Sabtu, 31 Maret 2012

Audrey: It's Saturday Night, Babe!


Apa artinya Sabtu malam bagiku? Sebenarnya bila benar-benar ditarik garis ke masa lampau, tentu Sabtu malam menjadi waktu yang sangat special. Paling tidak di malam itu aku tak harus belajar, boleh tidur lebih malam, dan bisa menonton TV sampai puas. Tapi itu, kan masa lalu. Jadi apa artinya Sabtu malam bagiku sekarang? Jawabannya cuma satu, aku menantikan dirimu!
                Aku tahu kamu pasti tertawa dan berkata, “Norak, ah kamu! Masa sudah sedewasa ini, masih mengharapkan Sabtu malam, sih?” Yaa, tapi dirimu dan aku, kan juga sibuk setiap harinya hingga waktu luang kita yang benar-benar luang hanya Sabtu malam. Mau tak mau aku sedikit memaksa dengan penuh harapan bahwa dirimu akan menggunakan waktu luang itu untuk bercengkerama denganku di dunia antah berantah kita.
                Sebagai seorang yang telah matang, belum lagi ditambah perjanjian prenup, oppssss, seperti mau menikah saja, maksudku perjanjian di awal kebersamaan kita, jadi apa tuh namanya? Pre relationship kita, sudah disepakati untuk membebaskan masing-masing pihak dengan ikhlas, memerdekakan diri seluas-luasnya, asal jangan memutuskan kontak tanpa berita. Jadi sebenarnya memang norak mengharapkan Sabtu malam bersama. Bagaimana seandainya teman-temanmu mendadak muncul dan mengajakmu ke pub universitas atau sekedar keliling cuci mata melihat benda-benda kincling lalu lalang di pusat kota? Sementara aku, yang tinggal di kota kecil dan semua kegiatan berakhir pada jam tujuh malam, hanya bisa menggigiti kuku jari tangan sambil berharap, “Please…please…onlinelah!!!.” Hmmm…agak terasa memelas, ya?
                Tapi kondisiku yang kelihatan patut dikasihani sebenarnya masih lebih baik dibanding temanku, Lucinda, yang mengharuskan pacarnya untuk setor wajah setiap Sabtu malam. Apakah dirimu tahu alasannya? Well, aku ngakak ketika pertama tahu. Dia bilang Sabtu malam adalah saat dia bisa tampil paling cantik. Auranya akan paling cerah sehingga wajahnya akan tampak mempesona. Aku tahu kamu tak percaya hal-hal aneh seperti itu, aku juga tidak, namun demikianlah Lucinda. Sampai suatu ketika aku mempersoalkan kepercayaannya yang tak biasa itu. Dan jawabannya adalah masalah bioritmik.
                “Percayalah, Drey. Setiap orang punya bioritmik masing-masing yang mempengaruhi performanya. Nah, rata-rata bioritmikku menunjukkan puncak performaku pada Sabtu malam.”
                Wah, setahuku bioritmik itu baru penting untuk atlit, karena sewaktu menonton pertandingan bulutangkis dulu, pernah ditunjukkan bagaimana bioritmik seorang pemain mempengaruhi jalannya pertandingan. Tapi entahlah aku tak begitu memperhatikan juga.
                “Kamu percaya begituan?” Tanyaku skeptis.
                “Kenapa tidak? Hal ini, kan dikaji dengan ilmu pengetahuan juga, Babe!”
                Aku hampir tertawa ngakak. Bukan oleh jawaban pertanyaannya, namun oleh caranya memanggil diriku dengan Babe.
                Seingatku dirimu tak pernah memanggilku dengan istilah Babe beserta variannya seperti, baby atau beib. Apa kiranya sudah saatnya, ya diriku memintamu memanggil demikian? Hey…hey…jangan tertawa! Panggilan itu memang terkesan imut dan “sangat bukan diriku” tapi kadang-kadang kejutan bisa menyegarkan suasana. Ya, katakanlah aku bisa ngakak saat dirimu meneleponku sambil berujar, “Hai, Babe.”
                Lucinda selalu dipanggil demikian oleh pacarnya. Sebenarnya dia mengharuskan pacarnya menggunakan panggilan itu. Bagaimana bila sampai telat atau terlupa.
Bisa dipastikan mereka akan perang besar, lebih hebat dari perang dunia ketiga yang kemungkinan bisa memusnahkan umat manusia karena senjata nuklirnya. Minggu lalu baru aku tahu bila kealpaan Sabtu malam dianggap serius dan kisahnya dicatat dalam rekam jejak diarynya yang disodorkan padaku. Jangan salah, sebagai cewek yang canggih, diarynya bukan buku bersampul pink dengan kunci di pinggirnya sebagai segel, tapi sebuah iPad canggih bersampul kulit. Tangannya digeser-geserkan ke atas benda itu karena system touchscreennya, dan sebuah file disodorkan padaku.
“Biar aku yang mengoperasikannya!” Pekiknya begitu aku melongokkan kepala ke depan benda itu.
Yailah, kenapa sampai histeris begitu? Tanganku memang baru saja mencomot gorengan, tapi aku tahu juga, dong untuk tak mencolekkan jariku yang berminyak ke atas tablet miliknya, dengan sengaja tentunya, bila tersenggol, tentu tak masuk hitungan!
Di atas tablet kinclong tersebut kutemukan catatan absen mengapa pacarnya tak hadir Sabtu kemarin beserta alasannya, lalu komentar Lucinda tentang ketidakhadiran itu, beserta sebuah catatan. Ya, benar-benar catatan! Di situ tertera bahwa telah terjadi pelanggaran sebanyak dua kali. Bila sekali lagi terjadi sanksi akan dijatuhkan. Dan sanksinya adalah, “Tak boleh menemuiku selama sebulan, tak boleh menelepon, meninggalkan pesan, atau mencari tahu tentang diriku pada teman-temanku!”
Lho, bukankah hal itu justru akan menyenangkan pacarnya. Selama ini pacar Lucinda pasti merasa terborgol oleh aturan yang agak tak masuk akal orang kebanyakan namun sangat masuk nalar Lucinda. Menurutku, pacarnya itu pasti menunggu-nunggu untuk melakukan pelanggaran ketiganya. Dan ancaman hukuman sebulan itu pasti berubah jadi anugerah buatnya.
“Lelaki juga punya rasa kangen, Dey. Biarpun tak diutarakan dengan kata-kata.” Ujarmu suatu ketika.
“Berarti kamu kangen juga denganku, ya?” Ajukku.
“Kan, tak harus diungkapkan dengan kata-kata.” Jawabmu dengan tambahan ketawa panjang.
Aahhh, bandelmu tak berkurang juga.
 Kembali pada Lucinda yang  masing mengusap-usap tabletnya, dia kini tengah membuka jejaring sosial untuk menemui kekasihnya. Sebenarnya hal ini selalu membuatnya desperate karena lelaki itu tak pernah muncul di saat yang sama dengannya. Ya, agak mirip denganmu juga, sih. Hanya saja aku selalu merasa bahwakita tak harus saling memborgol tangan dan kaki karena hubungan semacam itu akan sangat membosankan dan kehilangan daya tariknya.
                “Uhhhh, kemana saja, sih lelaki ini? Aku baru saja melihat ikonnya, koq mendadak menghilang?” Gerutunya sembari mencari-cari telepon di dalam tas brandednya. Di kantorku ini hanya Lucindalah satu-satunya perempuan yang menenteng tas branded. Lalu dengan wajah terlipat-lipat seperti kertas contekan para mahasiswa yang biasanya diselipkan di saku mereka menjelang ujian, perempuan itu mulai meletakkan telepon di telinga.
                “Halo? Babe? Di mana dirimu?”
                Ya, tentu saja di kantor, Babe. Pasti demikian jawaban pacar Lucinda karena wajah kusutnya sedikit terurai.
                “Tapi mengapa kamu offline sementara aku baru saja akan menyapamu.”
                Maaf aku sibuk…buukk…dan hanya mampir sebentar.
                “Tapi, aku kan ingin mengingatkanmu sesuatu.”
                Pacarnya pasti mulai waspada karena wajah Lucinda sudah berubah ruwet kembali.
                “Ingat, sekarang hari Sabtu.”
                Pacarnya pasti berlagak lupa atau mengatakan alasan ketidakhadirannya nanti malam karena Lucinda menatap jarum jam yang telah menunjukkan angka dua sambil melolong putus asa, “It’s Saturday night, Babe! Saturday night!” Ditekankannya kata-kata terakhir.
                Gubrak! Dalam arti kata sebenarnya dia melemparkan ponsel seharga sebulan gajiku itu ke atas meja. Aku sudah deg-degan benda itu akan cedera berat dan error saat digunakan. Tapi peristiwa horror masih berlanjut ketika kulihat Lucinda akan melemparkan juga iPadnya. Tentu saja aku segera bertindak cepat! Kutepis tangannya dan kuraih benda mulus kincling itu dengan tanganku. Di tengah kegugupanku tak kusadari dampak minyak bekas tempe goreng yang kunikmati.
                Akhir cerita pasti bisa ditebak, Dear. Lucinda akan melego gadget canggih itu akibat minyak tempe goreng yang menempel di atasnya. Dan aku yang merasa bertanggungjawab harus mengencangkan ikat pinggang sekencang-kencangnya untuk bisa membelinya. Kelihatannya dengan beberapa bujukan dia akan memberiku kesempatan beberapa bulan ke depan untuk memilikinya.
                Tapi sementara ini, bolehkah aku mengutarakan harapanku, Sweetie? Please…please…aku ingin malam nanti dapat bertemu denganmu di depan layar kaca. It’s Saturday night, Babe!
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar