Minggu, 09 Oktober 2011

Catatan Liburan 3: Langit dan Bumi yang Sama


Hari ke dua di Labuan Bajo ingin kami isi dengan sedikit berjalan-jalan di luar area pantai yang disebut juga Kota Lama. Disebut demikian mungkin karena di daerah inilah pusat kota Labuan Bajo sebelum dimekarkan menjadi kabupaten baru, yaitu Kabupaten Manggarai Barat. Sebagai konsekwensi sebuah pusat pemerintahan, dilakukan pembangunan kantor-kantor yang membutuhkan areal lebih luas, maka dikembangkanlah kota menuju perbukitan dan menjauhi pantai.
                Hari sebelumnya kami melihat banner lomba melukis untuk anak-anak di Pantai Pede. Aku bertanya pada Max di mana letak pantai itu. Max tak jelas benar menunjukkan arahnya. “Kita bisa naik bemo (sebutan untuk angkutan kota) ke sana.” Tapi di mana itu? “Tak jauh pokoknya.” Haddeuuhh, keterangannya juga tetap tak jelas.
                Oleh sebab itu, begitu selesai sarapan keesokan harinya aku memintanya bertanya pada petugas front office sekalian dengan peta kalau ada. Tentu saja tak ada, karena tak seperti kota tujuan wisata yang sudah menjadi dedengkot industry pariwisata, di sini sebuah tempat hanya bisa ditunjuk dengan patokan arah atau bangunan, serta jalan.
Tak lama Max pulang ke kamar dengan keterangan: “Tak jauh letaknya, dear. Kata resepsionis kalau naik bemo ongkosnya tiga ribu rupiah, tapi berhubung mengantar khusus, ya kira-kira lima ribu per orang.” OK, berarti tak terlalu jauh. “Atau kalau kamu tidak keberatan kita jalan kaki saja ke sana.” Usulnya. Wah, kalau jaraknya sampai sepuluh kilometer bisa gempor kakiku. “Tidaklah, menurut keterangan nona tadi, jaraknya sejauh ke pasar di dekat dermaga ferry.” Ah, masa sih?
                Berhubung niatnya memang pelesiran aku setuju untuk mencoba jalan kaki. Bila ternyata jauh dan membuatku capai banyak ojek yang lalu-lalang dan siap mengantarkan penumpang. Namun sebelumnya kami mencari toko yang menjual baterai alkaline karena baterai kamera telah habis dan chargernya ketinggalan di Ruteng. Tak hanya charger baterai kamera yang tak terbawa, charger handphone pun terpaksa beli. Itulah kalau tak well prepared sebelum liburan. Ada saja yang tak terbawa.
                Kami harus keluar masuk toko mencari baterai yang cocok dengan baterai kamera. Kebetulan yang sejenis milik kami sudah habis di beberapa toko. Bagaimana kalau sampai tak ada sebuah toko pun yang menjualnya? Padahal deretan toko sudah hampir habis. “Mungkin di situ ada. Kamu tunggu saja di sini.” Kata Max sambil menyeberang jalan ke sebuah toko kelontong. Aku tak begitu yakin karena mini market saja sudah kehabisan stok. Jangan-jangan toko itu malah tak menjualnya.
                Max keluar sambil menenteng tas plastic hitam. Pertanyaan pertamaku setelah dia sampai di sampingku adalah ada baterainya atau tidak. “Ada.” Tawanya melebar. “Di sini malah murah, dear. Beda lima ribu dengan toko-toko yang dekat hotel. Juice kemasan ini juga beda seribu harganya.” Mungkin karena letaknya yang semakin jauh dari pusat keramaian sehingga harganya semakin murah juga. Ha! Kembali a blessing in disguise. Suatu saat bila kami ke tempat ini lagi, kami sudah tahu di mana toko yang menjual barang dengan harga lebih murah.
                Ternyata arah Pantai Pede sejalan dengan beberapa hotel baru yang cukup representative di tempat ini. Salah satu hotel tarifnya lumayan tinggi. Menurut beberapa kenalan yang pernah menginap di sana room ratenya sejuta per malam untuk standart room. Memang letak dan servicenya setara dengan hotel-hotel berbintang di Bali. Malah hotel-hotel itu merupakan chain hotel dari Bali. Ketika aku menggodai Max kapan kami bisa menginap di sana, langsung dia berkomentar dengan dahi berkerut, “Hanya buat tidur saja mengapa harus mahal-mahal, sih dear?” Tapi fasilitas dan posisi hotelnya, kan beda. Pas di pinggir pantai berpasir putih dengan fasilitas kolam renang di bibir laut.
“Ah, kamu!” Keluhnya.
Udara terik tak membuat kami mengurungkan niat untuk menyusuri jalan yang berisi kebun-kebun kosong di kanan kirinya. Beberapa rumah menyelinginya. Tak berapa lama kami melihat ada pembangunan hotel baru dengan 7 lantai. Bisa dibayangkan betapa pesat perkembangan pariwisata Labuan Bajo sehingga beberapa investor sudah mulai berani membangun hotel-hotel besar di tempat ini.
Tak jauh dari tempat pembangunan hotel baru itu terdapat dua gapura yang menunjukkan sebuah fasilitas umum. Lho, apakah ini Pantai Pede? Koq sepi sekali? Mungkin hanya kami berdualah pengunjung yang datang pada saat itu. Aku sempat melongok-longok mencari tempat pembelian tiket masuk, namun tak ada bangunan loket. Jadi bisa masuk dengan gratis, nih? “Iya, dear. Ini, kan pantai umum.” Hmmm…., enaknya.
“Untung kita tadi tak naik angkot, ya. Ternyata dekat saja dari hotel.” Tambahnya.
Setelah kami sampai di dalam area pantai, tak benar juga bila dikatakan sendirian. Beberapa orang sedang melepaskan atap seng dari bangunan dari bambu yang memanjang di sekitar pantai. “Bekas tempat lomba melukis.” Kata seorang ibu yang kebetulan duduk bersama anak perempuannya setelah mengumpulkan plastik-plastik botol minuman dalam karung besar.
Pantai dengan pasir putih dan gradasi warna birunya sungguh menawan. Apalagi ada beberapa kapal layar yang sedang ditambatkan di sana. Pulau-pulau kecil bagai pintu gerbang bagi kedatangan ferry yang mengangkut penumpang dan barang dari Pulau Sumbawa. Selain itu banyak kapal nelayan yang ditambatkan di bibir pantai. Siang itu beberapa nelayan sedang beristirahat di bawah pohon asam sambil mengutak-atik pancingnya.
Setelah puas mengambil foto, kami juga duduk di bawah pohon asam, memandang-mandang aktivitas yang terjadi di depan kami sambil menghirup guava juice. Sementara Max menikmati rokok kegemarannya, aku sibuk update status dan upload foto yang kami ambil menggunakan handphone. Ternyata koneksi internet di tempat ini cukup lancar. Bahkan lebih lancar daripada Ruteng.
Begitu sibuknya kami sampai tak terasa ada seorang lelaki tua datang mendekat. Aku agak ngeri juga melihatnya karena lelaki itu membawa parang, sementara keadaan pantai mulai sepi. Max yang lebih sociable daripada aku segera terlibat percakapan dengan lelaki itu. Mereka berbagi rokok dan mulailah kisah kehidupan nelayan mengalir dari mulut lelaki tua itu. Max memang selalu mudah membuat seseorang bercerita dan tanggapannya yang tulus menyebabkan seseorang merasa bertemu teman lama.
Nelayan tua itu berasal dari Bima dan mengaku sudah berusia 94 tahun. Astaga?? Dia sedang menunggu anaknya pulang memancing ikan di laut dengan menggunakan perahu. Walau kata-katanya mulai tak jelas tapi dia masih mampu memikul seekor ikan hiu sepanjang satu meter yang berhasil ditangkap anak-anaknya tak berapa lama setelah rokok di tangannya habis dinikmati.
Seorang teman menanyakan dalam komentarnya apakah Pantai ini telah berubah bersih. Ternyata tidak, pantai ini tetap kotor dan banyak sampah bertebaran. Mungkin perlu penataan dari pemerintah agar menjadikannya semakin elok.
Menjelang makan siang kami meninggalkan tempat itu, rumpun ilalang yang tinggi melambai-lambai di tiup angin siang yang terik. “Tak mengapa kita pulang jalan kaki lagi, kan dear?” Max menjinjing ransel sambil mengebas-ngebaskan jeansnya yang dipenuhi pasir.
Aku menggeleng tak keberatan. Kepalaku menengok ke arah lautan biru di belakang punggung kami sambil membayangkan sanak saudara dan teman-teman yang berada di seberang lautan. Sesungguhnya jarak itu tak memisahkan terlalu jauh. Paling tidak kita tinggal di bawah langit dan di atas di bumi yang sama.
               
               

2 komentar:

  1. mudah2-an suatu waktu bisa jalan2 kesana... sering lewat tapi waktu selalu kepepet

    BalasHapus
  2. Semoga saja, ya Pak Vik.

    BalasHapus