Aku membuka laptop di depanku tanpa berpikir apapun selain ingin membuka jendela yang menghubungkanku dengan dunia, syukur bila bisa bertemu denganmu dan bertukar beberapa kata. Kita memang tak pernah benar-benar bersama karena hanya berbicara di tengah alam semesta yang tak nyata, belantara titik dan garis, simbol-simbol hasil kreasi manusia sejak abad silam yang kini justru menguasai makhluk penemunya. Namun tak beda dengan penciptanya, dunia tak nyata itu juga seumpama organisma yang mempunyai jenis-jenis perasaan hasil representasi segenap makhluk berakal budi.
Penjelajahanku berakhir ketika muncul sapaan darimu, “Hi, Dey…” Panggilan khasmu untukku sejak pertama berkenalan. Aku tak begitu suka sebenarnya, kelihatan imut buat perempuan seusiaku, dan imut jelas bukan kesan yang ingin kutunjukkan padamu. Aku bukan tipe perempuan yang menjerit-jerit manja karena godaan atau candaan lawan jenis. Terlalu artifisial dan mengada-ada untuk menunjukkan perbedaan jenis kita, walau aku pernah berkata padamu betapa diriku bersyukur jadi perempuan. “Mengapa?” Tanyamu. “Paling tidak aku bisa bersolek tanpa menimbulkan omongan di belakang punggung.” Jawabku ngawur.
“Hanya itu?” Tanyamu.
“Bukan, dong. Banyak lagi yang lain.”
“Apa itu?”
“Pokoknya yang enak-enak.” Jawabku sama sekali tak bertambah jelas. Tak mungkin, kan aku mengatakan betapa perempuan memiliki posisi yang kian menguntungkan kini dan tak malu-malu mengeksploitasinya sesekali demi kepentingan diri di saat yang tepat. Aku ingin dihargai dengan gaji, posisi, dan martabat yang sama denganmu karena kita makhluk setara. Perempuan adalah mitra dengan kemampuan yang sama dengan lelaki. Sebuah sayap yang tanpanya seekor burung tak mungkin melintasi cakrawala, sebelah sepatu yang tanpanya seseorang tak mungkin pergi ke mana-mana. Pilihlah perumpamaan apa saja, yang jelas tanpa makhluk sejenisku jenismu akan merana sepanjang waktu. Namun jangan lupa membukakan pintu saat kita memasuki ruangan yang sama, menggeretkan kursi saat aku hendak duduk, dan membawakan tasku walau dirimu telah menenteng tas juga. Itu bukan kemauanku tapi bagian dari etiket dalam masyarakat, kau tak mau dikatakan buta soal tata aturan pergaulan, kan?
“Dey, apakah kamu masih di sana?”
Kupenggal percakapan hatiku untuk segera membalas pesanmu, “Ya, tunggu sebentar aku akan membuat secangkir kopi.”
“Untukku segelas, ya?”
Ah, gombalnya dirimu, batinku sambil menyunggingkan senyum. Walau gombal aku menyukainya karena membuatku seakan menjadi remaja tujuh belas tahunan yang melonjak-lonjak riang dengan pipi bersemu merah dihujani rayuan kekasih pertama.
Lima menit kemudian aku telah kembali dengan secangkir kopi berasap harum dan menjumpaimu sedang menulis beberapa kalimat lucu yang ditertawakan oleh teman-temanmu. Ah, kalian para lelaki berbicara seakan dalam kelompok tanpa makhluk jenis lain mengintai percakapan itu.
“Teman-temanmu heboh sekali,” kataku sambil menghirup isi cangkirku.
“Biasalah laki-laki. Mereka satu kampus denganku dulu, jadi telah bersahabat sejak lama.”
Dan tenggelamlah kita membicarakan banyak sosok dan topik yang selalu membuat percakapan menjadi penuh canda namun juga menyerempet romantisme dengan satu dua kata rayuan serta ungkapan provokatif yang diperhalus dengan pemilihan kata-kata bermakna ganda yang canggih. Ya, kamu mengatakan aku cewek paling cool untuk diajak ngobrol, hal mana juga tak kusukai karena menurut pendapatku kata cewek dan cool hanya pantas buat mereka yang masih berseragam putih abu-abu ke bawah, sehingga membuatmu selalu ketagihan bercakap denganku.
“Ah, banyak sekali yang salah tanggap akan omonganku.” Tulismu walau ditutup dengan kekehan panjang.
“Cobalah jangan menggunakan kalimat yang ambigu untuk menuliskan pikiranmu.” Usulku, “Kecuali memang menjadi tujuanmu untuk memancing reaksi banyak orang.”
“Santai sajalah. Terserah mereka yang menanggapi.” Katamu dengan tambahan tawa yang panjang.
“Tak masalah buatku, kan bukan aku yang harus menghadapi kerepotannya.”
“Dey, kamu memang cool.”
Aku hampir melebarkan tawa mendengarmu kembali menuliskan kata cool itu ketika sebaris kalimat tanggapan muncul di bawah kalimatmu dengan ikon feminine sebagai identitas si pengirim pesan. Tak ada yang istimewa dengan pesan itu kecuali kata-katanya yang bermakna konotatif bin terselubung dan hanya bisa dipahami oleh orang-orang tertentu yang mengenal baik simbol-simbolnya.
Hm, siapa ini? Mengapa dia menggunakan kalimat yang menggelitik hasrat ingin tahuku? Aku paling tak suka bila seseorang membuatku bertanya-tanya, terutama bila pertanyaan itu tak berhubungan dengan segala sesuatu kecuali perasaan. Walau aku tak keberatan kau menebarkan kata-kata bersalut gula pada makhluk-makhluk sejenisku, bukan berarti aku tak ingin tahu seberapa dekat dirimu dengannya. Tapi jangan kau anggap aku mulai bersikap posesif padamu, hasrat bersaing tak pernah ada hubungannya dengan orang lain selain dua orang yang berseteru. Apa kau kira Perang Troya melulu tentang Helen yang cantik? Kau pasti terlalu romantis atau memang tak pernah tahu cerita itu kalau membiarkan Helen mengambil peran melebihi ambisi pribadi dua lelaki yang bersaing.
Dan persaingan antar perempuan bisa lebih rumit, misalnya mengapa mendadak aku mempunyai perasaan bahwa dia tertarik padamu melebihi teman biasa, apalagi setelah kutahu dari omongannya yang kian bertudung kiasan-kiasan yang tak kumengerti, kutafsirkan bahwa kalian tinggal di tempat yang sama. Kedekatan yang tak bisa kuabaikan, dan aku tahu kau juga menyukai rasa tertariknya padamu.
Lalu aku mulai meraba-raba mencari simbol tersembunyi dalam setiap kata yang dituliskannya seakan berusaha mencari kunci bagi terbacanya huruf paku di dinding makam seorang firaun rahasia di tengah padang gurun. Setiap ungkapan bisa dianalisis dengan dua kemungkinan yang biasa atau memuakkan.
Perlahan diriku dililit oleh rasa mual dan perih di ulu hati. Pasti bukan karena maagku kumat karena aku baru saja makan pagi dan tengah menenggak kopi. Rasa itu kemudian menjalar ke dada dan tenggorokan, membuat ludahku susah ditelan dan sakit sekali ketika dipaksakan. Ingin rasanya aku melempar sesuatu untuk melepaskan sesak ini.
“Ha! Kamu dijangkiti cemburu!” Teriak hatiku.
Cemburu??? No way! Aku tak akan pernah mencemburuimu. Dari awal aku paham dirimu tak akan pernah membuat sebuah komitmen yang jelas denganku sebagaimana juga diriku terhadapmu. Jelasnya perasaanku terusik olehnya, bukan olehmu! Kalau kau menanyakan alasannya, aku pasti bisa menjawab dengan terperinci, baik secara rasional maupun yang tak masuk akal.
Itu berarti aku memang mulai cemburu! Sebenarnya cemburu pada bayangan tak dikenal itu sangat tak masuk nalar, tapi aku memang tak bernalar saat sekarang. Diriku mirip benar dengan Don Quixote yang dipermainkan oleh angan-angannya sendiri dan menggebuki sebuah kincir angin karena menganggapnya raksasa berbahaya yang harus dibasmi.
Bukankah cemburu adalah bayang-bayang diri kita sendiri yang diproyeksikan pada orang lain sehingga tanpa ragu-ragu menghukum tokoh yang dicemburui dengan tuduhan-tuduhan? Jadi, jangan tanya diriku mengapa aku merasa dia perempuan terganjen di seantero jagad raya, atau mengapa aku mencibirkan bibir dan menggumam, “Ternyata hanya segitu, biasa-biasa aja, lebih juga diriku.”Bukannya sombong, tapi kecenderungan merendahkan rival sudah menjadi naluri orang yang cemburu. Walau setelah dipikir-pikir lagi, aku kan tak mengenal sosok yang menjengkelkanku ini.
Jalan paling mudah untuk mengetahuinya adalah menanyakannya langsung padamu. Tapi apa jawabku kalau dirimu balik bertanya mengapa aku bergitu perhatian pada sosok tertentu. Aku harus berhati-hati denganmu, kamu pasti makhluk cerdas hingga terpilih di antara ratusan juta penduduk negeri ini untuk diberi kesempatan belajar di negara lain. Bisa saja, sih kalau aku memaksakannya, tapi hasratku padam saat membayangkan harus bertele-tele dan melipir-melipir agar dirimu tak mengenali maksud terselubungku. Namun aku merasa resiko yang kuhadapi tak sepadan hasilnya. Coba bayangkan, mau ditaruh di mana reputasiku kalau sampai ketahuan cemburu? Aku cewek cool yang mendahulukan pikiran dibandingkan perasaan, jadi tak masuk akal kalau tiba-tiba merasa terganggu oleh kehadiran perempuan lain dalam duniamu.
“Dey, halo??”
Aku terperanjat melihatmu bertanya-tanya mengapa aku tak segera menjawab pesanmu, namun moodku sudah berantakan. Perempuan yang bersahabat denganmu itu sukses menghancurkan hasratku bercengkerama denganmu. Aku ingin mengakhiri perjumpaan ini sebelum diriku membuat kerusakan dengan berkata-kata kasar padamu atau akhirnya benar-benar bertindak bodoh dengan menanyakan perempuan itu.
“Dey, kamu sibuk ya?”
Sambil menghela napas panjang aku menuliskan jawaban bohong, “Maaf, aku harus siap-siap mengajar.”Lalu dengan helaan lebih panjang lagi, “See you, dear. Bye.”
Sebelum kamu sempat menjawab telah kuputuskan sambungan internet dan kumatikan laptop. Lambungku menyampaikan sinyal kegeraman dengan melonjakkan kandungan asamnya. Sinyal itu dikirim ke otakku dan mencetak pesan bahwa saat ini aku ingin makan siang dengan seporsi satai ayam. Hmmm, cemburu ini harus dienyahkan!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar