Rabu, 07 September 2011

Coffee Stories 3: Antara Asli dan Palsu


Pagi itu aku kembali bangun kesiangan. Mekanisme bawah sadarku mungkin tahu saat liburan adalah waktu untuk santai dan tidur sepuasnya. Begitu mataku terbuka tempat di sebelahku telah kosong. Max biasa pergi ke kebun sebelum mentari menampakkan wajahnya dan kembali ketika bola api itu mulai bersemangat memancarkan kekuatannya. Suasana rumah lengang, para keponakan pasti telah diboyong ke kebun untuk dilatih bekerja menuruti contoh Oom mereka yang sangat disiplin. Ujar-ujaran yang selalu dilontarkan pada anak-anak itu adalah “Kalau tak bekerja kita tak bisa makan, apalagi beli baju dan mainan.” Ya, demi mainan itu anak-anak mau membututi Max ke kebun walau hanya mencabuti rumput atau disuruh-suruh mengambilkan alat-alat pertanian yang disimpan di gubuk tengah kebun.
                Suara percakapan pelan terdengar dari arah dapur. Para iparku yang sangat baik tak hendak meninggikan suara selama bercakap-cakap dengan Mama karena tahu aku masih ingin beristirahat di kamar, tapi rasa haus membuatku bangun dan melangkah ke dapur. Ternyata tak hanya para ipar dan Mama mertua, ada dua orang tetangga dari belakang rumah yang sedang duduk melingkar di dekat pintu samping menuju kebun. Mereka tengah asyik berbincang sambil mengunyah sirih. Semua mengangkat muka begitu melihatku berdiri di depan pintu. “Baru bangun, Ibu?” Tanya salah seorang dari mereka. Aku hanya tersenyum, justru iparku yang menjawabnya: “Kamer Inang (Kecapekan, Tante).”
Setelah berbasa-basi sebentar aku mengambil cangkir dan mulai mengambil sesendok gula. Karena lupa membawa teh dari Ruteng kuambil tempat kopi bubuk. Tak apa sekali-sekali minum kopi asli. Asal tak terlalu kental masih aman diterima lambungku yang telah mengidap maag. Tapi tunggu, dulu! Mengapa ada dua tempat kopi?
Eee….neka kopi hitu, Ibu! (Jangan kopi yang itu, Ibu!) ” Mertuaku tiba-tiba menunjuk tempat kopi di tanganku. Aku melengak heran. “Co’o tara neka? (Kenapa jangan?)” Dia semakin intensif menggerak-gerakkan jarinya. “Asi! Toe kopi asli hitu.(Jangan! Itu bukan kopi asli)” Dengan berseloroh aku berkata, “Eme toe asli berarti palsu. (Kalo bukan asli berarti palsu)” Kekhawatirannya menyebabkan dia cepat-cepat menukas, “Eng. Palsu hitu. Neka! (Ya. Palsu itu. Jangan!)”
                Aku tertawa begitu juga yang lain, hanya Mama yang tetap serius dan menyuruh iparku mengambil tempat yang berada di atas rak. Wah, jadi apa sebenarnya isi kaleng yang aku pegang ini? “Ini kopi campur kundung, Kakak.” Kata iparku sambil mengulurkan kaleng yang berisi kopi asli. Memang kenapa kalau minum kopi campur kundung? “Neka Ibu (Jangan, Ibu),” Jawab tetanggaku. “Pande beti sa’i (Bisa menyebabkan sakit kepala)” Tentunya bagi yang tidak biasa. Kopi campur kundung ini cukup kuat rasanya. Mereka tahu maagku tak akan sanggup menerimanya.

                Semula aku tak tahu mengapa kopi harus dicampuri kundung, sampai suatu saat mertuaku bercerita bahwa kopi campuran ini dibuat untuk menghemat saat musim panen kopi masih jauh. Bila di Jawa orang biasa mencampur kopi dengan jagung atau karak (nasi yang telah dikeringkan) di sini mereka mencampurnya dengan kundung atau kadang-kadang dengan kedelai.
                Aku sendiri tak tahu nama Latin dari kundung. Suatu saat memang harus mencarinya di perpustakaan, tapi yang jelas tanaman kundung merambat seperti polong-polongan yang lain. Biasanya tanaman ini dirambatkan pada tanaman lusa (Cajanus Cajan). Buahnya seperti kedelai hanya ukurannya lebih besar dan kulitnya keras bila telah tua. Bijinya bulat seperti kacang polong. Hanya saja biji kundung lebih keras daripada sayur yang biasanya menjadi campuran soup itu. Kundung dijemur sampai kering kecoklatan, baru setelah itu digeprak menggunakan batu atau palu kayu untuk mengambil bijinya. Sekali pukul buahnya akan terbuka, dan kita tinggal mengeluarkan bijinya yang berwarna hitam. Biji ini juga dijemur hingga cukup kering sebelum disangan atau di sini biasa disebut cero (digoreng tanpa menggunakan minyak) bersama biji kopi. Baru kemudian ditumbuk  atau digiling menjadi bubuk kopi. Untuk mengenali kopi campuran dan kopi asli ini  cukup sulit bagiku. Mama mertua bisa melakukannya dengan membaui keduanya. Aku sendiri tak mempunyai hidung yang cukup sakti untuk bisa membedakannya.
                Sekali pernah terjadi “kecelakaan” kundung di cangkirku. Sayang hanya sekali cecap cepat-cepat Max menyelamatkanku dengan menyuruh keponakan kami untuk segera membuatkan kopi baru untukku. Sebelum sempat kurasakan,  cairan hitam itu keburu tertelan akibat perintah bernada darurat dari sampingku. Dan hilanglah kesempatan “merasakan” kepalsuannya.
                Harum kopi yang baru dituangi air panas menyambar hidungku. Aku mengaduknya perlahan sambil menghirupi uapnya. Kuraih sepotong teko (talas) di piring bertutup plastik di atas rak. Lalu kukait tempat duduk rendah yang terbuat dari kayu di depan sapo (tungku). Siap bergabung dengan para perempuan itu demi mengupdate gossip terakhir yang beredar di seputar kampung.

Selasa, 06 September 2011

Daeng dan Koil


Aku menerobos rumput setinggi mata kaki melewati kebun tetangga. Seekor babi yang diikat di pohon kopi tidur bermalas-malasan di tengah kubangannya. Walau hewan hitam besar itu tak menggigit manusia, aku berjalan melipir di pinggir cerukan yang menjadi teritorinya. Jalan ini merupakan jalan pintas menuju gang rumahku di kampung. Angkutan pedesaan, di sini biasa disebut bemo, hanya melintas di jalan aspal yang membelah kampung. Gang rumahku belum mendapat giliran dilapisi aspal walau telah tersusun batu sejak dua tahun lalu. Maka demi menghemat waktu aku menerobos tanah tetangga yang menghubungkan jalan aspal dengan jalan gang depan rumahku.
                Setelah melintasi sepetak tanaman kacang dan kumpulan re’a (padan besar), langkahku sampai di ujung gang. Dari jauh kulihat mama mertua dan adik iparku yang bungsu duduk di depan rumah sembari bercakap-cakap. Mereka duduk menunggui sesuatu yang dijemur di halaman menggunakan terpal plastik, keduanya mengerutkan kening sebelum tertawa menyambutku.
                Olee…anak daku (Aduh, anakku),” mertuaku merapikan sarungnya. “Tumben datang siang hari?”
                Aku mengangguk sambil menurunkan ransel dari gendongan. “Saya datang lebih dulu, Mama. Kakak Max masih di Ruteng, nanti malam baru menyusul.” Jelasku saat melihatnya melongok-longok ke belakang punggungku mencari anak lelakinya.
                “Kakak tidak mengajar?” Tanya adik iparku.
                “Tidak, Enu. Saya mau libur dulu.”
                Pagi tadi, sesudah minum kopi dan online, mendadak aku ingin pulang ke kampung. Max yang menemaniku sambil membaca buku mengerutkan kening. “Aku mengajar sampai malam hari ini, dear. Kalau kamu pingin ke Dalo pergi saja lebih dulu, malam nanti aku menyusul.”
                Maka aku meliburkan semua kelas hari ini dan pergi ke kampung. Kedatanganku di hari kerja membuat mertuaku heran, tapi tak bisa dipungkiri hal itu menggembirakan hatinya.
                Aku menjajarinya duduk di samping pintu rumah. Ternyata mereka sedang menjemur singkong yang sudah dikupas dan dipotong-potong. Dalam bahasa Manggarai disebut koil, sementara dalam bahasa Indonesia dinamakan gaplek. Dan siang itu halaman rumah kami dipenuhi oleh koil yang berwarna putih kekuningan.
                “Nar (kisahnya ada dalam note: Namanya Nar) menggali daeng (singkong) di Randong kemarin. Sepagian tadi kami mengupasnya agar bisa dijemur, mumpung dua hari ini tak hujan.” Kata mertuaku saat aku menanyakan mengapa menjemur koil  siang ini.
                “Banyak juga singkongnya,” kataku menanggapi.
                “Masih tersisa beberapa petak di kebun. Nar sedang menggalinya sekarang.” Tambah perempuan itu.
                Aku mengangguk. Membuat koil merupakan salah satu cara mengawetkan bahan makanan. Koil dapat bertahan berbulan-bulan bila disimpan dengan baik dalam kas (tempat penyimpanan bahan makanan/lumbung). Saat minum kopi di pagi hari mertua atau adik iparku biasanya merebus koil sebagai teman minum. Sayang perutku agak sensitive terhadap koil, tak tahu kenapa padahal aku tak bermasalah dengan singkong rebus, sehingga mereka selalu menyediakan teko (talas) untukku.
                Sambil sesekali berteriak menggebah ayam yang berusaha mengais-ngais koil yang dijemurnya, untuk kesekian kalinya mama mertua mengulang kisah masa mudanya saat baru diboyong ke kampung suaminya. Di kampung bapa mertua saat itu belum ada sawah, karena tanahnya belum dipeta (dibentuk menjadi sawah/ladang), hanya tana masa (ladang) yang ditanami jagung dan ubi-ubian. Kera dan babi hutan masih berkeliaran bebas sehingga kebun harus selalu dijaga siang maupun malam. Mama mertua yang sangat rajin, mengolah semua ladang yang menjadi milik suaminya dengan ditanami jagung dan ubi kayu. Saat bapa mertua pergi membeli garam ke pantai, dia akan tidur di kebun untuk menjagai tanamannya. “Apa tak takut, Mama?” Tanyaku suatu saat. “Ah, kalau takut habis semua tanaman kita diserbu babi hutan.”
                Tanah yang subur memberikan hasil yang menakjubkan. Jagung dikeringkan dan digantung di langit-langit rumah sampai saatnya ditumbuk menjadi beras jagung, sementara ubi kayu dikupas dan dijemur menjadi koil. Karena panen ubi begitu melimpah, koil milik mama mertua sampai memenuhi lumbung.
                Saat itu penanaman padi belum seintensif sekarang. Padi ladang hanya panen setahun sekali, itu pun tak lebih dari dua karung (sekitar 100 kg padi/50 kg beras) hasilnya. Saat bahan makanan habis sebelum musimnya, para petani akan mencari pinjaman makanan ke kampung lain. Bapa dan mama mertua yang mempunyai simpanan koil cukup banyak menjadi terkenal di antara para tetangga kampung. Mereka berdatangan untuk meminjam koil dengan ganti beras saat mereka panen nantinya. “Dari mana saja orang yang meminjam koil Mama?” Tanyaku. Sebenarnya ini pertanyaan yang selalu kuulang setiap dia menceritakan kisah yang sama. “Dari Nanu, Dimpong, sampai Purang semua datang ke rumah.” Jawabnya dengan wajah bersungguh-sungguh.
                “Cara menukarnya bagaimana?” Ini juga pertanyaan ulangan, tapi dia selalu senang menjawabnya seperti kesenangan mengisahkan masa lalu itu sendiri.
                Cewarang koil (20 kg gaplek) ditukar dengan cetongka dea (5 kg beras).” Jawabnya. Kebijakan yang selalu diprotes Max sebagai sesuatu yang tak adil sekarang. Masa koil dihargai begitu tinggi, demikian alasan anak lelakinya. Tapi mama yang tak belajar ekonomi tapi tahu arti guna waktu membuat keluarganya yang tak punya sawah sepetak pun saat itu, dapat menikmati makan nasi sebagai makanan pokok sebab berhasil mengumpulkan beras hingga memenuhi kas.
                Apa tak ada peminjam yang berusaha menipu? “Jaman dulu semua orang masih jujur, memang ada satu atau dua yang membayar tak tepat waktu, tapi pasti ada alasannya. Dan beberapa kali kami tak menagih pinjaman koil itu karena panen mereka tak mencukupi untuk membayar hutangnya.”
                Oh, berarti itu hanya kisah masa lalu. Sekarang tak ada lagi orang yang mencari koil untuk makanan pokok? Adik iparku mencondongkan badan sambil setengah berbisik, “Siapa bilang Kakak? Bulan-bulan begini banyak orang yang mencari koil untuk makan.” Aku menatap kaget. Masa, sih? Mama mertua mengangguk membenarkan. “Hanya saja sekarang mereka bilang mau pinjam untuk makanan babi.” Hah?? Mengapa begitu? Adik perempuanku tersenyum tipis, “Kan, sudah jaman modern, Kak. Masa pinjam koil untuk makan, sih?”
                Padi masih hijau, musim panen masih dua atau tiga bulan lagi, sementara persediaan makanan telah menipis, tak heran beberapa orang mencari pinjaman koil sampai masa panen tiba. Perubahan musim yang ekstrim juga membuat hasil panen menurun cukup signifikan, koil dan daeng menjadi makanan alternatif bagi sebagian orang untuk mengganjal perut.
                “Apa semua daeng itu akan dijadikan koil, Mama?” Tanyaku.
                “Tentu saja.” Ujarnya namun buru-buru ditambahkannya. “Tapi pasti ada yang direbus untukmu.”
                Aku tersenyum sambil membuka ransel yang masih tergeletak di depan kakiku. Kukeluarkan bungkusan plastik dan kuserahkan padanya.
                “Apa ini?” Tanyanya sambil berusaha membuka ikatan plastiknya.
                Kala (daun sirih).” Jawabku.
                Tawanya melebar, “Terima kasih, ee….” Katanya sambil menatap mataku.

Jalan dan Sekali Lagi Jalan


Seperti kebanyakan hari Minggu, Max selalu mempunyai acara jalan-jalan ke luar kota. Istilah kerennya weekend di kampung, padahal memang sengaja menyempatkan waktu untuk menengok kebun-kebun dan mengunjungi orangtuanya. Aku kadang tak menyambut hal itu dengan antusias karena kebiasaan bangun tengah malam membuat mataku masih mengantuk di pagi hari. Juga Minggu lalu saat Max mengajakku ke kampung Bapa mertua di Rahong Utara. Pertanyaan pertamaku adalah: “Jam berapa berangkat?” Saat dia mengatakan pagi-pagi benar, mendadak aku ingin menolaknya tapi Max sudah tahu gelagat dan langsung mengajukan argument yang cespleng. “Kamu tidak mau melihat jalan aspal yang sudah menghubungkan kampung kita dengan Dimpong?” Ya tapi….”Kita sekalian mengunjungi Inang Ende Hieri yang keseleo lengannya. Kamu, kan belum pernah ke rumah mereka, to?”
                Aku mengangguk menyetujui, hanya saja jam berangkat yang begitu pagi pasti menyebabkan mataku berat oleh kantuk. “Kalau kamu masih mengantuk, kita berangkat jam 6.” Lalu tambahnya, “Makanya jangan suka online pagi-pagi buta begitu kah, dear.” Aku diam dan mulai mempersiapkan barang-barang yang perlu dibawa serta memasukkannya ke dalam ransel.
                Kami meninggalkan Ruteng tepat pukul 05.30 WITA. Kabut masih menggantung menyelubungi segenap isinya. Kabut itu juga mengiringi perjalanan kami sampai di batas kota. Udara dingin terasa menyejukkan. Kami mengambil rute melalui Beokina karena jalan aspal yang semula rusak sudah diperbaiki. Rute itu lebih singkat daripada melalui Rahong. Begitu lepas dari wilayah Kuwu, pemandangannya sungguh menawan. Beberapa kali aku minta berhenti untuk sekedar menikmati keindahan lembah di bawah kaki kami atau memandang keindahan Ruteng yang masih berselimut kabut dari ketinggian. Aku juga suka memandangi rumah-rumah sederhana berdinding bambu cacah dan beralas tanah telah terbuka pintunya, dan kepulan asap putih keluar dari balik seng bagian dapurnya. Entah mengapa dalam kesederhanaan itu aku justru merasakan kehangatan, penyambutan, dan keindahan. Beberapa penghuninya dengan berselimut towe songke (kain sarung tenunan) sibuk memberi pakan babi atau mempersiapkan peralatan untuk berkebun di halaman rumahnya. Hidup yang tampaknya sungguh tenteram.

                Di sebuah belokan cukup tajam kami kembali berhenti. Tampak persawahan dengan gradasi warna hijaunya dimulai dari warna hijau muda padi yang baru ditanam, hingga hijau tua batang-batang padi yang mulai berbuah. Teras-terasnya membuat sawah itu seperti sejuta tangga mengelilingi bukit. Sebuah bemo (angkutan pedesaan) berpenumpang penuh melaju di sebelah kami. Beberapa penumpang mengucap salam walau kami tak saling kenal. Mereka bergelantungan di pintu atau naik di atap kendaraan karena penuhnya mobil itu.
                Ingatanku melayang kembali ke lima tahun silam. Saat baru menikah dengan  Max hal pertama yang dipesankan oleh mertua adalah jangan ke kampung sebelum musim kering. Mereka sungguh memahami anak mantunya akan kesulitan menapaki jalan bak parit dengan kontur naik dan turun yang kadang mempunyai kemiringan tiga puluh derajat. Belum lagi kendaraan hanya sebuah saja yang beroperasi tiap harinya, yaitu sebuah truk bernama sangat indah “Kasih Sayang” Bagi yang biasa memanjat bak truk sungguh tak masalah, tapi Max harus pesan berhari-hari sebelumnya agar aku bisa duduk di sebelah supir agar tak perlu memanjat bagian belakang kendaraan itu. Setelah setahun memang akhirnya hal itu tak lagi menjadi masalah, learning by doing sungguh ampuh bagiku. Hanya peringatan untuk datang setiap musim kering masih berlaku selama tiga tahun berikutnya, karena pernah sekali truk slip dan harus dikeluarkan dari kubangan dengan menggunakan sekam padi yang ditaburkan di lumpur itu. Ketidaksabaranku, yang sering membuat Max geleng kepala dan kadang naik darah juga, membuat kami harus berjalan beberapa kilometer sebelum bertemu jalan aspal dengan angkutan bemo menuju kota. Dan sesampai di kota aku panas tinggi karena kecapaian, sesuatu yang diomelkan selama berhari-hari oleh Max.
                Tak hanya kemungkinan slip ban yang membuat perjalanan menjadi lebih lama. Truk juga tak bisa melaju kencang karena jalan berbatu dan berkelok-kelok dengan muatan sarat di bagian belakangnya. Jarak antara Ruteng dan kampung Bapa mertua hanya sekitar 26 kilometer, tapi harus ditempuh sekitar 2-3 jam tergantung cuaca. Belum lagi jalan kaki sampai ke kampung yang agak jauh dari jalan utama, bisa 1 jam jalan kaki untuk ukuranku karena banyak berhenti menghela napas setelah menaiki tanjakan cukup tinggi. Bisa dimaklumi kalau aku sangat jarang berkunjung.
                “Biar kami saja yang mengunjungi kalian ke kota,” kata Bapa mertua. Sebuah pemahaman luar biasa bila menilik kultur Manggarai yang sangat memberi penghormatan pada orangtua. “Atau paling tidak kita ketemu di rumah kita di Dalo kalau kalian tak keberatan.” Tentu saja tidak, sudah punya mertua sebaik itu mana berani aku meminta lebih lagi. Dan biasanya kami bertemu di Dalo demi kebaikan semua pihak.
                Dan kini kami dapat melaju di tengah kampung Bapa dengan santai, sambil membunyikan klakson di depan rumah, membuat para penghuni keluar dan berlari ke halaman melihat kami terus melaju. “Heyy…Nana….Ibu, ngo nia meu? (Mas….Ibu, mau ke mana kalian?),” teriak ipar perempuanku. Aku melambaikan tangan sambil balas berteriak: “Ngo sale Dimpong, Bi (Pergi ke Dimpong, Bi)”
                Maka pagi itu kami berjalan-jalan ke tempat yang selama ini belum pernah aku kunjungi, melihat kebun-kebun kami yang belum pernah sekali pun aku tengok, dan dijangkiti perasaan baru yang semakin lama semakin menguat. Kegemaran keluyuran yang ditularkan oleh Max, makan singkong rebus sambil duduk di atas motor di tengah jalanan kampung yang lengang sambil melihat matahari tenggelam, dan bertegur sapa dengan para tetangga yang selalu meminta kami mampir untuk sekedar minum segelas kopi sambil mendengar kisah-kisah yang terjadi di seputar kampung.
                Perlahan tapi pasti, aku mencintai tempat ini dan orang-orangnya. Bukan jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi cinta yang perlahan mengalir menghangati hati dan jiwa.

Jumat, 26 Agustus 2011

Aku dan Bayanganmu

Aku mengenalmu tanpa nama,
tanpa wajah,
tanpa tubuh,
tanpa arah.

Aku berbagi cerita denganmu tentang,
hidupmu,
hidupku,
masa lalu dan masa depan

Aku mencintaimu,
segenap hatiku,
tanpa terhalang ruang dan waktu,
dahulu, sekarang, dan akan datang 

Merindu Campursari


Suatu pagi, Dewi Murni van Brazil, memasukkan diriku dalam penerima tag lagu Caping Gunung yang kebetulan dinyanyikan oleh legenda keroncong Indonesia, Pak Gesang. Walau sinyal di tempatku ini seperti ombak samudra Hindia, kutekadkan untuk membuka kiriman dari youtube itu. Tak kurang dari satu jam waktu yang dibutuhkan untuk bisa mendengarkan dengan lengkap!
                Ketika suara sederhana namun penuh charisma itu menggema dari laptopku, hatiku menjadi campur aduk. Syair lagu Caping Gunung itu memang indah dan terasa sedih sensenya, tapi yang membuatku berkaca-kaca adalah kenangan akan hari-hari di Jogja bersama salah seorang Budhe (kakak Mamiku) yang hobby sekali bernyanyi campur sari. Memang pada dasarnya Budhe Sulis, demikian kami biasa memanggilnya, hobby bernyanyi. Suaranya memang fantastis untuk ukuran penyanyi koor biasa. Tak heran kami tak pernah keberatan mendengarnya bernyanyi, tak hanya bersenandung, setiap pagi dan sore di kamar mandi. Salah satu lagu yang menjadi favoritnya adalah Caping Gunung.
                Budhe selalu menyumbangkan suara setiap hadir di pesta pernikahan. Begitu MC mempersilahkan tamu menyumbangkan lagu bagi mempelai, karena penyanyi pestanya sedang butuh istirahat, maka Budhe akan bergegas ke panggung. Seperti suatu siang ketika kami menghadiri pesta penikahan saudara sepupu di Wonosari Gunung Kidul. Begitu pengantin bisik-bisik sambil menunjuk Budhe pada sang MC, beliau sudah langsung bersiap. “Ajeng nyanyi napa ta, Bu? (Mau menyanyi apa, sih Bu?)” Tanya anak lelakinya. Sambil berdiri beliau berkata, “Caping Gunung.” Kontan anak lelakinya mengeluh, “Wong dereng apal ngoten, lho Bu. (Orang belum hapal, gitu lho Bu)” Tapi beliau santai saja melangkah menuju panggung, membuat saudara sepupuku itu tambah menggerutu. “Ibu belum hapal nyanyian itu, lho Dik. Nanti di tengah jalan pasti hanya diisi dengan na-na-na gitu.” Aku tertawa saja, toh setiap penyanyi pasti punya buku catatan yang bisa pinjam. Dan benar saja, beliau sukses menyanyikan lagu itu dengan buku pinjaman.
                Lalu suatu sore aku berjalan menyusuri jalanan Ruteng. Seorang penjual gorengan yang kukenal tersenyum padaku sambil menyapa, “Kundur, Mbak? (Pulang, Mbak?)” Aku membalas sapaannya dengan senyum yang sama lebar. Namun yang menarik perhatianku adalah suara musik campur sari dari handphone atau mungkin tape portable yang mereka miliki. Benda itu mengalunkan suara Didi Kempot yang berkisah tentang Stasiun Balapan. Waduh, mendadak aku teringat pernah duduk sampai menjelang sore di stasiun itu bersama Fitri, menunggu kereta api Pramex yang tak kunjung tiba. Sayup-sayup dari radio seorang pedagang terdengar irama campur sari. Saat itu sungguh biasa, namun begitu aku menapaki jalanan di tempat yang terpisah oleh puluhan pulau, mendadak terasa manis di hati.
                Lagu campur sari kegemaran Max adalah Ndang Baliyo. Well, aku tak tahu benar judulnya, hanya syairnya memang berisi kata-kata: “Ndang baliyo Sri, ndang baliyo (Cepatlah pulang, Sri. Cepatlah pulang)” Bukannya dia tahu benar lagunya, apalagi hapal syairnya secara utuh. Hanya sepotong itu saja yang bisa dinyanyikannya dan dimanfaatkan sebesar-besarnya setiap aku liburan ke Jawa. Setiap malam dalam midnight callnya, setelah gagal membujuk untuk cepat-cepat pulang karena memang belum waktunya sesuai dengan kesepakatan, dia akan segera menyanyi, “Ndang baliyo Sri, ndang baliyo.” Biasanya aku akan tertawa sambil menjawab, “Aku, kan bukan Sri. Mami, tuh yang bernama Sri.” Lalu cepat-cepat dia mengubah syairnya menjadi: “Ndang baliyo Tia. Ndang baliyo.
                Bila itu tak manjur juga, maka dia akan mulai menggerutu. “Biaya pulsa telepon begini setiap hari sudah bisa untuk beli tiket pesawat pulang, dear.” Lalu? “Pulang, sudah!” Ujarnya dengan logat yang kental. Nah, ini dia!
                Maka, sambil tersenyum-senyum, aku mencari satu-satunya CD campur sari yang kumiliki. Tak berapa lama terdengar musik yang kurindu dalam alunan suara emas Sunyahni mendendangkan lagu dari kampung halamanku di seberang lautan. Kapan, yo aku iso bali? (Kapan, ya aku bisa pulang?)

Sabtu, 20 Agustus 2011

Coffee Stories 2: Bunga Kopi


Fajar mulai merekah, kokok ayam bersahutan dengan cicit kelelawar kesiangan yang berusaha menemukan jalan pulang ke sarang. Jerit burung malam perlahan memudar berganti lenguh kerbau dan derit pintu yang perlahan terbuka. Tak lama kemudian asap mulai mengepul dari tungku batu di dapur, kelonteng peralatan alumunium dan keretek kayu bakar mengisi udara yang masih dingin menggigit. Tak ada thermometer ruang di rumah kami di kampung, tapi suhu dini hari tak pernah jauh berkisar dari angka 15-17 derajat Celcius.
                Mataku terbuka perlahan, dari tingkap jendela kayu kulihat berkas-berkas cahaya, belum begitu terang, namun telah cukup benderang untuk berjalan-jalan ke kebun di samping rumah. Ya, pagi ini aku bermaksud untuk menghirup harum bunga kopi di pagi hari. Keinginan ini timbul akibat komentar teman-teman pada tulisan sebelumnya yaitu “Petik Kopi”. Para sahabat itu menyatakan betapa keharuman bunga kopi sangat mempesona, misterius, dan menimbulkan kenangan. Terus terang selama ini aku tak begitu memperhatikan. Menurut kata Mbak Sasha, mungkin karena aku terlalu terbiasa sehingga tak lagi menganggapnya istimewa.
                Ah, kata-kata itu menggema terus dalam otakku selama beberapa hari, jadi aku memutuskan untuk menikmati keharuman bunga putih nan wangi itu pagi ini.
                Aku beranjak menuruni ranjang setelah mengait sandal jepit di kolongnya. Kurapatkan jaket sebelum membuka pintu kamar menuju dapur. Adik iparku telah duduk di depan nyala api merah jingga sambil mengaduk-aduk sesuatu dalam kuali.
                “Selamat pagi,” sapaku sambil meraih cangkir di rak metal dekat jendela. “Manga wae kolang, enu? (Ada air panas, dik?)”
                Manga, Kakak. (Ada, Kak)” Jawabnya sambil menggeret termos biru bergambar bunga.
                “Mau bikin kopi, nih.” Kataku sambil mengambil satu sachet kopi mocha. Sering kopi mocha ini menjadi bahan ejekan Max terhadapku. “Kita ini punya pohon kopi sendiri, koq beli kopi, dear.” Ujarnya suatu waktu.
                “Tapi, kan bukan kopi mocha.” Jawabku kalem.
                “Kopi mocha itu bahannya kopi dicampur coklat dan gula, kan?” tanyanya tak puas melihatku anteng-anteng saja mengaduk kopi itu tanpa mengangkat wajah.
                “Kelihatannya begitu.” Jawabku sambil menyeruput isi cangkir yang mengepul dan kembali ke depan laptop.
                “Nah, kita sudah punya kopi dan coklat, paling-paling tinggal beli gula saja. Bagaimana kalau mencoba membuatnya sendiri?”
                Aku hanya angkat bahu, sampai sekarang aku masih setia membeli kopi mocha walau mama mertua selalu mengirimi bubuk kopi dari kampung.
                “Cukup panas airnya, Kak?” tanya adik iparku setelah menuangkan air dari dalam termos. “Maklum air rebusan semalam.” Aku menjawab dengan anggukan dan ucapan terima kasih. Sambil menenteng cangkir itu kubuka pintu dapur yang menuju kebun di samping rumah.

                Udara pagi menyambutku. Bunga-bunga putih pada ranting-ranting kopi berdaun hijau gelap menyerbu pandanganku, dan harumnya lamat-lamat menjangkau hidungku. Semakin kudekati, semakin tajam keharuman itu menyerbu. Dian Nugraheni menulis dalam salah-satu komentarnya, bunga kopi akan semakin tajam keharumannya saat bediding (musim dingin). Kebetulan di Dalo seperti halnya Ruteng selalu dingin, jadi aku dapat mengerti apa yang dimaksud Dian saat ini juga.
                Kujauhkan cangkir di tanganku, aku menyurukkan wajah di atas tandan-tandan bunga putih itu. Segar sekali baunya. Kesegaran yang bersih sebersih warnanya. Bunga kopi berbentuk seperti bintang, mekar bergerombol dalam tandan-tandan hijau gelap. Dalam sebuah ranting bisa terdapat beberapa tandan bunga. Jumlah bunga itu mencerminkan jumlah kopi yang akan muncul. Semakin lebat bunganya, demikian pula kopinya.
                Bila telah cukup lama berbunga, kelopak putih itu akan layu menjadi coklat kehitaman dan luruh ke tanah. Tak berapa lama kemudian bakal buah akan muncul. Kopi-kopi kehijauan memenuhi ranting itu, sampai kemudian berubah warna menjadi kuning, dan akhirnya merah tua.
                Hujan yang terlalu panjang dan deras menyebabkan kopi tak berbunga selebat biasanya. Para petani kopi seperti mertuaku hanya bisa menghela napas. Mereka telah tahu bila produksi kopi pasti turun drastis akibat musim yang tak menentu ini. Bila menyandarkan hidup hanya pada tanaman kopi, bisa dibayangkan kekhawatiran mereka menghadapi perubahan musim ini.
                Aku melangkah dari satu pohon ke pohon lainnya. Badanku harus merunduk beberapa kali karena dahan kopi menjulur ke permukaan tanah. Beberapa memang demikian karena tak dipangkas, namun beberapa sengaja dipatahkan sebagian untuk dirundukkan ke tanah. Dulu aku menyangka hal ini karena patah secara alamiah akibat saratnya buah, namun ternyata mertuaku melakukannya secara sengaja. “Agar tak terlalu rimbun dan tanaman memperoleh cukup cahaya matahari.” Jelas Max saat dia melakukan hal itu pada pohon kopi di kebun kami di Leda. Tapi kenapa musti dirundukkan dengan cara begitu, tidak sekalian dipatahkan saja? “Dahan itu, kan masih bisa menghasilkan buah.” Jawab Max.
                Aku tak tahu teknologi bertanam kopi, karenanya aku tak berkomentar dengan metode penanaman demikian. Apalagi mereka telah puluhan tahun bertanam kopi. Seandainya aku tahu cara penanaman dari dalam buku, belum pernah sekali pun kupraktekkan.
                Tanganku meraih sebuah ranting yang menjulur di depan wajahku. Ranting yang sarat dengan bunga, beberapa di antaranya masih berupa kuncup putih kehijauan. Kecemerlangan warnanya semakin nyata karena terpaan sinar mentari yang perlahan mulai merayap naik mengeringkan embun yang bergantung di ujung-ujung kelopaknya. Sebagian air bening itu meluncur turun ke tanah karena gerakan tanganku yang berusaha meraih ranting itu semakin rendah.
                Suara panggilan bergema menerobos kelebatan daun kopi. Anganku terputus, kepalaku menoleh. Ternyata langkahku telah jauh meninggalkan rumah. Suara itu terdengar kembali. Kali ini aku bisa mendengarnya lebih jelas. Suara seorang lelaki.
                “Aku di sini.” Jawabku
                Langkah kaki terdengar mendekat. Max muncul di antara kerimbunan pohon kopi. Dia berhenti saat melihatku sedang menyurukkan wajah di antara bunga kopi.
                “Kamu ngapain, sih dear?”
                Aku menatapnya sebelum menjawab, “Menghirup keharuman bunga sambil minum kopi.”