Jumat, 10 Februari 2012

Audrey: Jekyll dan Hyde


Hello my sweetest one. Apa kabar?” Kusapa dirimu begitu melihat kelebat namamu pada layar di depanku.
Hello, pretty girl, good morning.”
Mulutku menyunggingkan senyum. Hari mendadak begitu cerah walau mendung menggantung seakan keberatan menyangga titik-titik air di pelukannya.
“Tumben muncul lebih awal?”
“Tak ada kuliah hari ini. Dosennya sedang berkelana entah ke mana.” Jawabmu semenit kemudian.
“Senang, dong.”
“Tentulah, dalam tingkatan apapun mahasiswa tetap mahasiswa, selalu hip kalau dosennya mendadak tak muncul di depan kelas.”
Aku tertawa membayangkan wajah-wajah penuh beban setiap diriku muncul di ambang kelas. Rasanya kamu tak akan seperti para mahasiswa berwajah kecut itu. Senyum bandel yang selalu tersungging di bibirmu akan sanggup meluluhkan dosen mana pun.
Ah, senyum bandel itu, mendadak tanganku bergerak membuka foto-fotomu. Mengapa Tuhan bisa menganugerahimu keindahan itu?
“Jadi kau tak ada kelas juga?” Tanyamu.
“Begitulah.”
“Betapa menyenangkan.”
Hmm…kamu tak tahu emosiku baru saja terkuras habis oleh ratapan Romana, salah satu teman baikku. Bukti kehadirannya masih tampak di sekitar mejaku. Tissue yang menggumpal dan agak basah, karena dipergunakan untuk mengeringkan air mata dan ingus, plastik bekas air mineral dua buah, setengah bungkus kacang pedas, frustasi ternyata juga memicu nafsu mengunyah sesuatu, serta kotak bedak yang tertinggal karena dia bergegas pergi setelah membedaki hidungnya.
Romana bertemu lelaki yang ternyata kukenal juga, dan dengan kisah yang seharum mawar pada awalnya namun berakhir di comberan pada akhirnya, dia menyesal mengapa dirinya bisa masuk got dengan sukarela.
“Ternyata dia belum membusuk di neraka, ya?” Tanyaku sambil geleng kepala. Tentu saja neraka di sini bermakna konotatif. Bisa jadi mewakili PMS alias penyakit menular seksual sebangsa syphilis atau gonorrhea, bisa juga parang seorang suami  yang menemukannya rajin mengendap-endap di seputar istrinya.
“Mengapa kau mengatainya begitu, Drey?” Romana masih berusaha membelanya.
“Ya, karena dia memang seharusnya sudah tenggelam dimakan api. Kau ingat, kan cerita neraka saat kita kecil dulu?”
“Sepertinya aku yang ada di neraka.” Keluh Romana.
Tentu saja Romana merasa seperti itu, dia ditipu habis-habisan oleh bandot sok bersih itu. Rayuan gombal kelas kampungnya ternyata bisa melumerkan hati Romana dan membuntukan otaknya. Bahkan beberapa abad lalu Romana berani menghadapiku dengan kata-kata bijaksana nan arif, “Aku tahu dia melakukan kesalahan, Drey karenanya aku ingin merubahnya menjadi lelaki yang baik. Lelaki yang setia pada tujuannya dan tahu menghormati dirinya sendiri.”
Hah! Betapa naifnya kata-kata itu. Apa Romana mengira dirinya si tudung merah yang bisa lepas dari perut serigala karena pertolongan ibunya? Jelas Romana tak memiliki ibu yang bersedia berkelahi dengan serigala dan lelaki itu sama sekali tak tampak seperti serigala yang menyamar sebagai nenek tua. Jadi tak salah bila tindakannya sudah bisa diramalkan sejak awal akan mengalami kegagalan, hanya kadang rayuan serigala memang benar-benar ada dan tak disangkal lagi sukses menjatuhkan kurbannya.
Di luar tujuan luhur Romana yang berakhir sia-sia, lelaki itu memang tak seperti serigala, namun lebih mirip Jekyll dan Hyde. Manusia dengan dua topeng yang sempurna. Di siang hari makhluk itu menjadi seorang dokter hebat dengan tujuan menyelamatkan manusia. Jas putihnya berkibar-kibar menggambarkan betapa kompeten dan tulusnya dia. Kacamata di ujung hidung menandakan profesionalitasnya. Siapapun akan terpesona oleh kharismanya.
Begitu senja menjelang dan kegelapan memayungi bumi Dr. Jekyll lenyap. Dari balik kegelapan malam muncullah sosok bermantel hitam dengan tudung di kepala yang menyembunyikan wajah bengisnya. Hati lelaki itu dipenuhi gelora kebusukan. Di kegelapan langkahnya berderak seperti kelebat kelelawar menyatroni malam. Kakinya mengarah pada tempat-tempat di mana seorang yang disasarnya berada. Di sanalah tangannya beraksi, mengakhiri hidup dan harapan seseorang akan kasih. Kegelapan dibuat seolah-olah bertabur cahaya. Banyak yang terkecoh dan terhanyut olehnya, hingga seluruh kota berkobar oleh ketakutan akan kemunculannya. Hyde mencuri hidup siapa saja yang terperdaya olehnya.
Kutatap wajah Romana yang masih dipayungi duka. Cintanya dibalas dengan air tuba. Harapannya akan kasih dihempas kenyataan pahit. Siapa bilang ketulusan akan selalu menggerakkan hati seseorang? Lihatlah dia sekarang terkapar dilanda duka.
Cinta yang membawa maut. Mungkin itulah yang dirasakan seorang perempuan saat Hyde berusaha membunuhnya suatu malam.
“Aku hanya ingin membuatnya jadi orang yang benar.”
Aku tak tahu harus tertawa atau meringis geli. Come on, Romana. Dia sudah dewasa dan tahu mana yang baik atau buruk. Kalau umur menjadi ukuran, tentu dia sudah tak termasuk di bawah umur yang membutuhkan bimbingan atau arahan. Bila ilmu pengetahuan dan pengalaman dipakai sebagai standar, dia telah belajar lebih dari cukup untuk mengenali bahwa jalan hidupnya suatu ketika akan menghancurkan. Lalu mengapa ada orang-orang, karena aku tahu tak hanya Romana, yang demikian berminat untuk menyadarkannya, sementara orang itu sendiri tak menganggap ada yang salah dengan jalan hidupnya?
Romana menggeleng sedih, “Teganya dia berbuat seperti itu padaku.”
Orang sering menggunakan topeng demi kebutuhannya. Orang-orang yang perlu menyembunyikan diri karena tak puas akan hidupnya. Orang yang mengejar bayangan semu dengan membuat wajahnya serupa bayangan itu sendiri. Terjebak dalam banyak topeng dan mungkin tak hendak melepaskannya lagi. Bukan karena dia merasa nyaman, namun karena dia tak hendak menengok wajahnya sendiri. Topeng-topeng itu telah menjelma menjadi wajah sesungguhnya. Lalu perlahan jati dirinya akan hilang dalam kabut buatannya sendiri. Ah, betapa mengerikan membayangkan kehilangan akar dan mengambang tak menentu di awang-awang.
Dalam hati aku bertanya-tanya bagaimana seandainya Romana tahu bila lelaki yang dicintainya dengan menggebu-gebu itu sampai sekarang masih terus mengamatiku karena tak berhasil menyatroniku. Aku berhasil mengetahui kapan dia menenggak ramuan rahasia dan merubah dirinya dari seorang terhormat menjadi pemangsa di kegelapan malam.
Sweety, jangan-jangan kau juga sepertinya?” Ujarku tiba-tiba.
“Jekyll dan Hyde?” Tanyamu setelah kuakhiri kisah Romana.
“He-eh.”
“Dengan kata lain, aku bukan diriku yang sekarang suatu waktu?”
“Yup.”
“Pemangsa, begitu?”
Aku membayangkan senyum bandel itu pasti sudah menghiasi bibirmu. Separuh bibir menjungkit ke atas sementara separuhnya tampak malas bergerak.
“Ehm. Yup.”
Lalu aku menduga mata cemerlangmu yang  bak kejora namun mulai dilapisi kaca bening itu akan melontarkan teka teki.
“Bagaimana?” Tuntutku antara ingin tahu dan enggan menerima kenyataan.
“Hahahaha, mungkin. Mengapa tak kau amati saja?”
Hmmm…mendadak aku seperti mengapung di lautan busa sabun.

Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde Merupakan novel yang ditulis oleh Robert Louis Stevenson seorang penulis Skotlandia dan pertama kali dipublikasikan tahun 1886. Istilah Jekyll dan Hyde kemudian juga dipergunakan untuk istilah psikologi untuk kepribadian ganda (split personality) pada diri seseorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar