Aku kembali bersembunyi,
pada jingga semburatmu,
demi sebuah rasa,
menghujam sembilu,
menjelma sehitam abu.
Apa jawabmu bila kisah berlalu,
meratap setiap tepian hari,
mengutuk datangnya mimpi,
atau tercenung pasrah,
memungut asa di ujung kaki.
Gejolak rasa bukan permainan,
mungkin tak akan abadi,
bahkan hilang sebelum esok hari,
namun tetap tersurat di sudut hati,
menanti saat menggurat nyeri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar