Selasa, 06 Desember 2011

Femme Fatale


Benda merah menyala itu terus berdering.
“Apalagi?”
“Segampang itu kau memutuskan cinta kita?”
Mulutnya mendesis tak sabar.
“Kau membutuhkan alasan yang logis dan aku memberikannya.”
“Ah, cinta tak memakai logika.”
Wajahnya menoleh sebentar, mata kirinya mengedip cepat.
“Dulu kau bilang perempuan terlalu memakai perasaan, setelah aku berubah logis kau mengeluh juga.”
“Yah, maksudku…”
Dipencetnya tombol merah. Percakapan terhenti.
Wajah di depannya mengembangkan senyum.
“Makan malam jam tujuh?”
“Yup. Di tempat biasa.”
Siana tersenyum. Lelaki itu mendaratkan ciuman di keningnya sebelum melambai pergi.



Hubungan Jarak Jauh: Aduuuhhhh...!!!


Dua minggu lalu seorang temanku menceritakan tentang hubungannya yang penuh liku. Usut punya usut ternyata kekasihnya tak tinggal sekota dengannya. Aku tertawa mendengarnya dan menyahut dengan santai, “Been there, done there!” Bukannya menimpali dengan tawa juga, malah dia membelalakkan mata, “Mbak sudah pernah?”
                Perasaan seumur hidupku (sebelum menikah) aku selalu melakukan long distance relationship. Mungkin karena kebetulan orang yang cocok denganku tempatnya berjauhan, bisa juga karena aku secara naluri menyukai sesuatu yang terpisah sehingga masih bisa punya waktu untuk diri sendiri dan segala kesibukan yang ada. Maklum, aku orang yang hanya bisa fokus pada satu hal, kebetulan saat itu aku bekerja sambil menyelesaikan studi. Bisa dibayangkan betapa sempitnya waktu untuk kuliah di pagi sampai siang hari dan bekerja sore sampai menjelang tengah malam. Mana ada waktu untuk bermuka-muka dengan pacar tercinta. Walau kadang muncul juga keinginan untuk menghabiskan malam Minggu bersama sambil bergandengan tangan atau makan malam sambil  bertatapan. Tapi setiap kali pula aku menertawakannya sambil menggerutu dalam hati, “What a stupid idea! Aku bukan tipe perempuan yang minta diapeli setiap malam Minggu untuk sekedar berpandang-pandangan.”
                “Jadi memang seperti ini, ya bentuk hubungan jarak jauh?” Tanyanya dengan rasa takjub yang nyata.
                Aku angkat bahu sambil melanjutkan ceritaku tentang plus dan minusnya. Sampai suatu ketika dia mengeluh panjang, “Aduuhhhh!”
                Keluhan itu sungguh bisa dimaklumi, temanku ini tak pernah sekali pun melakukan hubungan jarak jauh. Rasanya sungguh tak normal tak bisa bertemu setiap kali menginginkannya. Kadang telepon saja tak bersambut, entahlah apa yang sedang dilakukan pacarnya. Lelaki, kan punya banyak kesibukan untuk dilakukan: bekerja atau kuliah, jalan-jalan dengan teman, duduk mengobrol dengan teman, melakukan hobby dengan teman, teman…..teman….dan teman, baru kemudian, “Oh, ya ternyata aku punya pacar. Di mana dia, ya?” Saat telepon tersambung dan si perempuan sudah jengkel menggunung, bukan asyik masyuk yang terjadi namun saling menyalahkan. “Kamu memang tak perhatian, sudah sebulan baru ingat keberadaanku!” Teriak si perempuan. Lelakinya pasti membela diri,” Aku sibuuuuk. Banyak hal harus kulakukan, tapi bukan berarti aku tak ingat kamu!” Sebetulnya ini Kalimat lain dari, “Sekarang kebetulan aku mengingatmu, makanya telepon.”
                Sebetulnya definisi ingat ini juga menjadi penyebab kericuhan. Bagi seorang perempuan, ingat berarti selalu terfokus pada pasangannya. Apapun yang dilakukan selalu dikaitkan dengan kekasihnya. Benarlah kata lagu: Mau makan, ingat kamu. Mau tidur, ingat kamu. Mimpi saja selalu tentang kamu. Dalam catatan sebelumnya pernah aku singgung tentang hal itu. Ibaratnya pusat dunia ada pada pasangannya, karena kecenderungan perempuan untuk selalu “attached” pada orang yang dikasihinya. Sebaliknya bagi lelaki kelihatannya definisi ingat berkisar pada “Aku tahu kamu ada.” Atau tak mengkhianati kekasihnya dengan berpindah ke lain hati. Bolehlah teasing alias menggoda-goda sedikit, beramah-tamah dengan perempuan yang kelihatannya tertarik dengannya, atau memamerkan senyum yang paten pada satu dua orang yang mengaguminya. Satu hal pasti: “Aku, kan hanya berteman, bukan mau meninggalkan kamu.” Bahkan ada lelaki yang tak terlalu memikirkan kekasihnya karena banyak kesibukan yang harus dijalaninya. Tak usahlah berharap berangkat tidur dan terjaga dengan bayangan kita di angannya. Itu tak mungkin, bahkan agak konyol bila berharap demikian.
                Ketelatenan perempuan memperhatikan detail juga membuat hubungan kadang bermasalah. Coba tanyakan perjalanan cinta sebuah pasangan. Si perempuan, akan menyampaikan segala cerita sampai ke titik dan koma percakapan dengan kekasihnya sejak awal mula kisah. Sementara para lelaki setiap kali hanya menyampaikan garis besarnya. Contohnya adalah ketika ditanya di mana mereka bertemu pertama kali. Perempuan pasti dapat menceritakakan  dengan rinci bagaimana pandangan mereka bertemu untuk pertama kalinya, getarannya, sampai bagaimana degup jantungnya yang bertalu-talu saat tangan mereka bersentuhan. Sedang lelakinya hanya akan berkata: “Kami ketemu di rumah seorang teman.” Lalu? “Ya, begitulah. Akhirnya kami pacaran.” Hanya begitu? “Lalu saya harus cerita apalagi?” Yahh….
                Memang penilaian ini secara general dengan perkecualian pada beberapa orang. Memang ada juga pria-pria manis yang begitu memperhatikan kekasihnya. Mereka sering menelepon, atau paling tidak chatting dengan webcam kalau perlu, dan selalu menuliskan kata-kata manis melalui SMS. Ya, walaupun yang semacam ini satu di antara seratus ribu.
                Lalu datang khabar itu. Hubungan jarak-jauh temanku sudah berakhir. Tak jelas betul apa sebabnya. Seperti kata para artis dalam infotainment; “Hanya kami berdua yang tahu.” Ya, sudahlah. Mungkin tak setiap orang bisa menjalani hubungan yang membutuhkan komitmen, ketelatenan, ketabahan, dan kesetiaan tingkat tinggi seperti ini. Bila berhasil lolos pastilah perasaan keduanya benar-benar tahan banting dan telah teruji. Seperti perkataan temanku yang sedang berada jauh di seberang lautan: “Ibarat sebuah logam mulia, perlu dimurnikan dengan api sehingga memperlihatkan kilau kemurniannya.” Atau seperti berlian yang harus digosok cukup lama agar memperlihatkan keindahannya. Demikian juga relasi yang melalui onak dan duri pasti akan membuat sebuah hubungan menjadi kuat karena telah teruji.
                Saat aku terjaga pagi ini, Max sedang memandang-mandangiku. Kebiasaan yang dilakukannya ketika akan membicarakan sesuatu yang dirasa cukup mengundang diskusi panjang tapi tak hendak membuatku terjaga sebelum waktunya. Maka setelah meloloskan sebuah kuap aku bertanya, “Ada apa?” Dia membenahi bantalnya sambil menceritakan kemungkinan untuk apply pada sebuah lowongan pekerjaan dalam organisasi internasional yang membutuhkan tenaga seperti kualifikasinya di Afrika Timur. “Mereka butuh yang bisa bahasa Kiswahili. Apalagi aku tahu tempatnya dengan baik.” Ditambahkannya pula berapa Euro salary yang akan diperolehnya selama 3 tahun kontrak kerja dengan mereka.
                Aku mengernyitkan dahi sambil setengah merenung. “Hmm, long distance lagi?” Dia menatapku tanpa kata. “Siapa takut!”

Ketika Penampilan Dianggap Penting

Salah satu hal yang aku pelajari ketika studi di Jogja adalah sikap hidup sederhana. Menurut interpretasiku sikap sederhana  adalah jangan gegabah menilai penampilan atau perilaku orang, harus lembah manah (rendah hati), jangan bersikap sok memandang orang lain, karena bila salah tanggap dan tindakan bisa membuat diri sendiri malu.
                Tak perlu jauh-jauh mencari contoh, para Profesor dan cerdik cendikia di fakultas-fakultas kampus biru kebanyakan begitu sederhana. Walau buku hasil karyanya sudah memenuhi lemari para penggemar sastra, beliau tetap naik motor butut jaman baheula. Walau mengajar sampai negeri Myanmar (di Myanmar saja namanya terkenal apalagi di negara-negara maju) tetap saja tindak (jalan kaki) atau dibonceng putranya kalau menuju kampus. Biarpun meraih gelar Doktor dengan gilang-gemilang di usia muda namun tetap saja makan siang di warung sebelah fakultas, berkumpul dengan para mahasiswa untuk menyantap nasi pecel atau gorengan tanpa ewuh pakewuh (tanpa ragu dan canggung). Bukan berarti mereka tak punya kendaraan yang mentereng untuk pamer, atau makan di kantin yang lebih representative, namun lebih kepada gaya hidup sederhana itu.
                Sebaliknya, ketika aku terjun ke masyarakat, ada kecenderungan yang berbalikan. Bila ke mana-mana berjalan kaki, protes dilayangkan mendadak. “Koq Ibu jalan kaki saja, sih? Apa Bapak tak mau berkendara sama-sama?” Jelas ini tak benar, aku memang lebih suka berjalan kaki karena lebih santai dan bisa sambil merenung-renung. Bila tak terlalu berdandan lengkap, muncul ala kadarnya asal rapi tetapi tetap bersandal jepit, komentar muncul: “Ibu, nih sederhana sekali. Seperti bukan pegawai (istilah untuk orang yang bekerja) saja.” Lho, apa yang salah dengan penampilan biasa-biasa saja? Kan tak ada undang-undang yang mengharuskan tampil menor bagi pegawai? Atau kalau terlihat keluyuran ke kebun dan santai melihat suami mengangkuti pupuk mendadak banyak yang berteriak, “Ibuuu, jangan bekerja di kebun.” Ah, saya kan memang tak bekerja, hanya keluyuran sambil menunggui suami dan memotret segala macam di sana. Dan Max akan diteriaki, “Oleee, Pak. Mengapa dijunjung sendiri pupuk-pupuk itu, masa tidak bisa menyuruh orang lain?” Bisa juga, tapi namanya tak lagi bekerja di kebun, tapi mempekerjakan orang di kebun dan Max paling anti menjadi mandor tanpa tahu mengerjakannya sendiri.
                Dulu, saat masih mahasiswa, aku juga belajar untuk tidak membuka mulut sembarangan  saat berdiskusi atau bercakap dengan seseorang, bahkan di tempat paling santai sekali pun seperti kantin fakultas yang penuh anak gimbal dan mungkin belum sempat mandi sebelum berangkat ke kampus. Takutnya kita bertemu seseorang yang sangat biasa tetapi ternyata “tidak biasa” Kalau salah omong bisa gawat sekali, malunya tak ketulungan. Seperti suatu hari saat kami berombongan makan siang sepulang kuliah. Kebetulan banyak sekali textbook yang baru kami beli dan sebagian lagi hasil fotocopy, saking banyaknya sampai dijinjing dan diikat tali plastic agar gampang membawanya. Saat itulah ada dua orang bapak berkaus oblong mengamati kami. Salah seorang yang murah senyum dan ramah bertanya kami kuliah di jurusan apa? Aku menjawab sambil tersenyum juga. “Sudah semester berapa?” Tanyanya lebih lanjut sambil mengamati salah satu buku. Ah, masih dua kurang dua lagi, kataku sambil menyendok nasi pecel yang sudah dihantarkan penjualnya. Lalu percakapan menjadi panjang dan menarik minat teman-teman yang lain. Setelah sekian lama akhirnya kami ketahui bahwa mereka berdua ahli seni rupa yang baru pulang dari Lucern Swiss dan akan mulai tinggal dan mengajar di Indonesia setelah sekian lama tinggal dan mengajar di negeri itu. Untunglah aku tak sok omong tentang budaya yang kebetulan buku-bukunya aku tenteng, karena tokoh yang kutemui akhirnya justru membagikan ilmunya dengan cara yang sangat ramah dan menyenangkan.
                Lalu aku bertemu dengan orang-orang yang suka sekali bicara panjang lebar dan menganggap diri tahu segalanya. Tanpa bertanya atau mendengar dia bicara segala macam teori dan isi otaknya (yang ternyata biasa-biasa saja) dengan sikap seolah orang lain tak pernah mengetahuinya. Sikap paling tahu, paling benar, paling paham, kadang jadi menjengkelkan bagi orang lain. Susahnya, aku biasanya melihat dulu kondisi sebelum memutuskan untuk berlaku seperti apa terhadap seseorang. Ajaran orangtua yang selalu bilang, “Aja kemoncolen (jangan berlebihan/menonjol/sok)” Tak bisa dihilangkan. Sikap diam dan tersenyum-senyum menanggapi omongan orang dianggap sebagai tak tahu, tak mengerti, tak paham, bahkan pertanyaan “Apa, ya maksudnya?” Bukan selalu karena tak tahu, kadang sekedar konfirmasi atau minta penjelasan karena mungkin mempunyai persepsi yang berbeda, namun kemudian dianggap benar-benar bego.
                Sikap tak boleh menonjolkan diri itu juga berdampak ketika berhadapan dengan kultur yang berbeda. Sebuah kelemahan yang kadang menjengkelkan, seperti kebiasaan berkata: “Ya saya tahu sedikitlah kalau masalah ini.” Dalam persepsi orang lain dianggap memang hanya tahu sedikit. Sementara maksudnya, “Saya tahu (banyak) masalah ini.” Sikap diam yang berarti mengukur pengetahuan lawan bicara dianggap tak tahu dan butuh diceramahi. Tak heran orang yang lebih banyak diam dan tersenyum-senyum kadang harus berhadapan dengan ceramah yang membosankan dari lawan bicaranya.
                Bila sudah begitu, aku sendirilah yang salah. Mengapa tak sedikit ngotot dan berterus terang, mengapa tak sedikit talkative sehingga dianggap (hanya dianggap) pintar, mengapa tak sedikit “moncol” sehingga diperhitungkan, mengapa…mengapa…oh mengapa?
Di jaman yang sok ini, haruskah peribahasa Diam itu Emas atau Seperti ilmu padi makin berisi makin merunduk, harus lenyap diganti dengan saling pamer untuk mendapat penghargaan? Ah, entahlah, tergantung kebutuhan dan kebiasaan masing-masing sajalah.

(Saat sedang jengkel karena bertemu dengan orang yang sok tapi tak bisa bersikap sok juga)

Grebeg: Endhok Abang dan Dhawet


Suatu hari ada sebuah artikel di Baltyra yang menarik perhatianku tentang Jogja. Kota yang tak pernah akan hilang dari hatiku. Tak hanya artikelnya dan foto-fotonya yang menarik, tapi komentar dari Mbak Probo Harjanti yang menyinggung tentang Sekaten yang biasanya diadakan sebelum Grebeg Maulud membuat kenanganku melayang pada masa kecil.
                Setiap pagi saat grebeg aku dan Eyang Kakung akan berjalan kaki dari Gamelan Kidul, rumah kami kala itu, ke Keben, begitu biasanya keraton bagian tengah disebut. Buat anak berumur tiga sampai empat tahun perjalanan itu cukup jauh, sehingga biasanya bila telah mendekati Pasar Magangan aku akan minta gendong mburi (digendong di punggung) pada Yang Kung. “Mung kari cedhak, Mbok tindak dhewe (Sudah dekat, coba jalan sendiri).” Sering beliau menggerutu, tapi toh akan tetap menggendongku sampai pertigaan menuju keraton, di bawah pohon beringin. “Wis tekan, gek tindak dhewe (Sudah sampai, jalan sendiri, ya).” Dan aku pun berjalan dengan tangan digandeng olehnya.
                Bila telah sampai di Keben, Yang Kung akan mencari posisi yang bagus. Ini agak sulit juga mengingat banyak sekali orang yang ingin menonton acara itu. Bersesakanlah mereka dengan para pedagang yang menjajakan berbagai macam dagangan. Tapi senior citizen seperti Eyang Kakung mungkin selalu diwelasi sama orang, jadi aku selalu dapat tempat cukup bagus untuk menyaksikan gunungan yang diletakkan di tengah bangunan bangsal keraton.
                Gunungan ini terbuat dari beras, sayur-mayur yang dibungkus dengan janur kuning, dan dipuncaknya ada hiasan telur, lombok merah, dan banyak janur. Gunungan ini ditaruh di atas tandu yang nantinya akan dipikul oleh para abdi dalem (pembantu Sultan) menuju Masjid Agung untuk diperebutkan khalayak.
                Setelah para prajurit keraton memainkan alat musiknya, aku akan mengawasi acara parade dengan sangat antusias. Setiap kali barisan berseragam aneka warna itu lewat di depanku aku akan menggoncang tangan Eyang Kakung yang menggandengku. “Iki prajurit apa, Yang? (Ini prajurit apa, Kek?)” Lalu dia akan menjawab, “Lombok Abang (Prajurit Lombok Merah).” Kemudian, “Nek iki, Yang? (Kalau ini Kek?)” Setengah menggerutu dia akan menjawab,”Jogokaryan.” Sejujurnya aku tak ingat betul nama-nama prajurit aneka busana itu, hanya perasaan ditemani dan diperhatikan itu menyenangkan buat diriku sebagai anak kecil.
                Setelah para prajurit selesai berparade dan gunungan dibawa ke Masjid Agung, acara secara resmi bubar. Tapi bubarnya acara itu menjadi permulaan kegembiraanku. Biasanya Mami dan para sepupuku yang datang lebih siang akan menghampiri kami dan bergabung. Saat itulah aku akan meminta Mami membelikanku endhog abang atau telur yang diwarnai dengan sumba warna merah. Telur itu ditusuk dengan bambu kecil dan dihias dengan kertas warna-warni. Diujungnya akan digulung dengan kertas yang digunting kecil-kecil seperti hiasan ondel-ondel, sementara ujung lainnya akan ditusukkan pada batang pisang. Ya, cara menjual telur itu dengan ditancapkan pada batang pisang. Aku akan memilih telur dengan hiasan terbaik menurutku, kadang aku meminta dua tusuk, tapi Mami selalu melarang, “Siji wae. Sijine dinggo dik Rien (Satu saja. Satunya buat dik Rien).” Katanya menunjuk adikku yang ada di gendongan Praptinah, salah seorang saudaraku yang menjadi nanny-nya.
                Setelah endhog abang, aku yang mulai kehausan biasanya menuju penjual dhawet atau cendol yang banyak terdapat saat acara itu. Dhawet di masa kecilku sungguh berbeda menurutku dengan dhawet jaman sekarang. Para pedagang itu menjajakan dhawetnya dalam pengaron (periuk dari tanah liat). Dhawet itu kemungkinan terbuat dari tepung kanji karena rasanya lebih kenyal daripada dhawet  sekarang yang terbuat dari tepung beras atau tepung hungkwe. Sebenarnya Budhe Supirah, kakak perempuan bapakku yang momong diriku sejak usia empat hari, tak setuju aku jajan dhawet. “Nganggo banyu mentah kuwi. Marakke watuk! (Pakai air mentah. Menyebabkan batuk)” Memang, sih untuk campuran dhawet dan santannya pasti mereka memakai air mentah. Beberapa pendapat mengatakan air yang sudah direbus kurang segar rasanya. Tapi aku begitu menginginkannya sehingga keberatan itu bisa dianulir satu hari itu saja dalam setahun.
                Dhawet disajikan dalam mangkuk-mangkuk porselen kecil bergambar bunga merah seperti mangkuk yang dipakai saat kita menyantap soto kudus jaman sekarang. Sendoknya menggunakan sendok bebek dari seng. Gula yang digunakan untuk pemanis menggunakan gula jawa yang harum baunya yang biasa disebut juruh. Semangkuk rasanya masih kurang, tapi Mami selalu melarang untuk jajan berlebihan.
                Sebagai additional gift karena aku tak nakal selama acara (kecuali minta gendong mburi tadi), Mami akan mengijinkan seplastik arumanis (cotton candy) untuk dibawa pulang. Selebihnya, seperti sate gajih (sate lemak) yang baunya menggoda perut dan mainan: kitiran (baling-baling) dari kertas, angkrek, kacamata dari kertas minyak merah yang dilekatkan pada bulatan bambu, juga plembungan (balon) amatlah terlarang. “Kuwi dolanane cah cilik (Itu mainan anak kecil).” Ujar beliau. Lho apa aku bukan anak kecil? Rasanya saat itu aku memang tak mau dianggap anak kecil lagi. Dik Rienlah yang masih kecil, aku sudah Cah Gedhe (anak besar).
                Saat mentari mulai mencapai ubun-ubun, kami beranjak pulang dengan menggunakan payung hitam besar cap kapal untuk menghalangi panas yang mulai menyengat. Eyang Kakung tak suka berpayung. Beliau lebih mempercayai peci hitamnya untuk menghindarkan diri dari panas. Dan kami pun melebur dengan aliran orang-orang yang bergerak menuju berbagai arah meninggalkan halaman Keben yang berpasir hitam keabuan.


Rabu, 30 November 2011

Kisah Nawang Wulan


Entah mengapa aku mendadak teringat kisah ini. Dongengan yang sering diceritakan Mamiku saat kami masih kecil. Cerita mengharu biru tentang dua makhluk yang berasal dari dunia yang berbeda namun karena kecerdikan atau justru keculasan bisa menjalin kisah mengalahkan kekuatan alam semesta yang telah mengatur dengan sempurna setiap makhluk berdasarkan jenisnya.
                Cerita bermula saat Jaka Tarub, seorang lelaki desa yang berprofesi sebagai seorang pemburu, duduk beristirahat di pinggir sungai. Kesunyian siang dengan hembusan angin sepoi-sepoi mengelusi daun-daun bambu tiba-tiba pecah oleh pekikan renyah penuh cerah ceria. Hati lelaki Jaka Tarub semakin penuh keinginan setelah mendengar suara-suara yang memasuki gendang telinganya adalah riuh rendah berjenis feminine. Ah, hati bujangan mana yang tak tertarik pada suara lawan jenisnya yang tengah bersendau gurau di dalam hutan?
                Saat mengendap-endap dan menyembulkan kepalanya di atas sebuah batu, tampaklah tubuh-tubuh elok tengah telanjang mandi di bawah pancuran. Para perempuan itu sedemikian cantik mempesona hingga mulut Jaka Tarub hanya bisa ternganga dan sejenak tak bisa berpikir. Hasrat lelakinya menggelegak dan pikirannya bergerak cepat, “Aku harus memilikinya.” Tapi yang mana? “Tentu saja yang tercantik, kalau bisa juga paling cerdas.” Caranya? “Mengapa tak kusembunyikan saja pakaian salah satu di antara mereka?” Gumamnya. “Tentu saja aku harus menyelidiki dulu mana yang tercantik, termanja, dan tercerdas itu meletakkan bajunya.” Alasannya? “Yaaahh…mana mungkin dia berani keluar dari kali tanpa baju, walau sebenarnya aku telah melihat mereka tanpa pakaian.”
                Setelah melalui pengamatan yang cermat, Jaka Tarub mulai mengambil pakaian salah seorang yang diperkirakan sesuai dengan kriterianya. Dan benar saja, saat acara mandi telah selesai, para gadis, yang ternyata bidadari itu, berpakaian dan mulai terbang melayang meninggalkan kali, tinggallah seorang yang kelimpungan mencari pakaiannya yang hilang. Saat itulah Jaka Tarub keluar dengan gaya seorang pemenang walau mengubah rautnya penuh prihatin. “Mbakyu cari apa?” Tanyanya mengejutkan sang dewi yang langsung terjun kembali ke kali.
                “Baju saya hilang, saya tak dapat pulang.” Air mulai mengembang di mata.
                “Bisa saya bantu mencari?”
                “Ah, tentu.” Ujarnya penuh harap.
                Sayang setelah sekian lama tak didapat juga. Akhirnya mereka menyerah dan Sang jejaka menyarankan pada perempuan cantik molek itu untuk mengenakan kain miliknya dan diajak ke kampung untuk menikah dengannya.
                Singkat cerita mereka menikah dan punya anak perempuan bernama Nawangsih. Selama menikah terjadi keajaiban, padi di lumbung mereka tak pernah habis. Jaka Tarub curiga dan bertanya pada istrinya hal itu. Si Nawang Wulan hanya menjawab: “Jangan pernah membuka tutup periuk selama aku memasak.” Namun rasa ingin tahu lelakinya mengalahkan larangan itu. Saat istrinya lengah dibukanya tutup periuk dan tampaklah bila sang istri memasak hanya sehelai padi setiap kalinya. Tak heran padi itu tak pernah habis.

                Nawang Wulan tak kecewa dengan tindakan suaminya, dia memulai hidup biasa dengan menumbuk padi sebagaimana perempuan lainnya. Namun di sinilah awal petaka terjadi. Padi yang habis dengan segera menyebabkan baju surgawinya yang disembunyikan di dalam timbunan padi itu diketemukannya suatu hari. Ketika kebenaran itu didapatnya, dia tahu keseluruhan kisahnya.
                Tanpa memperhatikan tangis anak dan permohonan suaminya, dikenakannya baju itu dan mulai terbang ke langit dengan pesan, “Bila anakku menangis butuh disusui, taruhlah di tempat yang tinggi di mana aku bisa menemuinya.”
                Akhir kisah ini selalu membuat hati kanak-kanakku menjadi sendu. Mengapa kebahagiaan harus berakhir dengan perpisahan? Mengapa mereka tidak live happily ever after seperti kisah dari seberang benua? Penuh kesedihan aku akan menanyakan hal itu pada mamiku. Dia tak menjelaskannya dengan menyeluruh hanya berkata memang demikianlah kisahnya.
                Saat aku mulai menulis note ini aku mencoba melihatnya dari pemahamanku sekarang. Satu hal yang muncul pertama adalah kebohongan tak akan bisa abadi, suatu saat kebenaran akan muncul. Jaka Tarub berbuat seolah-olah dia menolong Nawang Wulan padahal sejak awal dia sudah menginginkan perempuan itu. Dia menyembunyikan kebenaran, yaitu mencuri pakaiannya, dan berbuat seolah apa yang dilakukannya benar. Alam memunculkan kebenaran itu karena kesalahannya sendiri yang sok ingin tahu, hingga ditemukanlah pakaian itu oleh pemiliknya.
Kedua, bercinta membutuhkan ketulusan, bukan kecurangan bertudung seolah-olah kebenaran. Sejak awal kisah setiap orang sudah disodori fakta bahwa Jaka Tarub berbuat curang walau ada perkataan nothing fair in love and war alias tak ada yang adil dalam cinta dan perang, namun bila benar-benar terjadi pencideraan dalam percintaan suatu saat akan muncul akibatnya. Minimal kekecewaan dari salah satu pihak yang merasa dikhianati, maksimalnya adalah terputusnya hubungan itu yang akan menyakiti kedua belah pihak.
Ketiga, sesuatu yang berasal dari dunia berbeda tak akan bisa bersatu. Bila dipaksakan akan muncul retak yang suatu ketika pecah dan membuat semuanya berkeping-keping. Mengapa? Sebab they’re not meant to be. Dua dunia itu tak selalu bangsa yang berlainan, namun bisa jadi pandangan hidup yang tak sama, atau pilihan hidup yang berbeda. Kesia-siaan tak akan muncul di awal kisah, hanya haru biru dan kekecewaan di akhirlah yang akan tampak. Sesuatu yang berasal dari dunia para bidadari berjubah putih tak akan berjalan selaras dengan manusia wadag seperti Jaka Tarub. Mereka dibentuk berbeda untuk menjalani takdirnya masing-masing. Kehendak untuk melanggar batas-batas itu walau mungkin terjadi bukanlah bagian hidup yang bisa dijalani tanpa kerinduan untuk kembali ke asal mulanya. Berdirilah di tempat masing-masing dan saling menghormati serta menyadari keberadaan setiap pribadi mungkin pesan yang ingin disampaikan dalam kisah ini.
Cerita-cerita masa kecil ini membuat diriku semakin merindukan Mamiku. Pencerita sederhana yang tak pernah menjelaskan maksud di balik kisah-kisah itu selain menceritakan sebagaimana adanya. Mungkin tampak sepertinya dia tak cerdas, namun sekarang aku tahu bahwa dia mendorong anak-anaknya untuk memaknai cerita-cerita itu seturut pengalaman hidupnya masing-masing. Dia tetap menyediakan kertas putih batin kami dan mempersilahkan kami mengisinya sendiri tanpa campur tangan dan pretensi.
I love you, Mom. You’re the best teacher I ever had.