Selasa, 06 September 2011

Jalan dan Sekali Lagi Jalan


Seperti kebanyakan hari Minggu, Max selalu mempunyai acara jalan-jalan ke luar kota. Istilah kerennya weekend di kampung, padahal memang sengaja menyempatkan waktu untuk menengok kebun-kebun dan mengunjungi orangtuanya. Aku kadang tak menyambut hal itu dengan antusias karena kebiasaan bangun tengah malam membuat mataku masih mengantuk di pagi hari. Juga Minggu lalu saat Max mengajakku ke kampung Bapa mertua di Rahong Utara. Pertanyaan pertamaku adalah: “Jam berapa berangkat?” Saat dia mengatakan pagi-pagi benar, mendadak aku ingin menolaknya tapi Max sudah tahu gelagat dan langsung mengajukan argument yang cespleng. “Kamu tidak mau melihat jalan aspal yang sudah menghubungkan kampung kita dengan Dimpong?” Ya tapi….”Kita sekalian mengunjungi Inang Ende Hieri yang keseleo lengannya. Kamu, kan belum pernah ke rumah mereka, to?”
                Aku mengangguk menyetujui, hanya saja jam berangkat yang begitu pagi pasti menyebabkan mataku berat oleh kantuk. “Kalau kamu masih mengantuk, kita berangkat jam 6.” Lalu tambahnya, “Makanya jangan suka online pagi-pagi buta begitu kah, dear.” Aku diam dan mulai mempersiapkan barang-barang yang perlu dibawa serta memasukkannya ke dalam ransel.
                Kami meninggalkan Ruteng tepat pukul 05.30 WITA. Kabut masih menggantung menyelubungi segenap isinya. Kabut itu juga mengiringi perjalanan kami sampai di batas kota. Udara dingin terasa menyejukkan. Kami mengambil rute melalui Beokina karena jalan aspal yang semula rusak sudah diperbaiki. Rute itu lebih singkat daripada melalui Rahong. Begitu lepas dari wilayah Kuwu, pemandangannya sungguh menawan. Beberapa kali aku minta berhenti untuk sekedar menikmati keindahan lembah di bawah kaki kami atau memandang keindahan Ruteng yang masih berselimut kabut dari ketinggian. Aku juga suka memandangi rumah-rumah sederhana berdinding bambu cacah dan beralas tanah telah terbuka pintunya, dan kepulan asap putih keluar dari balik seng bagian dapurnya. Entah mengapa dalam kesederhanaan itu aku justru merasakan kehangatan, penyambutan, dan keindahan. Beberapa penghuninya dengan berselimut towe songke (kain sarung tenunan) sibuk memberi pakan babi atau mempersiapkan peralatan untuk berkebun di halaman rumahnya. Hidup yang tampaknya sungguh tenteram.

                Di sebuah belokan cukup tajam kami kembali berhenti. Tampak persawahan dengan gradasi warna hijaunya dimulai dari warna hijau muda padi yang baru ditanam, hingga hijau tua batang-batang padi yang mulai berbuah. Teras-terasnya membuat sawah itu seperti sejuta tangga mengelilingi bukit. Sebuah bemo (angkutan pedesaan) berpenumpang penuh melaju di sebelah kami. Beberapa penumpang mengucap salam walau kami tak saling kenal. Mereka bergelantungan di pintu atau naik di atap kendaraan karena penuhnya mobil itu.
                Ingatanku melayang kembali ke lima tahun silam. Saat baru menikah dengan  Max hal pertama yang dipesankan oleh mertua adalah jangan ke kampung sebelum musim kering. Mereka sungguh memahami anak mantunya akan kesulitan menapaki jalan bak parit dengan kontur naik dan turun yang kadang mempunyai kemiringan tiga puluh derajat. Belum lagi kendaraan hanya sebuah saja yang beroperasi tiap harinya, yaitu sebuah truk bernama sangat indah “Kasih Sayang” Bagi yang biasa memanjat bak truk sungguh tak masalah, tapi Max harus pesan berhari-hari sebelumnya agar aku bisa duduk di sebelah supir agar tak perlu memanjat bagian belakang kendaraan itu. Setelah setahun memang akhirnya hal itu tak lagi menjadi masalah, learning by doing sungguh ampuh bagiku. Hanya peringatan untuk datang setiap musim kering masih berlaku selama tiga tahun berikutnya, karena pernah sekali truk slip dan harus dikeluarkan dari kubangan dengan menggunakan sekam padi yang ditaburkan di lumpur itu. Ketidaksabaranku, yang sering membuat Max geleng kepala dan kadang naik darah juga, membuat kami harus berjalan beberapa kilometer sebelum bertemu jalan aspal dengan angkutan bemo menuju kota. Dan sesampai di kota aku panas tinggi karena kecapaian, sesuatu yang diomelkan selama berhari-hari oleh Max.
                Tak hanya kemungkinan slip ban yang membuat perjalanan menjadi lebih lama. Truk juga tak bisa melaju kencang karena jalan berbatu dan berkelok-kelok dengan muatan sarat di bagian belakangnya. Jarak antara Ruteng dan kampung Bapa mertua hanya sekitar 26 kilometer, tapi harus ditempuh sekitar 2-3 jam tergantung cuaca. Belum lagi jalan kaki sampai ke kampung yang agak jauh dari jalan utama, bisa 1 jam jalan kaki untuk ukuranku karena banyak berhenti menghela napas setelah menaiki tanjakan cukup tinggi. Bisa dimaklumi kalau aku sangat jarang berkunjung.
                “Biar kami saja yang mengunjungi kalian ke kota,” kata Bapa mertua. Sebuah pemahaman luar biasa bila menilik kultur Manggarai yang sangat memberi penghormatan pada orangtua. “Atau paling tidak kita ketemu di rumah kita di Dalo kalau kalian tak keberatan.” Tentu saja tidak, sudah punya mertua sebaik itu mana berani aku meminta lebih lagi. Dan biasanya kami bertemu di Dalo demi kebaikan semua pihak.
                Dan kini kami dapat melaju di tengah kampung Bapa dengan santai, sambil membunyikan klakson di depan rumah, membuat para penghuni keluar dan berlari ke halaman melihat kami terus melaju. “Heyy…Nana….Ibu, ngo nia meu? (Mas….Ibu, mau ke mana kalian?),” teriak ipar perempuanku. Aku melambaikan tangan sambil balas berteriak: “Ngo sale Dimpong, Bi (Pergi ke Dimpong, Bi)”
                Maka pagi itu kami berjalan-jalan ke tempat yang selama ini belum pernah aku kunjungi, melihat kebun-kebun kami yang belum pernah sekali pun aku tengok, dan dijangkiti perasaan baru yang semakin lama semakin menguat. Kegemaran keluyuran yang ditularkan oleh Max, makan singkong rebus sambil duduk di atas motor di tengah jalanan kampung yang lengang sambil melihat matahari tenggelam, dan bertegur sapa dengan para tetangga yang selalu meminta kami mampir untuk sekedar minum segelas kopi sambil mendengar kisah-kisah yang terjadi di seputar kampung.
                Perlahan tapi pasti, aku mencintai tempat ini dan orang-orangnya. Bukan jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi cinta yang perlahan mengalir menghangati hati dan jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar