Rabu, 17 Agustus 2011

Max: Harga Sebuah Niat Baik


Saat memasang foto-foto suami di jejaring sosial, tak ada maksud lain, selain menunjukkan keindahan dan kekayaan alam Indonesia dari tempat yang mungkin selama ini tak masuk orbit untuk diperbincangkan dalam khasanah nasional. Flores yang jauh dan Manggarai yang sering dikira cuma nama salah satu tempat di Ibukota, menjadikan gambar-gambar itu bukan sekedar pajangan, tapi sebuah cerita yang bisa berbicara dengan sendirinya.
            Hatiku jadi terharu melihat komentar dari teman-teman setelah melihat foto itu, bahkan salah seorang teman di Amerika menjadikannya sebagai salah satu bahan mengajar di kelasnya. Max sendiri juga surprised ketika aku memperlihatkan dokumentasi itu padanya. “Mana, aku lihat komennya?” Desaknya dengan tertawa setengah memaksaku menyingkir dari kursi di depan laptop.

            “Deeeuuu….Proudly Present My Husband….bla..bla..biasanya kamu ga suka dihubung-hubungkan denganku.” Ledeknya yang langsung kusambut dengan ancaman. “Jangan minta, ya kalau aku bikin kopi mocha.”
            Eng…, damang ga, ata adong (Eh, baiklah. Hanya bercanda).” Ucapnya cepat-cepat sambil berdiri memelukku.
            Aku mengawasinya berkata dan menanggapi segala komentar itu sambil tersenyum, namun anganku melayang pada peristiwa bertahun-tahun lalu, pada awal-awal kebersamaanku dengannya.
            “Aku sedang berangkat ke kampung, dear.” Itu isi salah satu SMSnya di suatu senja saat aku sedang menapaki jalanan Malioboro. “Mungkin sampai di kampung malam karena naik ojek dan jalannya berbatu, setelah itu baru jalan kaki.”
            “Berapa kilometer jauhnya?” Tanyaku yang baru dijawab berjam-jam kemudian, “Lumayan.”
            Jarak yang “lumayan” itu baru kuketahui setahun kemudian bahwa tidak lumayan lagi untuk ukuran Jawa. Jalan setapak berbatu seperti got kecil menyambutku ketika harus pergi berupacara adat di kampungnya untuk pertama kali. “Kenapa kita lewat got begini, Max? Apa tak ada jalan lain?” Tanyaku jeri merambati, karena memang mendaki, jalan seukuran pas telapak kaki itu.
            “Ya, memang ini saja jalannya, dear. Sejak jaman bayiku sampai sekarang.” Wadduuhh! Begitu juga ketika melewati jembatan bambu darurat di atas sungai yang deras. “Max, jembatan ini layak untuk dilewati tidak?” Tanyaku di ujungnya. “Pastilah dear, aku sendiri yang membuatnya.” Heeh?? “Iya, waktu aku pulang liburan dari Afrika enam tahun lalu. Sebelumya, sejak adanya kampung ini, kami harus menyeberangi sungai untuk pergi ke desa tetangga.” Alamaaak….!
            Saat acara adat tengah berlangsung aku sempat bertanya padanya, “Terus koperasi yang akan kamu bentuk saat aku masih di Jogja itu bagaimana?” Senyumnya terkembang tipis, “Tidak jadi, ada orang yang bilang pada mereka untuk tak usah percaya padaku, nanti takut aku bawa lari uang mereka.” Ah? “Orang itu bilang, ‘Dia orang pintar, jangan kita yang bodoh ditipu olehnya’, gitu.” Dan aku termangu.
            Setelah tinggal di Ruteng selama dua tahun aku pikir Max tak akan lagi memikirkan kampung halamannya, sampai suatu sore dia pulang mengajar sambil tertawa ceria. “Dear, bantu aku buat proposal untuk Dinas Peternakan, ya. Ada proyek kambing bantuan untuk para petani.” Aku mengerutkan kening, “Memang kamu punya kelompok tani?” Dia hanya tertawa sambil menunjukkan berita acara pembentukan kelompok tani. “Tapi masih harus diketik rapi sebagai salinan.”
            Maka diluncurkanlah proyek kambing disusul, pupuk gratis, bibit padi unggul, kredit untuk pembelian pupuk, traktor bantuan pemerintah, sekolah lapangan, gunting tanaman, pupuk untuk tanaman perkebunan, dan terakhir bibit kakao. Menurut PPL yang kami jumpai di jalan menuju kota, telah menunggu pula bantuan bibit unggul untuk musim tanam berikut beserta uang bantuan untuk kelompok tani. Bersama Keuskupan Ruteng yang dikelola oleh Romo Simon Nama telah pula dilaksanakan penggalakan tanaman lokal seperti Jali dan Sorghum. Hasilnya telah dibeli pihak Keuskupan untuk disebarkan sebagai bibit untuk desa-desa lainnya.
            Bila Max cukup senang dengan keberhasilan mengorganisir keluarga dan warga kampungnya  dalam bidang pertanian, beberapa orang justru menganggap hal itu sebagai alat mencapai tujuan lain. “Kraeng (panggilan untuk lelaki) buat kelompok tani, ternak, dan tiga koperasi di dua kecamatan ini dalam rangka mengumpulkan massa untuk jadi Anggota Dewan 5 tahun mendatang, ya?” Ujar mereka sinis. Kami menghela napas, tak pernah dalam mimpi pun kami hendak mewakili suara rakyat, tak pernah terlintas keinginan untuk duduk dalam bangku terhormat itu walau jarak Kantor Dewan dengan rumah kami tak kurang dari dua ratus meter.

            “Biarlah, dear orang mau bilang apa.” Hiburku setiap kali dia merasa terluka karena disalahpahami niatnya oleh seseorang. “Yang jelas jalan aspal sudah masuk kampung kita, dan aku bisa sering-sering ikut kamu pulang ke sana.” Maka berserilah kembali wajahnya.
            Max masih berkomentar dan tertawa-tawa di depan laptop. Di tangannya ada secangkir kopi mocha yang mengepulkan uap. “Maunya proyek lain juga dipasang di sini, ya. Terutama tentang pangan lokal itu, biar orang tergerak hatinya untuk menganekaragamkan pangannya.” Ujarnya bersemangat.
            “Enak saja! Pakai accountmu sendiri, dong.” Kataku.
            “Kamu, sih dear engga mau add aku sebagai friend.” Ucapnya. Lho apa hubungannya? “Biar kalau kamu upload sesuatu aku bisa tahu.”
            Haa! Dia kira aku bisa semudah itu dikibulinya.
            Dan Max pun bergeser dari kursi yang didudukinya dengan satu perintah tegas, “Cari lagi file yang pangan lokal, ya. Bagus kalau diupload juga, tuh.”
            Aku mendelu. Jengkel kalau dia mulai main perintah begitu.

Senin, 15 Agustus 2011

Nyanyian Hujan


Menarilah diriku,
diiringi rintik hujan memecah senyap,
dalam dekap bayangan dirimu,
mengayun langkah setengah terlelap.

Tersenyumlah bibirku,
melayang dalam kasih di ujung angan,
tanganmukah yang membelaiku,
hangat menepis dinginnya hujan?

Destiny? Is That You?


Pada suatu pagi, Dewi Murni mengirim sebuah message untukku. Isinya menanyakan khabar dua orang teman yang sama-sama kami kenal. Aku menceritakan keadaan mereka dalam message balasan. Salah satu message itu membicarakan bagaimana takdir berbicara dalam hidup teman-teman kami itu. “Bayangkan, berada di tempat yang sama, dalam lingkaran pertemanan serupa, saling berpapasan dalam satu ruangan, tapi tak saling mengenal, sampai suatu ketika dalam suatu titik, mereka mulai bersama.” Tulisku bersemangat. Bagaimana tak antusias bila menceritakan kebahagiaan?
                Kebetulan atau mungkin harus begitu cerita hariku saat itu, Hariatni “Emon” Novitasari sedang menayangkan video Serendipity, film lama tentang dua orang yang saling bertemu, mencobai nasib, dan bertemu kembali di masa berikutnya. Karena aku menyukai film itu, aku tinggalkan komentar: Kamu percaya pada nasib, Mon?
                Ternyata jawabannya sungguh mengesankan. “I do believe in destiny, Mbak”. Jawaban itu disusul dengan chatting dan mengirimiku note-nya yang sangat menarik biarpun penulisnya sendiri berkata sedang malas membuat note, Magical Path of Life. “Hidupku sendiri penuh Serendipity.” Tulisnya dalam message. Ah, hidup yang sangat romantis.
                Kadang aku juga berpikir tentang keajaiban hidup pada seseorang. Bagaimana seseorang bertemu dan berpisah lalu bersimpangan lagi jalan hidupnya. Tak jarang juga seseorang yang sudah saling bertemu menceritakan kisah masa lalu mereka dan kemudian begitu terperangah ketika menyadari mereka pernah bersama dalam suatu ruang dan waktu. “Jadi kamu di situ juga, ya? Duh, berarti sebenarnya kita saling ketemu, ya?”
                Sungguh seperti adegan dalam sebuah film. Dua orang berada dalam situasi yang sama, berpapasan, kemudian berlalu tanpa saling mengenal di suatu masa. Sebagai penonton film, kita pasti merasa ngilu hati dan menghela napas. Oh, so close….! Kenapa, sih tokoh perempuan ini tak mau menengok barang sebentar, kan heronya hanya beberapa langkah darinya? Bahkan lengan baju mereka hampir bersinggungan pada suatu adegan. Bila film ini berupa telenovela berseri, bisa dibayangkan betapa geramnya kita. “Ihh…bodoh banget, sih mereka! Kenapa engga mau begini….begini…” Dan jadilah kita sutradara yang berusaha mengatur alur cerita.
                Keheranan dan sedikit kekaguman selalu terbersit dalam hatiku bila mendengar kisah seperti itu. Keheranan yang sama juga masih meliputiku saat ini. Betapa tidak, aku mempunyai seorang teman selama sepuluh tahun yang sempat lost contact selama beberapa tahun. Suatu ketika dengan selembar kartu ucapan, kontak itu kembali tersambung. Tak terlalu intens apalagi antusias. Lalu suatu saat kami benar-benar bertemu beberapa kali, minum cappuccino dan mengudap roti bakar, bercerita tentang kenalan dan handai taulan. Berbagi kisah tentang cita-cita dan keinginan di masa depan. Mendadak sontak pertemanan itu menjadi lebih dekat dan semarak. Maka, pada suatu percakapan virtual aku katakan padanya,”Mungkin memang takdir kita untuk bertemu di suatu titik kehidupan, ya.” Dan dia menjawab, “Juga dalam banyak titik yang lebih penuh warna ke depan.”
                Maka betullah kata Emon dalam notenya: “Hidup kita, kadang merupakan satu jalur yang berkelok seperti kita mengarungi jeram sungai. Kita tidak tahu, di mana kita akan mendapati ceruk, tikungan, tebing, atau apa pun lah. Dia adalah satu misteri. Kadang, inilah yang membuat hidup ini sangat menarik. Kita tidak akan pernah tahu siapa yang akan kita temui, dan apa yang (akan) terjadi.”
                Lalu aku kembali menghela napas panjang. Hmm… Betapa ajaibnya!
               

Sabtu, 13 Agustus 2011

Setengah Keping Talenta

Setiap kali pulang ke kampung hal paling urgent untuk dipersiapkan adalah baterai. Bermacam-macam baterai serta cadangannya. Seperti baterai kamera, laptop, handphone, ipod, dan baterai lampu untuk penerangan. Biasanya baterai itu bisa bertahan sepanjang weekend, Sabtu sore sampai Senin pagi. Tapi segala macam persiapan itu bisa tak tercapai bila mendadak datang perintah, atau permintaan tapi dengan nada imperatif, dari Max untuk ke kampung segera sebelum saat weekend dan pulang ke kota pertengahan minggu berikutnya.
            Hari pertama semua bisa berjalan lancar. Mendengar lagu, membuat foto-foto, menulis, online dengan handphone untuk menyapa teman-teman di dunia maya, dan tidur cukup tenang karena penerangan yang stabil. Hari kedua mulai kembang-kempis, baterai mulai habis, handphone menyala hanya dengan segaris kekuatan dan ipod yang mulai mengkhawatirkan. Tinggal kamera saja yang masih bertahan karena tak selalu dipergunakan. Lalu hari ketiga semua tamat. Malam hari mulai menggunakan pelita alias ublik menurut orang Jawa dan kesunyian mulai menyergap bila mata belum hendak terlelap setelah jarum arloji menunjuk angka sepuluh. Suara jengkerik yang tak berirama bukannya membuat mata berat dan melayang ke dunia impian, tapi justru nyalang sepanjang malam.
            Di siang hari ketiadaan segala macam gadget itu tak begitu terasa karena simpanan buku-buku di perpustakaan pribadi kami berdua cukup banyak dan bisa dibaca ulang bila memang kepingin. Menulis bisa dilakukan di buku tulis dulu sebelum disalin sekembalinya ke kota, dan banyak gossip yang bisa dipercakapkan sekedar merintang-rintang waktu menunggu Max pulang dari kebun. Tapi bila lebih dari tiga hari dan kegiatan membaca tak begitu menggairahkan lagi, mulailah homesick muncul. Rindu rumahku di kota.
            Minggu kemarin aku menemukan sekotak crayon dan selembar buku tulis dalam dos peralatan di gudang. Tiba-tiba aku ingin belajar melukis. Aku katakan belajar karena aku tak pandai melukis. Bapakku adil hampir dalam segala hal. Dia membagi kemampuannya merata pada aku dan Hans adikku. Aku memperoleh kemampuan menulisnya dan Hans menuruni keahlian melukisnya. Tak heran adikku menjadi dosen seni rupa di sebuah Perguruan Tinggi Swasta terkemuka, dan aku suka menulis walau hanya untuk dibaca sendiri dan menulis catatan sekedar berbagi pengalaman dengan teman-teman.
            Belajar melukis ternyata bisa menyedot semua perhatianku hingga malam menjelang tanpa terasa. Sebuah gambar kuhasilkan sebelum makan malam. Max yang melihatnya surprised dan mengelusi kepalaku sambil tertawa, “Wah, ternyata kamu bisa menggambar, ya Dear? Kenapa selama ini kamu engga pernah kasih tahu.” Ah, untuk apa? Ini juga hanya karena mengisi waktu saja. “Bagus, lho Dear.” Ya, pujian dari suami pasti sangat subyektif. Apalagi Max memang tak punya perhatian terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan seni, hal-hal praktis sehari-hari adalah bidangnya.
            Jadi gambarku cukup lumayan sebagai pemula? “Sering-sering saja berlatih.” Katanya yang membuatku berpikir, kayaknya OK juga bila aku sendiri yang membuat illustrasi bagi buku-bukuku. Memang aku lebih suka gambar yang dekoratif daripada realis yang menjadi keahlian Hans, tapi aku pikir asyik juga bila bisa melukiskan apa yang dipikirkan.
            Berdasarkan kepercayaan yang kuanut, mungkin aku hanya dianugerahi satu  atau bahkan hanya setengah talenta untuk melukis dan mungkin dua atau tiga untuk menulis. Walau hanya satu atau setengah, menurut kisah dalam Buku Suci, tetap harus dikembangkan atau pemberi talenta akan menuntut pertanggungjawaban suatu saat nanti. Jadi walau hanya bermula dari merintang-rintang waktu, tak ada salahnya menyediakan lebih banyak kesempatan untuk mengembangkannya. Bahkan terpikir untuk kursus melukis pada Bapak dan Hans kalau ijin liburan sudah disetujui oleh Max.
            A blessing in disguise? Ya, keajaiban itu selalu mungkin terjadi di mana pun. Juga di kampung saat semua baterai habis dan hari menjadi kelam dengan sebuah pelita kecil di atas meja kayu.

Laurensia: Mami dan Teman


Nama lengkapnya Laurensia Sri Mulyani, dia ibu kami. Pekerjaannya seorang guru SD. Sejak aku bisa mengingat, posisinya sebagai guru kelas satu tak pernah berubah. Sekali pernah juga naik ke kelas dua, tetapi tahun berikutnya kembali mendidik anak-anak yang baru masuk sekolah itu. Setiap kali kami tanyakan mengapa dia tak juga mengajar di kelas yang lebih tinggi, jawabannya sama: “Kata Pak Kepala Sekolah harus cari guru yang sabar untuk mengajar kelas awal.” Demikian juga tanggapan teman-temannya, “Bu Sri sabar dan telaten orangnya.”
            “Ah, masa, sih Bu?” Tanya kami beberapa kali saat ikut arisan Dharma Wanita bersamanya. “Iya, Mbak. Makanya sering sekali Bu Sri pulang siang karena memberi les tambahan bagi anak-anak yang belum pandai membaca.”
            Oh, ini rupanya alasan Mami, demikian kami biasa memanggilnya, sering pulang terlambat ke rumah. “Anak kelas satu, kan pulangnya jam sepuluh, Mi. Kenapa engga langsung pulang saja.” Protes kami beberapa kali. “Ya ga bisa begitu. Anak-anak yang belum bisa baca itu harus diberi waktu khusus. Kasian kalau ketinggalan dari teman-temannya.” Kami tetap merengut, “Tapi itu bukan kewajiban, kan?” Dan dia akan menjelaskan panjang lebar tentang tanggungjawab moral seorang guru terhadap keberhasilan murid-muridnya.
            Kesetiaannya dan ketangguhannya mengawal keluarga juga teruji oleh waktu. Kami sempat terpisah dari Bapak karena tempat tugas yang berjauhan. Mami mengurus sendiri anak-anak sekaligus menjadi guru sejak kami masih balita sampai aku dan adikku yang nomor dua telah duduk di pertengahan Sekolah Dasar. Pertemuan dengan Bapak hanya dilakukan saat liburan sekolah atau akhir tahun. Tak terbayangkan seorang perempuan muda nan cantik memikirkan kesejahteraan tiga orang anak, mengajarinya membaca dan menulis setiap sore, mempersiapkan kebutuhan sekolahnya setiap pagi, sekaligus menemaninya saat sakit atau bermain untuk bertahun-tahun, sendirian!
            Ibuku memang cantik. Tak ada seorangpun dari kami bertiga, anak perempuannya, secantik dia. Kecantikannya itu menurutku bukan semata fisik, tapi karena ketabahan, keikhlasan, dan kesetiaannya pada keluarga. Kecantikan Jawa yang khas karena sikap sumarah pada kehendakNya. Juga saat anak-anak mulai beranjak dewasa dan bertingkah laku semakin kompleks. Sifat, pandangan, kecerdasan yang bervariasi dari kami anak-anaknya tak membuatnya mengeluh. Bahkan dia bisa menjadi teman curhat yang menyenangkan.
            “Jadi mengapa kau tak melanjutkan pacaran dengannya?” Tanyanya suatu saat padaku setelah aku bubar jalan dengan pacarku yang kesekian. “Gak, ah Mi. Soalnya dia, tuh begini….begini.” Dan dia akan mendengarkan semua penjelasan itu lalu berkata, “Pilihlah yang terbaik menurutmu, karena kamu sendiri yang paling tahu.” Atau saat kami mengeluh karena diomeli Bapak. “Kamu dengar baik-baik, jangan sak kecap do sak kecap (menjawab langsung perkataan Bapak) Ora apik (ga baik)” Maka sampai sekarang tak sekali pun kami biasa menjawab perkataan Bapak  secara langsung bila beliau sedang marah.
            Ketika Mami meninggal beberapa tahun lalu, kami benar-benar merasa kehilangan. Bern, adikku yang kedua sampai sekarang selalu mencucurkan air mata setiap mengunjungi makam beliau. Hans, sampai beberapa tahun lalu kulihat, masih menyimpan foto Mami saat muda dalam dompetnya. Sari, adik bungsuku, kadangkala berujar, “Mami dulu bilang……” Sementara aku sering berpikir, “Apa bisa aku menjadi separuh saja dari dirinya ?”
            Sore ini, saat siaran tentang Hari Ibu yang akan dirayakan esok pagi, Ucique menanyakan apa yang menginspirasi dari Ibu kita? Sepanjang perjalanan pulang aku bercengkerama lagi dengan kenangan-kenangan akan Mami. Apakah aku sesabar dia? Tidak. Apakah aku setegar dia? Tidak! Apakah aku sesetia dia? Definitely Not!
            Saat mulai kunyalakan laptopku, muncul kembali bayangan wajah ayu Njawani yang kukenal selama bertahun-tahun itu. Aku tak mungkin sama dengannya, menuruni separuh kebaikan yang dilakukannya seumur hidupnya pun seakan tak mungkin. Aku adalah aku, dengan pikiran dan masa yang berbeda dengannya. Tapi teladan dan nilai-nilai kebaikan, ketabahan, kesabaran, dan kesetiaannya tak akan lekang dimakan jaman. Itulah pedoman, tak hanya untukku, tetapi juga ketiga orang adikku.

           

Jumat, 12 Agustus 2011

Suatu Ketika

Kau begitu dekat,
Seakan aku bisa mengelusi setiap lembar rambutmu
Mengusap pelipismu
Dengan ujung jemariku,
Sebelum titik gairah terbaca dari matamu

Kau begitu nyata,
Saat temaram lampu terbias di bibirmu,
Biru memulas indah senyummu,
Dan penuh ragu,
kujelajahi riak nafasmu

Tunggu aku, ujarmu
Sampai musim berganti
dan mentari sampai di ujung hari,
meredupkan baranya,
lalu membaginya pada kita

Aku pasti bersamamu, bisikmu
Mulutku diam tergugu,
Benakku berkelana menghasta waktu
Ah, kekasih
Adakah rasa dapat bertahan selama itu?