Selasa, 06 Desember 2011

Grebeg: Endhok Abang dan Dhawet


Suatu hari ada sebuah artikel di Baltyra yang menarik perhatianku tentang Jogja. Kota yang tak pernah akan hilang dari hatiku. Tak hanya artikelnya dan foto-fotonya yang menarik, tapi komentar dari Mbak Probo Harjanti yang menyinggung tentang Sekaten yang biasanya diadakan sebelum Grebeg Maulud membuat kenanganku melayang pada masa kecil.
                Setiap pagi saat grebeg aku dan Eyang Kakung akan berjalan kaki dari Gamelan Kidul, rumah kami kala itu, ke Keben, begitu biasanya keraton bagian tengah disebut. Buat anak berumur tiga sampai empat tahun perjalanan itu cukup jauh, sehingga biasanya bila telah mendekati Pasar Magangan aku akan minta gendong mburi (digendong di punggung) pada Yang Kung. “Mung kari cedhak, Mbok tindak dhewe (Sudah dekat, coba jalan sendiri).” Sering beliau menggerutu, tapi toh akan tetap menggendongku sampai pertigaan menuju keraton, di bawah pohon beringin. “Wis tekan, gek tindak dhewe (Sudah sampai, jalan sendiri, ya).” Dan aku pun berjalan dengan tangan digandeng olehnya.
                Bila telah sampai di Keben, Yang Kung akan mencari posisi yang bagus. Ini agak sulit juga mengingat banyak sekali orang yang ingin menonton acara itu. Bersesakanlah mereka dengan para pedagang yang menjajakan berbagai macam dagangan. Tapi senior citizen seperti Eyang Kakung mungkin selalu diwelasi sama orang, jadi aku selalu dapat tempat cukup bagus untuk menyaksikan gunungan yang diletakkan di tengah bangunan bangsal keraton.
                Gunungan ini terbuat dari beras, sayur-mayur yang dibungkus dengan janur kuning, dan dipuncaknya ada hiasan telur, lombok merah, dan banyak janur. Gunungan ini ditaruh di atas tandu yang nantinya akan dipikul oleh para abdi dalem (pembantu Sultan) menuju Masjid Agung untuk diperebutkan khalayak.
                Setelah para prajurit keraton memainkan alat musiknya, aku akan mengawasi acara parade dengan sangat antusias. Setiap kali barisan berseragam aneka warna itu lewat di depanku aku akan menggoncang tangan Eyang Kakung yang menggandengku. “Iki prajurit apa, Yang? (Ini prajurit apa, Kek?)” Lalu dia akan menjawab, “Lombok Abang (Prajurit Lombok Merah).” Kemudian, “Nek iki, Yang? (Kalau ini Kek?)” Setengah menggerutu dia akan menjawab,”Jogokaryan.” Sejujurnya aku tak ingat betul nama-nama prajurit aneka busana itu, hanya perasaan ditemani dan diperhatikan itu menyenangkan buat diriku sebagai anak kecil.
                Setelah para prajurit selesai berparade dan gunungan dibawa ke Masjid Agung, acara secara resmi bubar. Tapi bubarnya acara itu menjadi permulaan kegembiraanku. Biasanya Mami dan para sepupuku yang datang lebih siang akan menghampiri kami dan bergabung. Saat itulah aku akan meminta Mami membelikanku endhog abang atau telur yang diwarnai dengan sumba warna merah. Telur itu ditusuk dengan bambu kecil dan dihias dengan kertas warna-warni. Diujungnya akan digulung dengan kertas yang digunting kecil-kecil seperti hiasan ondel-ondel, sementara ujung lainnya akan ditusukkan pada batang pisang. Ya, cara menjual telur itu dengan ditancapkan pada batang pisang. Aku akan memilih telur dengan hiasan terbaik menurutku, kadang aku meminta dua tusuk, tapi Mami selalu melarang, “Siji wae. Sijine dinggo dik Rien (Satu saja. Satunya buat dik Rien).” Katanya menunjuk adikku yang ada di gendongan Praptinah, salah seorang saudaraku yang menjadi nanny-nya.
                Setelah endhog abang, aku yang mulai kehausan biasanya menuju penjual dhawet atau cendol yang banyak terdapat saat acara itu. Dhawet di masa kecilku sungguh berbeda menurutku dengan dhawet jaman sekarang. Para pedagang itu menjajakan dhawetnya dalam pengaron (periuk dari tanah liat). Dhawet itu kemungkinan terbuat dari tepung kanji karena rasanya lebih kenyal daripada dhawet  sekarang yang terbuat dari tepung beras atau tepung hungkwe. Sebenarnya Budhe Supirah, kakak perempuan bapakku yang momong diriku sejak usia empat hari, tak setuju aku jajan dhawet. “Nganggo banyu mentah kuwi. Marakke watuk! (Pakai air mentah. Menyebabkan batuk)” Memang, sih untuk campuran dhawet dan santannya pasti mereka memakai air mentah. Beberapa pendapat mengatakan air yang sudah direbus kurang segar rasanya. Tapi aku begitu menginginkannya sehingga keberatan itu bisa dianulir satu hari itu saja dalam setahun.
                Dhawet disajikan dalam mangkuk-mangkuk porselen kecil bergambar bunga merah seperti mangkuk yang dipakai saat kita menyantap soto kudus jaman sekarang. Sendoknya menggunakan sendok bebek dari seng. Gula yang digunakan untuk pemanis menggunakan gula jawa yang harum baunya yang biasa disebut juruh. Semangkuk rasanya masih kurang, tapi Mami selalu melarang untuk jajan berlebihan.
                Sebagai additional gift karena aku tak nakal selama acara (kecuali minta gendong mburi tadi), Mami akan mengijinkan seplastik arumanis (cotton candy) untuk dibawa pulang. Selebihnya, seperti sate gajih (sate lemak) yang baunya menggoda perut dan mainan: kitiran (baling-baling) dari kertas, angkrek, kacamata dari kertas minyak merah yang dilekatkan pada bulatan bambu, juga plembungan (balon) amatlah terlarang. “Kuwi dolanane cah cilik (Itu mainan anak kecil).” Ujar beliau. Lho apa aku bukan anak kecil? Rasanya saat itu aku memang tak mau dianggap anak kecil lagi. Dik Rienlah yang masih kecil, aku sudah Cah Gedhe (anak besar).
                Saat mentari mulai mencapai ubun-ubun, kami beranjak pulang dengan menggunakan payung hitam besar cap kapal untuk menghalangi panas yang mulai menyengat. Eyang Kakung tak suka berpayung. Beliau lebih mempercayai peci hitamnya untuk menghindarkan diri dari panas. Dan kami pun melebur dengan aliran orang-orang yang bergerak menuju berbagai arah meninggalkan halaman Keben yang berpasir hitam keabuan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar