Selasa, 06 Desember 2011

Ketika Penampilan Dianggap Penting

Salah satu hal yang aku pelajari ketika studi di Jogja adalah sikap hidup sederhana. Menurut interpretasiku sikap sederhana  adalah jangan gegabah menilai penampilan atau perilaku orang, harus lembah manah (rendah hati), jangan bersikap sok memandang orang lain, karena bila salah tanggap dan tindakan bisa membuat diri sendiri malu.
                Tak perlu jauh-jauh mencari contoh, para Profesor dan cerdik cendikia di fakultas-fakultas kampus biru kebanyakan begitu sederhana. Walau buku hasil karyanya sudah memenuhi lemari para penggemar sastra, beliau tetap naik motor butut jaman baheula. Walau mengajar sampai negeri Myanmar (di Myanmar saja namanya terkenal apalagi di negara-negara maju) tetap saja tindak (jalan kaki) atau dibonceng putranya kalau menuju kampus. Biarpun meraih gelar Doktor dengan gilang-gemilang di usia muda namun tetap saja makan siang di warung sebelah fakultas, berkumpul dengan para mahasiswa untuk menyantap nasi pecel atau gorengan tanpa ewuh pakewuh (tanpa ragu dan canggung). Bukan berarti mereka tak punya kendaraan yang mentereng untuk pamer, atau makan di kantin yang lebih representative, namun lebih kepada gaya hidup sederhana itu.
                Sebaliknya, ketika aku terjun ke masyarakat, ada kecenderungan yang berbalikan. Bila ke mana-mana berjalan kaki, protes dilayangkan mendadak. “Koq Ibu jalan kaki saja, sih? Apa Bapak tak mau berkendara sama-sama?” Jelas ini tak benar, aku memang lebih suka berjalan kaki karena lebih santai dan bisa sambil merenung-renung. Bila tak terlalu berdandan lengkap, muncul ala kadarnya asal rapi tetapi tetap bersandal jepit, komentar muncul: “Ibu, nih sederhana sekali. Seperti bukan pegawai (istilah untuk orang yang bekerja) saja.” Lho, apa yang salah dengan penampilan biasa-biasa saja? Kan tak ada undang-undang yang mengharuskan tampil menor bagi pegawai? Atau kalau terlihat keluyuran ke kebun dan santai melihat suami mengangkuti pupuk mendadak banyak yang berteriak, “Ibuuu, jangan bekerja di kebun.” Ah, saya kan memang tak bekerja, hanya keluyuran sambil menunggui suami dan memotret segala macam di sana. Dan Max akan diteriaki, “Oleee, Pak. Mengapa dijunjung sendiri pupuk-pupuk itu, masa tidak bisa menyuruh orang lain?” Bisa juga, tapi namanya tak lagi bekerja di kebun, tapi mempekerjakan orang di kebun dan Max paling anti menjadi mandor tanpa tahu mengerjakannya sendiri.
                Dulu, saat masih mahasiswa, aku juga belajar untuk tidak membuka mulut sembarangan  saat berdiskusi atau bercakap dengan seseorang, bahkan di tempat paling santai sekali pun seperti kantin fakultas yang penuh anak gimbal dan mungkin belum sempat mandi sebelum berangkat ke kampus. Takutnya kita bertemu seseorang yang sangat biasa tetapi ternyata “tidak biasa” Kalau salah omong bisa gawat sekali, malunya tak ketulungan. Seperti suatu hari saat kami berombongan makan siang sepulang kuliah. Kebetulan banyak sekali textbook yang baru kami beli dan sebagian lagi hasil fotocopy, saking banyaknya sampai dijinjing dan diikat tali plastic agar gampang membawanya. Saat itulah ada dua orang bapak berkaus oblong mengamati kami. Salah seorang yang murah senyum dan ramah bertanya kami kuliah di jurusan apa? Aku menjawab sambil tersenyum juga. “Sudah semester berapa?” Tanyanya lebih lanjut sambil mengamati salah satu buku. Ah, masih dua kurang dua lagi, kataku sambil menyendok nasi pecel yang sudah dihantarkan penjualnya. Lalu percakapan menjadi panjang dan menarik minat teman-teman yang lain. Setelah sekian lama akhirnya kami ketahui bahwa mereka berdua ahli seni rupa yang baru pulang dari Lucern Swiss dan akan mulai tinggal dan mengajar di Indonesia setelah sekian lama tinggal dan mengajar di negeri itu. Untunglah aku tak sok omong tentang budaya yang kebetulan buku-bukunya aku tenteng, karena tokoh yang kutemui akhirnya justru membagikan ilmunya dengan cara yang sangat ramah dan menyenangkan.
                Lalu aku bertemu dengan orang-orang yang suka sekali bicara panjang lebar dan menganggap diri tahu segalanya. Tanpa bertanya atau mendengar dia bicara segala macam teori dan isi otaknya (yang ternyata biasa-biasa saja) dengan sikap seolah orang lain tak pernah mengetahuinya. Sikap paling tahu, paling benar, paling paham, kadang jadi menjengkelkan bagi orang lain. Susahnya, aku biasanya melihat dulu kondisi sebelum memutuskan untuk berlaku seperti apa terhadap seseorang. Ajaran orangtua yang selalu bilang, “Aja kemoncolen (jangan berlebihan/menonjol/sok)” Tak bisa dihilangkan. Sikap diam dan tersenyum-senyum menanggapi omongan orang dianggap sebagai tak tahu, tak mengerti, tak paham, bahkan pertanyaan “Apa, ya maksudnya?” Bukan selalu karena tak tahu, kadang sekedar konfirmasi atau minta penjelasan karena mungkin mempunyai persepsi yang berbeda, namun kemudian dianggap benar-benar bego.
                Sikap tak boleh menonjolkan diri itu juga berdampak ketika berhadapan dengan kultur yang berbeda. Sebuah kelemahan yang kadang menjengkelkan, seperti kebiasaan berkata: “Ya saya tahu sedikitlah kalau masalah ini.” Dalam persepsi orang lain dianggap memang hanya tahu sedikit. Sementara maksudnya, “Saya tahu (banyak) masalah ini.” Sikap diam yang berarti mengukur pengetahuan lawan bicara dianggap tak tahu dan butuh diceramahi. Tak heran orang yang lebih banyak diam dan tersenyum-senyum kadang harus berhadapan dengan ceramah yang membosankan dari lawan bicaranya.
                Bila sudah begitu, aku sendirilah yang salah. Mengapa tak sedikit ngotot dan berterus terang, mengapa tak sedikit talkative sehingga dianggap (hanya dianggap) pintar, mengapa tak sedikit “moncol” sehingga diperhitungkan, mengapa…mengapa…oh mengapa?
Di jaman yang sok ini, haruskah peribahasa Diam itu Emas atau Seperti ilmu padi makin berisi makin merunduk, harus lenyap diganti dengan saling pamer untuk mendapat penghargaan? Ah, entahlah, tergantung kebutuhan dan kebiasaan masing-masing sajalah.

(Saat sedang jengkel karena bertemu dengan orang yang sok tapi tak bisa bersikap sok juga)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar