Kamis, 29 September 2011

Mawar Hitam


Kau tersenyum dari balik kaca,
Memamerkan sekuntum mawar merah,
Aku beli dari mall,
Untuk melukiskan perasaanku padamu, katamu
Aku terpana,
Tak percaya,
Mawar itu dari plastik,
Dan harumnya disemprot parfum pabrik

Aku akan meletakkannya di samping tempat tidurku, katamu
Agar rasa kita selalu bersatu,
Mendesir saat fajar,
Menggelora saat senja,
Lalu senyap di akhir minggu,
Ucapmu sambil mengecupinya,
Dari balik kaca

Ah, mawar merah tak menarik hatiku
Kalau kau pintar,
Simpan saja uang itu untuk sebatang rokok,
Bersamanya dapat kau layari malam,
Menulis sedikit catatan,
Menuangkan lara jiwamu,
Lalu meremukkannya dengan gemas,
Sebelum berakhir di tong sampah

Aku memaksamu, ujarmu
Ingin kuhadiahkan sekuntum mawar,
Sebagai tanda sepasang kekasih,
Seperti nyanyian para troubadour abad pertengahan,
Tentang para ksatria,
Yang bermain cinta dengan istri orang.

Mengapa aku ingin tertawa?
Mungkin karena aku tak percaya,
Omong kosongmu dari balik kaca,
Perasaan tak bisa disemprot dengan parfum,
Atau diromantisasi dalam lagu dan sajak,
Apalagi dengan setangkai mawar merah

Kalau kau lebih cerdas,
Bawakanku sebuah mawar hitam
Karena kisah kita sangat kelam,
Bahkan untuk dilukiskan,
Dalam puisi panjangmu setiap tengah malam.






Sabtu, 24 September 2011

Catatan Liburan 1: Labuan Bajo, Here I Come

Rencana liburanku ke Labuan Bajo bisa dikatakan maju mundur. Sudah lama direncanakan tapi kelihatannya sulit dilaksanakan. Ketika hal ini aku ceritakan pada seorang teman, dia menganjurkan agar aku membulatkan tekad untuk meninggalkan segala kesibukan dan berlibur tanpa beban pekerjaan. Masalahnya tak semua pekerjaan bisa ditinggalkan. “Kamu sudah menyatu benar dengan budaya Manggarai, ya?” Maksudnya? “Belum apa-apa kata pertama yang dilontarkan adalah: Masalahnya.” Karena yang mengatakan adalah orang Manggarai aku menyambutnya dengan tawa gelak.
                Setelah liburan benar-benar tiba, aku tak juga berniat pergi. Banyak alasannya, antara lain harus mengikuti suami ke kampung. Memang bukan aku yang pelesiran ke kebun, tapi sebagai seorang istri mendukung dari belakang adalah keharusan. Hal ini berdasarkan pengalaman, bukan karena petuah dan anjuran.
                Lalu sebuah telepon di tengah malam membuatku membulatkan tekad untuk pergi. Suami akur-akur saja karena kebetulan ada special occasion yang membuatnya tak bisa menolak. Maka bersukarialah diriku. Walau hanya berbekal sebuah ransel tak mengapa, yang penting acara keluyuran bisa berlangsung.
                Tepat tengah hari kami pergi. Masing-masing menyandang sebuah ransel perlengkapannya sendiri. Melihat tujuannya ke pantai kami hanya mengenakan jeans belel, kaos oblong, dan sandal jepit. Rasanya sayang bila sepatu bagus kemasukan pasir ketika ingin berkelana menyusuri pantai. Tak lupa pula topi dan sunglasses. Bukan hanya untuk gaya, tapi dua benda itu memang sungguh dibutuhkan demi kesehatan dan juga kecantikan. Tanpa tutup kepala di bawah terik matahari selalu membuatku pusing. Sementara sunglasses membuat mata tak perlu memicing dan pangkal hidung berkerut. Memicing dan mengerut tanpa terasa menurut pakar kecantikan mempercepat timbulnya kerut, dan jelas aku tak ingin segera memiliki kerut-merut itu.

                Perjalanan menuju Labuan Bajo selalu menyenangkan. Secara sugestif hal itu mendekatkanku dengan asalku walau masih harus sejam terbang menggunakan pesawat. Rasa senang membuat hati terasa hangat, puas, sekaligus penuh harap. Selain itu, setelah berbulan-bulan di daerah dingin rasanya sangat menyenangkan bisa menggunakan pakaian yang aku suka tanpa perlu bingung memikirkan jaket dan payung bila mendadak turun hujan. Ya, Ruteng tak mengenal musim untuk mngumpulkan awan di langitnya dan menurunkan hujan sekehendak hatinya. Seperti sekarang, saat menuliskan catatan ini, hujan sedang turun. Hujan di bulan Juli? Ya, walau sajak Sapardi Djoko Damono tentang hujan di bulan Juni sudah menunjukkan suatu peristiwa yang nyaris mustahil.
                Setengah perjalanan sangat kunikmati. Kelokan jalan selalu menghadirkan perbukitan hijau dan lembah yang keabuan. Di beberapa tempat tampak penjual jeruk sedang duduk di lapak-lapak mereka tanpa hendak menjajakan dagangannya. Walau sekarang musim jeruk, tak banyak yang diperdagangkan. Mungkin akibat cuaca tak menentu pohon jeruk tak banyak berbuah, sama halnya dengan komoditas perkebunan lain seperti kopi dan coklat. Dalo sebagai salah satu sentra jeruk juga tak tampak menguning dengan buah yang matang di pohon seperti tahun kemarin. Beberapa pohon hanya menghasilkan buah kecil-kecil yang matang sebelum waktunya. Ah, perubahan cuaca dan musim memporak-porandakan banyak hal.
                Setelah mendekati Lembor, tubuhku mulai limbung. Bila tak dalam kondisi fit, mabuk adalah hal yang pasti terjadi padaku. Bukan mabuk sampai muntah, namun justru pusing dan sakit perut yang menyerang. Bila sudah demikian tak banyak lagi keindahan yang bisa kunikmati. Setiap saat yang kutanyakan pada Max adalah berapa lama lagi akan sampai di Labuan. “Mungkin setengah jam lagi, dear.” Jawabnya tenang. Ah, aku sudah sangat pusing dan perut melilit, nih. “Ya, tahan saja to. Kita nyanyi-nyanyi saja.” Ah, mana bisa mabuk disuruh menyanyi, sih?
                Untunglah tak berapa lama sampailah kami di hotel langganan kami setiap pergi ke Labuan. Walau telah memesan tempat sebelumnya tetap ditanyakan berapa lama menginap. Ada masalah apa lagi? “Besok ada rombongan datang dari Jawa, jadi kamar-kamarnya harus kami sesuaikan.” Ya sudah, kami menginap tiga hari. “Kartu Identitasnya bisa kami minta?” Tanya resepsionis. Aku dan Max saling tunjuk dan kemudian sama-sama menyadari kalau tak ada seorangpun membawa kartu identitas.

                “Kami deposit saja, deh.” Kataku memutuskan setelah petugas front desk itu tak juga surut meminta keterangan.
                Kunci sudah di tangan. Sambil menuju ke kamar yang ditunjukkan petugas, Max nyeletuk, “Wah, kalau tiba-tiba ada pemeriksaan KTP seperti di acara laporan kriminal di TV itu bisa bahaya kita, dear?” Apa sebab? “Nanti dikira kita pasangan selingkuh, nih yang langsung digerebek petugas.” Haaa??? Enak aja. “Lha, kan tak ada identitas.” Ujarnya sambil tertawa.
                “Ga usah khawatir,” Kataku. “Aku hapal tanggal lahirmu sampai alamat rumah dan nama orang tuamu.”
                “Apa hubungannya?”
                “Di TV tuh, pernah aku lihat mereka ditanya tanggal lahir dan tempat tinggal pasangan. Karena memang selingkuh atau sedang sial mereka tak dapat menjawabnya. Ya, bermasalah jadinya.”
                “Sok tahu, ah!”
                Biar saja dikatakan sok tahu, aku sudah ingin membaringkan diri di kasur untuk meredakan sakit kepala dan perut mulas karena mabuk. Setelah itu bolehlah memesan segelas ice lemon tea sambil menikmati pemandangan kapal nelayan yang pulang melaut diiringi angin senja.
                Ah, Labuan Bajo. Here I come.

Jumat, 23 September 2011

Sekuntum Magnolia


Desir angin mengelusi pagi bermatahari hangat. Seorang pengelana menapaki lorong tanah dengan kakinya yang sigap. Kesenyapan terpecahkan oleh dengungan lebah dan derik binatang di balik pepohonan yang mulai menyembulkan bunga aneka warna. Musim akan segera berganti, hatinya yang sunyi mulai membuka perlahan menyambut bergantinya waktu.
                Di ujung lorong tampak sebuah rumah kayu bercat putih. Aneka bunga menghiasi pagar rumah itu, azalea, zinnia, aster, gerbera, dan entah apa lagi, membuat mata pengelana itu menatap takjub. Lalu saat berpaling ke arah halamannya yang lengang, tampak sebatang pohon magnolia berdiri memayungi serambinya. Magnolia berbunga putih yang sedang memamerkan keelokannya. Mata lelakinya mengerjap menyaksikan sekuntum menjulur gemulai di salah satu tangkai berdaun hijau gelap itu. Sang pengelana menghela napas. Kerinduan membuncah dalam dadanya.
                Langkahnya bergerak menuju pagar rumah berhias aneka bunga itu, sayang pintu kayu yang juga bercat putih tertutup rapat dengan gembok kuningan berkilat tertimpa sinar surya. Sang pengelana menyandarkan tangannya di pintu itu sambil tak lepas menatap bunga yang berayun terbawa gelora angin.
                “Aku ingin menyentuhmu.” Desisnya seraya menggenggam kayu yang kini terasa dingin dalam cengkeramannya. “Hanya menyentuhmu.”
                Seakan mendengar bisikan suaranya, bunga itu melenggok ke arahnya, memamerkan kelopaknya yang merekah. Magnolia bunga klasik yang telah mempesona sejak jaman purba. Helai-helai daunnya yang kuat tak sanggup terobek oleh kumbang-kumbang yang lalu-lalang. Kesederhanaan bentuknya tak membuatnya kehilangan keindahan. Keperkasaan berbalut kelembutan, mungkin itu yang membuat binar di mata sang pengelana menyala.
                Angin membawa harum segar yang dalam sekejap telah membelai sukma sang pengelana. Desahnya terdengar lirih. “Ternyata aku juga ingin menghirup kesegaranmu.”
                Keretekan pintu terbuka membuat kepala itu menoleh. Seorang lelaki muda menatapnya dengan pandangan ingin tahu yang kental.
                “Anda mencari seseorang?” Suara ramah membelah udara penuh wangi bunga.
                Pengelana itu menggeleng perlahan. “Saya sedang mengagumi bunga magnolia anda.”
                Lelaki pemilik rumah itu tertawa perlahan, “Indah bukan? Saya juga selalu mengaguminya. Sebuah keindahan yang sederhana menenteramkan saya.”
                Mata Sang Pengelana semakin berpendar menatapi kuntum molek yang seakan turut mendengarkan perbincangan mereka.
                “Maaf sobat, bunga ini hanya untukku. Tak mungkin kau memilikinya.” Lelaki itu tetap menatap dengan pandangan ramah.
                Sang pengelana diam.
                “Ada banyak bunga di luar pagar rumahku. Pilihlah salah satunya, mereka sungguh indah.” Lelaki pemilik rumah itu merentangkan tangan menunjuk deretan bunga yang meliuk-liuk bersama desauan angin.
                Pengelana itu membisu. Matanya mengerjap sejenak sebelum kembali menatapi bunga pujaannya. Jantungnya berdenyut kencang. Kerinduan mengirisi hatinya. Rasa manis dan pahit melumuri mulutnya. Mengapa dirinya bersikeras mengingini bunga itu?
                Suara pintu yang ditutup membuatnya tersentak. Pemilik bunga itu tak mengijinkannya walau hanya sekedar mendekat untuk menghirup aroma harum manis yang lamat-lamat menyelinap ke hidungnya. Ah, betapa malang hasratnya.
                Saat berpaling hendak meneruskan langkah, ujung matanya menangkap lambaian ranting bunga itu. Kelopak bunga putih itu seakan semakin bersinar dalam kecemerlangan pagi. Bunga itu memamerkan sepenuh keindahan yang dimilikinya, bersuka ria menyambuti hasrat sang pengelana dalam kebisuan yang menggelora.
                Senyum tipis mengembang di bibir lelaki itu. Dilihatnya ranting pohon yang menjulur mendekati pagar. “Dua kali musim yang sama.” Bisiknya lirih. “Aku akan menjangkaumu, mengelusi kelopakmu, menghirup aromamu, tanpa perlu melangkahi pagar rumah pemilikmu.”
                Diteruskannya langkah kakinya sambil bergumam lirih: “Ya, beberapa musim lagi aku akan kembali melewati jalan ini.” Lalu berpaling sekali lagi pada magnolia itu. “Nantikan aku.”
               
               
               

Kamis, 22 September 2011

Love at First Sight?


Berita menggembirakan datang padaku saat menghadiri sebuah pesta di kampung semalam. Tanta Sisi, tetangga seberang jalan, akan mempunyai menantu dari anak lelakinya yang bernama Dus. Di antara tamu pesta yang sedang menari ja’i dan poco-poco kulihat Nona calon menantu yang dimaksud tetanggaku itu. Herannya sebagai calon menantu dan mertua mereka tak duduk bersama, bahkan tak saling sapa walau hanya dengan anggukan atau sekilas senyuman. Tanta Beth yang duduk di sampingku berusaha meyakinkan melihatku mengerutkan kening, “Benar Ibu, bila tak ada aral melintang esok pagi dia akan diantar (podo) ke rumah Dus.”
                Pertanyaan pertama yang aku ajukan adalah di mana mereka berkenalan. Bukan pertanyaan serius, hanya sekedar pemanis bibir menanggapi pembicaraan tetangga. Toh aku tak pernah benar-benar kenal anak-anak muda yang menjadi tetangga kami di kampung. Tapi jawabannya justru membuatku semakin memperdalam kerutan di dahiku. “Kenal di pesta.”
Bagi kebanyakan pemuda dan pemudi di kampung, saat sekarang adalah musim pesta. Ada banyak macam pesta, salah satu hal yang ditunggu mereka dalam pesta adalah kesempatan berkenalan dengan lawan jenis. Maklum, dalam pesta banyak tetangga, bahkan dari kampung yang jauh, dan keluarga besar tuan pemilik pesta dari segala penjuru akan hadir. Sungguh menghemat waktu dan tenaga untuk dapat berkenalan dengan banyak orang dan banyak pilihan dari tempat yang sangat berbeda. Mungkin seperti jejaring sosial dalam hal menghubungkan banyak orang dari berbagai kalangan dan tempat.
                Pesta mana yang mempertemukan mereka tak sempat aku tanyakan karena orang yang berpesta semakin banyak yang turun berdansa dan aku terpaksa menyingkir karena sampai bertahun-tahun tak juga biasa berdansa di pesta-pesta.
                Saat minum kopi keesokannya, hanya ada adik bungsu Max yang hilir mudik melongok-longok di pintu ruang tamu. Aku menanyakan ke mana semua orang karena pisang rebus dan kopi jahe buatannya masih mengepul tanpa ada yang menyentuhnya. “Kakak Max pergi ke rumah Tanta Sisi.” Jawabnya. Untuk? “Tak tahu, Kak. Mama dan Nar juga ke sana sejak tadi. Saya mau memanggil mereka tapi tak enak karena hanya pakai pakaian rumah.”
                Untunglah sebelum aku harus menjemput mereka, ketiganya telah muncul. Sebelum aku sempat berucap sesuatu, Max sudah mendahului, “Kami berkunjung untuk menyambut meka weru (tamu yang baru tiba).” Meka weru bisa berarti bayi yang baru lahir namun kadang juga dipergunakan untuk menyebut anggota keluarga baru, dalam hal ini tunangan Dus yang baru saja diantar oleh keluarga besarnya ke rumah calon mertua. Kedatangan calon istri Dus lah yang membuat para tetangga berdatangan.
                Berita pertama yang kudapat, istri Dus ternyata beberapa tahun lebih tua. Aku maklum saja, mungkin lelaki jaman sekarang sudah keluar dari pola bertahun silam yang menganjurkan perempuan berumur lebih muda dari suaminya. Beberapa public figure terang-terangan menggandeng lelaki lebih muda dan tak menimbulkan masalah.
                Hal lebih menarik bagiku adalah kapan kiranya Dus mulai kenal dengan Nona yang katanya berasal dari Kumba (nama sebuah kampung di Ruteng) ini. Mama mertua sambil mengupas pisang menjawab, “Di pesta Oom John kemarin malam.” Haaaah?? “Co’o (mengapa)?” Tanggapnya melihatku celangap heran tak terkira. Koq bisa baru ketemu langsung mau bertunangan? Memangnya tak perlu penjajakan lebih jauh? Apa sudah tahu sifat, asal-usul, hobby, dan lain-lain, dan seterusnya? Mama mertua menatapku heran. “Hitu ngasang toko racap, Ibu (Itu namanya tulang rusuk atau jodoh, Ibu)” Ah, masa begitu sih?
                Max yang duduk di sebelahku tertawa melihatku melontarkan pertanyaan bertubi-tubi menyangsikan kemungkinan bertemu dan memutuskan bertunangan dalam semalam. Apalagi pernikahan mereka hanya tinggal menghitung hari. Duh, apa bisa begitu, sih? “Nyatanya bisa.” Katanya tenang. Tapi melihat riwayat perkenalan sampai saat kami memutuskan menikah yang memakan waktu bertahun-tahun, rasanya tindakan Dus terlalu percaya diri.
                “Kami dulu juga seperti itu,” Lanjut Mama mertua sambil mengisahkan kembali saat pertuangannya dengan Bapa mertua. Tapi itu, kan jaman kuda gigit besi, saat nenek dan kakekku pun menggunakan cara yang sama untuk menikah. Saat itu perjodohan jamak dilakukan untuk menikahkan anak-anak yang telah beranjak dewasa karena keterbatasan lingkup pergaulan dan aturan-aturan ketat menyangkut pertemanan antara lelaki dan perempuan.
                “Mungkin mereka jatuh cinta pada pandangan pertama.” Ujar Max. “Siapa tahu, kan?”
                Ah, masa bisa begitu?
                “Hanya karena kamu engga pernah jatuh cinta pada pandangan pertama bukan berarti orang lain tak mengalaminya, dear.” Katanya sambil menyeruput kopinya. “Kamu, sih too much thinking.”
                Bukankah jatuh cinta dan memutuskan menikah itu dua hal berbeda? Yang satu bisa mendadak terjadi karena mengedepankan perasaan, namun satunya membutuhkan campur tangan logika dengan segala macam pertimbangan dan pemikiran serius sebelum menjalaninya. “Dus dan calon istrinya pasti juga telah memikirkan dengan serius hal itu, walau tak membutuhkan waktu lama sepertimu untuk memutuskannya.”
                Waduh, biarpun dia masih dendam karena menungguku terlalu lama, kata-katanya tetaplah sebuah komentar yang tega dari seorang suami, sehingga pantaslah mendapat ganjaran jitakan di kepala.

               

Coffee Stories 3: Maka Pergilah Aku ke Jember


Pertanyaan Mbak Nunuk Pulandari di Belanda tentang kopi Manggarai pada sebuah artikel membuatku teringat saat liburan ke Jawa hampir setahun lalu. Memang kunjungan ke Jember semacam perjalanan wajib yang harus kulakukan atau kedua keponakanku dan Ibunya, adik perempuanku, akan melancarkan protes bertubi-tubi perihal bolosku mengunjungi mereka. “Tante, kan sudah janji mau mengunjungi Adik.” Itu protes paling minimal dari Dinda ponakanku, maksimalnya: “Ik, jangan janji palsu, ya. Awas kalau engga datang!” Itu ancaman Mama Si Dinda.
                Perjalanan ke Jember ini semakin menjadi keharusan karena Max ikut-ikutan titip pesan. “Dear, jangan lupa beli bibit kopi di Balai Penelitian Kopi dan Kakao, lho. Beli barang sekilo, gitu buat ditanam di Dalo.” Ujarnya seraya menunjukkan catatan jenis kopi Arabica varietas unggul yang diinformasikan oleh Oomnya yang kebetulan bekerja di Dinas Perkebunan dan Kehutanan.
                “Ya, nanti kalau sempat.” Jawabku asal-asalan.
                “Harus disempatkan. Kantor perkebunan, kan di pinggir jalan besar arah ke SMAmu dulu, to?”
                Maka pagi itu, aku diantar adikku dan suaminya yang kebetulan akan ke kantor, ke kantor PTP di Jalan Gadjah Mada Jember. Setelah tanya ke sana sini, hasilnya malah kami masuk ke showroom penjualan hasil kopi, coklat, dan teh dari PTP. “Saya cari biji kopi, Mbak.” Kataku pada penjaga showroom. “Tapi kopi mentah untuk bibit.” Lanjutku setelah dia menunjuk roasted coffee yang dikemas cantik.
                Setelah paham dengan keinginanku, beberapa pegawai yang ramah menunjuk kantor lain di seberang bangunan sekaligus mengantarku pada seorang Bapak yang menjadi kepala bagian di situ. Dari beliau aku memperoleh daftar harga barang hasil produksi perkebunan di Jember. Beliau juga yang meneleponkan Balai Penelitian, yang ternyata, di Ajung Kecamatan Kalisat Jember. “Berarti bukan di sini, Pak tempat penjualan bibit kopinya?” Tanya adikku sambil mengerutkan jidat. “Bukan, Bu. Harus naik kendaraan ke sana. Tahu, kan arah ke Mangli.” Adikku mengangguk sekaligus menunjukkan rute yang ternyata dia tahu dengan baik. Hm, satu lagi orang yang hobby keluyuran di keluargaku.

                “Aku harus telepon Mas Deddy dulu,” Katanya sesampai di luar kantor. “Semoga saja dia engga sibuk jadi bisa mengantar kita.” Namun ternyata iparku tak bisa keluar kantor, jadilah aku dan Rien memutuskan untuk naik taksi ke Ajung.
                Balai Penelitian Kopi dan Kakao di Jember sangat terkenal di Manggarai. Semua kopi dan coklat jenis unggul berasal dari tempat ini. Referensi yang diberikan oleh Dinas Perkebunan dan Kehutanan juga merujuk ke tempat ini. Tak heran Max yang mulai ingin menanam kopi Arabica hampir setiap hari merecokiku dengan pertanyaan sudah pergi ke tempat itu atau belum. Dari Pak Arif, seorang staf perkebunan kuketahui bahwa kopi Arabica memang cocok ditanam di daerah yang mempunyai ketinggian di atas 700 meter dpl. Contohnya yang terkenal adalah yang ditanam di Kintamani Bali. “Semakin tinggi daerahnya, semakin asam rasanya.” Katanya memberi keterangan. Tentu saja hal itu sesuai dengan yang kami maksud. Ruteng dan juga Dalo berada di ketinggian 1600 m dpl. Pantas saja orang-orang di daerah ini menanam kopi unggul (istilah mereka untuk kopi Arabica) dibandingkan dengan kopi Manggarai (sebutan untuk jenis Robusta).
                Dasar tidak tahu mekanisme pembelian bibit kopi aku menanyakan berapa harga kalau beli sekilo kopi. “Kami menjualnya perbiji, Mbak. Sebijinya dua ratus lima puluh rupiah.” Waduh, cepat-cepat aku minta permisi untuk menelepon Max. Aku tak tahu seberapa luas kebun yang ingin ditanaminya dengan kopi Arabica. “Beli saja 500 biji, dear.” Perintahnya. Sementara bibit kakao tak mungkin bisa dibeli karena masa tanamnya sangat pendek, yaitu harus sudah masuk bedengan tak lebih dari seminggu, sementara aku masih ingin berleha-leha liburan bersama keponakan-keponakanku. “Kopi bisa tahan sampai 6 bulan, Mbak.” Terang Pak Arif ketika aku mulai was-was harus memotong waktu liburanku demi membawa pulang benih unggul tersebut.
                Syukurlah, jadi aku hanya membawa pulang biji dengan sertifikasi dalam amplop dengan cap Balai Penelitian itu. Sayangnya aku datang terlalu siang, sehingga tak bisa melihat bedengan mereka karena para pegawai bagian kebun sudah pulang, kebetulan hari itu hari Jumat sehingga mereka pulang untuk Sholat Jumat.
                Bibit unggul itu baru sempat kami bedengkan pas enam bulan setelah kedatanganku kembali ke Manggarai karena Oom yang bekerja di Dinas Perkebunan mempunyai usaha bedengan kopi unggul dan berbaik hati menghadiahkan 150 pohon kopi Arabica dan 70 pohon kopi Columbia untuk kami.
                Apalagi kopi Columbia itu? Ternyata kopi Columbia juga jenis Arabica, hanya saja cabangnya tak begitu banyak seperti Arabica jenis unggul yang kami beli sehingga produksinya tak sebanyak Arabica. Mungkin kopi inilah yang dimaksud petugas Balai Penelitian dengan jenis yang pohonnya tinggi dan pohonnya pendek. Keihatannya aku harus mulai membaca buku-buku pertanian dengan lebih serius lagi agar paham segala pernak-pernik penanaman kopi dan tanaman lainnya.
                Penanaman kopi jenis Robusta memang tak lagi memberikan banyak keuntungan. Saat musim panen harga jualnya tk pernah lebih dari 15 ribu per kilo. Kadang naik sedikit tapi lebih sering melorot turun. Pada bulan Januari sampai Juni harganya baru merambat naik karena sedikitnya pasokan yang tersedia, itu pun tak lebih dari 20 ribu per kilo. Sementara kopi Arabika lebih menjanjikan. Ada sementara orang yang mau membeli dengan harga 20 ribu masih berupa kopi dengan kulit! Mereka lebih suka memprosesnya sendiri agar bisa sesuai dengan standart perusahaan kopi besar macam Starbuck. Hmm…, aku malah ketinggalan berita dari Josh Chen yang tahu bila kopi Arabica Manggarai telah lama nongkrong di Starbuck.
                Membayangkan hasil kopi dari kebunku suatu saat bisa ikut dinikmati oleh orang-orang dari belahan dunia lain, sungguhlah sangat membanggakan. Apalagi bila namanya tetap Manggarai Coffee dan bukan menjadi bagian dari kopi daerah lain atau bahkan negara lain.