Dua minggu lalu seorang temanku menceritakan tentang hubungannya yang penuh liku. Usut punya usut ternyata kekasihnya tak tinggal sekota dengannya. Aku tertawa mendengarnya dan menyahut dengan santai, “Been there, done there!” Bukannya menimpali dengan tawa juga, malah dia membelalakkan mata, “Mbak sudah pernah?”
Perasaan seumur hidupku (sebelum menikah) aku selalu melakukan long distance relationship. Mungkin karena kebetulan orang yang cocok denganku tempatnya berjauhan, bisa juga karena aku secara naluri menyukai sesuatu yang terpisah sehingga masih bisa punya waktu untuk diri sendiri dan segala kesibukan yang ada. Maklum, aku orang yang hanya bisa fokus pada satu hal, kebetulan saat itu aku bekerja sambil menyelesaikan studi. Bisa dibayangkan betapa sempitnya waktu untuk kuliah di pagi sampai siang hari dan bekerja sore sampai menjelang tengah malam. Mana ada waktu untuk bermuka-muka dengan pacar tercinta. Walau kadang muncul juga keinginan untuk menghabiskan malam Minggu bersama sambil bergandengan tangan atau makan malam sambil bertatapan. Tapi setiap kali pula aku menertawakannya sambil menggerutu dalam hati, “What a stupid idea! Aku bukan tipe perempuan yang minta diapeli setiap malam Minggu untuk sekedar berpandang-pandangan.”
“Jadi memang seperti ini, ya bentuk hubungan jarak jauh?” Tanyanya dengan rasa takjub yang nyata.
Aku angkat bahu sambil melanjutkan ceritaku tentang plus dan minusnya. Sampai suatu ketika dia mengeluh panjang, “Aduuhhhh!”
Keluhan itu sungguh bisa dimaklumi, temanku ini tak pernah sekali pun melakukan hubungan jarak jauh. Rasanya sungguh tak normal tak bisa bertemu setiap kali menginginkannya. Kadang telepon saja tak bersambut, entahlah apa yang sedang dilakukan pacarnya. Lelaki, kan punya banyak kesibukan untuk dilakukan: bekerja atau kuliah, jalan-jalan dengan teman, duduk mengobrol dengan teman, melakukan hobby dengan teman, teman…..teman….dan teman, baru kemudian, “Oh, ya ternyata aku punya pacar. Di mana dia, ya?” Saat telepon tersambung dan si perempuan sudah jengkel menggunung, bukan asyik masyuk yang terjadi namun saling menyalahkan. “Kamu memang tak perhatian, sudah sebulan baru ingat keberadaanku!” Teriak si perempuan. Lelakinya pasti membela diri,” Aku sibuuuuk. Banyak hal harus kulakukan, tapi bukan berarti aku tak ingat kamu!” Sebetulnya ini Kalimat lain dari, “Sekarang kebetulan aku mengingatmu, makanya telepon.”
Sebetulnya definisi ingat ini juga menjadi penyebab kericuhan. Bagi seorang perempuan, ingat berarti selalu terfokus pada pasangannya. Apapun yang dilakukan selalu dikaitkan dengan kekasihnya. Benarlah kata lagu: Mau makan, ingat kamu. Mau tidur, ingat kamu. Mimpi saja selalu tentang kamu. Dalam catatan sebelumnya pernah aku singgung tentang hal itu. Ibaratnya pusat dunia ada pada pasangannya, karena kecenderungan perempuan untuk selalu “attached” pada orang yang dikasihinya. Sebaliknya bagi lelaki kelihatannya definisi ingat berkisar pada “Aku tahu kamu ada.” Atau tak mengkhianati kekasihnya dengan berpindah ke lain hati. Bolehlah teasing alias menggoda-goda sedikit, beramah-tamah dengan perempuan yang kelihatannya tertarik dengannya, atau memamerkan senyum yang paten pada satu dua orang yang mengaguminya. Satu hal pasti: “Aku, kan hanya berteman, bukan mau meninggalkan kamu.” Bahkan ada lelaki yang tak terlalu memikirkan kekasihnya karena banyak kesibukan yang harus dijalaninya. Tak usahlah berharap berangkat tidur dan terjaga dengan bayangan kita di angannya. Itu tak mungkin, bahkan agak konyol bila berharap demikian.
Ketelatenan perempuan memperhatikan detail juga membuat hubungan kadang bermasalah. Coba tanyakan perjalanan cinta sebuah pasangan. Si perempuan, akan menyampaikan segala cerita sampai ke titik dan koma percakapan dengan kekasihnya sejak awal mula kisah. Sementara para lelaki setiap kali hanya menyampaikan garis besarnya. Contohnya adalah ketika ditanya di mana mereka bertemu pertama kali. Perempuan pasti dapat menceritakakan dengan rinci bagaimana pandangan mereka bertemu untuk pertama kalinya, getarannya, sampai bagaimana degup jantungnya yang bertalu-talu saat tangan mereka bersentuhan. Sedang lelakinya hanya akan berkata: “Kami ketemu di rumah seorang teman.” Lalu? “Ya, begitulah. Akhirnya kami pacaran.” Hanya begitu? “Lalu saya harus cerita apalagi?” Yahh….
Memang penilaian ini secara general dengan perkecualian pada beberapa orang. Memang ada juga pria-pria manis yang begitu memperhatikan kekasihnya. Mereka sering menelepon, atau paling tidak chatting dengan webcam kalau perlu, dan selalu menuliskan kata-kata manis melalui SMS. Ya, walaupun yang semacam ini satu di antara seratus ribu.
Lalu datang khabar itu. Hubungan jarak-jauh temanku sudah berakhir. Tak jelas betul apa sebabnya. Seperti kata para artis dalam infotainment; “Hanya kami berdua yang tahu.” Ya, sudahlah. Mungkin tak setiap orang bisa menjalani hubungan yang membutuhkan komitmen, ketelatenan, ketabahan, dan kesetiaan tingkat tinggi seperti ini. Bila berhasil lolos pastilah perasaan keduanya benar-benar tahan banting dan telah teruji. Seperti perkataan temanku yang sedang berada jauh di seberang lautan: “Ibarat sebuah logam mulia, perlu dimurnikan dengan api sehingga memperlihatkan kilau kemurniannya.” Atau seperti berlian yang harus digosok cukup lama agar memperlihatkan keindahannya. Demikian juga relasi yang melalui onak dan duri pasti akan membuat sebuah hubungan menjadi kuat karena telah teruji.
Saat aku terjaga pagi ini, Max sedang memandang-mandangiku. Kebiasaan yang dilakukannya ketika akan membicarakan sesuatu yang dirasa cukup mengundang diskusi panjang tapi tak hendak membuatku terjaga sebelum waktunya. Maka setelah meloloskan sebuah kuap aku bertanya, “Ada apa?” Dia membenahi bantalnya sambil menceritakan kemungkinan untuk apply pada sebuah lowongan pekerjaan dalam organisasi internasional yang membutuhkan tenaga seperti kualifikasinya di Afrika Timur. “Mereka butuh yang bisa bahasa Kiswahili. Apalagi aku tahu tempatnya dengan baik.” Ditambahkannya pula berapa Euro salary yang akan diperolehnya selama 3 tahun kontrak kerja dengan mereka.
Aku mengernyitkan dahi sambil setengah merenung. “Hmm, long distance lagi?” Dia menatapku tanpa kata. “Siapa takut!”
weeeeeeww Bahasa Kiswahili, kayak apa yaa...
BalasHapushadeeeehh LDR enaknya kalau ketemuan serasa manten baru terus
gak enaknya kalau miskom krn urusan provider hehehe
Mbak Tia apa kabar? jadi ke Surabaya?
Natal ini aku dan Ilham di Surabaya lhoooo
kali-kali bisa kopdar :D