Minggu, 09 Oktober 2011

Catatan Liburan 2: Berkelana Bersama Senja

Setelah rasa mabuk hilang, hal pertama yang ingin kulakukan adalah minum minuman yang dingin. Ice lemon tea kelihatannya cukup menyenangkan untuk menghabiskan hari yang tinggal sepotong. Memesan minuman itu pada petugas layanan kamar pasti menyenangkan, hanya saja Max punya ide yang lebih cemerlang. “Mengapa kita tak jalan-jalan di pinggir pantai sambil minum juice atau minuman dingin lainnya?” Aku setuju dan bergegas bangun untuk berganti pakaian.
                Di Labuan Bajo yang berada di pinggir pantai, pakaian yang kukenakan dari Ruteng sangat tak cocok. Celana pendek dan baju sleeveless lebih sesuai. Apalagi kelihatannya selama beberapa hari kota ini tak didatangi hujan. Udara terasa cukup panas walau saat check in di hotel aku tak begitu memperhatikannya.
                Ternyata benarlah perkiraanku. Begitu keluar hotel dan menapaki jalanan, hal pertama yang menyambutku adalah debu jalanan. Saat itu tengah terjadi pembangunan jalan atau mungkin hanya gorong-gorong, sungguh tak jelas. Satu hal pasti, jalan digali dan beberapa material diletakkan berserakan di pinggirnya. Mau jalan di atas trotoar tak memungkinkan, mau lewat badan jalan, hanya tinggal setengah dan harus berebut dengan pengendara bermacam kendaraan. Well, mungkin setelah benar-benar memperhatikan memang ada setapak di pinggir jalan, tapi mana sempat melihatnya bila tak benar-benar melipir di pinggiran bangunan ruko dan restoran.
                Kami tak melanjutkan berjalan di sepanjang jalan raya karena saat liburan tahun lalu telah menemukan jalan menuju pinggir pantai di mana pemerintah daerah mendirikan semacam gazebo untuk memandangi laut. Jalan menuju tempat itu bisa melalui pasar tradisional di tengah perkampungan penduduk. Kelihatannya pasar ini adalah pasar mereka sebelum pemerintah membangun yang baru  dengan los-los untuk pedagang di ujung jalan dekat dermaga ferry antar pulau. Tahun lalu, kondisi jalannya sungguh becek dan kotor dengan ceceran hasil laut dan sampah-sampah. Sekarang berdebu, karena musim kemarau, dan tetap kotor dengan sampah. Hanya saja di pinggirnya banyak nelayan menjemur ikan untuk dijadikan ikan kering yang siap dipasarkan ke Ruteng dan kota-kota di daerah pegunungan lainnya.
                Max mengira membeli ikan kering di pantai akan lebih murah dibanding di Ruteng. Kalau memungkinkan, katanya, ingin dibelinya beberapa kilo untuk mama mertua di rumah. Tapi aku sedikit keberatan, bukan karena tak sayang mertua, tapi kalau membawa ikan kering ke kamar hotel pasti menyebabkan bau tak sedap. “Ya, belinya nanti saja, dear kalau kita sudah mau pulang.” Katanya berkeras. Ya, terserah saja, tapi aku akan menyuruhnya menyimpan di kamar mandi dengan plastic berlapis-lapis.
                Masalah ikan asin berakhir saat kami sudah duduk menatapi kapal nelayan dan ferry antar pulau yang berjalan hilir mudik memasuki dan meninggalkan pelabuhan. Burung-burung laut kehitaman melayang-layang sambil memekikkan teriakan yang segera lenyap ditelan deru angin. Matahari masih tinggi, menunggui senja sambil menikmati denyut kehidupan pantai sungguh menyenangkan. Apalagi saat itu awan cukup tebal menaungi langit Labuan Bajo.
                Keindahan Labuan Bajo dengan deretan pulau-pulau kecil di lepas pantainya seperti hiasan zamrud di tengah birunya lazuardi. Garis putih deburan ombak menjadi aksen yang menyedapkan pandangan. Bangunan dermaga yang dibuat menjorok ke laut membuatku teringat beberapa film yang pernah kutonton. Sedikit polesan akan membuat tempat ini menjadi tujuan wisata yang patut diperhitungkan.
                Setelah beberapa saat bercakap sambil menikmati bibir pantai dari bangku semen gazebo, kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke pasar di ujung dermaga. Bukan karena ingin membeli sesuatu, tapi Max hanya ingin menggodaiku tentang sebuah penginapan yang selalu digunakannya bila menginap sendirian di Labuan Bajo. “Enak juga menginap di situ, dear.” Katanya selalu. Alasannya,”Murah dan relatif bersih.” Ya, tapi harus sharing bathroom. “Kalau aku, sih engga masalah.” Tapi aku yang bermasalah karena beberapa hal personal. “Mau coba?” Candanya. Tentu saja tidak!
                Saat Max memutuskan berkelana di pasar untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang harga ikan kering, aku lebih baik berdiri di luar pagarnya yang kebetulan berada di pinggir laut dan membuat beberapa foto yang sempat kuupload menggunakan handphone. Modem milikku sementara ini tak memiliki jaringan di Labuan Bajo, jadi sharing suasana liburan dengan saudara dan teman-teman hanya bisa dilakukan dengan menggunakan telepon seluler.
                Tak berapa lama Max muncul dengan tawa lebar. “Wah, harganya sama saja dengan di Ruteng.” Nah, kan. “Tapi nanti aku akan tanya.” Dia menyebut beberapa saudara kami yang kebetulan pendagang di pasar Ruteng. “Barangkali harganya sudah naik sekarang.” Ah, pendirian kukuh yang kadang menyulitkannya.
                Berbeda dengan gazebo di depan perkampungan nelayan, gazebo yang dibangun persis di pinggiran jalan ini telah dipakai sebagai warung tenda. Banyak penjual makanan khas Makassar dan Jawa yang menjajakan dagangannya. Entah berubah peruntukan atau memang sebenarnya dibangun untuk mengakomodir warung-warung tenda ini, tak jelas benar. Hanya saja pemandangan ke laut jadi terhalang, karena kita musti makan di warung-warung itu dulu sebelum bisa duduk di pinggir pagar untuk menikmati laut dari sisi ini.
                Karena tak tertarik untuk mencicipi makanan, kami melanjutkan perjalanan ke tempat yang tadinya terdapat dermaga dari kayu menuju kapal-kapal yang ditambatkan di pantai. Sayang sekali dermaga itu telah roboh dan teronggok di tengah laut. Entah sengaja dibiarkan demikian atau memang tempat itu tak hendak lagi dijadikan dermaga. Namun melihat gapura di pinggir trotoarnya, kami jadi bertanya-tanya. Barangkali suatu ketika akan dibangun kembali dermaga itu sehingga kami bisa berjalan di atasnya dan menikmati laut sedikit lebih jauh dari sekedar berdiri di pinggiran trotoar berpagar yang kini telah pula dipergunakan sebagai warung tenda.
                Ketika hari semakin tua, mendadak langit meniupkan angin sehingga awan yang menaungi Labuan Bajo beranjak pergi dan menampakkan matahari yang bersinar keemasan. Kami memutuskan untuk minum juice di sebuah rumah makan berpemandangan pelabuhan. Denyut industri pariwisata tampak pada beberapa restoran baru yang semakin sophisticated dibandingkan tahun lalu. Kami memilih salah satunya lebih untuk memuaskan rasa ingin tahu dibanding sajian yang disediakannya. Dengan penataan interior yang semakin professional “kelas” restoran-restoran baru ini bisa mengakomodir wisatawan dengan tingkatan yang lebih luas dari sekedar para backpacker yang ingin hal-hal sederhana. Dalam perbincangan dengan waiter restoran itu diceritakannya bahwa beberapa wisatawan asing sanggup mencharter pesawat dari Denpasar sekedar untuk pergi memancing di beberapa pulau elok di tempat itu.
                Sambil menyesap Guava Juice dan mendengarkan music reggae yang menghentak kubiarkan Max membuat beberapa foto mentari yang beranjak menuju peraduannya. Aku lebih menyukai menikmati sinarnya yang perlahan semakin hilang kehangatannya di wajahku, disaput angin laut yang sejuk. Lalu ketika bola merah itu semakin hilang di balik cakrawala, kualihkan pandanganku ke ribuan kerlip lampu kapal nelayan di bawah kaki kami.
                Ah, Labuan Bajo. Selamat Malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar