Kau tersenyum dari balik kaca,
Memamerkan sekuntum mawar merah,
Aku beli dari mall,
Untuk melukiskan perasaanku padamu, katamu
Aku terpana,
Tak percaya,
Mawar itu dari plastik,
Dan harumnya disemprot parfum pabrik
Aku akan meletakkannya di samping tempat tidurku, katamu
Agar rasa kita selalu bersatu,
Mendesir saat fajar,
Menggelora saat senja,
Lalu senyap di akhir minggu,
Ucapmu sambil mengecupinya,
Dari balik kaca
Ah, mawar merah tak menarik hatiku
Kalau kau pintar,
Simpan saja uang itu untuk sebatang rokok,
Bersamanya dapat kau layari malam,
Menulis sedikit catatan,
Menuangkan lara jiwamu,
Lalu meremukkannya dengan gemas,
Sebelum berakhir di tong sampah
Aku memaksamu, ujarmu
Ingin kuhadiahkan sekuntum mawar,
Sebagai tanda sepasang kekasih,
Seperti nyanyian para troubadour abad pertengahan,
Tentang para ksatria,
Yang bermain cinta dengan istri orang.
Mengapa aku ingin tertawa?
Mungkin karena aku tak percaya,
Omong kosongmu dari balik kaca,
Perasaan tak bisa disemprot dengan parfum,
Atau diromantisasi dalam lagu dan sajak,
Apalagi dengan setangkai mawar merah
Kalau kau lebih cerdas,
Bawakanku sebuah mawar hitam
Karena kisah kita sangat kelam,
Bahkan untuk dilukiskan,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar