Berita menggembirakan datang padaku saat menghadiri sebuah pesta di kampung semalam. Tanta Sisi, tetangga seberang jalan, akan mempunyai menantu dari anak lelakinya yang bernama Dus. Di antara tamu pesta yang sedang menari ja’i dan poco-poco kulihat Nona calon menantu yang dimaksud tetanggaku itu. Herannya sebagai calon menantu dan mertua mereka tak duduk bersama, bahkan tak saling sapa walau hanya dengan anggukan atau sekilas senyuman. Tanta Beth yang duduk di sampingku berusaha meyakinkan melihatku mengerutkan kening, “Benar Ibu, bila tak ada aral melintang esok pagi dia akan diantar (podo) ke rumah Dus.”
Pertanyaan pertama yang aku ajukan adalah di mana mereka berkenalan. Bukan pertanyaan serius, hanya sekedar pemanis bibir menanggapi pembicaraan tetangga. Toh aku tak pernah benar-benar kenal anak-anak muda yang menjadi tetangga kami di kampung. Tapi jawabannya justru membuatku semakin memperdalam kerutan di dahiku. “Kenal di pesta.”
Bagi kebanyakan pemuda dan pemudi di kampung, saat sekarang adalah musim pesta. Ada banyak macam pesta, salah satu hal yang ditunggu mereka dalam pesta adalah kesempatan berkenalan dengan lawan jenis. Maklum, dalam pesta banyak tetangga, bahkan dari kampung yang jauh, dan keluarga besar tuan pemilik pesta dari segala penjuru akan hadir. Sungguh menghemat waktu dan tenaga untuk dapat berkenalan dengan banyak orang dan banyak pilihan dari tempat yang sangat berbeda. Mungkin seperti jejaring sosial dalam hal menghubungkan banyak orang dari berbagai kalangan dan tempat.
Pesta mana yang mempertemukan mereka tak sempat aku tanyakan karena orang yang berpesta semakin banyak yang turun berdansa dan aku terpaksa menyingkir karena sampai bertahun-tahun tak juga biasa berdansa di pesta-pesta.
Saat minum kopi keesokannya, hanya ada adik bungsu Max yang hilir mudik melongok-longok di pintu ruang tamu. Aku menanyakan ke mana semua orang karena pisang rebus dan kopi jahe buatannya masih mengepul tanpa ada yang menyentuhnya. “Kakak Max pergi ke rumah Tanta Sisi.” Jawabnya. Untuk? “Tak tahu, Kak. Mama dan Nar juga ke sana sejak tadi. Saya mau memanggil mereka tapi tak enak karena hanya pakai pakaian rumah.”
Untunglah sebelum aku harus menjemput mereka, ketiganya telah muncul. Sebelum aku sempat berucap sesuatu, Max sudah mendahului, “Kami berkunjung untuk menyambut meka weru (tamu yang baru tiba).” Meka weru bisa berarti bayi yang baru lahir namun kadang juga dipergunakan untuk menyebut anggota keluarga baru, dalam hal ini tunangan Dus yang baru saja diantar oleh keluarga besarnya ke rumah calon mertua. Kedatangan calon istri Dus lah yang membuat para tetangga berdatangan.
Berita pertama yang kudapat, istri Dus ternyata beberapa tahun lebih tua. Aku maklum saja, mungkin lelaki jaman sekarang sudah keluar dari pola bertahun silam yang menganjurkan perempuan berumur lebih muda dari suaminya. Beberapa public figure terang-terangan menggandeng lelaki lebih muda dan tak menimbulkan masalah.
Hal lebih menarik bagiku adalah kapan kiranya Dus mulai kenal dengan Nona yang katanya berasal dari Kumba (nama sebuah kampung di Ruteng) ini. Mama mertua sambil mengupas pisang menjawab, “Di pesta Oom John kemarin malam.” Haaaah?? “Co’o (mengapa)?” Tanggapnya melihatku celangap heran tak terkira. Koq bisa baru ketemu langsung mau bertunangan? Memangnya tak perlu penjajakan lebih jauh? Apa sudah tahu sifat, asal-usul, hobby, dan lain-lain, dan seterusnya? Mama mertua menatapku heran. “Hitu ngasang toko racap, Ibu (Itu namanya tulang rusuk atau jodoh, Ibu)” Ah, masa begitu sih?
Max yang duduk di sebelahku tertawa melihatku melontarkan pertanyaan bertubi-tubi menyangsikan kemungkinan bertemu dan memutuskan bertunangan dalam semalam. Apalagi pernikahan mereka hanya tinggal menghitung hari. Duh, apa bisa begitu, sih? “Nyatanya bisa.” Katanya tenang. Tapi melihat riwayat perkenalan sampai saat kami memutuskan menikah yang memakan waktu bertahun-tahun, rasanya tindakan Dus terlalu percaya diri.
“Kami dulu juga seperti itu,” Lanjut Mama mertua sambil mengisahkan kembali saat pertuangannya dengan Bapa mertua. Tapi itu, kan jaman kuda gigit besi, saat nenek dan kakekku pun menggunakan cara yang sama untuk menikah. Saat itu perjodohan jamak dilakukan untuk menikahkan anak-anak yang telah beranjak dewasa karena keterbatasan lingkup pergaulan dan aturan-aturan ketat menyangkut pertemanan antara lelaki dan perempuan.
“Mungkin mereka jatuh cinta pada pandangan pertama.” Ujar Max. “Siapa tahu, kan?”
Ah, masa bisa begitu?
“Hanya karena kamu engga pernah jatuh cinta pada pandangan pertama bukan berarti orang lain tak mengalaminya, dear.” Katanya sambil menyeruput kopinya. “Kamu, sih too much thinking.”
Bukankah jatuh cinta dan memutuskan menikah itu dua hal berbeda? Yang satu bisa mendadak terjadi karena mengedepankan perasaan, namun satunya membutuhkan campur tangan logika dengan segala macam pertimbangan dan pemikiran serius sebelum menjalaninya. “Dus dan calon istrinya pasti juga telah memikirkan dengan serius hal itu, walau tak membutuhkan waktu lama sepertimu untuk memutuskannya.”
Waduh, biarpun dia masih dendam karena menungguku terlalu lama, kata-katanya tetaplah sebuah komentar yang tega dari seorang suami, sehingga pantaslah mendapat ganjaran jitakan di kepala.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar