Jumat, 23 September 2011

Sekuntum Magnolia


Desir angin mengelusi pagi bermatahari hangat. Seorang pengelana menapaki lorong tanah dengan kakinya yang sigap. Kesenyapan terpecahkan oleh dengungan lebah dan derik binatang di balik pepohonan yang mulai menyembulkan bunga aneka warna. Musim akan segera berganti, hatinya yang sunyi mulai membuka perlahan menyambut bergantinya waktu.
                Di ujung lorong tampak sebuah rumah kayu bercat putih. Aneka bunga menghiasi pagar rumah itu, azalea, zinnia, aster, gerbera, dan entah apa lagi, membuat mata pengelana itu menatap takjub. Lalu saat berpaling ke arah halamannya yang lengang, tampak sebatang pohon magnolia berdiri memayungi serambinya. Magnolia berbunga putih yang sedang memamerkan keelokannya. Mata lelakinya mengerjap menyaksikan sekuntum menjulur gemulai di salah satu tangkai berdaun hijau gelap itu. Sang pengelana menghela napas. Kerinduan membuncah dalam dadanya.
                Langkahnya bergerak menuju pagar rumah berhias aneka bunga itu, sayang pintu kayu yang juga bercat putih tertutup rapat dengan gembok kuningan berkilat tertimpa sinar surya. Sang pengelana menyandarkan tangannya di pintu itu sambil tak lepas menatap bunga yang berayun terbawa gelora angin.
                “Aku ingin menyentuhmu.” Desisnya seraya menggenggam kayu yang kini terasa dingin dalam cengkeramannya. “Hanya menyentuhmu.”
                Seakan mendengar bisikan suaranya, bunga itu melenggok ke arahnya, memamerkan kelopaknya yang merekah. Magnolia bunga klasik yang telah mempesona sejak jaman purba. Helai-helai daunnya yang kuat tak sanggup terobek oleh kumbang-kumbang yang lalu-lalang. Kesederhanaan bentuknya tak membuatnya kehilangan keindahan. Keperkasaan berbalut kelembutan, mungkin itu yang membuat binar di mata sang pengelana menyala.
                Angin membawa harum segar yang dalam sekejap telah membelai sukma sang pengelana. Desahnya terdengar lirih. “Ternyata aku juga ingin menghirup kesegaranmu.”
                Keretekan pintu terbuka membuat kepala itu menoleh. Seorang lelaki muda menatapnya dengan pandangan ingin tahu yang kental.
                “Anda mencari seseorang?” Suara ramah membelah udara penuh wangi bunga.
                Pengelana itu menggeleng perlahan. “Saya sedang mengagumi bunga magnolia anda.”
                Lelaki pemilik rumah itu tertawa perlahan, “Indah bukan? Saya juga selalu mengaguminya. Sebuah keindahan yang sederhana menenteramkan saya.”
                Mata Sang Pengelana semakin berpendar menatapi kuntum molek yang seakan turut mendengarkan perbincangan mereka.
                “Maaf sobat, bunga ini hanya untukku. Tak mungkin kau memilikinya.” Lelaki itu tetap menatap dengan pandangan ramah.
                Sang pengelana diam.
                “Ada banyak bunga di luar pagar rumahku. Pilihlah salah satunya, mereka sungguh indah.” Lelaki pemilik rumah itu merentangkan tangan menunjuk deretan bunga yang meliuk-liuk bersama desauan angin.
                Pengelana itu membisu. Matanya mengerjap sejenak sebelum kembali menatapi bunga pujaannya. Jantungnya berdenyut kencang. Kerinduan mengirisi hatinya. Rasa manis dan pahit melumuri mulutnya. Mengapa dirinya bersikeras mengingini bunga itu?
                Suara pintu yang ditutup membuatnya tersentak. Pemilik bunga itu tak mengijinkannya walau hanya sekedar mendekat untuk menghirup aroma harum manis yang lamat-lamat menyelinap ke hidungnya. Ah, betapa malang hasratnya.
                Saat berpaling hendak meneruskan langkah, ujung matanya menangkap lambaian ranting bunga itu. Kelopak bunga putih itu seakan semakin bersinar dalam kecemerlangan pagi. Bunga itu memamerkan sepenuh keindahan yang dimilikinya, bersuka ria menyambuti hasrat sang pengelana dalam kebisuan yang menggelora.
                Senyum tipis mengembang di bibir lelaki itu. Dilihatnya ranting pohon yang menjulur mendekati pagar. “Dua kali musim yang sama.” Bisiknya lirih. “Aku akan menjangkaumu, mengelusi kelopakmu, menghirup aromamu, tanpa perlu melangkahi pagar rumah pemilikmu.”
                Diteruskannya langkah kakinya sambil bergumam lirih: “Ya, beberapa musim lagi aku akan kembali melewati jalan ini.” Lalu berpaling sekali lagi pada magnolia itu. “Nantikan aku.”
               
               
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar