Kamis, 22 September 2011

Coffee Stories 3: Maka Pergilah Aku ke Jember


Pertanyaan Mbak Nunuk Pulandari di Belanda tentang kopi Manggarai pada sebuah artikel membuatku teringat saat liburan ke Jawa hampir setahun lalu. Memang kunjungan ke Jember semacam perjalanan wajib yang harus kulakukan atau kedua keponakanku dan Ibunya, adik perempuanku, akan melancarkan protes bertubi-tubi perihal bolosku mengunjungi mereka. “Tante, kan sudah janji mau mengunjungi Adik.” Itu protes paling minimal dari Dinda ponakanku, maksimalnya: “Ik, jangan janji palsu, ya. Awas kalau engga datang!” Itu ancaman Mama Si Dinda.
                Perjalanan ke Jember ini semakin menjadi keharusan karena Max ikut-ikutan titip pesan. “Dear, jangan lupa beli bibit kopi di Balai Penelitian Kopi dan Kakao, lho. Beli barang sekilo, gitu buat ditanam di Dalo.” Ujarnya seraya menunjukkan catatan jenis kopi Arabica varietas unggul yang diinformasikan oleh Oomnya yang kebetulan bekerja di Dinas Perkebunan dan Kehutanan.
                “Ya, nanti kalau sempat.” Jawabku asal-asalan.
                “Harus disempatkan. Kantor perkebunan, kan di pinggir jalan besar arah ke SMAmu dulu, to?”
                Maka pagi itu, aku diantar adikku dan suaminya yang kebetulan akan ke kantor, ke kantor PTP di Jalan Gadjah Mada Jember. Setelah tanya ke sana sini, hasilnya malah kami masuk ke showroom penjualan hasil kopi, coklat, dan teh dari PTP. “Saya cari biji kopi, Mbak.” Kataku pada penjaga showroom. “Tapi kopi mentah untuk bibit.” Lanjutku setelah dia menunjuk roasted coffee yang dikemas cantik.
                Setelah paham dengan keinginanku, beberapa pegawai yang ramah menunjuk kantor lain di seberang bangunan sekaligus mengantarku pada seorang Bapak yang menjadi kepala bagian di situ. Dari beliau aku memperoleh daftar harga barang hasil produksi perkebunan di Jember. Beliau juga yang meneleponkan Balai Penelitian, yang ternyata, di Ajung Kecamatan Kalisat Jember. “Berarti bukan di sini, Pak tempat penjualan bibit kopinya?” Tanya adikku sambil mengerutkan jidat. “Bukan, Bu. Harus naik kendaraan ke sana. Tahu, kan arah ke Mangli.” Adikku mengangguk sekaligus menunjukkan rute yang ternyata dia tahu dengan baik. Hm, satu lagi orang yang hobby keluyuran di keluargaku.

                “Aku harus telepon Mas Deddy dulu,” Katanya sesampai di luar kantor. “Semoga saja dia engga sibuk jadi bisa mengantar kita.” Namun ternyata iparku tak bisa keluar kantor, jadilah aku dan Rien memutuskan untuk naik taksi ke Ajung.
                Balai Penelitian Kopi dan Kakao di Jember sangat terkenal di Manggarai. Semua kopi dan coklat jenis unggul berasal dari tempat ini. Referensi yang diberikan oleh Dinas Perkebunan dan Kehutanan juga merujuk ke tempat ini. Tak heran Max yang mulai ingin menanam kopi Arabica hampir setiap hari merecokiku dengan pertanyaan sudah pergi ke tempat itu atau belum. Dari Pak Arif, seorang staf perkebunan kuketahui bahwa kopi Arabica memang cocok ditanam di daerah yang mempunyai ketinggian di atas 700 meter dpl. Contohnya yang terkenal adalah yang ditanam di Kintamani Bali. “Semakin tinggi daerahnya, semakin asam rasanya.” Katanya memberi keterangan. Tentu saja hal itu sesuai dengan yang kami maksud. Ruteng dan juga Dalo berada di ketinggian 1600 m dpl. Pantas saja orang-orang di daerah ini menanam kopi unggul (istilah mereka untuk kopi Arabica) dibandingkan dengan kopi Manggarai (sebutan untuk jenis Robusta).
                Dasar tidak tahu mekanisme pembelian bibit kopi aku menanyakan berapa harga kalau beli sekilo kopi. “Kami menjualnya perbiji, Mbak. Sebijinya dua ratus lima puluh rupiah.” Waduh, cepat-cepat aku minta permisi untuk menelepon Max. Aku tak tahu seberapa luas kebun yang ingin ditanaminya dengan kopi Arabica. “Beli saja 500 biji, dear.” Perintahnya. Sementara bibit kakao tak mungkin bisa dibeli karena masa tanamnya sangat pendek, yaitu harus sudah masuk bedengan tak lebih dari seminggu, sementara aku masih ingin berleha-leha liburan bersama keponakan-keponakanku. “Kopi bisa tahan sampai 6 bulan, Mbak.” Terang Pak Arif ketika aku mulai was-was harus memotong waktu liburanku demi membawa pulang benih unggul tersebut.
                Syukurlah, jadi aku hanya membawa pulang biji dengan sertifikasi dalam amplop dengan cap Balai Penelitian itu. Sayangnya aku datang terlalu siang, sehingga tak bisa melihat bedengan mereka karena para pegawai bagian kebun sudah pulang, kebetulan hari itu hari Jumat sehingga mereka pulang untuk Sholat Jumat.
                Bibit unggul itu baru sempat kami bedengkan pas enam bulan setelah kedatanganku kembali ke Manggarai karena Oom yang bekerja di Dinas Perkebunan mempunyai usaha bedengan kopi unggul dan berbaik hati menghadiahkan 150 pohon kopi Arabica dan 70 pohon kopi Columbia untuk kami.
                Apalagi kopi Columbia itu? Ternyata kopi Columbia juga jenis Arabica, hanya saja cabangnya tak begitu banyak seperti Arabica jenis unggul yang kami beli sehingga produksinya tak sebanyak Arabica. Mungkin kopi inilah yang dimaksud petugas Balai Penelitian dengan jenis yang pohonnya tinggi dan pohonnya pendek. Keihatannya aku harus mulai membaca buku-buku pertanian dengan lebih serius lagi agar paham segala pernak-pernik penanaman kopi dan tanaman lainnya.
                Penanaman kopi jenis Robusta memang tak lagi memberikan banyak keuntungan. Saat musim panen harga jualnya tk pernah lebih dari 15 ribu per kilo. Kadang naik sedikit tapi lebih sering melorot turun. Pada bulan Januari sampai Juni harganya baru merambat naik karena sedikitnya pasokan yang tersedia, itu pun tak lebih dari 20 ribu per kilo. Sementara kopi Arabika lebih menjanjikan. Ada sementara orang yang mau membeli dengan harga 20 ribu masih berupa kopi dengan kulit! Mereka lebih suka memprosesnya sendiri agar bisa sesuai dengan standart perusahaan kopi besar macam Starbuck. Hmm…, aku malah ketinggalan berita dari Josh Chen yang tahu bila kopi Arabica Manggarai telah lama nongkrong di Starbuck.
                Membayangkan hasil kopi dari kebunku suatu saat bisa ikut dinikmati oleh orang-orang dari belahan dunia lain, sungguhlah sangat membanggakan. Apalagi bila namanya tetap Manggarai Coffee dan bukan menjadi bagian dari kopi daerah lain atau bahkan negara lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar