat disiplin dan menghargai setiap karunia berwujud keberhasilan tanaman-tanamannya, beliau sangat perhatian dengan hal mendetail semacam itu. Setiap butir kopi adalah proses panjang menuju keberhasilan panen yang memberi hidup bagi para petani. Menyia-nyiakannya sama dengan pemborosan dan rasa tak menghargai jerih payah yang tak bisa ditolelir, karenanya aku mulai membungkuk-bungkuk mencari biji-biji itu dan mengumpulkannya. Beberapa biji telah bertunas dan akan menjadi bibit kopi kecil yang disebut belak. Bila berkeinginan menanam lebih banyak pohon kopi tak apa membiarkan banyak belak di kebun, namun jika tidak, hal itu sama saja membuang percuma hasil panen. Sayangnya sesemakan yang tebal karena musim hujan yang panjang  menyebabkanku tak bisa benar-benar memunguti biji-biji kopi itu.
“Sudah saatnya membersihkan kebun ini bila ingin secara serius mengambil hasil dari tanaman yang ada di dalamnya.” Kata Max saat melihatku menyibak rumpun talas yang cukup banyak tumbuh di bawah kerimbunan pohon kopi.
“Kita cari saja waktu yang tepat. Mungkin saat liburan Paskah.” Jawabku sambil kembali meraih ranting-ranting berbuah merah tua itu.
                Ajaran Mama mertua yang lain: jangan sekali-kali memetik buah kopi secara sembarangan. Harus diambil biji per biji, bukan ditarik dari ranting-ranting kopi sampai tercabut dengan tangkainya. Menurutnya tangkai yang sudah diambil kopinya saat ini ternyata masih bisa mengeluarkan bunga untuk musim mendatang, mungkin bukan dari bekas biji yang sekarang kita petik, namun dari tandan itu sendiri akan muncul tunas-tunas baru. Ini logikaku yang sama sekali tak mengerti bertani kopi. Namun nasehat itu telah tertanam dalam otakku dan secara mekanik membuat tanganku tak mencabut sembarangan butir-butir merah itu dari tandannya.
                Last but not least, hati-hati memetik kopi. Perlu mewaspadai hewan-hewan yang gemar bersarang di pohon itu. Paling banyak dan sebetulnya tak terlalu mengganggu sampai menggigit kulit kita di balik baju adalah semut hitam. Dahan-dahan kopi merupakan tempat hidup yang ideal bagi para semut itu. Hewan lainnya adalah tawon alias lebah yang biasa disebut kaka dalam bahasa Manggarai. Di kebun kami juga terdapat sarang lebah. Bukan lebah madu, namun lebah yang lebih kecil namun tak seorang pun akan bersedia menanggung resiko disengatnya. Aku baru tahu keberadaan lebah itu saat Max berada dua langkah di sampingku. Untung saja tadi aku tak berjalan lebih dekat lagi ke kanan.
                Dalam satu jam kami telah berhasil memetik setengah ransel kopi. Bila telah dibuang kulitnya dan dijemur mungkin hanya satu kilo atau paling banyak satu setengah kilo biji kopi yang didapat, namun mengingat bulan-bulan ini adalah masa krisis kopi sungguh sangat lumayan mendapatkannya. Masa panen kopi biasanya bulan Juni atau Juli sampai bulan September. Jadi jumlah itu akan memenuhi kebutuhan minum kopi sebuah keluarga selama sebulan atau bahkan dua bulan.
                Jadilah acara jalan-jalan pagi itu berakhir dengan petik kopi. Bagi Max hal ini bukan sesuatu yang istimewa karena dia memang anak petani kopi dengan kebun-kebun yang cukup luas, tapi bagiku peristiwa ini sungguh mengesankan karena pertama kalinya aku memetik kopi di kebunku sendiri, dengan kedua tanganku, dan dari pohon kopi milikku sendiri.
                 
               
               

Kamis, 18 Agustus 2011

Happy Birthday, Dad


Sebetulnya ucapan ini terlambat, karena Dad berulang tahun empat hari yang lalu. Usianya sudah tak muda lagi dan anak-anaknya mungkin mulai lupa mengucapkan selamat padanya tepat di hari kelahirannya. Kesibukan, kondisi yang tak memungkinkan, bahkan lupa menjadi alasan. Seperti diriku yang tak bisa menghubunginya tepat pada waktu pergantian hari karena sedang berada di kampung dan dengan malu-malu baru menghubunginya sehari kemudian. Tak heran pertanyaan pertama dari Bapakku itu adalah, “Ana apa, Tik? (Ada apa, Tik?)” Lalu sambil cengengesan aku menjawab, “Selamat Ultah, ya Dad.”
                Untunglah Daddy tidak demanding seperti anak-anaknya, terutama anak-anak  perempuannya, yang suka tersinggung kalau tak diberi ucapan selamat pada saat yang tepat. Biasanya kami mengirim sms kalau terlambat sedikit saja dari waktu yang seharusnya, “Lali nek aku ulang tahun, ya Dad? (Lupa kalau aku ulang tahun, ya Dad?)” Biasanya beliau akan menjawab, “Lho, aku agek arep ngucapne, je (Aku baru saja akan mengucapkan).” Lalu kami akan ngeyel sambil merengut, “Padune lali wae (Alasan karena lupa aja)” Dan beliau akan tertawa.
                Daddy adalah tokoh sentral dalam keluarga, sementara Mami lebih berperan dalam urusan rumah. Bukan karena Mami tak mau ikut campur hal penting, tapi sifat perempuan Jawanya sangat menonjol sehingga untuk urusan-urusan penting dia selalu berkata, “Ya, kana matur Bapakmu (Ya, sana bilang sama Bapakmu)” Walau aku tahu benar mereka berembuk di belakang punggung kami, tapi tetap daddylah yang menyampaikan keputusan.
                Hubunganku dengannya berjalan seperti ombak samudera, pasang dan surut seiring usia. Saat masih kecil sampai pertengahan sekolah dasar, tak banyak yang bisa diceritakan karena memang kami terpisah darinya karena tugasnya di Jember, sementara kami tinggal di Jogja. Setelah SMP tak juga akrab karena masa pra remaja membuat lebih banyak konflik daripada perdamaian. Terutama bila anaknya mempunyai sifat moody semacam diriku. Bila diingat-ingat lebih banyak aku menangis karena tersinggung dan sakit hati menerima perlakuannya yang tegas menyangkut sekolah dan tak boleh bermain bersama teman-temanku yang lain. Jaman dulu hal itu kuanggap kejam sekali, seperti bapak tiri saja. Namun sekarang aku tahu bagaimana khawatirnya orang tua terhadap anak-anak perempuannya ketika mereka mulai beranjak dewasa.
                Semakin dewasa, ketegasannya semakin berkurang menurutku saat itu, tapi bisa jadi aku sendiri yang telah berjalan sesuai dengan system yang diinginkannya. Mungkin hanya satu hal yang selalu menimbulkan perbantahan antara kami, yaitu larangannya agar kami tak berpacaran sampai lulus kuliah. “Berteman saja sebanyak-banyaknya, tak usah terlalu serius.” Ujarnya setiap kali ada teman lelaki yang mendekatiku. Ah, masalah hati masa bisa diatur begitu? “Pokoknya fokus kuliah saja!” Phew…kalau kosa kata “pokoknya” sudah keluar berarti end of discussion.
                Salah satu hal paling mengesankan dari Daddy adalah kebiasaannya mengantarku saat pertama memasuki suatu jenjang pendidikan. Dari SD sampai strata dua tak pernah dilewatkannya, sampai suatu hari aku menggodainya, “Daddy, nih selalu mengantarku saat daftar ulang. Apa engga percaya kalau aku akan sekolah di sini?” Lalu dia tertawa sambil menjawab, “Ya bukan begitu, hanya pingin tahu sekolahmu saja.” Nanti kalau aku studi lanjut masa masih mengantar juga? “Yo ora apa-apa ta? (Ya tidak mengapa, kan?)”
                Kebalikannya, saat kami wisuda tak pernah sekali pun beliau hadir. Banyak macam alasannya. Sampai-sampai kami hanya punya foto wisuda dari kampus dua lembar setiap kalinya (memang hanya itu jatah jepretan bagi wisudawan). Padahal aku dan Hans, adik lelakiku, masing-masing menjadi wakil wisudawan. Rasanya aneh kami hanya datang sendirian ke tempat wisuda sementara orang lain sampai memerlukan  membawa mini bus untuk berbahagia bersama anggota keluarga yang diwisuda. Paling-paling di akhir acara beliau akan menelepon dan bertanya apa acaranya berlangsung dengan baik. Saat itulah alasan ketidakhadirannya akan diulang lagi. Alasan paling akhir adalah, “Wah, aku isih nunggoni tukang sing ngeduk sumur, je (wah, aku masih menunggui tukang gali sumur, nih)” Aku hanya tertawa sambil menjawab, “Yo wis, Dad selamat menggali sumur.”
                Walau kini aku berada jauh darinya, tak sehari pun dia melupakanku. Sering mendadak beliau menelepon untuk bertanya, “Kamu baik-baik saja?” Tentu saja aku balik bertanya mengapa beliau bertanya demikian. “Aku pingin sekali meneleponmu, mungkin ada sesuatu yang terjadi.” Ah, daddy hal ini yang paling kutakutkan, hubungan batin kami semakin kuat dari hari ke hari sehingga bila aku mengalami kesedihan dia langsung dapat merasakannya. Maka bila aku merasa berbahagia, sering sekali aku berusaha meneleponnya untuk segera mengabarkan hal itu.
                Satu hal yang aku dan adik-adikku tahu pasti, dengan kelebihan dan kekurangannya, beliau telah menjadi guru bagi kami dan menghantarkan kami semua menjadi seperti hari ini. Entah berapa banyak tetesan keringat, kecemasan, ketakutan, kebimbangan, dan malam-malam penuh doa pengharapan yang dilakukannya bagi kami. Perjuangan sepanjang hidup yang belum akan berakhir sampai hembusan napasnya yang terakhir.
                Daddy, selamat ulang tahun. Tanpa perlu mengucapkannya, Daddy pasti tahu betapa kami semua berterima kasih padamu.