Pagi itu aku kembali bangun kesiangan. Mekanisme bawah sadarku mungkin tahu saat liburan adalah waktu untuk santai dan tidur sepuasnya. Begitu mataku terbuka tempat di sebelahku telah kosong. Max biasa pergi ke kebun sebelum mentari menampakkan wajahnya dan kembali ketika bola api itu mulai bersemangat memancarkan kekuatannya. Suasana rumah lengang, para keponakan pasti telah diboyong ke kebun untuk dilatih bekerja menuruti contoh Oom mereka yang sangat disiplin. Ujar-ujaran yang selalu dilontarkan pada anak-anak itu adalah “Kalau tak bekerja kita tak bisa makan, apalagi beli baju dan mainan.” Ya, demi mainan itu anak-anak mau membututi Max ke kebun walau hanya mencabuti rumput atau disuruh-suruh mengambilkan alat-alat pertanian yang disimpan di gubuk tengah kebun.
Suara percakapan pelan terdengar dari arah dapur. Para iparku yang sangat baik tak hendak meninggikan suara selama bercakap-cakap dengan Mama karena tahu aku masih ingin beristirahat di kamar, tapi rasa haus membuatku bangun dan melangkah ke dapur. Ternyata tak hanya para ipar dan Mama mertua, ada dua orang tetangga dari belakang rumah yang sedang duduk melingkar di dekat pintu samping menuju kebun. Mereka tengah asyik berbincang sambil mengunyah sirih. Semua mengangkat muka begitu melihatku berdiri di depan pintu. “Baru bangun, Ibu?” Tanya salah seorang dari mereka. Aku hanya tersenyum, justru iparku yang menjawabnya: “Kamer Inang (Kecapekan, Tante).”
Setelah berbasa-basi sebentar aku mengambil cangkir dan mulai mengambil sesendok gula. Karena lupa membawa teh dari Ruteng kuambil tempat kopi bubuk. Tak apa sekali-sekali minum kopi asli. Asal tak terlalu kental masih aman diterima lambungku yang telah mengidap maag. Tapi tunggu, dulu! Mengapa ada dua tempat kopi?
“Eee….neka kopi hitu, Ibu! (Jangan kopi yang itu, Ibu!) ” Mertuaku tiba-tiba menunjuk tempat kopi di tanganku. Aku melengak heran. “Co’o tara neka? (Kenapa jangan?)” Dia semakin intensif menggerak-gerakkan jarinya. “Asi! Toe kopi asli hitu.(Jangan! Itu bukan kopi asli)” Dengan berseloroh aku berkata, “Eme toe asli berarti palsu. (Kalo bukan asli berarti palsu)” Kekhawatirannya menyebabkan dia cepat-cepat menukas, “Eng. Palsu hitu. Neka! (Ya. Palsu itu. Jangan!)”
Aku tertawa begitu juga yang lain, hanya Mama yang tetap serius dan menyuruh iparku mengambil tempat yang berada di atas rak. Wah, jadi apa sebenarnya isi kaleng yang aku pegang ini? “Ini kopi campur kundung, Kakak.” Kata iparku sambil mengulurkan kaleng yang berisi kopi asli. Memang kenapa kalau minum kopi campur kundung? “Neka Ibu (Jangan, Ibu),” Jawab tetanggaku. “Pande beti sa’i (Bisa menyebabkan sakit kepala)” Tentunya bagi yang tidak biasa. Kopi campur kundung ini cukup kuat rasanya. Mereka tahu maagku tak akan sanggup menerimanya.
Semula aku tak tahu mengapa kopi harus dicampuri kundung, sampai suatu saat mertuaku bercerita bahwa kopi campuran ini dibuat untuk menghemat saat musim panen kopi masih jauh. Bila di Jawa orang biasa mencampur kopi dengan jagung atau karak (nasi yang telah dikeringkan) di sini mereka mencampurnya dengan kundung atau kadang-kadang dengan kedelai.
Aku sendiri tak tahu nama Latin dari kundung. Suatu saat memang harus mencarinya di perpustakaan, tapi yang jelas tanaman kundung merambat seperti polong-polongan yang lain. Biasanya tanaman ini dirambatkan pada tanaman lusa (Cajanus Cajan). Buahnya seperti kedelai hanya ukurannya lebih besar dan kulitnya keras bila telah tua. Bijinya bulat seperti kacang polong. Hanya saja biji kundung lebih keras daripada sayur yang biasanya menjadi campuran soup itu. Kundung dijemur sampai kering kecoklatan, baru setelah itu digeprak menggunakan batu atau palu kayu untuk mengambil bijinya. Sekali pukul buahnya akan terbuka, dan kita tinggal mengeluarkan bijinya yang berwarna hitam. Biji ini juga dijemur hingga cukup kering sebelum disangan atau di sini biasa disebut cero (digoreng tanpa menggunakan minyak) bersama biji kopi. Baru kemudian ditumbuk atau digiling menjadi bubuk kopi. Untuk mengenali kopi campuran dan kopi asli ini cukup sulit bagiku. Mama mertua bisa melakukannya dengan membaui keduanya. Aku sendiri tak mempunyai hidung yang cukup sakti untuk bisa membedakannya.
Sekali pernah terjadi “kecelakaan” kundung di cangkirku. Sayang hanya sekali cecap cepat-cepat Max menyelamatkanku dengan menyuruh keponakan kami untuk segera membuatkan kopi baru untukku. Sebelum sempat kurasakan, cairan hitam itu keburu tertelan akibat perintah bernada darurat dari sampingku. Dan hilanglah kesempatan “merasakan” kepalsuannya.
Harum kopi yang baru dituangi air panas menyambar hidungku. Aku mengaduknya perlahan sambil menghirupi uapnya. Kuraih sepotong teko (talas) di piring bertutup plastik di atas rak. Lalu kukait tempat duduk rendah yang terbuat dari kayu di depan sapo (tungku). Siap bergabung dengan para perempuan itu demi mengupdate gossip terakhir yang beredar di seputar kampung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar