Rabu, 30 November 2011

Kisah Nawang Wulan


Entah mengapa aku mendadak teringat kisah ini. Dongengan yang sering diceritakan Mamiku saat kami masih kecil. Cerita mengharu biru tentang dua makhluk yang berasal dari dunia yang berbeda namun karena kecerdikan atau justru keculasan bisa menjalin kisah mengalahkan kekuatan alam semesta yang telah mengatur dengan sempurna setiap makhluk berdasarkan jenisnya.
                Cerita bermula saat Jaka Tarub, seorang lelaki desa yang berprofesi sebagai seorang pemburu, duduk beristirahat di pinggir sungai. Kesunyian siang dengan hembusan angin sepoi-sepoi mengelusi daun-daun bambu tiba-tiba pecah oleh pekikan renyah penuh cerah ceria. Hati lelaki Jaka Tarub semakin penuh keinginan setelah mendengar suara-suara yang memasuki gendang telinganya adalah riuh rendah berjenis feminine. Ah, hati bujangan mana yang tak tertarik pada suara lawan jenisnya yang tengah bersendau gurau di dalam hutan?
                Saat mengendap-endap dan menyembulkan kepalanya di atas sebuah batu, tampaklah tubuh-tubuh elok tengah telanjang mandi di bawah pancuran. Para perempuan itu sedemikian cantik mempesona hingga mulut Jaka Tarub hanya bisa ternganga dan sejenak tak bisa berpikir. Hasrat lelakinya menggelegak dan pikirannya bergerak cepat, “Aku harus memilikinya.” Tapi yang mana? “Tentu saja yang tercantik, kalau bisa juga paling cerdas.” Caranya? “Mengapa tak kusembunyikan saja pakaian salah satu di antara mereka?” Gumamnya. “Tentu saja aku harus menyelidiki dulu mana yang tercantik, termanja, dan tercerdas itu meletakkan bajunya.” Alasannya? “Yaaahh…mana mungkin dia berani keluar dari kali tanpa baju, walau sebenarnya aku telah melihat mereka tanpa pakaian.”
                Setelah melalui pengamatan yang cermat, Jaka Tarub mulai mengambil pakaian salah seorang yang diperkirakan sesuai dengan kriterianya. Dan benar saja, saat acara mandi telah selesai, para gadis, yang ternyata bidadari itu, berpakaian dan mulai terbang melayang meninggalkan kali, tinggallah seorang yang kelimpungan mencari pakaiannya yang hilang. Saat itulah Jaka Tarub keluar dengan gaya seorang pemenang walau mengubah rautnya penuh prihatin. “Mbakyu cari apa?” Tanyanya mengejutkan sang dewi yang langsung terjun kembali ke kali.
                “Baju saya hilang, saya tak dapat pulang.” Air mulai mengembang di mata.
                “Bisa saya bantu mencari?”
                “Ah, tentu.” Ujarnya penuh harap.
                Sayang setelah sekian lama tak didapat juga. Akhirnya mereka menyerah dan Sang jejaka menyarankan pada perempuan cantik molek itu untuk mengenakan kain miliknya dan diajak ke kampung untuk menikah dengannya.
                Singkat cerita mereka menikah dan punya anak perempuan bernama Nawangsih. Selama menikah terjadi keajaiban, padi di lumbung mereka tak pernah habis. Jaka Tarub curiga dan bertanya pada istrinya hal itu. Si Nawang Wulan hanya menjawab: “Jangan pernah membuka tutup periuk selama aku memasak.” Namun rasa ingin tahu lelakinya mengalahkan larangan itu. Saat istrinya lengah dibukanya tutup periuk dan tampaklah bila sang istri memasak hanya sehelai padi setiap kalinya. Tak heran padi itu tak pernah habis.

                Nawang Wulan tak kecewa dengan tindakan suaminya, dia memulai hidup biasa dengan menumbuk padi sebagaimana perempuan lainnya. Namun di sinilah awal petaka terjadi. Padi yang habis dengan segera menyebabkan baju surgawinya yang disembunyikan di dalam timbunan padi itu diketemukannya suatu hari. Ketika kebenaran itu didapatnya, dia tahu keseluruhan kisahnya.
                Tanpa memperhatikan tangis anak dan permohonan suaminya, dikenakannya baju itu dan mulai terbang ke langit dengan pesan, “Bila anakku menangis butuh disusui, taruhlah di tempat yang tinggi di mana aku bisa menemuinya.”
                Akhir kisah ini selalu membuat hati kanak-kanakku menjadi sendu. Mengapa kebahagiaan harus berakhir dengan perpisahan? Mengapa mereka tidak live happily ever after seperti kisah dari seberang benua? Penuh kesedihan aku akan menanyakan hal itu pada mamiku. Dia tak menjelaskannya dengan menyeluruh hanya berkata memang demikianlah kisahnya.
                Saat aku mulai menulis note ini aku mencoba melihatnya dari pemahamanku sekarang. Satu hal yang muncul pertama adalah kebohongan tak akan bisa abadi, suatu saat kebenaran akan muncul. Jaka Tarub berbuat seolah-olah dia menolong Nawang Wulan padahal sejak awal dia sudah menginginkan perempuan itu. Dia menyembunyikan kebenaran, yaitu mencuri pakaiannya, dan berbuat seolah apa yang dilakukannya benar. Alam memunculkan kebenaran itu karena kesalahannya sendiri yang sok ingin tahu, hingga ditemukanlah pakaian itu oleh pemiliknya.
Kedua, bercinta membutuhkan ketulusan, bukan kecurangan bertudung seolah-olah kebenaran. Sejak awal kisah setiap orang sudah disodori fakta bahwa Jaka Tarub berbuat curang walau ada perkataan nothing fair in love and war alias tak ada yang adil dalam cinta dan perang, namun bila benar-benar terjadi pencideraan dalam percintaan suatu saat akan muncul akibatnya. Minimal kekecewaan dari salah satu pihak yang merasa dikhianati, maksimalnya adalah terputusnya hubungan itu yang akan menyakiti kedua belah pihak.
Ketiga, sesuatu yang berasal dari dunia berbeda tak akan bisa bersatu. Bila dipaksakan akan muncul retak yang suatu ketika pecah dan membuat semuanya berkeping-keping. Mengapa? Sebab they’re not meant to be. Dua dunia itu tak selalu bangsa yang berlainan, namun bisa jadi pandangan hidup yang tak sama, atau pilihan hidup yang berbeda. Kesia-siaan tak akan muncul di awal kisah, hanya haru biru dan kekecewaan di akhirlah yang akan tampak. Sesuatu yang berasal dari dunia para bidadari berjubah putih tak akan berjalan selaras dengan manusia wadag seperti Jaka Tarub. Mereka dibentuk berbeda untuk menjalani takdirnya masing-masing. Kehendak untuk melanggar batas-batas itu walau mungkin terjadi bukanlah bagian hidup yang bisa dijalani tanpa kerinduan untuk kembali ke asal mulanya. Berdirilah di tempat masing-masing dan saling menghormati serta menyadari keberadaan setiap pribadi mungkin pesan yang ingin disampaikan dalam kisah ini.
Cerita-cerita masa kecil ini membuat diriku semakin merindukan Mamiku. Pencerita sederhana yang tak pernah menjelaskan maksud di balik kisah-kisah itu selain menceritakan sebagaimana adanya. Mungkin tampak sepertinya dia tak cerdas, namun sekarang aku tahu bahwa dia mendorong anak-anaknya untuk memaknai cerita-cerita itu seturut pengalaman hidupnya masing-masing. Dia tetap menyediakan kertas putih batin kami dan mempersilahkan kami mengisinya sendiri tanpa campur tangan dan pretensi.
I love you, Mom. You’re the best teacher I ever had.
               
               

Senin, 10 Oktober 2011

Kisah

Jangan kau tatapi kabut,
jejaknya akan hilang,
terbawa angin malam,
menerkam bersama kelam

jangan kau menggantang cahaya mentari,
hangatnya hilang dikulum hujan,
berderap menyelimuti bumi,
mengalingi pohon dan bebungaan

jangan pernah bermimpi menadah rasaku,
saat cerita telah berlalu,
kenangan hanya sebuah lukisan,
saat jemari melambai selamat jalan

Prolog

Aku ingin bercerita padamu,
tentang pagi nan sunyi,
hanya berselubung bisikan angin,
menyelinap perlahan bagai pencuri,
menyelipkan diri di antara celah papan kayu rumahku

Aku ingin berkisah untukmu,
akan awan berarak,
seumpama gelombang rambutmu,
hitam legam membawa hujan,
jatuh ke pangkuanku berserak-serak

Aku berharap dapat berbisik,
dengan suara perlahan,
menyusuri kata-kata indah,
madah para pujangga,
sambil menatap matamu perlahan terpejam

Bila engkau mengijinkan,
aku ingin selalu menatapmu,
melampaui ruang dan waktu,
membalut darah di jantungmu,
dan membuatmu sentosa dalam dekap kalbuku

(Lalu tampak sepasang mata,
memandangi angin membentur kaca,
menunduk perlahan,
menekuni ribuan huruf,
saat kelam mulai bicara)

Minggu, 09 Oktober 2011

Catatan Liburan 3: Langit dan Bumi yang Sama


Hari ke dua di Labuan Bajo ingin kami isi dengan sedikit berjalan-jalan di luar area pantai yang disebut juga Kota Lama. Disebut demikian mungkin karena di daerah inilah pusat kota Labuan Bajo sebelum dimekarkan menjadi kabupaten baru, yaitu Kabupaten Manggarai Barat. Sebagai konsekwensi sebuah pusat pemerintahan, dilakukan pembangunan kantor-kantor yang membutuhkan areal lebih luas, maka dikembangkanlah kota menuju perbukitan dan menjauhi pantai.
                Hari sebelumnya kami melihat banner lomba melukis untuk anak-anak di Pantai Pede. Aku bertanya pada Max di mana letak pantai itu. Max tak jelas benar menunjukkan arahnya. “Kita bisa naik bemo (sebutan untuk angkutan kota) ke sana.” Tapi di mana itu? “Tak jauh pokoknya.” Haddeuuhh, keterangannya juga tetap tak jelas.
                Oleh sebab itu, begitu selesai sarapan keesokan harinya aku memintanya bertanya pada petugas front office sekalian dengan peta kalau ada. Tentu saja tak ada, karena tak seperti kota tujuan wisata yang sudah menjadi dedengkot industry pariwisata, di sini sebuah tempat hanya bisa ditunjuk dengan patokan arah atau bangunan, serta jalan.
Tak lama Max pulang ke kamar dengan keterangan: “Tak jauh letaknya, dear. Kata resepsionis kalau naik bemo ongkosnya tiga ribu rupiah, tapi berhubung mengantar khusus, ya kira-kira lima ribu per orang.” OK, berarti tak terlalu jauh. “Atau kalau kamu tidak keberatan kita jalan kaki saja ke sana.” Usulnya. Wah, kalau jaraknya sampai sepuluh kilometer bisa gempor kakiku. “Tidaklah, menurut keterangan nona tadi, jaraknya sejauh ke pasar di dekat dermaga ferry.” Ah, masa sih?
                Berhubung niatnya memang pelesiran aku setuju untuk mencoba jalan kaki. Bila ternyata jauh dan membuatku capai banyak ojek yang lalu-lalang dan siap mengantarkan penumpang. Namun sebelumnya kami mencari toko yang menjual baterai alkaline karena baterai kamera telah habis dan chargernya ketinggalan di Ruteng. Tak hanya charger baterai kamera yang tak terbawa, charger handphone pun terpaksa beli. Itulah kalau tak well prepared sebelum liburan. Ada saja yang tak terbawa.
                Kami harus keluar masuk toko mencari baterai yang cocok dengan baterai kamera. Kebetulan yang sejenis milik kami sudah habis di beberapa toko. Bagaimana kalau sampai tak ada sebuah toko pun yang menjualnya? Padahal deretan toko sudah hampir habis. “Mungkin di situ ada. Kamu tunggu saja di sini.” Kata Max sambil menyeberang jalan ke sebuah toko kelontong. Aku tak begitu yakin karena mini market saja sudah kehabisan stok. Jangan-jangan toko itu malah tak menjualnya.
                Max keluar sambil menenteng tas plastic hitam. Pertanyaan pertamaku setelah dia sampai di sampingku adalah ada baterainya atau tidak. “Ada.” Tawanya melebar. “Di sini malah murah, dear. Beda lima ribu dengan toko-toko yang dekat hotel. Juice kemasan ini juga beda seribu harganya.” Mungkin karena letaknya yang semakin jauh dari pusat keramaian sehingga harganya semakin murah juga. Ha! Kembali a blessing in disguise. Suatu saat bila kami ke tempat ini lagi, kami sudah tahu di mana toko yang menjual barang dengan harga lebih murah.
                Ternyata arah Pantai Pede sejalan dengan beberapa hotel baru yang cukup representative di tempat ini. Salah satu hotel tarifnya lumayan tinggi. Menurut beberapa kenalan yang pernah menginap di sana room ratenya sejuta per malam untuk standart room. Memang letak dan servicenya setara dengan hotel-hotel berbintang di Bali. Malah hotel-hotel itu merupakan chain hotel dari Bali. Ketika aku menggodai Max kapan kami bisa menginap di sana, langsung dia berkomentar dengan dahi berkerut, “Hanya buat tidur saja mengapa harus mahal-mahal, sih dear?” Tapi fasilitas dan posisi hotelnya, kan beda. Pas di pinggir pantai berpasir putih dengan fasilitas kolam renang di bibir laut.
“Ah, kamu!” Keluhnya.
Udara terik tak membuat kami mengurungkan niat untuk menyusuri jalan yang berisi kebun-kebun kosong di kanan kirinya. Beberapa rumah menyelinginya. Tak berapa lama kami melihat ada pembangunan hotel baru dengan 7 lantai. Bisa dibayangkan betapa pesat perkembangan pariwisata Labuan Bajo sehingga beberapa investor sudah mulai berani membangun hotel-hotel besar di tempat ini.
Tak jauh dari tempat pembangunan hotel baru itu terdapat dua gapura yang menunjukkan sebuah fasilitas umum. Lho, apakah ini Pantai Pede? Koq sepi sekali? Mungkin hanya kami berdualah pengunjung yang datang pada saat itu. Aku sempat melongok-longok mencari tempat pembelian tiket masuk, namun tak ada bangunan loket. Jadi bisa masuk dengan gratis, nih? “Iya, dear. Ini, kan pantai umum.” Hmmm…., enaknya.
“Untung kita tadi tak naik angkot, ya. Ternyata dekat saja dari hotel.” Tambahnya.
Setelah kami sampai di dalam area pantai, tak benar juga bila dikatakan sendirian. Beberapa orang sedang melepaskan atap seng dari bangunan dari bambu yang memanjang di sekitar pantai. “Bekas tempat lomba melukis.” Kata seorang ibu yang kebetulan duduk bersama anak perempuannya setelah mengumpulkan plastik-plastik botol minuman dalam karung besar.
Pantai dengan pasir putih dan gradasi warna birunya sungguh menawan. Apalagi ada beberapa kapal layar yang sedang ditambatkan di sana. Pulau-pulau kecil bagai pintu gerbang bagi kedatangan ferry yang mengangkut penumpang dan barang dari Pulau Sumbawa. Selain itu banyak kapal nelayan yang ditambatkan di bibir pantai. Siang itu beberapa nelayan sedang beristirahat di bawah pohon asam sambil mengutak-atik pancingnya.
Setelah puas mengambil foto, kami juga duduk di bawah pohon asam, memandang-mandang aktivitas yang terjadi di depan kami sambil menghirup guava juice. Sementara Max menikmati rokok kegemarannya, aku sibuk update status dan upload foto yang kami ambil menggunakan handphone. Ternyata koneksi internet di tempat ini cukup lancar. Bahkan lebih lancar daripada Ruteng.
Begitu sibuknya kami sampai tak terasa ada seorang lelaki tua datang mendekat. Aku agak ngeri juga melihatnya karena lelaki itu membawa parang, sementara keadaan pantai mulai sepi. Max yang lebih sociable daripada aku segera terlibat percakapan dengan lelaki itu. Mereka berbagi rokok dan mulailah kisah kehidupan nelayan mengalir dari mulut lelaki tua itu. Max memang selalu mudah membuat seseorang bercerita dan tanggapannya yang tulus menyebabkan seseorang merasa bertemu teman lama.
Nelayan tua itu berasal dari Bima dan mengaku sudah berusia 94 tahun. Astaga?? Dia sedang menunggu anaknya pulang memancing ikan di laut dengan menggunakan perahu. Walau kata-katanya mulai tak jelas tapi dia masih mampu memikul seekor ikan hiu sepanjang satu meter yang berhasil ditangkap anak-anaknya tak berapa lama setelah rokok di tangannya habis dinikmati.
Seorang teman menanyakan dalam komentarnya apakah Pantai ini telah berubah bersih. Ternyata tidak, pantai ini tetap kotor dan banyak sampah bertebaran. Mungkin perlu penataan dari pemerintah agar menjadikannya semakin elok.
Menjelang makan siang kami meninggalkan tempat itu, rumpun ilalang yang tinggi melambai-lambai di tiup angin siang yang terik. “Tak mengapa kita pulang jalan kaki lagi, kan dear?” Max menjinjing ransel sambil mengebas-ngebaskan jeansnya yang dipenuhi pasir.
Aku menggeleng tak keberatan. Kepalaku menengok ke arah lautan biru di belakang punggung kami sambil membayangkan sanak saudara dan teman-teman yang berada di seberang lautan. Sesungguhnya jarak itu tak memisahkan terlalu jauh. Paling tidak kita tinggal di bawah langit dan di atas di bumi yang sama.
               
               

Catatan Liburan 2: Berkelana Bersama Senja

Setelah rasa mabuk hilang, hal pertama yang ingin kulakukan adalah minum minuman yang dingin. Ice lemon tea kelihatannya cukup menyenangkan untuk menghabiskan hari yang tinggal sepotong. Memesan minuman itu pada petugas layanan kamar pasti menyenangkan, hanya saja Max punya ide yang lebih cemerlang. “Mengapa kita tak jalan-jalan di pinggir pantai sambil minum juice atau minuman dingin lainnya?” Aku setuju dan bergegas bangun untuk berganti pakaian.
                Di Labuan Bajo yang berada di pinggir pantai, pakaian yang kukenakan dari Ruteng sangat tak cocok. Celana pendek dan baju sleeveless lebih sesuai. Apalagi kelihatannya selama beberapa hari kota ini tak didatangi hujan. Udara terasa cukup panas walau saat check in di hotel aku tak begitu memperhatikannya.
                Ternyata benarlah perkiraanku. Begitu keluar hotel dan menapaki jalanan, hal pertama yang menyambutku adalah debu jalanan. Saat itu tengah terjadi pembangunan jalan atau mungkin hanya gorong-gorong, sungguh tak jelas. Satu hal pasti, jalan digali dan beberapa material diletakkan berserakan di pinggirnya. Mau jalan di atas trotoar tak memungkinkan, mau lewat badan jalan, hanya tinggal setengah dan harus berebut dengan pengendara bermacam kendaraan. Well, mungkin setelah benar-benar memperhatikan memang ada setapak di pinggir jalan, tapi mana sempat melihatnya bila tak benar-benar melipir di pinggiran bangunan ruko dan restoran.
                Kami tak melanjutkan berjalan di sepanjang jalan raya karena saat liburan tahun lalu telah menemukan jalan menuju pinggir pantai di mana pemerintah daerah mendirikan semacam gazebo untuk memandangi laut. Jalan menuju tempat itu bisa melalui pasar tradisional di tengah perkampungan penduduk. Kelihatannya pasar ini adalah pasar mereka sebelum pemerintah membangun yang baru  dengan los-los untuk pedagang di ujung jalan dekat dermaga ferry antar pulau. Tahun lalu, kondisi jalannya sungguh becek dan kotor dengan ceceran hasil laut dan sampah-sampah. Sekarang berdebu, karena musim kemarau, dan tetap kotor dengan sampah. Hanya saja di pinggirnya banyak nelayan menjemur ikan untuk dijadikan ikan kering yang siap dipasarkan ke Ruteng dan kota-kota di daerah pegunungan lainnya.
                Max mengira membeli ikan kering di pantai akan lebih murah dibanding di Ruteng. Kalau memungkinkan, katanya, ingin dibelinya beberapa kilo untuk mama mertua di rumah. Tapi aku sedikit keberatan, bukan karena tak sayang mertua, tapi kalau membawa ikan kering ke kamar hotel pasti menyebabkan bau tak sedap. “Ya, belinya nanti saja, dear kalau kita sudah mau pulang.” Katanya berkeras. Ya, terserah saja, tapi aku akan menyuruhnya menyimpan di kamar mandi dengan plastic berlapis-lapis.
                Masalah ikan asin berakhir saat kami sudah duduk menatapi kapal nelayan dan ferry antar pulau yang berjalan hilir mudik memasuki dan meninggalkan pelabuhan. Burung-burung laut kehitaman melayang-layang sambil memekikkan teriakan yang segera lenyap ditelan deru angin. Matahari masih tinggi, menunggui senja sambil menikmati denyut kehidupan pantai sungguh menyenangkan. Apalagi saat itu awan cukup tebal menaungi langit Labuan Bajo.
                Keindahan Labuan Bajo dengan deretan pulau-pulau kecil di lepas pantainya seperti hiasan zamrud di tengah birunya lazuardi. Garis putih deburan ombak menjadi aksen yang menyedapkan pandangan. Bangunan dermaga yang dibuat menjorok ke laut membuatku teringat beberapa film yang pernah kutonton. Sedikit polesan akan membuat tempat ini menjadi tujuan wisata yang patut diperhitungkan.
                Setelah beberapa saat bercakap sambil menikmati bibir pantai dari bangku semen gazebo, kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke pasar di ujung dermaga. Bukan karena ingin membeli sesuatu, tapi Max hanya ingin menggodaiku tentang sebuah penginapan yang selalu digunakannya bila menginap sendirian di Labuan Bajo. “Enak juga menginap di situ, dear.” Katanya selalu. Alasannya,”Murah dan relatif bersih.” Ya, tapi harus sharing bathroom. “Kalau aku, sih engga masalah.” Tapi aku yang bermasalah karena beberapa hal personal. “Mau coba?” Candanya. Tentu saja tidak!
                Saat Max memutuskan berkelana di pasar untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang harga ikan kering, aku lebih baik berdiri di luar pagarnya yang kebetulan berada di pinggir laut dan membuat beberapa foto yang sempat kuupload menggunakan handphone. Modem milikku sementara ini tak memiliki jaringan di Labuan Bajo, jadi sharing suasana liburan dengan saudara dan teman-teman hanya bisa dilakukan dengan menggunakan telepon seluler.
                Tak berapa lama Max muncul dengan tawa lebar. “Wah, harganya sama saja dengan di Ruteng.” Nah, kan. “Tapi nanti aku akan tanya.” Dia menyebut beberapa saudara kami yang kebetulan pendagang di pasar Ruteng. “Barangkali harganya sudah naik sekarang.” Ah, pendirian kukuh yang kadang menyulitkannya.
                Berbeda dengan gazebo di depan perkampungan nelayan, gazebo yang dibangun persis di pinggiran jalan ini telah dipakai sebagai warung tenda. Banyak penjual makanan khas Makassar dan Jawa yang menjajakan dagangannya. Entah berubah peruntukan atau memang sebenarnya dibangun untuk mengakomodir warung-warung tenda ini, tak jelas benar. Hanya saja pemandangan ke laut jadi terhalang, karena kita musti makan di warung-warung itu dulu sebelum bisa duduk di pinggir pagar untuk menikmati laut dari sisi ini.
                Karena tak tertarik untuk mencicipi makanan, kami melanjutkan perjalanan ke tempat yang tadinya terdapat dermaga dari kayu menuju kapal-kapal yang ditambatkan di pantai. Sayang sekali dermaga itu telah roboh dan teronggok di tengah laut. Entah sengaja dibiarkan demikian atau memang tempat itu tak hendak lagi dijadikan dermaga. Namun melihat gapura di pinggir trotoarnya, kami jadi bertanya-tanya. Barangkali suatu ketika akan dibangun kembali dermaga itu sehingga kami bisa berjalan di atasnya dan menikmati laut sedikit lebih jauh dari sekedar berdiri di pinggiran trotoar berpagar yang kini telah pula dipergunakan sebagai warung tenda.
                Ketika hari semakin tua, mendadak langit meniupkan angin sehingga awan yang menaungi Labuan Bajo beranjak pergi dan menampakkan matahari yang bersinar keemasan. Kami memutuskan untuk minum juice di sebuah rumah makan berpemandangan pelabuhan. Denyut industri pariwisata tampak pada beberapa restoran baru yang semakin sophisticated dibandingkan tahun lalu. Kami memilih salah satunya lebih untuk memuaskan rasa ingin tahu dibanding sajian yang disediakannya. Dengan penataan interior yang semakin professional “kelas” restoran-restoran baru ini bisa mengakomodir wisatawan dengan tingkatan yang lebih luas dari sekedar para backpacker yang ingin hal-hal sederhana. Dalam perbincangan dengan waiter restoran itu diceritakannya bahwa beberapa wisatawan asing sanggup mencharter pesawat dari Denpasar sekedar untuk pergi memancing di beberapa pulau elok di tempat itu.
                Sambil menyesap Guava Juice dan mendengarkan music reggae yang menghentak kubiarkan Max membuat beberapa foto mentari yang beranjak menuju peraduannya. Aku lebih menyukai menikmati sinarnya yang perlahan semakin hilang kehangatannya di wajahku, disaput angin laut yang sejuk. Lalu ketika bola merah itu semakin hilang di balik cakrawala, kualihkan pandanganku ke ribuan kerlip lampu kapal nelayan di bawah kaki kami.
                Ah, Labuan Bajo. Selamat Malam.

Kamis, 29 September 2011

Mawar Hitam


Kau tersenyum dari balik kaca,
Memamerkan sekuntum mawar merah,
Aku beli dari mall,
Untuk melukiskan perasaanku padamu, katamu
Aku terpana,
Tak percaya,
Mawar itu dari plastik,
Dan harumnya disemprot parfum pabrik

Aku akan meletakkannya di samping tempat tidurku, katamu
Agar rasa kita selalu bersatu,
Mendesir saat fajar,
Menggelora saat senja,
Lalu senyap di akhir minggu,
Ucapmu sambil mengecupinya,
Dari balik kaca

Ah, mawar merah tak menarik hatiku
Kalau kau pintar,
Simpan saja uang itu untuk sebatang rokok,
Bersamanya dapat kau layari malam,
Menulis sedikit catatan,
Menuangkan lara jiwamu,
Lalu meremukkannya dengan gemas,
Sebelum berakhir di tong sampah

Aku memaksamu, ujarmu
Ingin kuhadiahkan sekuntum mawar,
Sebagai tanda sepasang kekasih,
Seperti nyanyian para troubadour abad pertengahan,
Tentang para ksatria,
Yang bermain cinta dengan istri orang.

Mengapa aku ingin tertawa?
Mungkin karena aku tak percaya,
Omong kosongmu dari balik kaca,
Perasaan tak bisa disemprot dengan parfum,
Atau diromantisasi dalam lagu dan sajak,
Apalagi dengan setangkai mawar merah

Kalau kau lebih cerdas,
Bawakanku sebuah mawar hitam
Karena kisah kita sangat kelam,
Bahkan untuk dilukiskan,
Dalam puisi panjangmu setiap tengah malam.






Sabtu, 24 September 2011

Catatan Liburan 1: Labuan Bajo, Here I Come

Rencana liburanku ke Labuan Bajo bisa dikatakan maju mundur. Sudah lama direncanakan tapi kelihatannya sulit dilaksanakan. Ketika hal ini aku ceritakan pada seorang teman, dia menganjurkan agar aku membulatkan tekad untuk meninggalkan segala kesibukan dan berlibur tanpa beban pekerjaan. Masalahnya tak semua pekerjaan bisa ditinggalkan. “Kamu sudah menyatu benar dengan budaya Manggarai, ya?” Maksudnya? “Belum apa-apa kata pertama yang dilontarkan adalah: Masalahnya.” Karena yang mengatakan adalah orang Manggarai aku menyambutnya dengan tawa gelak.
                Setelah liburan benar-benar tiba, aku tak juga berniat pergi. Banyak alasannya, antara lain harus mengikuti suami ke kampung. Memang bukan aku yang pelesiran ke kebun, tapi sebagai seorang istri mendukung dari belakang adalah keharusan. Hal ini berdasarkan pengalaman, bukan karena petuah dan anjuran.
                Lalu sebuah telepon di tengah malam membuatku membulatkan tekad untuk pergi. Suami akur-akur saja karena kebetulan ada special occasion yang membuatnya tak bisa menolak. Maka bersukarialah diriku. Walau hanya berbekal sebuah ransel tak mengapa, yang penting acara keluyuran bisa berlangsung.
                Tepat tengah hari kami pergi. Masing-masing menyandang sebuah ransel perlengkapannya sendiri. Melihat tujuannya ke pantai kami hanya mengenakan jeans belel, kaos oblong, dan sandal jepit. Rasanya sayang bila sepatu bagus kemasukan pasir ketika ingin berkelana menyusuri pantai. Tak lupa pula topi dan sunglasses. Bukan hanya untuk gaya, tapi dua benda itu memang sungguh dibutuhkan demi kesehatan dan juga kecantikan. Tanpa tutup kepala di bawah terik matahari selalu membuatku pusing. Sementara sunglasses membuat mata tak perlu memicing dan pangkal hidung berkerut. Memicing dan mengerut tanpa terasa menurut pakar kecantikan mempercepat timbulnya kerut, dan jelas aku tak ingin segera memiliki kerut-merut itu.

                Perjalanan menuju Labuan Bajo selalu menyenangkan. Secara sugestif hal itu mendekatkanku dengan asalku walau masih harus sejam terbang menggunakan pesawat. Rasa senang membuat hati terasa hangat, puas, sekaligus penuh harap. Selain itu, setelah berbulan-bulan di daerah dingin rasanya sangat menyenangkan bisa menggunakan pakaian yang aku suka tanpa perlu bingung memikirkan jaket dan payung bila mendadak turun hujan. Ya, Ruteng tak mengenal musim untuk mngumpulkan awan di langitnya dan menurunkan hujan sekehendak hatinya. Seperti sekarang, saat menuliskan catatan ini, hujan sedang turun. Hujan di bulan Juli? Ya, walau sajak Sapardi Djoko Damono tentang hujan di bulan Juni sudah menunjukkan suatu peristiwa yang nyaris mustahil.
                Setengah perjalanan sangat kunikmati. Kelokan jalan selalu menghadirkan perbukitan hijau dan lembah yang keabuan. Di beberapa tempat tampak penjual jeruk sedang duduk di lapak-lapak mereka tanpa hendak menjajakan dagangannya. Walau sekarang musim jeruk, tak banyak yang diperdagangkan. Mungkin akibat cuaca tak menentu pohon jeruk tak banyak berbuah, sama halnya dengan komoditas perkebunan lain seperti kopi dan coklat. Dalo sebagai salah satu sentra jeruk juga tak tampak menguning dengan buah yang matang di pohon seperti tahun kemarin. Beberapa pohon hanya menghasilkan buah kecil-kecil yang matang sebelum waktunya. Ah, perubahan cuaca dan musim memporak-porandakan banyak hal.
                Setelah mendekati Lembor, tubuhku mulai limbung. Bila tak dalam kondisi fit, mabuk adalah hal yang pasti terjadi padaku. Bukan mabuk sampai muntah, namun justru pusing dan sakit perut yang menyerang. Bila sudah demikian tak banyak lagi keindahan yang bisa kunikmati. Setiap saat yang kutanyakan pada Max adalah berapa lama lagi akan sampai di Labuan. “Mungkin setengah jam lagi, dear.” Jawabnya tenang. Ah, aku sudah sangat pusing dan perut melilit, nih. “Ya, tahan saja to. Kita nyanyi-nyanyi saja.” Ah, mana bisa mabuk disuruh menyanyi, sih?
                Untunglah tak berapa lama sampailah kami di hotel langganan kami setiap pergi ke Labuan. Walau telah memesan tempat sebelumnya tetap ditanyakan berapa lama menginap. Ada masalah apa lagi? “Besok ada rombongan datang dari Jawa, jadi kamar-kamarnya harus kami sesuaikan.” Ya sudah, kami menginap tiga hari. “Kartu Identitasnya bisa kami minta?” Tanya resepsionis. Aku dan Max saling tunjuk dan kemudian sama-sama menyadari kalau tak ada seorangpun membawa kartu identitas.

                “Kami deposit saja, deh.” Kataku memutuskan setelah petugas front desk itu tak juga surut meminta keterangan.
                Kunci sudah di tangan. Sambil menuju ke kamar yang ditunjukkan petugas, Max nyeletuk, “Wah, kalau tiba-tiba ada pemeriksaan KTP seperti di acara laporan kriminal di TV itu bisa bahaya kita, dear?” Apa sebab? “Nanti dikira kita pasangan selingkuh, nih yang langsung digerebek petugas.” Haaa??? Enak aja. “Lha, kan tak ada identitas.” Ujarnya sambil tertawa.
                “Ga usah khawatir,” Kataku. “Aku hapal tanggal lahirmu sampai alamat rumah dan nama orang tuamu.”
                “Apa hubungannya?”
                “Di TV tuh, pernah aku lihat mereka ditanya tanggal lahir dan tempat tinggal pasangan. Karena memang selingkuh atau sedang sial mereka tak dapat menjawabnya. Ya, bermasalah jadinya.”
                “Sok tahu, ah!”
                Biar saja dikatakan sok tahu, aku sudah ingin membaringkan diri di kasur untuk meredakan sakit kepala dan perut mulas karena mabuk. Setelah itu bolehlah memesan segelas ice lemon tea sambil menikmati pemandangan kapal nelayan yang pulang melaut diiringi angin senja.
                Ah, Labuan Bajo. Here I come.