Entah mengapa aku mendadak teringat kisah ini. Dongengan yang sering diceritakan Mamiku saat kami masih kecil. Cerita mengharu biru tentang dua makhluk yang berasal dari dunia yang berbeda namun karena kecerdikan atau justru keculasan bisa menjalin kisah mengalahkan kekuatan alam semesta yang telah mengatur dengan sempurna setiap makhluk berdasarkan jenisnya.
Cerita bermula saat Jaka Tarub, seorang lelaki desa yang berprofesi sebagai seorang pemburu, duduk beristirahat di pinggir sungai. Kesunyian siang dengan hembusan angin sepoi-sepoi mengelusi daun-daun bambu tiba-tiba pecah oleh pekikan renyah penuh cerah ceria. Hati lelaki Jaka Tarub semakin penuh keinginan setelah mendengar suara-suara yang memasuki gendang telinganya adalah riuh rendah berjenis feminine. Ah, hati bujangan mana yang tak tertarik pada suara lawan jenisnya yang tengah bersendau gurau di dalam hutan?
Saat mengendap-endap dan menyembulkan kepalanya di atas sebuah batu, tampaklah tubuh-tubuh elok tengah telanjang mandi di bawah pancuran. Para perempuan itu sedemikian cantik mempesona hingga mulut Jaka Tarub hanya bisa ternganga dan sejenak tak bisa berpikir. Hasrat lelakinya menggelegak dan pikirannya bergerak cepat, “Aku harus memilikinya.” Tapi yang mana? “Tentu saja yang tercantik, kalau bisa juga paling cerdas.” Caranya? “Mengapa tak kusembunyikan saja pakaian salah satu di antara mereka?” Gumamnya. “Tentu saja aku harus menyelidiki dulu mana yang tercantik, termanja, dan tercerdas itu meletakkan bajunya.” Alasannya? “Yaaahh…mana mungkin dia berani keluar dari kali tanpa baju, walau sebenarnya aku telah melihat mereka tanpa pakaian.”
Setelah melalui pengamatan yang cermat, Jaka Tarub mulai mengambil pakaian salah seorang yang diperkirakan sesuai dengan kriterianya. Dan benar saja, saat acara mandi telah selesai, para gadis, yang ternyata bidadari itu, berpakaian dan mulai terbang melayang meninggalkan kali, tinggallah seorang yang kelimpungan mencari pakaiannya yang hilang. Saat itulah Jaka Tarub keluar dengan gaya seorang pemenang walau mengubah rautnya penuh prihatin. “Mbakyu cari apa?” Tanyanya mengejutkan sang dewi yang langsung terjun kembali ke kali.
“Baju saya hilang, saya tak dapat pulang.” Air mulai mengembang di mata.
“Bisa saya bantu mencari?”
“Ah, tentu.” Ujarnya penuh harap.
Sayang setelah sekian lama tak didapat juga. Akhirnya mereka menyerah dan Sang jejaka menyarankan pada perempuan cantik molek itu untuk mengenakan kain miliknya dan diajak ke kampung untuk menikah dengannya.
Singkat cerita mereka menikah dan punya anak perempuan bernama Nawangsih. Selama menikah terjadi keajaiban, padi di lumbung mereka tak pernah habis. Jaka Tarub curiga dan bertanya pada istrinya hal itu. Si Nawang Wulan hanya menjawab: “Jangan pernah membuka tutup periuk selama aku memasak.” Namun rasa ingin tahu lelakinya mengalahkan larangan itu. Saat istrinya lengah dibukanya tutup periuk dan tampaklah bila sang istri memasak hanya sehelai padi setiap kalinya. Tak heran padi itu tak pernah habis.
Nawang Wulan tak kecewa dengan tindakan suaminya, dia memulai hidup biasa dengan menumbuk padi sebagaimana perempuan lainnya. Namun di sinilah awal petaka terjadi. Padi yang habis dengan segera menyebabkan baju surgawinya yang disembunyikan di dalam timbunan padi itu diketemukannya suatu hari. Ketika kebenaran itu didapatnya, dia tahu keseluruhan kisahnya.
Tanpa memperhatikan tangis anak dan permohonan suaminya, dikenakannya baju itu dan mulai terbang ke langit dengan pesan, “Bila anakku menangis butuh disusui, taruhlah di tempat yang tinggi di mana aku bisa menemuinya.”
Akhir kisah ini selalu membuat hati kanak-kanakku menjadi sendu. Mengapa kebahagiaan harus berakhir dengan perpisahan? Mengapa mereka tidak live happily ever after seperti kisah dari seberang benua? Penuh kesedihan aku akan menanyakan hal itu pada mamiku. Dia tak menjelaskannya dengan menyeluruh hanya berkata memang demikianlah kisahnya.
Saat aku mulai menulis note ini aku mencoba melihatnya dari pemahamanku sekarang. Satu hal yang muncul pertama adalah kebohongan tak akan bisa abadi, suatu saat kebenaran akan muncul. Jaka Tarub berbuat seolah-olah dia menolong Nawang Wulan padahal sejak awal dia sudah menginginkan perempuan itu. Dia menyembunyikan kebenaran, yaitu mencuri pakaiannya, dan berbuat seolah apa yang dilakukannya benar. Alam memunculkan kebenaran itu karena kesalahannya sendiri yang sok ingin tahu, hingga ditemukanlah pakaian itu oleh pemiliknya.
Kedua, bercinta membutuhkan ketulusan, bukan kecurangan bertudung seolah-olah kebenaran. Sejak awal kisah setiap orang sudah disodori fakta bahwa Jaka Tarub berbuat curang walau ada perkataan nothing fair in love and war alias tak ada yang adil dalam cinta dan perang, namun bila benar-benar terjadi pencideraan dalam percintaan suatu saat akan muncul akibatnya. Minimal kekecewaan dari salah satu pihak yang merasa dikhianati, maksimalnya adalah terputusnya hubungan itu yang akan menyakiti kedua belah pihak.
Ketiga, sesuatu yang berasal dari dunia berbeda tak akan bisa bersatu. Bila dipaksakan akan muncul retak yang suatu ketika pecah dan membuat semuanya berkeping-keping. Mengapa? Sebab they’re not meant to be. Dua dunia itu tak selalu bangsa yang berlainan, namun bisa jadi pandangan hidup yang tak sama, atau pilihan hidup yang berbeda. Kesia-siaan tak akan muncul di awal kisah, hanya haru biru dan kekecewaan di akhirlah yang akan tampak. Sesuatu yang berasal dari dunia para bidadari berjubah putih tak akan berjalan selaras dengan manusia wadag seperti Jaka Tarub. Mereka dibentuk berbeda untuk menjalani takdirnya masing-masing. Kehendak untuk melanggar batas-batas itu walau mungkin terjadi bukanlah bagian hidup yang bisa dijalani tanpa kerinduan untuk kembali ke asal mulanya. Berdirilah di tempat masing-masing dan saling menghormati serta menyadari keberadaan setiap pribadi mungkin pesan yang ingin disampaikan dalam kisah ini.
Cerita-cerita masa kecil ini membuat diriku semakin merindukan Mamiku. Pencerita sederhana yang tak pernah menjelaskan maksud di balik kisah-kisah itu selain menceritakan sebagaimana adanya. Mungkin tampak sepertinya dia tak cerdas, namun sekarang aku tahu bahwa dia mendorong anak-anaknya untuk memaknai cerita-cerita itu seturut pengalaman hidupnya masing-masing. Dia tetap menyediakan kertas putih batin kami dan mempersilahkan kami mengisinya sendiri tanpa campur tangan dan pretensi.
I love you, Mom. You’re the best teacher I ever had.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar