Senin, 27 Februari 2012

Kindness is Contagious

Suatu saat, kakak temanku pernah meminjami sebuah VCD berjudul Pay It Forward. Film itu diadaptasi dari sebuah novel dengan judul serupa. Kisah bermula dari keinginan seorang anak kecil untuk membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik. Dia membuat proyek Pay It Forward yang intinya seseorang harus berbuat kebaikan pada orang lain dan orang yang mendapat kebaikan itu tak perlu membalas kebaikan si pemberi, namun melanjutkannya dengan berbuat kebaikan pada orang lain, dengan demikian kebaikan itu akan berjalan ke seluruh penjuru dan menjadikan hidup manusia lebih baik.
                Selasa pagi kemarin, aku merasa begitu lega karena salah seorang temanku bisa kembali berbahagia bersama keluarganya. Rekonsiliasi yang indah dan membuatku turut bersuka. Aku tak mengatakan diriku banyak berperan, karena aku hanya mendengarkan, sedikit memberikan pendapat, menyampaikan pemikiran, jadi kebaikan serta ketulusan hati mereka sendirilah yang sebenarnya membuat semua keindahan itu menjadi nyata.
                Saat sore menjelang aku tak menyangka akan tersandung konflik. Salah seorang teman lama mencecarku dengan berbagai hal yang selama ini kuketahui tapi tak pernah menjadi perhatianku. Karena sama-sama high temper, keadaan menjadi panas. Argumen dibalas argumen, fakta disandingkan dengan fakta, dugaan yang terkadang seperti tuduhan dihantam dengan hal serupa. Aku hanya menunggu kapan kami berdua akan meledak dan sudah memprediksi akhir cerita.
                Lalu tanganku yang sedang mengutak-atik mouse mulai menggerakkan cursor ke bawah. Sambil beradu kata mataku terus menelusuri layar, dan cling! Kulihat sebuah email yang berasal dari berbulan lalu, seorang teman mengirimkannya namun tak pernah sempat kubuka. Di tengah kesumpekan perasaan kubuka email itu, lalu mendadak mulutku ternganga. Oh Tuhan! Kubaca ulang dua kali untuk memastikan bahwa aku tak salah lihat.
                Perasaan yang sedang mendidih mendadak surut perlahan. Masih kupandangi tulisan di layar dengan rasa yang berangsur reda. Temanku yang sedang berargumen dengan keras tak lagi meresahkanku, karena sekarang aku tahu bahwa sebenarnya dia memperhatikan dan mengasihiku. Dia sama sepertiku, punya hati yang ingin berdamai dan hidup selaras dengan makhluk lain. Walau kelemahan membalut diri kami dan selalu membuat kami terjatuh berkali-kali dalam kesalahan, namun selalu ada keinginan untuk bangkit kembali dan berharap hidup yang semakin mendekati kebaikan.
                Alih-alih menjawab dengan keras atas argumen yang baru dilayangkannya aku malah berkata pelan, “Sebenarnya kita ini kenapa, ya?”
                Mungkin dia tertegun di tempatnya juga. Mungkin redanya perasaanku menularinya hingga dia turut mengurangi temperamennya dan bersedia bercerita dan mendengarkan. Aku tak terlalu perduli apakah esensi perbincangan kami terselesaikan atau malah tak pernah benar-benar dibicarakan (karena lebih banyak prasangka dan penghakiman di awalnya) yang jelas semua berakhir dengan tenang. Pada akhirnya walau tak jadi sahabat, kami juga bukan musuh.
                Di awal hari ini, sambil menunggu lonceng gereja berdentang menjelang misa Rabu Abu, aku berbaring-baring menatap dua tangkai palma kering yang tak sempat kukumpulkan untuk dibakar menjadi abu yang akan diterakan di dahi kami. Satu demi satu peristiwa yang aku alami kemarin terbayang kembali. Dengan sedikit bantuan yang kuberikan pada seorang teman, tak pernah kuduga kebaikan menemuiku dalam bentuk kelegaan hati karena tak lagi menyimpan ketegangan dengan teman lainnya. Hal itu bukan berasal serta merta dariku, namun dari sebuah email yang kubaca justru saat aku tengah berada di puncak kemarahanku. Kebaikan perasaan ternyata menular padaku, lalu pada temanku, dan pada suamiku, mungkin juga pada teman-temannya (karena apa yang kami rasakan aku yakin juga berpengaruh pada orang di sekitar kami).
                Aku percaya kebaikan itu menular. Kindness is contagious. Tapi lebih dari itu, aku yakin bila kita menanam kebaikan maka orang lain akan melakukan hal sama pada diri kita. Lalu bila setiap orang walau hanya sedikit saja selalu berupaya berbuat hal itu, maka semakin banyaklah yang akan tertular, semakin banyaknya rahmat yang turun sebagai karunia bagi yang sudi melakukannya, lalu dunia akan berubah menjadi tempat yang lebih baik seperti pesan dalam film Pay It Forward.
                Saat dahi diolesi abu, sebenarnya kita diingatkan bahwa kita ini hanya sebutir debu. Penuh kelemahan dan tak berharga bila Dia tak menganggap kita istimewa. Jadi bagaimana mungkin sebutir debu bisa merasa lebih mulia dan berharga dari debu yang lain?
                Bulir bening pertamaku jatuh saat gema lonceng pertama terdengar. Sebuah sentakan muncul dalam batinku. Aku hanya sebutir debu, namun Tuhan begitu mengasihiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar