Aku senang kau meninggalkan pesan untukku, walau aku terlambat membacanya beberapa hari. Kau tahu, kan aku selalu tak bisa dihubungi bila sibuk dengan segala macam kegiatanku bahkan deringan telepon atau bunyi pesan masuk kadang begitu mengganggu konsentrasiku. Tapi bukan berarti dalam jeda kegaduhan yang melahap setiap menitku aku tak mengingatmu.Secuil namamu, sepotong senyummu, segurat tatapanmu, dan selembar desah napasmu setiap bercakap denganku selalu membuatku tersenyum atau menghela napas, tergantung seberapa besar jarak terentang antara kita.
Orang selalu mengukur jarak dengan dua titik tempat yang berjauhan, untuk beberapa hal itu sungguh benar, namun bagiku jarak kita adalah waktu yang terlewat antara percakapan-percakapan, sapaan, dan gelak tawa yang begitu menggairahkan. Saat antara gema suaramu dan dering berikutnya yang selalu kutunggu. Sungguh menakjubkan bagaimana sebuah rangkaian perbincangan bisa begitu dinantikan bukan? Walau bila diingat-ingat, setiap kalinya hanya tentang hal yang remeh-temeh. Jadi apa sebenarnya yang penting tentang hal itu? Jawabannya seterang mentari di siang bolong: hadirmu!
Ah, ya tentang pesanmu. Tahukah dirimu bila hal itu membuatku bertepuk tangan sambil tertawa lebar? Diam-diam hatiku bersorak, karena sedang berada di tempat umum tentulah aku tak bisa berteriak, dan bilang, “Yes! Dia merindukanku!”
Jaman sekarang bukan lagi hal tabu bagi perempuan untuk memperlihatkan perasaan, hanya saja rasanya tak tepat mengumbar isi hati untuk sebuah relasi yang tak terdefinisikan awalnya namun nyata dalam perjalanannya, layaknya melukis di atas kabut yang sewaktu-waktu akan lenyap diterbangkan angin. Bukankah kabut sungguh analogi yang tepat bagi kehadiranmu di tengah hari-hariku? Muncul dan menghilang tanpa bisa diramalkan hanya bergantung pada kepekaan menilai seberapa besar angin bertiup dan seberapa besar kemungkinan bulir-bulir air terkumpul di puncak-puncak bukit yang mengepung kotaku.
Namun bukan berarti aku akan menanggapi rasa ini secara mendalam, melankolis, apalagi mendayu-dayu, dan membebani punggung hati lalu meremukkannya hingga memicu lelehan air di sudut-sudut mataku. Terlalu terikat perasaan akan membuat hubungan menjadi terasa membosankan karena akan muncul tuntutan-tuntutan, harapan terlalu muluk, khayalan membabi-buta, kemudian disusul himbauan, aturan, larangan, bahkan paksaan.
“Jangan berharap terlalu banyak!” pintaku suatu ketika padamu. Pastilah tidak persis demikian yang kukatakan, tapi begitulah intinya. “Katakan saja yang perlu dikatakan dan biarkan waktu menyelesaikan selebihnya.”
“Tak masalah,” jawabmu. Batinku, kamu pasti senang sekali tak harus terbebani untuk bersikap yang sebenarnya bukan sikapmu. Bukannya aku sok tahu tentang isi hatimu atau tingkah seperti apa yang membuatmu nyaman, namun aku harus menerima bila lelaki tak suka ikatan yang membelenggu, bila tak demikian mana mungkin aku menerima curhatan kaum Adam tentang bagaimana sulitnya untuk mengerti pacar-pacar mereka. Aku belajar, Bung karenanya aku tahu bagaimana menghadapimu.
Aku juga sudah berhenti menjadi perempuan yang terlalu menuruti perasaan serta mengabaikan rasio. Aku bahkan cenderung mendahulukan akal daripada hati. Aku tak mempermasalahkan apakah hatimu hanya untukku atau kau bagi dengan beberapa gelintir hati lagi. Ketertarikan itu tak bisa ditahan atau dipaksakan. Bila hasrat tak lagi tersisa, tak ada hal apapun bisa menghalanginya untuk pergi, sebaliknya bila minat sedang membara tak ada bendungan apapun dapat mencegah luapannya. Hanya saja, kadang kita begitu gembira diluapi perasaan tapi tak terima bila suatu ketika hal itu perlahan surut.
“Masalah perasaan, kan tak bisa dinalar.” Itu selalu kata beberapa temanku, namun bagiku hal itu keliru. Perasaan seperti halnya pikiran harus bisa dikendalikan. Buatlah bendungan untuk mencegahnya meluap di saat melimpah, tapi juga tetap mengalir saat kegersangan melanda. Memang hanya akan mengalir perlahan dan tenang, namun akan berlangsung terus sepanjang musim.
Hey, bukankah demikian perjalanan kita? Perlahan, tak menggebu, kadang cenderung hanya menyisakan tetes-tetes kecil, namun tak pernah benar-benar berhenti mengalir. Tak spektakuler namun kelihatannya akan bertahan didera ujian waktu yang kadang bisa kejam menggerogoti.
Sekarang pun aku tersenyum membayangkan wajahmu, ingin kumenyapa melalui mimpimu, “Halo, apakah kau menikmati harimu? Senangkah dirimu melewati musim yang menggigilkan ini? Aku juga kedinginan didera hujan, apalagi angin yang bertiup mengharuskanku memakai syal dan jaket secara bersamaan.”
Lalu kamu pasti akan menjawab, “Hai selamat malam.” Ah, betapa sopannya dirimu selalu, “Aku baik-baik saja. Sibuk seperti biasa, tapi aku selalu senang dengan sapaanmu.”
Dan kita akan bicara satu dua hal, menghiasinya dengan guyonan, berbagi cerita, lalu mengucap perpisahan. Hatiku akan dihiasi selaput kemuraman setiap selesai mengucapkannya, tapi semua awal akan diikuti dengan akhir. Harapan akan sesuatu yang lebih indah menguatkan hati dan menghangatkan jiwaku. Esok atau lusa kau akan kembali hadir di dekatku untuk menorehkan lebih banyak titik-titik berwarna pada jalan hidupku.
Lihatlah dengan hanya menerima pesanmu saja diriku telah mereka-reka kisah, sungguh menggelikan, tapi kamu terlalu manis untuk dilewatkan, bahkan dalam angan-angan. Hey, sudahkah kukatakan betapa manisnya dirimu? Bila belum sekaranglah saatnya kumengakuinya, tapi harap jangan terlalu berbangga karena aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya. Mungkin orang lain pun telah mengatakan hal yang sama.
Oh, detik ini berjalan demikian cepat sebelum aku sempat menumpahkan semua yang kupikirkan tentangmu, namun tak mengapa, aku akan membalas pesanmu. Kau ingin tahu apa isinya? Bukalah saat dirimu terjaga di awal fajar, aku percaya bibirmu akan merekahkan secercah senyuman saat membacanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar