Senin, 27 Februari 2012

Audrey: Tamara Ramia Something

Dirimu pasti tengah terlelap di sana, aku juga terbangun tanpa sengaja. Suara angin bercampur derai hujan ini membuatku ketakutan. Bulan lalu angin membuat beberapa pohon di kota ini tumbang, menimbulkan berbagai kerusakan, dan tentu saja aliran listrik jadi terhenti selama beberapa jam. Aku tak suka kegelapan, karenanya aku menyediakan emergency lamp di sebelahku, menyalakan laptop, dan mencoba berkirim kabar ini padamu.
                Selain angin dan hujan, ternyata ada hal lain yang bisa menggerus sesuatu. Katakan saja, seorang perempuan yang lebih tua sedikit dariku, berwajah sok innocent, bertutur kalem seakan tak berdaya tapi pilihan katanya setajam duri, dan bertampang lumayan. Well, sebenarnya aku tak suka mengatakan tentang penampilan, terlalu dangkal dan jelas aku lebih cerdas dari hanya sekedar memandang kulit luar, tetapi kali ini menjadi perkecualian karena dia menggunakan penampilannya, serta sedikit otak yang dimilikinya untuk dimanfaatkan menggerus perasaan orang di sekitarnya.
                Istilah menggerus ini pasti membuatmu mengernyitkan kening, kan? Tapi aku sungguh-sungguh memaksudkannya demikian, karena hasil perkataan dan perbuatan perempuan ini bisa menimbulkan kerusakan bagi orang lain demi kepentingannya. Tak mirip lahar dingin Gunung Merapi yang menerjang apa saja secara tiba-tiba, atau  air hujan di hutan yang mulai gundul di bagian selatan kotaku sehingga menyebabkan longsor yang menelan beberapa puluh nyawa. Tingkahnya lebih serupa dengan air yang meresap ke dinding rumahmu secara perlahan, tak menimbulkan kewaspadaan, namun jelas menandai kehadirannya dengan noda-noda jelek yang merusak warna cat. Sungguh menyebalkan tapi tak dapat dicegah sebelumnya.
                Sebelum lupa, kami memanggilnya dengan Tamara. Nama yang seharusnya mewakili kecantikan nan perkasa seperti kisahnya. Belum cukup dengan nama elok itu, orang tuanya menambahi dengan Ramia dan selanjutnya, dan seterusnya. “Selanjutnya dan seterusnya?” kamu pasti bertanya dengan segera setiap kali menemukan kalimat yang tak semestinya. Tapi memang demikianlah, bila namanya ditulis lengkap, dibutuhkan dua deret kolom untuk menampungnya. Aku heran bagaimana dia bisa tenang mengisi form bermacam keharusan administrasi dengan nama sepanjang rel kereta itu. Bahkan dengan disingkat pun tak kurang dari lima huruf akan berderet di belakang Tamara Ramia.
                “Oh, tak mungkin!” Aku membayangkan dirimu akan menampakkan tampang tak percaya seraya menggeleng-gelengkan kepala.
                “Oh, yes!” Aku tegaskan kepadamu itulah kenyataannya. Dibutuhkan dua kolom untuk memuat namanya!
                Untuk tak mengurangi waktumu yang berharga sekaligus esensi cerita, aku sebut saja Tamara Ramia Something. Ehm, sebetulnya sebutan ini bukan berasal dariku, tapi dari salah seorang teman. Temanku itu tak sabar mengeja nama panjang Tamara sehingga dengan percaya diri memanggilnya, “Hei, Tamara Ramia Something!”
                Abaikan saja gramatikalnya, tapi bisakah kau bayangkan bagaimana reaksi Tamara?? Yang jelas wajahnya bak pelangi dari merah hingga ungu.
                Bagai hujan turun di permukaan Gurun Sahara, yang berarti hampir mustahil terjadi, siang ini Tamara mendatangiku saat aku sedang bercanda ria dengan beberapa teman di dunia antah berantah kita. Setelah say hello yang palsu, dia mulai mengomentari apa yang dilihatnya dalam halamanku. “Aduh, kamu ini down to earth sekali, ya Drey. Masa engga gengsi pasang foto-foto kegiatan di kampung, gitu?”
                Aku melengak. Lho, apa yang salah dengan foto di kampung? Memang, sih kehidupan kampung selalu menjadi ejekan bagi sebagian orang karena dianggap identik dengan terbelakang, kotor, tak berbudaya secanggih kota.  Tapi kehidupan di kampung, kan tak kongruen dengan memalukan atau dungu. Jadi apa masalahnya?
                “Tak setiap orang mau terlihat tak rapih begitu, ya maksudku kamu keluyuran ke sawah, nongkrong di depan kandang kambing, pakai sandal jepit, tanpa bedak, dan kadang belum mandi, kan?”
                Yah, memang dia betul seratus persen tentang fakta-fakta yang ada. Tak ada yang bisa aku debat dari pernyataannya karena memang demikianlah adanya. Hanya persepsi yang membuatnya berbeda. Aku merasa safe and secure dengan eksistensiku sehingga tak merasa perlu menutupi apapun. I am what I am. Di kandang kambing atau mengajar di depan kelas, mencari keong atau hang out di mall paling luxurious, mandi di kali atau spa di salon terkemuka, it’s only a matter of time and need. Bukan hal yang perlu dibesar-besarkan atau digarisbawahi, apalagi menjadi pilihan gaya hidup. Menurut istilah teman karibku, “Jadi manusia bebas sajalah. Terbebas dari label-label yang sebenarnya ditempelkan oleh diri sendiri.”
                Sementara aku masih anteng menyimak laptopku, mendadak tangannya meluncur ke depan mukaku dan merebut mouse yang kugenggam. Klak-klik ke sana-ke mari, lalu menunjuk fotoku di tengah sawah. “Ih, seharusnya kamu jangan berfoto sedekat ini, maksudku jangan sampai mengekspose wajahmu seperti ini.”
                Aku mengerutkan kening. Apa yang salah dengan wajahku? Kelihatannya biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa namun juga tak ada yang abnormal sehingga tak layak diperlihatkan.
                “Aku kasih tahu sesuatu, ya.” Ujarnya dengan nada berbaik hati. “Tapi kamu jangan jadi minder atau salah paham.”
                Baru kali ini aku melongo di hadapannya. Bukan karena takjub akan omongannya, namun aku benar-benar tak menyangka dia akan mengatai aku minder. Setelah tiga detik tercengang, tenggorokanku terasa gatal karena berusaha keras menahan tawa yang mengkili-kili rongga leherku. Gosh! Tampangku pasti merah biru saat itu.
                “Coba lihat,” Ditunjuknya pipiku, yang ada di layar tentu saja, karena aku akan langsung menampar tangan siapa saja yang berniat mendekati wajahku tanpa ijin. “Bagaimana mungkin kamu berfoto tanpa riasan sementara wajahmu berminyak dan berjerawat?”
                Dia menggerak-gerakkan kursor dengan intensif seakan diriku melakukan perbuatan fatal yang bisa mengancam nyawa, misalnya lupa bernapas atau sengaja menenggelamkan diri ke kali.
                “Seandainya pun kamu tetap nekat melakukannya, “Aku merasa matanya diputar di atas kepalaku,namun  aku tak sudi mendongak menatapnya untuk meyakinkan dugaanku setelah apa yang dikatakannya. “Buatlah dengan teknik penghalusan yang ada di computer ini.” Nasehatnya.
                Aku memang memiliki program permak foto di computer ini, tapi apa gunanya? Toh banyak orang yang telah mengenalku secara langsung dan mereka telah tahu penampilan asliku. Menjadikanku semulus Rachel Weisz malah akan sangat menertawakan.
                Melihatku terdiam dia berdecak sebelum melanjutkan, “Atau aku harus mengajarimu untuk menggunakan fondation dan concealer?”
                Oh my God! Cukup sudah! Aku tak mau mendengar omong kosongnya. Dengan wajah kubuat tenang dan senyum manis tersungging di bibir, kujawab omongannya. “Well, aku tak perlu menimbuni wajahku dengan foundation, concealer, atau bedak tebal. Bagiku segala sesuatu yang alami lebih indah.” Dan tidak menipu, batinku menambahkan.
                Dia berusaha meredam reaksinya dengan mengerutkan bibir dan menyipitkan mata. Tak sengaja pandanganku tertuju pada garis-garis halus yang terbentuk karena gerakannya. Lalu kutemui diriku sedang menghitung retakan-retakan tak kentara pada bedak yang dikenakannya akibat garis-garis itu. Mungkin tak lama lagi dia akan menyuntikkan botox demi membuat tampangnya kembali kinclong bila kukatakan apa yang kuketahui tentang wajahnya.
                Melihatku tersenyum-senyum membuat rasa percaya dirinya goyah. Setelah mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja beberapa lama, dia membalikkan diri untuk menemukan wajah Andre yang baru saja memasuki ruangan.
                “Andre,” pekiknya penuh perasaan. “Aku sudah menunggumu sejak tadi. Ada hal penting yang ingin aku konsultasikan denganmu.”
                Andre, teman satu ruanganku, yang pengasih namun kurang pengalaman bila menghadapi aksi perempuan, langsung meresponnya dengan meletakkan tas ke kursi dan mempersilahkannya duduk.
                “Aduh, Andreku yang baik, aku ini sungguh malang. Setelah suamiku berkata-kata kasar minggu lalu, kali ini mertuaku yang berulah. Aku sudah bercerita padamu betapa mereka menyakiti perasaanku, kan? Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar kuat menghadapi mereka.” Kata-katanya membanjir, wajahnya berubah sendu penuh kesengsaraan, dan matanya yang semula tajam mematukiku berubah sendu kelabu.
                Kau tahu Sweety, mendadak perutku mulas. Aku hanya celangap menyaksikan pertunjukan drama di hadapanku. Bagaimana mungkin seseorang bisa merubah peran secepat itu? Dari seorang pemangsa yang berkeliaran mengintimidasi sasarannya menjadi makhluk lemah tak berdaya yang akan dijadikan kurban.
                Bila dunia memang panggung sandiwara, Tamara Ramia Something memainkan peranannya dengan lihai. Dia menggerusi hati kami dengan cara yang berbeda, demi tujuan yang tak sama, namun keduanya jelas untuk kepentingannya.
                Saat Andre semakin terpukau oleh duka nestapa yang dilantunkan Tamara, terjerat dan takluk akan penderitaannya, aku melenggang pergi.
                Ada hal-hal dalam hidup yang tak bisa ditolelir, bukan Sayangku?

Kindness is Contagious

Suatu saat, kakak temanku pernah meminjami sebuah VCD berjudul Pay It Forward. Film itu diadaptasi dari sebuah novel dengan judul serupa. Kisah bermula dari keinginan seorang anak kecil untuk membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik. Dia membuat proyek Pay It Forward yang intinya seseorang harus berbuat kebaikan pada orang lain dan orang yang mendapat kebaikan itu tak perlu membalas kebaikan si pemberi, namun melanjutkannya dengan berbuat kebaikan pada orang lain, dengan demikian kebaikan itu akan berjalan ke seluruh penjuru dan menjadikan hidup manusia lebih baik.
                Selasa pagi kemarin, aku merasa begitu lega karena salah seorang temanku bisa kembali berbahagia bersama keluarganya. Rekonsiliasi yang indah dan membuatku turut bersuka. Aku tak mengatakan diriku banyak berperan, karena aku hanya mendengarkan, sedikit memberikan pendapat, menyampaikan pemikiran, jadi kebaikan serta ketulusan hati mereka sendirilah yang sebenarnya membuat semua keindahan itu menjadi nyata.
                Saat sore menjelang aku tak menyangka akan tersandung konflik. Salah seorang teman lama mencecarku dengan berbagai hal yang selama ini kuketahui tapi tak pernah menjadi perhatianku. Karena sama-sama high temper, keadaan menjadi panas. Argumen dibalas argumen, fakta disandingkan dengan fakta, dugaan yang terkadang seperti tuduhan dihantam dengan hal serupa. Aku hanya menunggu kapan kami berdua akan meledak dan sudah memprediksi akhir cerita.
                Lalu tanganku yang sedang mengutak-atik mouse mulai menggerakkan cursor ke bawah. Sambil beradu kata mataku terus menelusuri layar, dan cling! Kulihat sebuah email yang berasal dari berbulan lalu, seorang teman mengirimkannya namun tak pernah sempat kubuka. Di tengah kesumpekan perasaan kubuka email itu, lalu mendadak mulutku ternganga. Oh Tuhan! Kubaca ulang dua kali untuk memastikan bahwa aku tak salah lihat.
                Perasaan yang sedang mendidih mendadak surut perlahan. Masih kupandangi tulisan di layar dengan rasa yang berangsur reda. Temanku yang sedang berargumen dengan keras tak lagi meresahkanku, karena sekarang aku tahu bahwa sebenarnya dia memperhatikan dan mengasihiku. Dia sama sepertiku, punya hati yang ingin berdamai dan hidup selaras dengan makhluk lain. Walau kelemahan membalut diri kami dan selalu membuat kami terjatuh berkali-kali dalam kesalahan, namun selalu ada keinginan untuk bangkit kembali dan berharap hidup yang semakin mendekati kebaikan.
                Alih-alih menjawab dengan keras atas argumen yang baru dilayangkannya aku malah berkata pelan, “Sebenarnya kita ini kenapa, ya?”
                Mungkin dia tertegun di tempatnya juga. Mungkin redanya perasaanku menularinya hingga dia turut mengurangi temperamennya dan bersedia bercerita dan mendengarkan. Aku tak terlalu perduli apakah esensi perbincangan kami terselesaikan atau malah tak pernah benar-benar dibicarakan (karena lebih banyak prasangka dan penghakiman di awalnya) yang jelas semua berakhir dengan tenang. Pada akhirnya walau tak jadi sahabat, kami juga bukan musuh.
                Di awal hari ini, sambil menunggu lonceng gereja berdentang menjelang misa Rabu Abu, aku berbaring-baring menatap dua tangkai palma kering yang tak sempat kukumpulkan untuk dibakar menjadi abu yang akan diterakan di dahi kami. Satu demi satu peristiwa yang aku alami kemarin terbayang kembali. Dengan sedikit bantuan yang kuberikan pada seorang teman, tak pernah kuduga kebaikan menemuiku dalam bentuk kelegaan hati karena tak lagi menyimpan ketegangan dengan teman lainnya. Hal itu bukan berasal serta merta dariku, namun dari sebuah email yang kubaca justru saat aku tengah berada di puncak kemarahanku. Kebaikan perasaan ternyata menular padaku, lalu pada temanku, dan pada suamiku, mungkin juga pada teman-temannya (karena apa yang kami rasakan aku yakin juga berpengaruh pada orang di sekitar kami).
                Aku percaya kebaikan itu menular. Kindness is contagious. Tapi lebih dari itu, aku yakin bila kita menanam kebaikan maka orang lain akan melakukan hal sama pada diri kita. Lalu bila setiap orang walau hanya sedikit saja selalu berupaya berbuat hal itu, maka semakin banyaklah yang akan tertular, semakin banyaknya rahmat yang turun sebagai karunia bagi yang sudi melakukannya, lalu dunia akan berubah menjadi tempat yang lebih baik seperti pesan dalam film Pay It Forward.
                Saat dahi diolesi abu, sebenarnya kita diingatkan bahwa kita ini hanya sebutir debu. Penuh kelemahan dan tak berharga bila Dia tak menganggap kita istimewa. Jadi bagaimana mungkin sebutir debu bisa merasa lebih mulia dan berharga dari debu yang lain?
                Bulir bening pertamaku jatuh saat gema lonceng pertama terdengar. Sebuah sentakan muncul dalam batinku. Aku hanya sebutir debu, namun Tuhan begitu mengasihiku.

Rabu, 15 Februari 2012

Audrey: AkuTak Mau Kawin


Hai, dear
                Sore ini aku menerima telepon dari seorang teman, setelah sebelumnya dikirimi SMS bernada gawat darurat: Drey, kamu di mana? Aku pingin bicara, PENTING! Karena saat itu aku sedang sibuk cuap-cuap di depan kelas tak kuhiraukan dentingan kecil di dalam tas pertanda ada sebuah pesan masuk. Apa, sih yang tak bisa ditunda di dunia ini? Perang Dunia saja membutuhkan proses perundingan panjang sebelum kebuntuan dan harga diri tokoh-tokohnya terciderai sehingga genderang permusuhan  dibunyikan. Jadi, demikianlah saat akhirnya ponsel itu kukeluarkan dari dalam salah satu saku tasku, telah berderet pesan menantiku dengan nada tak sabar yang meningkat setiap kalinya.
                Kuhubungi si pengirim pesan setelah aku duduk nyaman di rumah sambil menghirup secangkir teh panas, kata orang teh lebih manjur untuk mengendorkan syaraf daripada kopi. Bukan berarti aku senewen menghadapi temanku itu, tapi perlu juga berjaga-jaga. Siapa tahu temanku itu benar-benar histeris sehingga aku harus meredakannya.
                “Halo,” panggilanku diangkat pada dering pertama.
                “Audrey?”
                Tentu saja. Bukankah namaku yang telah tercetak di monitor ponselnya? Namun demi tak memperpanjang kata kujawab saja, “Ya.”
                “Drey,” Jeda sejenak,  “Aku tak mau kawin!”
                Aku tersedak seketika, teh yang sedang kuhirup muncrat membasahi celana pendek yang kukenakan. Sialnya sore itu aku memadankan kaos putih polos untuk atasannya. Tak ayal lagi beberapa percikan menciptakan titik-titik kecoklatan di sana.
                “Demi Tuhan, Ren! Tak bisakah kau bicara tanpa menjerit-jerit begitu!” Ujarku kesal.
                “Aku memang ingin menjerit-jerit. Kalau bisa membanting sesuatu atau meninju seseorang.” Katanya.
                Temanku ini bernama Renata, dia adalah seorang manager di sebuah kantor tertentu, dengan kedudukan tertentu, dan kini kelihatannya juga mengalami gangguan kejiwaan yang tertentu bila melihat gelagatnya.
                “Aku, kan tak memintamu untuk kawin, Ren.” Kataku setengah bingung. “Mengapa kau berteriak kepadaku?”
                “Memang seharusnya bukan kau. Tapi orang yang berpengaruh dalam hidupku!”
                Aku meringis, konsekwensi logis dari kalimat: Orang yang berpengaruh dalam hidupnya, berarti aku tak berpengaruh. Namun bila demikian mengapa dia meneriakkan kata-kata itu padaku dan bukan pada orang yang berpengaruh itu.
                Seakan bisa membaca pikiranku Renata berkata dengan nada tinggi,”Aku pasti sudah gila bila berani meneriaki orang yang melahirkanku.”
                Wah, sekarang jadi jelas mengapa Renata lebih memilihku. Mana berani temanku itu membantah perkataan Ibunya. Seingatku perempuan setengah baya itu tak banyak berkata-kata, kalem pembawaannya, namun mempunyai kekuasaan memerintah anak-anaknya tanpa bisa dilawan. Menurut istilah politik termasuk pola kepemimpinan besi berlapis beledu.
                “Mengapa mendadak dia menyuruhmu kawin?”
                “Biasa, syndrome bulan kondangan.” Jawabnya jengkel.
                “Hah???”
                “Sekarang musim orang menikah, yang artinya bencana bagi yang belum kawin.”
                Aku mulai bisa meraba maksudnya. Terbayang sebuah pesta dengan sepasang penganten yang berseri-seri dan para undangan berkerumun mengelilingi di dalam sebuah gedung serba semarak. Para orangtua biasanya hadir ditemani anak-anak mereka. Setelah menanyakan kabar dan basa-basi, pertanyaan berikutnya yang mendebarkan para bujangan adalah “Kapan menyusul, nih?” Lalu wajah-wajah ceria akan mulai meredup, sebagian karena tak punya jawaban sebab pacar belum bicara yang mengarah pada dentang lonceng, sebagian lagi karena jomblo alias belum punya pasangan. Apapun itu dampaknya sama saja, para bujangan akan menyingkir dan bersatu di pojok-pojok ruangan untuk menghindari pertanyaan repetisi yang menggalaukan hati.
                “Katakan padaku Drey, apakah orang yang menikah itu dijamin lebih bahagia daripada yang tidak menikah?”
                Aduh, jawabannya pasti sulit dan membutuhkan pemikiran, pertimbangan, bukti, serta analisis mendalam dari berbagai aspek. Sayangnya Renata pasti tak bisa menunggu berlama-lama, ya katakanlah memberi kesempatan bagiku dengan menutup telepon sore ini dan kembali setengah abad lagi.
                “Nah, kamu tak bisa menjaminnya, kan?” Tuntutnya tajam.
                “Eerr…bukan begitu,”
                “Atau kau juga beranggapan sama dengan ibuku bahwa aku tidak eligible untuk menarik minat seseorang?”
                Tentu saja tidak! Renata berwajah manis, otaknya sangat cerdas dan kelihatannya itu yang merupakan daya tarik terkuatnya, rajin bekerja, mempunyai bakat jadi pemimpin karenanya dalam usia akhir dua puluhan telah mencapai posisi cukup tinggi di kantornya, serta mempunyai penghasilan besar. Menurut artikel di sebuah situs pandangan lelaki dalam memilih pasangan telah mengalami pergeseran, di jaman yang sulit dan penuh persaingan ini lelaki menghendaki perempuan yang cerdas dan mandiri secara financial. Sementara perempuan yang mempunyai jabatan penting dianggap seksi. Walhasil, tanpa diragukan lagi Renata adalah magnet kuat bagi lelaki masa kini. Dengan mengutip sana-sini dan menambahinya untuk menekankan dukunganku kupaparkan hal tersebut.
                Temanku itu tertawa gelak, “Masa begitu?”
                “Tak tahulah, Ren aku hanya membaca apa yang dikatakan orang.”
                “Mungkin juga benar,” katanya. “Kau sendiri termasuk perempuan semacam itu. Dan lihatlah betapa sukses dirimu menjadi magnet.”
                “Hah! Kau mengejekku, ya?”
                “Aku sedang geram, Drey. Pantas saja bila aku ingin menusukkan pisau pada siapa pun yang ada di sekitarku.”
                “Jangan bilang hatimu terluka karena desakan itu.” Pancingku.
                Hasilnya sungguh luar biasa. Setelah menggumamkan makian yang terlihat tak pas diucapkannya Renata berkata seakan kehilangan akal.
                “Mengapa kami selalu dikatakan mempunyai luka batin, trauma, atau secara emosional terganggu bila menolak untuk menikah? Padahal aku tak mengenal satu pun di antaranya.”
                Keterangannya adalah Renata tumbuh wajar dalam keluarga yang saling menyayangi, tak pernah mengalami tindak kekerasan atau pelecehan, punya sederet pacar yang normal-normal saja, saat ini pun dia mempunyai kekasih yang sangat baik  serta penuh perhatian, dan tak pernah kekurangan teman. Pantaslah dirinya sebal sekali dianggap menyimpan sesuatu yang membuatnya enggan menikah.
                “Tak bisakah jawabannya hanya karena aku tak ingin menikah?’
                Kelihatannya sulit. Segala sesuatu di muka bumi ini mengandung hukum kausalitas. Bila melakukan sesuatu harus bisa dirunut motivasinya, bahkan banyak orang percaya peristiwa yang paling muskil pun tak terjadi secara kebetulan.
                Setengah mengeluh Renata melemparkan pertanyaan berikutnya. Memang bukan untukku karena dia tahu aku tak akan berbuat apapun selain menghiburnya. “Tak bisakah aku dibiarkan sendiri untuk menentukan apakah hendak berpasangan atau memilih membujang?”
                Nah, kiranya usulan ini lebih baik dikatakan pada ibunya, bukan padaku. Aku tak berkeberatan sama sekali akan pilihan hidup Renata. Bagiku kebahagiaannyalah yang utama. Bagaimana bentuk dan cara mencapainya tak berpengaruh untukku.
                “Aaahhhrrgg, mau tak mau aku harus menanyakan hal paling tak kusukai pada Peter.” Ya, itulah nama pacar Renata. Cakep, tinggi, pintar, karenanya menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, dan sedang berusaha mendapatkan bea siswa S3 bidang biologi.
                “Dan pertanyaannya adalah…?”
                “Mau di bawa ke mana pertemanan kita ini?!” ujar Renata dengan geram.
                “Bukan pertanyaan yang buruk, kan Ren.” Aku tertawa gelak setelah mengatakannya. Tentulah hal itu sangat buruk karena siapa pun tahu mereka sedang berusaha mengejar karir, sangat menikmati hubungan yang dikombinasikan dengan kepentingan masing-masing, supportif tapi tak mengekang, serta bebas mengembangkan diri seluas-luasnya tanpa beban.
                “Kadang kita melanggar prinsip dan kenyamanan diri demi kebahagiaan banyak orang.”
                “Anggap saja sacrifice untuk orang yang telah lebih banyak berkorban untukmu.”
                Renata menghela napas. “Jadi pengorbanannya ternyata menuntut balasan juga, ya?”
                “Huuusshhh…! Bisa kuwalat kamu.” Desisku.
                Setelah basa-basi yang terlambat Renata memutuskan hubungan. Ketika pembicaraan berakhir aku teringat padamu. Betapa beruntungnya kita yang tak perlu dibebani segala embel-embel dalam hubungan ini. Aku dan kau menikmati setiap detiknya tanpa memikirkan bagaimana semua bermula dan akan ke mana nantinya menuju. Kita menjalaninya dengan keikhlasan yang tak kusangka demikian besar, sampai-sampai kita tak tahu hendak dikatakan apakah kebersamaan ini. Kiranya memang tak ada sebutan apa pun untuk melabelinya. Tak ada rasa apapun yang pantas disematkan untuk menyebut nuansanya. Bahkan kita juga tak pasti menentukan kapan kiranya bisa bermuka-muka secara nyata. Atau memang kita tak menghendakinya karena hal itu akan merubah apa yang telah kita jalani?
                “Harapan itu meneguhkan, Dey” katamu.
                Aku menyunggingkan senyum. Bagiku harapan tak sejauh itu. Bisa menyapamu beberapa kali dalam seminggu telah menenteramkan hatiku, karena aku tahu kebersamaan lebih penting dari ikatan-ikatan kosong yang lebih disukai sebagai label sebuah hubungan.
               
               
               

Minggu, 12 Februari 2012

Sepotong Rindu

Kuletakkan di atas selembar daun,
kutitipkan pada angin senja,
menemaninya berlayar,
menemuimu,
sebelum fajar menjadi beku

Di sini kutunggu hari berganti,
menyimak setiap desau berlalu,
namun tak pernah kujumpai sepotong kata,
terbang menemuiku,
hingga jiwaku kering berdebu

Dan aku tahu, kasihku
rindu itu tak pernah sampai padamu.

Petikan Senja

Aku kembali bersembunyi,
pada jingga semburatmu,
demi sebuah rasa,
menghujam sembilu,
menjelma sehitam abu.

Apa jawabmu bila kisah berlalu,
meratap setiap tepian hari,
mengutuk datangnya mimpi,
atau tercenung pasrah,
memungut asa di ujung kaki.

Gejolak rasa bukan permainan,
mungkin tak akan abadi,
bahkan hilang sebelum esok hari,
namun tetap tersurat di sudut hati,
menanti saat menggurat nyeri.

Jumat, 10 Februari 2012

Bisikan Angin

Mengiris penat berlapis-lapis,
rindu,
dendam,
pilu,
melukis muram,
menjelang malam

Akankah langkahmu membawa serta,
tiap hela kupunya,
meninggalkan jejak,
pada detak waktu,
antara kini dan suatu masa,
saat khayal kita bersatu?

Desaumu mengelus perlahan,
dingin,
nyeri,
mematuki bulir bening,
mengeringkannya,
hingga rindu tinggal bayangan

Audrey: Jekyll dan Hyde


Hello my sweetest one. Apa kabar?” Kusapa dirimu begitu melihat kelebat namamu pada layar di depanku.
Hello, pretty girl, good morning.”
Mulutku menyunggingkan senyum. Hari mendadak begitu cerah walau mendung menggantung seakan keberatan menyangga titik-titik air di pelukannya.
“Tumben muncul lebih awal?”
“Tak ada kuliah hari ini. Dosennya sedang berkelana entah ke mana.” Jawabmu semenit kemudian.
“Senang, dong.”
“Tentulah, dalam tingkatan apapun mahasiswa tetap mahasiswa, selalu hip kalau dosennya mendadak tak muncul di depan kelas.”
Aku tertawa membayangkan wajah-wajah penuh beban setiap diriku muncul di ambang kelas. Rasanya kamu tak akan seperti para mahasiswa berwajah kecut itu. Senyum bandel yang selalu tersungging di bibirmu akan sanggup meluluhkan dosen mana pun.
Ah, senyum bandel itu, mendadak tanganku bergerak membuka foto-fotomu. Mengapa Tuhan bisa menganugerahimu keindahan itu?
“Jadi kau tak ada kelas juga?” Tanyamu.
“Begitulah.”
“Betapa menyenangkan.”
Hmm…kamu tak tahu emosiku baru saja terkuras habis oleh ratapan Romana, salah satu teman baikku. Bukti kehadirannya masih tampak di sekitar mejaku. Tissue yang menggumpal dan agak basah, karena dipergunakan untuk mengeringkan air mata dan ingus, plastik bekas air mineral dua buah, setengah bungkus kacang pedas, frustasi ternyata juga memicu nafsu mengunyah sesuatu, serta kotak bedak yang tertinggal karena dia bergegas pergi setelah membedaki hidungnya.
Romana bertemu lelaki yang ternyata kukenal juga, dan dengan kisah yang seharum mawar pada awalnya namun berakhir di comberan pada akhirnya, dia menyesal mengapa dirinya bisa masuk got dengan sukarela.
“Ternyata dia belum membusuk di neraka, ya?” Tanyaku sambil geleng kepala. Tentu saja neraka di sini bermakna konotatif. Bisa jadi mewakili PMS alias penyakit menular seksual sebangsa syphilis atau gonorrhea, bisa juga parang seorang suami  yang menemukannya rajin mengendap-endap di seputar istrinya.
“Mengapa kau mengatainya begitu, Drey?” Romana masih berusaha membelanya.
“Ya, karena dia memang seharusnya sudah tenggelam dimakan api. Kau ingat, kan cerita neraka saat kita kecil dulu?”
“Sepertinya aku yang ada di neraka.” Keluh Romana.
Tentu saja Romana merasa seperti itu, dia ditipu habis-habisan oleh bandot sok bersih itu. Rayuan gombal kelas kampungnya ternyata bisa melumerkan hati Romana dan membuntukan otaknya. Bahkan beberapa abad lalu Romana berani menghadapiku dengan kata-kata bijaksana nan arif, “Aku tahu dia melakukan kesalahan, Drey karenanya aku ingin merubahnya menjadi lelaki yang baik. Lelaki yang setia pada tujuannya dan tahu menghormati dirinya sendiri.”
Hah! Betapa naifnya kata-kata itu. Apa Romana mengira dirinya si tudung merah yang bisa lepas dari perut serigala karena pertolongan ibunya? Jelas Romana tak memiliki ibu yang bersedia berkelahi dengan serigala dan lelaki itu sama sekali tak tampak seperti serigala yang menyamar sebagai nenek tua. Jadi tak salah bila tindakannya sudah bisa diramalkan sejak awal akan mengalami kegagalan, hanya kadang rayuan serigala memang benar-benar ada dan tak disangkal lagi sukses menjatuhkan kurbannya.
Di luar tujuan luhur Romana yang berakhir sia-sia, lelaki itu memang tak seperti serigala, namun lebih mirip Jekyll dan Hyde. Manusia dengan dua topeng yang sempurna. Di siang hari makhluk itu menjadi seorang dokter hebat dengan tujuan menyelamatkan manusia. Jas putihnya berkibar-kibar menggambarkan betapa kompeten dan tulusnya dia. Kacamata di ujung hidung menandakan profesionalitasnya. Siapapun akan terpesona oleh kharismanya.
Begitu senja menjelang dan kegelapan memayungi bumi Dr. Jekyll lenyap. Dari balik kegelapan malam muncullah sosok bermantel hitam dengan tudung di kepala yang menyembunyikan wajah bengisnya. Hati lelaki itu dipenuhi gelora kebusukan. Di kegelapan langkahnya berderak seperti kelebat kelelawar menyatroni malam. Kakinya mengarah pada tempat-tempat di mana seorang yang disasarnya berada. Di sanalah tangannya beraksi, mengakhiri hidup dan harapan seseorang akan kasih. Kegelapan dibuat seolah-olah bertabur cahaya. Banyak yang terkecoh dan terhanyut olehnya, hingga seluruh kota berkobar oleh ketakutan akan kemunculannya. Hyde mencuri hidup siapa saja yang terperdaya olehnya.
Kutatap wajah Romana yang masih dipayungi duka. Cintanya dibalas dengan air tuba. Harapannya akan kasih dihempas kenyataan pahit. Siapa bilang ketulusan akan selalu menggerakkan hati seseorang? Lihatlah dia sekarang terkapar dilanda duka.
Cinta yang membawa maut. Mungkin itulah yang dirasakan seorang perempuan saat Hyde berusaha membunuhnya suatu malam.
“Aku hanya ingin membuatnya jadi orang yang benar.”
Aku tak tahu harus tertawa atau meringis geli. Come on, Romana. Dia sudah dewasa dan tahu mana yang baik atau buruk. Kalau umur menjadi ukuran, tentu dia sudah tak termasuk di bawah umur yang membutuhkan bimbingan atau arahan. Bila ilmu pengetahuan dan pengalaman dipakai sebagai standar, dia telah belajar lebih dari cukup untuk mengenali bahwa jalan hidupnya suatu ketika akan menghancurkan. Lalu mengapa ada orang-orang, karena aku tahu tak hanya Romana, yang demikian berminat untuk menyadarkannya, sementara orang itu sendiri tak menganggap ada yang salah dengan jalan hidupnya?
Romana menggeleng sedih, “Teganya dia berbuat seperti itu padaku.”
Orang sering menggunakan topeng demi kebutuhannya. Orang-orang yang perlu menyembunyikan diri karena tak puas akan hidupnya. Orang yang mengejar bayangan semu dengan membuat wajahnya serupa bayangan itu sendiri. Terjebak dalam banyak topeng dan mungkin tak hendak melepaskannya lagi. Bukan karena dia merasa nyaman, namun karena dia tak hendak menengok wajahnya sendiri. Topeng-topeng itu telah menjelma menjadi wajah sesungguhnya. Lalu perlahan jati dirinya akan hilang dalam kabut buatannya sendiri. Ah, betapa mengerikan membayangkan kehilangan akar dan mengambang tak menentu di awang-awang.
Dalam hati aku bertanya-tanya bagaimana seandainya Romana tahu bila lelaki yang dicintainya dengan menggebu-gebu itu sampai sekarang masih terus mengamatiku karena tak berhasil menyatroniku. Aku berhasil mengetahui kapan dia menenggak ramuan rahasia dan merubah dirinya dari seorang terhormat menjadi pemangsa di kegelapan malam.
Sweety, jangan-jangan kau juga sepertinya?” Ujarku tiba-tiba.
“Jekyll dan Hyde?” Tanyamu setelah kuakhiri kisah Romana.
“He-eh.”
“Dengan kata lain, aku bukan diriku yang sekarang suatu waktu?”
“Yup.”
“Pemangsa, begitu?”
Aku membayangkan senyum bandel itu pasti sudah menghiasi bibirmu. Separuh bibir menjungkit ke atas sementara separuhnya tampak malas bergerak.
“Ehm. Yup.”
Lalu aku menduga mata cemerlangmu yang  bak kejora namun mulai dilapisi kaca bening itu akan melontarkan teka teki.
“Bagaimana?” Tuntutku antara ingin tahu dan enggan menerima kenyataan.
“Hahahaha, mungkin. Mengapa tak kau amati saja?”
Hmmm…mendadak aku seperti mengapung di lautan busa sabun.

Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde Merupakan novel yang ditulis oleh Robert Louis Stevenson seorang penulis Skotlandia dan pertama kali dipublikasikan tahun 1886. Istilah Jekyll dan Hyde kemudian juga dipergunakan untuk istilah psikologi untuk kepribadian ganda (split personality) pada diri seseorang.

Jumat, 03 Februari 2012

Audrey: Aku Cemburu


Aku membuka laptop di depanku tanpa berpikir apapun selain ingin membuka jendela yang menghubungkanku dengan dunia, syukur bila bisa bertemu denganmu dan bertukar beberapa kata. Kita memang tak pernah benar-benar bersama karena hanya berbicara di tengah alam semesta yang tak nyata, belantara titik dan garis, simbol-simbol hasil kreasi manusia sejak abad silam yang kini justru menguasai makhluk penemunya. Namun tak beda  dengan penciptanya, dunia tak nyata itu juga seumpama organisma yang mempunyai jenis-jenis perasaan hasil representasi segenap makhluk berakal budi.
                Penjelajahanku berakhir ketika muncul sapaan darimu, “Hi, Dey…” Panggilan khasmu untukku sejak pertama berkenalan. Aku tak begitu suka sebenarnya, kelihatan imut buat perempuan seusiaku, dan imut jelas bukan kesan yang ingin kutunjukkan padamu. Aku bukan tipe perempuan yang menjerit-jerit manja karena godaan atau candaan lawan jenis. Terlalu artifisial dan mengada-ada untuk menunjukkan perbedaan jenis kita, walau aku pernah berkata padamu betapa diriku bersyukur jadi perempuan. “Mengapa?” Tanyamu. “Paling tidak aku bisa bersolek tanpa menimbulkan omongan di belakang punggung.” Jawabku ngawur.
                “Hanya itu?” Tanyamu.
                “Bukan, dong. Banyak lagi yang lain.”
                “Apa itu?”
                “Pokoknya yang enak-enak.” Jawabku sama sekali tak bertambah jelas. Tak mungkin, kan aku mengatakan betapa perempuan memiliki posisi yang kian menguntungkan kini dan tak malu-malu mengeksploitasinya sesekali demi kepentingan diri di saat yang tepat. Aku ingin dihargai dengan gaji, posisi, dan martabat yang sama denganmu karena kita makhluk setara. Perempuan adalah mitra dengan kemampuan yang sama dengan lelaki. Sebuah sayap yang tanpanya seekor burung tak mungkin melintasi cakrawala, sebelah sepatu yang tanpanya seseorang tak mungkin pergi ke mana-mana. Pilihlah perumpamaan apa saja, yang jelas tanpa makhluk sejenisku jenismu akan merana sepanjang waktu. Namun jangan lupa membukakan pintu saat kita memasuki ruangan yang sama, menggeretkan kursi saat aku hendak duduk, dan membawakan tasku walau dirimu telah menenteng tas juga. Itu bukan kemauanku tapi bagian dari etiket dalam masyarakat, kau tak mau dikatakan buta soal tata aturan pergaulan, kan?
                “Dey, apakah kamu masih di sana?”
                Kupenggal percakapan hatiku untuk segera membalas pesanmu, “Ya, tunggu sebentar aku akan membuat secangkir kopi.”
                “Untukku segelas, ya?”
                Ah, gombalnya dirimu, batinku sambil menyunggingkan senyum. Walau gombal aku menyukainya karena membuatku seakan menjadi remaja tujuh belas tahunan yang melonjak-lonjak riang dengan pipi bersemu merah dihujani rayuan kekasih pertama.
                Lima menit kemudian aku telah kembali dengan secangkir kopi berasap harum dan menjumpaimu sedang menulis beberapa kalimat lucu yang ditertawakan oleh teman-temanmu. Ah, kalian para lelaki berbicara seakan dalam kelompok tanpa makhluk jenis lain mengintai percakapan itu.
                “Teman-temanmu heboh sekali,” kataku sambil menghirup isi cangkirku.
                “Biasalah laki-laki. Mereka satu kampus denganku dulu, jadi telah bersahabat sejak lama.”
                Dan tenggelamlah kita membicarakan banyak sosok dan topik yang selalu membuat percakapan menjadi penuh canda namun juga menyerempet romantisme dengan satu dua kata rayuan serta ungkapan provokatif yang diperhalus dengan pemilihan kata-kata bermakna ganda yang canggih. Ya, kamu mengatakan aku cewek paling cool untuk diajak ngobrol, hal mana juga tak kusukai karena menurut pendapatku kata cewek dan cool hanya pantas buat mereka yang masih berseragam putih abu-abu ke bawah, sehingga membuatmu selalu ketagihan bercakap denganku.
                “Ah, banyak sekali yang salah tanggap akan omonganku.” Tulismu walau ditutup dengan kekehan panjang.
                “Cobalah jangan menggunakan kalimat yang ambigu untuk menuliskan pikiranmu.” Usulku, “Kecuali memang menjadi tujuanmu untuk memancing reaksi banyak orang.”
                “Santai sajalah. Terserah mereka yang menanggapi.” Katamu dengan tambahan tawa yang panjang.
                “Tak masalah buatku, kan bukan aku yang harus menghadapi kerepotannya.”
                “Dey, kamu memang cool.”
                Aku hampir melebarkan tawa mendengarmu kembali menuliskan kata cool itu ketika sebaris kalimat tanggapan muncul di bawah kalimatmu dengan ikon feminine sebagai identitas si pengirim pesan. Tak ada yang istimewa dengan pesan itu kecuali kata-katanya yang bermakna konotatif bin terselubung dan hanya bisa dipahami oleh orang-orang tertentu yang mengenal baik simbol-simbolnya.
                Hm, siapa ini? Mengapa dia menggunakan kalimat yang menggelitik hasrat ingin tahuku? Aku paling tak suka bila seseorang membuatku bertanya-tanya, terutama bila pertanyaan itu tak berhubungan dengan segala sesuatu kecuali perasaan. Walau aku tak keberatan kau menebarkan kata-kata bersalut gula pada makhluk-makhluk sejenisku, bukan berarti aku tak ingin tahu seberapa dekat dirimu dengannya. Tapi jangan kau anggap aku mulai bersikap posesif padamu, hasrat bersaing tak pernah ada hubungannya dengan orang lain selain dua orang yang berseteru. Apa kau kira Perang Troya melulu tentang Helen yang cantik? Kau pasti terlalu romantis atau memang tak pernah tahu cerita itu kalau membiarkan Helen mengambil peran melebihi ambisi pribadi dua lelaki yang bersaing.
                Dan persaingan antar perempuan bisa lebih rumit, misalnya mengapa mendadak aku mempunyai perasaan bahwa dia tertarik padamu melebihi teman biasa, apalagi setelah kutahu dari omongannya yang kian bertudung kiasan-kiasan yang tak kumengerti, kutafsirkan bahwa kalian tinggal di tempat yang sama. Kedekatan yang tak bisa kuabaikan, dan aku tahu kau juga menyukai rasa tertariknya padamu.
Lalu aku mulai meraba-raba mencari simbol tersembunyi dalam setiap kata yang dituliskannya seakan berusaha mencari kunci bagi terbacanya huruf paku di dinding makam seorang firaun rahasia di tengah padang gurun. Setiap ungkapan bisa dianalisis dengan dua kemungkinan yang biasa atau memuakkan.
                Perlahan diriku dililit oleh rasa mual dan perih di ulu hati. Pasti bukan karena maagku kumat karena aku baru saja makan pagi dan tengah menenggak kopi. Rasa itu kemudian menjalar ke dada dan tenggorokan, membuat ludahku susah ditelan dan sakit sekali ketika dipaksakan. Ingin rasanya aku melempar sesuatu untuk melepaskan sesak ini.
                “Ha! Kamu dijangkiti cemburu!” Teriak hatiku.
                Cemburu??? No way! Aku tak akan pernah mencemburuimu. Dari awal aku paham dirimu tak akan pernah membuat sebuah komitmen yang jelas denganku sebagaimana juga diriku terhadapmu. Jelasnya perasaanku terusik olehnya, bukan olehmu! Kalau kau menanyakan alasannya, aku pasti bisa menjawab dengan terperinci, baik secara rasional maupun yang tak masuk akal.
                Itu berarti aku memang mulai cemburu! Sebenarnya cemburu pada bayangan tak dikenal itu sangat tak masuk nalar, tapi aku memang tak bernalar saat sekarang. Diriku mirip benar dengan Don Quixote yang dipermainkan oleh angan-angannya sendiri dan menggebuki sebuah kincir angin karena menganggapnya raksasa berbahaya yang harus dibasmi.
Bukankah cemburu adalah bayang-bayang diri kita sendiri yang diproyeksikan pada orang lain sehingga tanpa ragu-ragu menghukum tokoh yang dicemburui dengan tuduhan-tuduhan? Jadi, jangan tanya diriku mengapa aku merasa dia perempuan terganjen di seantero jagad raya, atau mengapa aku mencibirkan bibir dan menggumam, “Ternyata hanya segitu, biasa-biasa aja, lebih juga diriku.”Bukannya sombong, tapi kecenderungan merendahkan rival sudah menjadi naluri orang yang cemburu. Walau setelah dipikir-pikir lagi, aku kan tak mengenal sosok yang menjengkelkanku ini.
Jalan paling mudah untuk mengetahuinya adalah menanyakannya langsung padamu. Tapi apa jawabku kalau dirimu balik bertanya mengapa aku bergitu perhatian pada sosok tertentu. Aku harus berhati-hati denganmu, kamu pasti makhluk cerdas hingga terpilih di antara ratusan juta penduduk negeri ini untuk diberi kesempatan belajar di negara lain. Bisa saja, sih kalau aku memaksakannya, tapi hasratku padam saat membayangkan harus bertele-tele dan melipir-melipir agar dirimu tak mengenali maksud terselubungku. Namun aku merasa resiko yang kuhadapi tak sepadan hasilnya. Coba bayangkan, mau ditaruh di mana reputasiku kalau sampai ketahuan cemburu? Aku cewek cool yang mendahulukan pikiran dibandingkan perasaan, jadi tak masuk akal kalau tiba-tiba merasa terganggu oleh kehadiran perempuan lain dalam duniamu.
“Dey, halo??”
Aku terperanjat melihatmu bertanya-tanya mengapa aku tak segera menjawab pesanmu, namun moodku sudah berantakan. Perempuan yang bersahabat denganmu itu sukses menghancurkan hasratku bercengkerama denganmu. Aku ingin mengakhiri perjumpaan ini sebelum diriku membuat kerusakan dengan berkata-kata kasar padamu atau akhirnya benar-benar bertindak bodoh dengan menanyakan perempuan itu.
“Dey, kamu sibuk ya?”
Sambil menghela napas panjang aku menuliskan jawaban bohong, “Maaf, aku harus siap-siap mengajar.”Lalu dengan helaan lebih panjang lagi, “See you, dear. Bye.”
Sebelum kamu  sempat menjawab telah kuputuskan sambungan internet dan kumatikan laptop. Lambungku menyampaikan sinyal kegeraman dengan melonjakkan kandungan asamnya. Sinyal itu dikirim ke otakku dan mencetak pesan bahwa saat ini aku ingin makan siang dengan seporsi satai ayam. Hmmm, cemburu ini harus dienyahkan!