Aku menerobos rumput setinggi mata kaki melewati kebun tetangga. Seekor babi yang diikat di pohon kopi tidur bermalas-malasan di tengah kubangannya. Walau hewan hitam besar itu tak menggigit manusia, aku berjalan melipir di pinggir cerukan yang menjadi teritorinya. Jalan ini merupakan jalan pintas menuju gang rumahku di kampung. Angkutan pedesaan, di sini biasa disebut bemo, hanya melintas di jalan aspal yang membelah kampung. Gang rumahku belum mendapat giliran dilapisi aspal walau telah tersusun batu sejak dua tahun lalu. Maka demi menghemat waktu aku menerobos tanah tetangga yang menghubungkan jalan aspal dengan jalan gang depan rumahku.
Setelah melintasi sepetak tanaman kacang dan kumpulan re’a (padan besar), langkahku sampai di ujung gang. Dari jauh kulihat mama mertua dan adik iparku yang bungsu duduk di depan rumah sembari bercakap-cakap. Mereka duduk menunggui sesuatu yang dijemur di halaman menggunakan terpal plastik, keduanya mengerutkan kening sebelum tertawa menyambutku.
“Olee…anak daku (Aduh, anakku),” mertuaku merapikan sarungnya. “Tumben datang siang hari?”
Aku mengangguk sambil menurunkan ransel dari gendongan. “Saya datang lebih dulu, Mama. Kakak Max masih di Ruteng, nanti malam baru menyusul.” Jelasku saat melihatnya melongok-longok ke belakang punggungku mencari anak lelakinya.
“Kakak tidak mengajar?” Tanya adik iparku.
“Tidak, Enu. Saya mau libur dulu.”
Pagi tadi, sesudah minum kopi dan online, mendadak aku ingin pulang ke kampung. Max yang menemaniku sambil membaca buku mengerutkan kening. “Aku mengajar sampai malam hari ini, dear. Kalau kamu pingin ke Dalo pergi saja lebih dulu, malam nanti aku menyusul.”
Maka aku meliburkan semua kelas hari ini dan pergi ke kampung. Kedatanganku di hari kerja membuat mertuaku heran, tapi tak bisa dipungkiri hal itu menggembirakan hatinya.
Aku menjajarinya duduk di samping pintu rumah. Ternyata mereka sedang menjemur singkong yang sudah dikupas dan dipotong-potong. Dalam bahasa Manggarai disebut koil, sementara dalam bahasa Indonesia dinamakan gaplek. Dan siang itu halaman rumah kami dipenuhi oleh koil yang berwarna putih kekuningan.
“Nar (kisahnya ada dalam note: Namanya Nar) menggali daeng (singkong) di Randong kemarin. Sepagian tadi kami mengupasnya agar bisa dijemur, mumpung dua hari ini tak hujan.” Kata mertuaku saat aku menanyakan mengapa menjemur koil siang ini.
“Banyak juga singkongnya,” kataku menanggapi.
“Masih tersisa beberapa petak di kebun. Nar sedang menggalinya sekarang.” Tambah perempuan itu.
Aku mengangguk. Membuat koil merupakan salah satu cara mengawetkan bahan makanan. Koil dapat bertahan berbulan-bulan bila disimpan dengan baik dalam kas (tempat penyimpanan bahan makanan/lumbung). Saat minum kopi di pagi hari mertua atau adik iparku biasanya merebus koil sebagai teman minum. Sayang perutku agak sensitive terhadap koil, tak tahu kenapa padahal aku tak bermasalah dengan singkong rebus, sehingga mereka selalu menyediakan teko (talas) untukku.
Sambil sesekali berteriak menggebah ayam yang berusaha mengais-ngais koil yang dijemurnya, untuk kesekian kalinya mama mertua mengulang kisah masa mudanya saat baru diboyong ke kampung suaminya. Di kampung bapa mertua saat itu belum ada sawah, karena tanahnya belum dipeta (dibentuk menjadi sawah/ladang), hanya tana masa (ladang) yang ditanami jagung dan ubi-ubian. Kera dan babi hutan masih berkeliaran bebas sehingga kebun harus selalu dijaga siang maupun malam. Mama mertua yang sangat rajin, mengolah semua ladang yang menjadi milik suaminya dengan ditanami jagung dan ubi kayu. Saat bapa mertua pergi membeli garam ke pantai, dia akan tidur di kebun untuk menjagai tanamannya. “Apa tak takut, Mama?” Tanyaku suatu saat. “Ah, kalau takut habis semua tanaman kita diserbu babi hutan.”
Tanah yang subur memberikan hasil yang menakjubkan. Jagung dikeringkan dan digantung di langit-langit rumah sampai saatnya ditumbuk menjadi beras jagung, sementara ubi kayu dikupas dan dijemur menjadi koil. Karena panen ubi begitu melimpah, koil milik mama mertua sampai memenuhi lumbung.
Saat itu penanaman padi belum seintensif sekarang. Padi ladang hanya panen setahun sekali, itu pun tak lebih dari dua karung (sekitar 100 kg padi/50 kg beras) hasilnya. Saat bahan makanan habis sebelum musimnya, para petani akan mencari pinjaman makanan ke kampung lain. Bapa dan mama mertua yang mempunyai simpanan koil cukup banyak menjadi terkenal di antara para tetangga kampung. Mereka berdatangan untuk meminjam koil dengan ganti beras saat mereka panen nantinya. “Dari mana saja orang yang meminjam koil Mama?” Tanyaku. Sebenarnya ini pertanyaan yang selalu kuulang setiap dia menceritakan kisah yang sama. “Dari Nanu, Dimpong, sampai Purang semua datang ke rumah.” Jawabnya dengan wajah bersungguh-sungguh.
“Cara menukarnya bagaimana?” Ini juga pertanyaan ulangan, tapi dia selalu senang menjawabnya seperti kesenangan mengisahkan masa lalu itu sendiri.
“Cewarang koil (20 kg gaplek) ditukar dengan cetongka dea (5 kg beras).” Jawabnya. Kebijakan yang selalu diprotes Max sebagai sesuatu yang tak adil sekarang. Masa koil dihargai begitu tinggi, demikian alasan anak lelakinya. Tapi mama yang tak belajar ekonomi tapi tahu arti guna waktu membuat keluarganya yang tak punya sawah sepetak pun saat itu, dapat menikmati makan nasi sebagai makanan pokok sebab berhasil mengumpulkan beras hingga memenuhi kas.
Apa tak ada peminjam yang berusaha menipu? “Jaman dulu semua orang masih jujur, memang ada satu atau dua yang membayar tak tepat waktu, tapi pasti ada alasannya. Dan beberapa kali kami tak menagih pinjaman koil itu karena panen mereka tak mencukupi untuk membayar hutangnya.”
Oh, berarti itu hanya kisah masa lalu. Sekarang tak ada lagi orang yang mencari koil untuk makanan pokok? Adik iparku mencondongkan badan sambil setengah berbisik, “Siapa bilang Kakak? Bulan-bulan begini banyak orang yang mencari koil untuk makan.” Aku menatap kaget. Masa, sih? Mama mertua mengangguk membenarkan. “Hanya saja sekarang mereka bilang mau pinjam untuk makanan babi.” Hah?? Mengapa begitu? Adik perempuanku tersenyum tipis, “Kan, sudah jaman modern, Kak. Masa pinjam koil untuk makan, sih?”
Padi masih hijau, musim panen masih dua atau tiga bulan lagi, sementara persediaan makanan telah menipis, tak heran beberapa orang mencari pinjaman koil sampai masa panen tiba. Perubahan musim yang ekstrim juga membuat hasil panen menurun cukup signifikan, koil dan daeng menjadi makanan alternatif bagi sebagian orang untuk mengganjal perut.
“Apa semua daeng itu akan dijadikan koil, Mama?” Tanyaku.
“Tentu saja.” Ujarnya namun buru-buru ditambahkannya. “Tapi pasti ada yang direbus untukmu.”
Aku tersenyum sambil membuka ransel yang masih tergeletak di depan kakiku. Kukeluarkan bungkusan plastik dan kuserahkan padanya.
“Apa ini?” Tanyanya sambil berusaha membuka ikatan plastiknya.
“Kala (daun sirih).” Jawabku.
Tawanya melebar, “Terima kasih, ee….” Katanya sambil menatap mataku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar